6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 20, 2023
in Feature
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Makam Wali Pitu, Loloan, Jembrana, Bali

DENGAN JARAK TEMPUH tiga jam dari Denpasar, Jembrana menjadi wilayah yang kerap dilupakan. Kabupaten di ujung barat Bali ini lebih heterogen dibandingkan wilayah Bali lainnya. Menilik sejarahnya, sejak 1653 para pendatang dari Sulawesi Selatan mulai bermigrasi ke Jembrana. Warga yang bersuku Bugis itu seperti menemukan tempat yang mirip daerah asalnya. Mereka adalah para pelaut dan  Jembrana memiliki wilayah laut yang luas.

Warga Bugis keturunan Melayu tersebut bahkan diangkat menjadi prajurit kerajaan Jembrana. Mereka dikenal tangguh dan setia. Perang antara kerajaan Jembrana dengan kerajaan lain di Bali ketika itu dimenangkan tidak terlepas dari peran pasukan tersebut.  Juga ketika penjajah Belanda ingin menguasai Jembrana. Hingga akhirnya Raja Jembrana kala itu memberikan wilayah otonom untuk warga keturunan Bugis-Melayu. Mereka menamakannya desa Loloan, yang artinya sungai yang luas dan panjang, menurut bahasa Bugis.

Kini, Loloan menjadi kelurahan, terbagi menjadi Loloan Timur dan Loloan Barat. Para pelaut memang tidak ada lagi, namun jejaknya masih lestari hingga kini berupa rumah panggung yang mengingatkan pada masa lalu, ketika Jembrana adalah wilayah hutan luas, secara etimologis berasal dari kata Jimbar dan Wana. Jimbar artinya luas, dan Wana artinya hutan.

Dahulu adalah tempat pembuangan bagi para warga dan ksatria yang kritis, membangkang dan tidak mau tunduk pada aturan kerajaan di Bali bagian timur dan selatan. Mereka menembus hutan lebat, melawan ganasnya alam, lalu membuka hutan untuk ditempati, membangun peradaban baru yang “lain” dengan Bali pada umumnya.

Eka Sabara, penulis dan pegiat sejarah asal Loloan, Jembrana, menyebut, setidaknya terdapat tiga periode awal mula yang berkaitan erat dengan keberadaan warga Loloan di Jembrana saat ini, yang diawali dengan kedatangan orang-orang Bugis Makassar yang beragama Islam ke wilayah tersebut.

“Dalam periode pertama ini juga telah berhasil dibangun hubungan sosial yang harmonis antara masyarakat muslim Bugis Makassar dengan pemerintahan dan masyarakat setempat. Wangsa yang memerintah dan berkuasa di Jembrana pada saat kedatangan suku Bugis Makassar yakni Arya Pancoran,” jelasnya.

Kedatangan rombongan skuadron Daeng Nachoda pada abad ketujuh belas masehi, untuk pertama kalinya terjadi kontak antara kerajaan Jembrana di bawah penguasa saat itu I Gusti Ngurah Pancoran IV, membuahkan kerjasama yang amat baik dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak dengan ditunjuknya Daeng Nachoda sebagai bagian dari pasukan tentara kerajaan Jembrana, dan diberikan tempat untuk mendirikan sebuah bandar atau pelabuhan, yang saat itu dinamakan Bandar Pancoran.

“Bicara tentang Loloan, maka tidaklah lepas sebuah peranan yang sangat penting dari Bapak Pendiri Loloan dalam abad ke 19 Masehi, yaitu dengan tokoh sentral Syarif Tue dan Encik Ya’qub, yang telah meletakan pondasi integrasi dan eksistansi dalam hidup keberagaman dengan tetap menjaga silaturahmi kepada masyarakat dengan konsep lama yaitu menyama braya yang sangat kental sejak berabad-abad lalu” ujar Eka.

Relasi komunikasi sosial dan agama dengan konsep menyama braya bertahan hingga kini di Jembrana. Dinamika keberagamaan Loloan dan keunikannya mampu turut serta memajukan perekonomian Jembrana dari dulu hingga sekarang. Meskipun dikenal bukan sebagai destinasi pariwisata, kabupaten pemasok hasil pertanian dan perkebunan di Bali ini memiliki “mutiara terpendam” yakni potensi pariwisata yang belum dikembangkan secara baik dan memadai.

Sebut saja wisata kuliner khas Loloan, dengan berbagai jajanan khas dan unik serta nasi plecing ayam pedas menggugah selera. Selain itu, terdapat pula wisata air, menyusuri keindahan sungai Ijo Gading di tengah kota Negara hingga ke hilir sungai yang sering disebut muara, berlokasi di selatan kota.

“Wisata inilah yang saat ini harus dikembangkan ke depannya. Dengan menyusuri indahnya sungai Ijo Gading yang saat ini cukup bersih sebagai sarana melepas kepenatan, selain sebagai edukasi kepada generasi muda untuk lebih dekat dan mencintai alam,” kata Eka.

