23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Self Diagnosis Tanpa Pendampingan Ahlinya itu Bahaya

Musti Ariantini by Musti Ariantini
April 24, 2023
in Esai
Self Diagnosis Tanpa Pendampingan Ahlinya itu Bahaya

Ilustrai tatkala.co

SERBA INSTAN, mungkin kata tersebut bisa mewakili kehidupan manusia pada masa sekarang ini. Semakin bergulirnya waktu dan berkembangnya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), ternyata menjadi pedang bermata dua dalam perkembangan kehidupan manusia. IPTEK memiliki peran penting dalam memajukan peradaban dan memudahkan segala pekerjaan manusia.

Namun, di samping manfaat luar biasa tersebut, tanpa disadari, perkembangan IPTEK juga membawa momok yang teramat mengerikan bagi kehidupan manusia. Tumbuhnya sifat pemalas serta sifat terburu-buru dalam mengambil keputusan dan menyimpulkan segala sesuatunya bahkan tanpa menelusuri kebenarannya terlebih dahulu. Sungguh mengerikan!

Nah, sifat-sifat tersebutlah yang menyebabkan munculnya fenomena self diagnose, yang merupakan seni mendiagnosis atau mengklaim diri sendiri sebagai orang yang mengidap sebuah penyakit berdasarkan pengetahuan dan informasi yang didapatkan secara mandiri tanpa dibantu dengan orang yang profesional.

***

Maraknya self diagnose dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, salah satunya media sosial. Bukan berarti media sosial tersebut buruk, tidak! Hanya saja mental dan pengetahuan kita yang belum cukup untuk memanfaatkan media sosial dengan baik.

Banyak orang menelusuri gejala kesehatan mental di internet (Google, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya), lalu percaya mentah-mentah bahwa mereka sedang mengalaminya dengan mengasumsikan (memaksakan) bahwa apa yang dirasakan sesuai dengan apa yang tertera di internet, padahal belum tentu sesuai.

Sering saya jumpai orang-orang di sekitar saya mencari tahu tentang kondisinya di Google (tak jarang saya juga… Hehehe), seperti misalnya ketika mengalami suasana hati yang buruk/sedih dan merasa putus asa, lalu melakukan penelusuran di Google dan Google menyatakan bahwa orang tersebut mengalami depresi.

Secara tidak sengaja, orang tersebut pasti akan memikirkan hal tersebut secara terus menerus, yang pada akhirnya justru menimbulkan stress.

Self diagnose bisa berakibat fatal terhadap kesehatan mental, yang memungkinkan seseorang mengalami mental illness (kondisi Kesehatan yang berpengaruh pada pemikiran, perasaan, perilaku, atau suasana hati seseorang).

Mental illness memiliki jenis yang beragam, namun yang biasanya cukup sering terjadi adalah gangguan kecemasan, kepribadian, gangguan makan, psikotik, suasana hati, stress pascatrauma, dan depresi.

Self diagnose sangat berbahaya bagi kesehatan karena akan menyebabkan hal-hal mengerikan seperti di bawah ini:

Salah obat

Setelah menelusuri Google dan mendapat jawaban bahwa Anda sedang mengalami suatu penyakit, lalu dengan tergesa-gesa mencari obat yang dianjurkan oleh Google. Padahal belum tentu Anda mengalami suatu penyakit atau bisa jadi dosis obat tersebut tidak sesuai dan mengandung bahan berbahaya untuk tubuh.

Mengabaikan kesehatan

Tak jarang kita abai ketika tubuh mengalami gejala-gejala aneh seperti tidak ingin bertemu dengan orang lain, mengalami perubahan emosi dalam waktu yang cepat dan tidak jelas penyebabnya. Lalu Anda menganggap hal tersebut hanyalah terjadi karena kelelahan biasa.

Padahal, bisa saja gejala-gejala tersebut merupakan gejala penyakit yang membutuhkan perawatan intens sebelum memasuki kondisi yang parah, seperti misalnya depresi atau gejala ODGJ.

