2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Self Diagnosis Tanpa Pendampingan Ahlinya itu Bahaya

Musti Ariantini by Musti Ariantini
April 24, 2023
in Esai
Self Diagnosis Tanpa Pendampingan Ahlinya itu Bahaya

Ilustrai tatkala.co

SERBA INSTAN, mungkin kata tersebut bisa mewakili kehidupan manusia pada masa sekarang ini. Semakin bergulirnya waktu dan berkembangnya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), ternyata menjadi pedang bermata dua dalam perkembangan kehidupan manusia. IPTEK memiliki peran penting dalam memajukan peradaban dan memudahkan segala pekerjaan manusia.

Namun, di samping manfaat luar biasa tersebut, tanpa disadari, perkembangan IPTEK juga membawa momok yang teramat mengerikan bagi kehidupan manusia. Tumbuhnya sifat pemalas serta sifat terburu-buru dalam mengambil keputusan dan menyimpulkan segala sesuatunya bahkan tanpa menelusuri kebenarannya terlebih dahulu. Sungguh mengerikan!

Nah, sifat-sifat tersebutlah yang menyebabkan munculnya fenomena self diagnose, yang merupakan seni mendiagnosis atau mengklaim diri sendiri sebagai orang yang mengidap sebuah penyakit berdasarkan pengetahuan dan informasi yang didapatkan secara mandiri tanpa dibantu dengan orang yang profesional.

***

Maraknya self diagnose dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, salah satunya media sosial. Bukan berarti media sosial tersebut buruk, tidak! Hanya saja mental dan pengetahuan kita yang belum cukup untuk memanfaatkan media sosial dengan baik.

Banyak orang menelusuri gejala kesehatan mental di internet (Google, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya), lalu percaya mentah-mentah bahwa mereka sedang mengalaminya dengan mengasumsikan (memaksakan) bahwa apa yang dirasakan sesuai dengan apa yang tertera di internet, padahal belum tentu sesuai.

Sering saya jumpai orang-orang di sekitar saya mencari tahu tentang kondisinya di Google (tak jarang saya juga… Hehehe), seperti misalnya ketika mengalami suasana hati yang buruk/sedih dan merasa putus asa, lalu melakukan penelusuran di Google dan Google menyatakan bahwa orang tersebut mengalami depresi.

Secara tidak sengaja, orang tersebut pasti akan memikirkan hal tersebut secara terus menerus, yang pada akhirnya justru menimbulkan stress.

Self diagnose bisa berakibat fatal terhadap kesehatan mental, yang memungkinkan seseorang mengalami mental illness (kondisi Kesehatan yang berpengaruh pada pemikiran, perasaan, perilaku, atau suasana hati seseorang).

Mental illness memiliki jenis yang beragam, namun yang biasanya cukup sering terjadi adalah gangguan kecemasan, kepribadian, gangguan makan, psikotik, suasana hati, stress pascatrauma, dan depresi.

Self diagnose sangat berbahaya bagi kesehatan karena akan menyebabkan hal-hal mengerikan seperti di bawah ini:

Salah obat

Setelah menelusuri Google dan mendapat jawaban bahwa Anda sedang mengalami suatu penyakit, lalu dengan tergesa-gesa mencari obat yang dianjurkan oleh Google. Padahal belum tentu Anda mengalami suatu penyakit atau bisa jadi dosis obat tersebut tidak sesuai dan mengandung bahan berbahaya untuk tubuh.

Mengabaikan kesehatan

Tak jarang kita abai ketika tubuh mengalami gejala-gejala aneh seperti tidak ingin bertemu dengan orang lain, mengalami perubahan emosi dalam waktu yang cepat dan tidak jelas penyebabnya. Lalu Anda menganggap hal tersebut hanyalah terjadi karena kelelahan biasa.

Padahal, bisa saja gejala-gejala tersebut merupakan gejala penyakit yang membutuhkan perawatan intens sebelum memasuki kondisi yang parah, seperti misalnya depresi atau gejala ODGJ.