Wisata Religi

Selain jenis wisata di atas, di Loloan terdapat juga wisata religi yang menjadi andalan sejak era 1990-an yang turut serta meningkatkan perekonomian masyarakat Loloan baik di Loloan  Timur maupun di Loloan Barat. Wisata religi, merupakan wisata favorit di Kampung Loloan dengan mengunjungi atau menziarahi makam para ulama yang pernah ada di Loloan, baik di timur sungai Ijogading maupun disebelah barat sungai Ijogading. Wisata ini lebih dikenal dengan wisata ziarah makam Wali Pitu yang ada di Loloan Barat, makam Buyut Lebai di Loloan Timur, makam Syarif Tue Loloan di Loloan Timur.

Wisata religi merupakan salah satu potensi wisata di Loloan dengan keberadaan para Wali yang sering dikunjungi oleh para peziarah dari luar daerah dan luar pulau. Selain itu Loloan juga memiliki potensi wisata budaya dengan didukung oleh adanya peninggalan sejarah budaya seperti rumah panggung, dan kesenian khas melayu. Potensi wisata kuliner juga bisa dikembangkan di Loloan.

Selama masa Pandemi COVID-19, wisata religi di Loloan mengalami stagnasi karena tidak ada tamu atau peziarah yang berkunjung sehingga dampaknya sangat dirasakan oleh para pelaku wisata religi. Namun kini keadaan mulai membaik.

“Sejak awal Januari 2022 mulai ada beberapa kunjungan tamu. Hal ini cukup membuat para pelaku wisata di sini bisa bernapas lega. Peziarah yang merupakan wisatawan domestik datang ke Loloan dengan tidak lupa mematuhi protokol kesehatan,” pungkas Eka.

Para peziarah biasanya menginap di penginapan yang dikelola warga sekitar. Dalam pandangan Eka, untuk meningkatkan pariwisata Loloan ke depan, pengelola wisata religi bagus jika membuat program menginap di rumah-rumah penduduk berupa rumah panggung. Di kampung Loloan masih banyak terdapat rumah panggung yang menjadi ciri khas budaya setempat.

“Wisatawan bisa menginap atau bermalam di rumah panggung yang usianya sudah ratusan tahun. Tentu hal ini akan memberikan kesan berbeda ketimbang menginap di hotel atau penginapan. Wisatawan juga bisa melakukan perawatan wajah dengan boreh atau lulur tradisional yang banyak digunakan oleh para ibu dan remaja Loloan sejak lama,” pungkas Eka.

Komplek makam Syarif Tue Loloan ( Syarif Abdullah bin Yahya Al Qadri) | Foto Eka Sabara

Pengelolaan wisata religi di kampong Loloan masih bersifat mandiri, walaupun sudah ada kelompok guide atau pemandu wisata setempat yang tergabung dalam wadah “Guide Ijo Gading”. Hal ini memang belum dikelola oleh pemerintah daerah, akan tetapi pemerintah saat ini sudah sangat responsif melakukan perbaikan sarana-sarana jalan dan fasilitas umum yang turut serta membantu kenyamanan para tamu peziarah.

“Sudah ada rencana dari pemerintah kabupaten Jembrana untuk menjadikan Loloan sebagai destinasi desa wisata, dengan mempromosikan wisata kuliner dan lain-lain. Untuk wisata religi perlu dikembangkan lagi dengan memberikan kemudahan kepada masyarakat sekitar agar dapat berperan aktif dalam kegiatan wisata religi, dan perlu juga dilakukan renovasi atau pemugaran bangunan di makam Wali Pitu Loloan yang sudah mengalami kebocoran jika turun hujan,” kata Eka.

Ia menambahkan, hal lain yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan adalah menjaga toleransi dan harmoni serta keberagaman di tengah masyarakat yaitu tetap memelihara budaya yang sudah berjalan dan tumbuh berkembang di masyarakat Jembrana  dan Bali pada umumnya yakni konsep menyama braya yang penuh rasa kekeluargaan yang harus dilestarikan oleh para generasi muda saat ini.

Syair Wida’

Selain makam wali pitu dan para ulama, Loloan terdapat tradisi tua yang masih lestari hingga kini. Wida’, syair yang terdengar lirih, penuh kesedihan karena Ramadhan segera berakhir. Ngewida’, aktivitas membaca Wida’ dilakukan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Eka Sabara menjelaskan, sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19 Masehi, para Tuan Guru, sebutan ulama atau orang alim di Loloan pada abad ke-18, sangat bersedih menjelang tibanya sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.