Timbulnya penyakit yang lebih serius

Kebiasaan self diagnose bisa mebimbulkan penyakit baru seperti penyimpangan obat karena tidak sesuai dengan dosis, obat tersebut malah menimbulkan suatu penyakit baru dalam tubuh kita yang sebelumnya sehat.

Self diagnose juga menimbulkan penyakit baru khususnya penyakit mental, karena terlalu sering memikirkan diagnosis yang kita lakukan sendiri dan menimbulkan kecemasan yang berlebihan sehingga menimbulkan penyakit mental.

Belum lagi sekarang ini banyak sekali remaja-remaja yang membuat konten mengenai gangguan kesehatan mental di media sosial, bahkan tak tanggung-tanggung mengklaim dirinya sedang mengalami gangguan mental tingkat akut.

Biasanya konten-konten tersebut disampaikan dengan beberapa cuplikan video yang sedang mengiris pergelangan tangan atau menjambak rambutnya, memotong rambut pendek bagi perempuan dengan alasan stress, menangis di kamar yang gelap dan diiringi dengan lagu-lagu sedih, atau sebuah quote yang mampu mencuci pikiran orang-orang yang melihatnya.

Tak lupa menambahkan caption yang penuh dramatisasi, terkait penyebab dia melakukan hal seperti itu, terkait kondisinya yang mungkin menyatakan bahwa dia sedang mengalami gangguan depresi akut, mengalami stress atau trauma.

Lalu, secara tidak sengaja, konten-konten tersebut lewat di beranda media sosial Anda, dan mungkin saja ketika menonton video tersebut Anda sedang mengalami kelelahan atau menghadapi sedikit masalah. Nah, dalam kondisi tersebut sudah pasti Anda akan setuju dengan video di konten tersebut lalu mengasumsikan bahwa Anda juga mengalami hal yang sama.

Dengan tergesa-gesa membagikan konten tersebut di media sosial Anda sendiri yang secara tidak langsung mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama dan mendiagnosis dirinya mengalami penyakit mental.

Tindakan di atas berdampak sangat buruk, bahkan seperti membentuk rantai penyakit. Padahal, untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit kita hanya perlu berkonsultasi ke dokter. Atau, khususnya mengenai penyakit mental, kita diwajibkan untuk berkonsultasi ke psikolog.

***

Semakin ke sini manusia semakin sok pintar dan menganggap dirinya tahu segalanya hanya dengan modal hasil penelusuran di Google atau postingan di media sosial yang sengaja di buat dengan capslock dan bercetak tebal untuk mempengaruhi pemikiran seseorang.

Postingan-postingan seperti “5 TANDA KAMU MENGALAMI TRAUMA”, “7 TANDA KAMU MENGALAMI GEJALA STRESS AKUT” atau “TANDA-TANDA KAMU MENGALAMI INSOMNIA” dan postingan-postingan sejenis lainnya—yang di dalam konten tersebut menyebutkan hal-hal lumrah yang biasa terjadi.

Tidaklah mudah untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit, untuk itu kita wajib berkonsultasi dengan dokter yang telah menempuh Pendidikan kesehatan bertahun-tahun dan menghabiskan biaya hingga ratusan juta juga memerluka pengecekan dengan alat-alat kedokteran sebelum mendiagnosis seseorang.

Dan khusus untuk penyakit mental, hanya seorang psikolog saja yang memiliki otoritas mendiagnosis.

Namun, zaman sekarang, berkonsultasi ke dokter dirasa membuang-buang waktu, tanpa memperhatikan kesehatan sendiri. Dengan tingkat pengetahuannya, seseorang percaya bisa mendiagnosis dirinya hanya dengan media sosial dan internet, lalu mencari obat sendiri.

Terakhir, untuk bisa mengetahui kondisi kesehatan khususnya kesehatan mental, Jadilah psikolog bukan seperti psikolog.[T]

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya
Tags: anak mudaesaikesehatankesehatan mentaltips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Next Post

Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co