Timbulnya penyakit yang lebih serius

Kebiasaan self diagnose bisa mebimbulkan penyakit baru seperti penyimpangan obat karena tidak sesuai dengan dosis, obat tersebut malah menimbulkan suatu penyakit baru dalam tubuh kita yang sebelumnya sehat.

Self diagnose juga menimbulkan penyakit baru khususnya penyakit mental, karena terlalu sering memikirkan diagnosis yang kita lakukan sendiri dan menimbulkan kecemasan yang berlebihan sehingga menimbulkan penyakit mental.

Belum lagi sekarang ini banyak sekali remaja-remaja yang membuat konten mengenai gangguan kesehatan mental di media sosial, bahkan tak tanggung-tanggung mengklaim dirinya sedang mengalami gangguan mental tingkat akut.

Biasanya konten-konten tersebut disampaikan dengan beberapa cuplikan video yang sedang mengiris pergelangan tangan atau menjambak rambutnya, memotong rambut pendek bagi perempuan dengan alasan stress, menangis di kamar yang gelap dan diiringi dengan lagu-lagu sedih, atau sebuah quote yang mampu mencuci pikiran orang-orang yang melihatnya.

Tak lupa menambahkan caption yang penuh dramatisasi, terkait penyebab dia melakukan hal seperti itu, terkait kondisinya yang mungkin menyatakan bahwa dia sedang mengalami gangguan depresi akut, mengalami stress atau trauma.

Lalu, secara tidak sengaja, konten-konten tersebut lewat di beranda media sosial Anda, dan mungkin saja ketika menonton video tersebut Anda sedang mengalami kelelahan atau menghadapi sedikit masalah. Nah, dalam kondisi tersebut sudah pasti Anda akan setuju dengan video di konten tersebut lalu mengasumsikan bahwa Anda juga mengalami hal yang sama.

Dengan tergesa-gesa membagikan konten tersebut di media sosial Anda sendiri yang secara tidak langsung mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama dan mendiagnosis dirinya mengalami penyakit mental.

Tindakan di atas berdampak sangat buruk, bahkan seperti membentuk rantai penyakit. Padahal, untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit kita hanya perlu berkonsultasi ke dokter. Atau, khususnya mengenai penyakit mental, kita diwajibkan untuk berkonsultasi ke psikolog.

***

Semakin ke sini manusia semakin sok pintar dan menganggap dirinya tahu segalanya hanya dengan modal hasil penelusuran di Google atau postingan di media sosial yang sengaja di buat dengan capslock dan bercetak tebal untuk mempengaruhi pemikiran seseorang.

Postingan-postingan seperti “5 TANDA KAMU MENGALAMI TRAUMA”, “7 TANDA KAMU MENGALAMI GEJALA STRESS AKUT” atau “TANDA-TANDA KAMU MENGALAMI INSOMNIA” dan postingan-postingan sejenis lainnya—yang di dalam konten tersebut menyebutkan hal-hal lumrah yang biasa terjadi.

Tidaklah mudah untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit, untuk itu kita wajib berkonsultasi dengan dokter yang telah menempuh Pendidikan kesehatan bertahun-tahun dan menghabiskan biaya hingga ratusan juta juga memerluka pengecekan dengan alat-alat kedokteran sebelum mendiagnosis seseorang.

Dan khusus untuk penyakit mental, hanya seorang psikolog saja yang memiliki otoritas mendiagnosis.

Namun, zaman sekarang, berkonsultasi ke dokter dirasa membuang-buang waktu, tanpa memperhatikan kesehatan sendiri. Dengan tingkat pengetahuannya, seseorang percaya bisa mendiagnosis dirinya hanya dengan media sosial dan internet, lalu mencari obat sendiri.

Terakhir, untuk bisa mengetahui kondisi kesehatan khususnya kesehatan mental, Jadilah psikolog bukan seperti psikolog.[T]

Self Harm:  Sebuah Pencarian Identitas Diri
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Usia 20-an, Masa Paling Melelahkan dalam Hidup dan Cara Memaknainya
Tags: anak mudaesaikesehatankesehatan mentaltips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Next Post

Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Setelah Muncul Nama Tiga Capres, Mari Utak-Atik Nama Cawapres

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co