“Kesedihan para Tuan Guru atau ulama dahulu, ditumpahkan dalam bentuk pujian-pujian dengan menggubah syair-syair khas Bugis-Melayu Loloan, yang bertujuan untuk menghidupkan suasana sepuluh malam terakhir Ramadhan sampai akhir malam Ramadhan,” tukasnya.

Eka menambahkan, syair Wida’ yang cukup populer dibaca oleh para ahli Wida’ yaitu syair Rakbi. Tradisi Ngewida’ ini dilakukan pada sekitar jam 12 malam hingga jam 2 pagi.

“Wida’ dilantunkan dengan suara lengkingan yang cukup panjang dan tinggi, memecah kesunyian dan keheningan malam, terdengar syair alunan kesedihan akan berakhirnya bulan Ramadhan,” jelasnya.

Makam Tuan Guru Haji Moh.Said ulama Besar Loloan 1887 Masehi | Foto: Eka Sabara

Ia menuturkan, kata Wida’ berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan. Oleh para ahli syair wida’ tradisi ini sering disebut Ngewida’. Tradisi ini hanya ada di Loloan saja. “Wida’ sebenarnya merupakan warisan tradisi Bugis Melayu Loloan, karena kata Wida’ juga berasal dari serapan bahasa Bugis yang berarti “selamat tinggal,” ujar Eka.

Cerita tentang kepercayaan masyarakat Loloan terkait bulan Ramadhan, diceritakan langsung oleh H. Ichsan kepada keponakannya yang bernama Suldan.

“Pada bulan Ramadhan para datuk-datuk kita mendapatkan “remisi” dari Allah SWT pulang ke rumah asalnya semasih di dunia fana ini. Nah, selama satu bulan tidak ade (ada) pertanyaan dari malaikat alam barzah, sehingga dengan syair Wida’ itu membantu mengantar para datuk-datuk awak (kita) pulang lagi ke alam Barzah. Setelah mendapat libur atau “remisi” selama satu bulan di bulan Ramadhan, libur satu bulan itu sama dengan libur setahun tidak mendapatkan pertanyaan dari malaikat,” tutur H. Ichsan kepada Suldan.

Hikmah dari tradisi Ngewida’, kata Eka, menggambarkan pesan dan kesan sedih karena rasa kehilangan kegembiraan Ramadhan. Sebaliknya, muncul rasa senang karena lepas dari kewajiban puasa dan mendapat hadiah hari raya Idul Fitri.

“Pada tahun 1980-an, pewida’ yang paling terkenal karena khas suara sedihnya, yaitu suara Pak Tabrani, Pak Zaki, dan Pak Huzaimi. Semua sudah almarhum saat ini,” ujarnya.

Generasi Muda

Yusuf Mudatsir, salah satu generasi muda Loloan mempunyai pengalaman pribadi saat mendengarkan Wida’ dilantunkan. Menurutnya, dari segi seni tarik suara, Wida’ memiliki note dan tangga nada yang khas, percampuran antara sika-nya note Melayu dan tembangnya note Bali. Maka di dalam mendengarkan Wida’ ia dapat merasakan bagaimana toleransi perpaduan seni tarik suara disuguhkan.

“Di samping itu dalam syair Wida’ juga terdapat keindahan dalam kesedihan. Ada soul di dalamnya, ada history dalam lantunannya seperti contoh perjalanan pendakian seorang hamba yang mendambakan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan,” kata Yusuf.

Sebagai seorang Muslim, rasa sedih berpisah dengan Ramadhan juga ia rasakan. Baginya, lantunan Wida’ merupakan representasi jiwa-jwa para hamba yang sedang gundah dalam mendaki dan meraih Lailatul Qadar.

“Maka jika Anda pejamkan mata Anda ketika mendengar Wida’, seolah-olah jiwa kita merasakan rintihan kesakitan saat detik-detik Ramadhan akan pergi. Ini berlaku kepada siapa pun walau tidak mengerti apa itu Wida’. Hal ini telah terbukti dengan eksperimen sosial yang kami lakukan dengan beberapa kawan dari luar daerah Loloan maupun luar Bali,” jelas Yusuf yang merupakan bagian dari Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

| Foto: Eka Sabara

Ia memandang Wid’a dan aktivitas Ngewida’ sangatlah baik karena merupakan tradisi masa silam yang masih tetap terpelihara hingga kini. Pelestarian warisan budaya tersebut, menurutnya sangat perlu dilakukan karena tradisi ini sesuatu yang sangat langka dan hanya didapati pada momen-momen tertentu yakni menjelang berakhirnya Ramadhan.

Bahkan, sambung Yusuf, tradisi Wida’ tak tertutup kemungkinan bisa menjadi daya tarik pariwisata, khususnya wisata religi. Ia melihat, dari kekhususannya Wida’ memiliki potensi untuk bisa dikenalkan ke khalayak ramai.

“Untuk caranya bisa bermacam-macam, tergantung apa yang kita ingin capai. Seperti contoh pagelaran festival dan memberikan reward kepada pelaku-pelaku Wida’ tempo dulu. Lagi pula, zaman sekarang budaya harus diimbangi juga dengan story telling, kan?” katanya.

Story telling yang dimaksudkan Yusuf adalah menulis tentang Wida’, misalkan asal-usul Wida’ dan berbagai seluk-beluknya baik di laman pribadi atau media sosial kelurahan Loloan maupun mengirimkannya ke media lokal, nasional bahkan internasional. 

“Untuk mengenalkan Wida’, banyak hal yang rencananya akan kami selaku pemuda-pemudi Loloan lakukan. Diantaranya, membuat film dokumenter tentang Wida’ dan Ngewida’. Hal itu sebagai bentuk rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan leluhur, para datuk dan ulama Loloan yang bisa jadi jenis kesenian ini satu-satunya di Indonesia,” sebutnya.

Tentang regenerasi pelantun syair Wida’, Yusuf mengatakan hal tersebut terus dilakukan. Banyak generasi muda Loloan yang tertarik mempelajari Wida’ dan Ngewida’. Ia sendiri beberapa kali pernah membawakan Wida’ walau masih taraf musholla depan rumah.

Yusuf mengaku, dari Ngewida’ ia dapat menggambarkan bagaimana cara penyampaian soul atau jiwa dari Wida’, teknik apa saja yang ada saat melantunkannya. Seperti yang ia singgung di atas, ada perpaduan tembang Melayu dan Bali.

Kini, pelantun Wida’ di Loloan yang dikenal banyak orang adalah Ustadz Suldan yang merupakan paman Yusuf. Darinya ia banyak belajar bagaimana melantunkan Wida’

Desa Wisata

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana saat dimintai keterangan tentang desa wisata menjelaskan, dalam rangka pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pariwisata berbasis masyarakat, Pemerintah Kabupaten Jembrana telah mencanangkan pembentukan desa wisata sesuai potensi wisata pada masing-masing desa atau kelurahan.

Kebijakan pengembangan desa wisata telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Jembrana Nomor 2 Tahun 2018 tentang desa wisata. Hingga saat ini,  sudah terbentuk tujuh desa wisata yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati Jembrana Nomor 209/Disparbud/2021.Loloan saat ini memang belum ditetapkan sebagai desa wisata, namun demikian di kelurahan Loloan Timur telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata Ambenan Ijogading yang aktif melaksanakan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan diharapkan akan dapat berkembang sebagai pengelola desa wisata di Loloan Timur.

Otentisitas dan keunikan desa wisata di Bali selama ini identik dengan budaya Bali dengan religi Hindu sebagai corak utama. Namun perlu juga diingat bahwa Bali memiliki sejarah panjang terkait budaya “luar”. Hal itu menjadi tantangan dan peluang, menjadikan Bali wilayah di Nusantara yang sejak dulu kala terbuka dengan kebudayaan liyan. Apresiasi, tidak sekadar toleransi. Bukan sejak puluhan tahun, bahkan ratusan dan mungkin ribuan tahun lalu sudah ada.

Akulturasi dan asimilasi budaya bukan hal aneh di Bali. Justru itu makin memperkuat dan memperkaya Bali. Desa wisata yang mengemuka beberapa tahun belakangan semoga tidak melupakan sejarah Bali termasuk adanya wisata religi islami. Tak hanya Jembrana namun juga di Buleleng, Karangasem, dan Klungkung yang mana terdapat kantong-kantong Islam sejak ratusan tahun lalu.

Akan sangat indah misalnya warga muslim di luar Bali selain menikmati destinasi pariwisata di Bali juga melakukan ziarah ke makam ulama dan Wali Pitu seperti yang ada di Jembrana. Potensi ini belum dikelola dengan baik, hanya dilakukan oleh warga secara mandiri. Pemerintah lokal perlu turut andil dalam mendukung dan memasukkan wisata religi Islami di Bali dalam promosi pariwisata, Dengan ini, keunikan dan keterbukaan Bali benar-benar terasa. [T]

Puisi-Puisi Islami Angga Wijaya | Apresiasi Keberagaman
Nuansa Islami Dalam Pustaka Lontar Bali
Serambi Masjid, Pengungsi Gunung Agung, dan Kampung Islam Buitan
Tags: baliIslamIslam di BalijembranaKampung Loloanwisatawisata religi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang

Next Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

by Wahyu Mahaputra
March 2, 2026
0
Suara Anak Gianyar Tahun 2026: Menolak Normalisasi Perkawinan Anak Hingga Etika Penggunaan ‘Artificial Intellegence’ Pada Anak

SUDAH empat belas tahun Forum Anak Daerah (FAD) Gianyar hadir sebagai salah satu wadah partisipasi anak di Kabupaten Gianyar, dan...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co