2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jerit Tangis Guru Honorer | Catatan dari Lomba Esai Guru di Tabanan

DN Sarjana by DN Sarjana
December 3, 2022
in Esai, Pilihan Editor
Jerit Tangis Guru Honorer | Catatan dari Lomba Esai Guru di Tabanan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

TULISAN INI mungkin menjadi episode terakhir dari seluruh rangkaian catatan pinggir saya tentang guru pada peringatan HUT ke-77 PGRI di Kabupaten Tabanan. Justru tulisan terakhir ini mengharubirukan perasaan saya selaku Ketua PGRI Tabanan.

Pada momen Hari Guru saya sebagai tim pendamping sekaligus sebagai salah satu juri dalam lomba esai guru. Dan saya sangat terharu membaca tulisan mereka, para peserta lomba yang memang adalah guru.

Ketika membaca esai-esai peserta, saya ingat pada tahun 1989, saya ke sana kemari membawa ijasah untuk mengabdi sebagai pengajar, namun tidak dapat tempat mengabdi untuk bisa mengajar di sekolah.

Bayangkan saya lulus dengan jalur skripsi, yang konon di masa itu selayaknya menjadi dosen. Tapi nyatanya, untuk menjadi guru pengabdi pun, untuk saya, tetap susah saat itu.

Sudahlah, saya sudah sangat bersyukur,  karena bisa membaca  tulis esai  teman-teman guru yang mengungkapkan perasaan yang terdalam dan menyedihkan. Memang, saat membaca, terasa dada ini sesak dan air mata tumpah tak bisa ditahan.

Untuk itu, saya mencoba merangkum esa-esai para peserta untuk menjadi satu kisah tentang guru honorer.

Inilah rangkuman esai-esai itu:

Berbekal ijazah Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini, saya mulai menggantungkan mimpi menjadi seorang guru yang berpenghasilan sejajar dengan kualifikasi Pendidikan yang dikantongi.

Selembar kertas kubawa di sebuah sekolah swasta. Dengan bangganya saat itu tepat 01 Oktober 2005 diterima sebagai guru honor sekolah. Tanpa bertanya berapa saya akan digaji perbulannya. Waktu pun berlalu, tak terasa sudah satu bulan. Amplop kuterima dengan wajah penuh semangat walaupun saat itu hanya terisi Rp. 150.000.

Bulan demi bulan terlewati, tahun demi tahun kulalui hanya dengan 150.000 perbulan. Hingga akhirnya di tahun 2011 mencoba ikut serta melamar CPNS. Namun sayang, dewi fortuna belum berpihak kepada saya. Dengan beban berat di pundak sebagai pendidik di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, yang merupakan pondasi keberhasilan jenjang berikutnya.

Setiap tahun saya tunggu formasi untuk Guru TK, dengan harapan bisa mewujudkan mimpi yang telah terukir beberapa tahun sebelumnya. Hingga harus menutup rapat-rapat pintu harapan dan kembali ke rutinitas sehari-hari bergelut dengan canda tawa anak didik usia 4-6 tahun. Anak-anak yang selalu bisa mengobati rasa dalam hati dengan renyah tawanya, dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus, hingga mampu membawa hati ini merasakan nyaman,tentram dan damai.

Selang dua belas tahun berjalan, saya kembali mencoba mengejar mimpi yang tak pasti dengan berpindah tugas. Berharap di lembaga baru akan mendapatkan perhatian yang layak, sepadan dengan apa yang tertuang dalam lembar kertas putih yang diperjuangkan selama empat tahun lamanya.

Angin segar pun berhembus di tahun 2021. Bukaan formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak Kerja dimulai. Hati pun menyambut gembira. Namun apa yang terjadi?

Lagi-lagi formasi PPPK Guru Pendidikan Anak Usia Dini tidak satupun menampakkan batang hidungnya. Hati pun menangis, hanya bisa mengigit jari saat melihat ribuan guru telah tersulap menjadi PPPK guru.  

Terkadang menyejukkan asa, tetapi tidak jarang juga kami mendengar lontaran percakapan yang mendiskreditkan andil dan dedikasi kami sebagai guru honorer PAUD. Sebagai manusia biasa tentu kami boleh berkeluh kesah terkait “tuntutan tugas kependidikan yang kami emban relatif sama, bahkan terkadang atas nama “senioritas”.

Kami para guru honorer mencoba tetap berbesar hati dan menghibur asa kami, “mungkin semuanya akan indah pada waktunya nanti”. Selanjutnya, kami guru honorer segera beranjak menata hati, memandang wajah-wajah mungil anak-anak didik kami sebagai ladang persemaian karakter mulya. Dalam hati kami bergumam “tetaplah mendidik dengan hati, walaupun ujian keikhlasan mengabdi ini sangat menyiksa nurani”.

Suatu ketika, saat itu, kami para guru honorer PAUD berkesempatan untuk berdialog secara interaktif dalam sebuah momen tanya jawab dalam kegiatan diklat fungsional bagi guru-guru PAUD di Denpasar. Kami para guru honorer iseng bertanya mengenai kemungkinan prospek perubahan kenaikan status kepegawaian kami dari guru honorer menjadi guru PNS dan bersertifikasi profesi pendidik.

Narasumber tersebut balik bertanya: “Apakah kualifikasi akademik ibu sudah memenuhi syarat sebagai pendidik PAUD? Sudah S1 PG-PAUD belum? Kalau belum kejar dulu ijazah S1 PG-PAUD-nya. Setelah itu, ajukan penerbitan NUPTK. Lalu pastikan data Ibu masuk di DAPODIK agar masuk juga dalam daftar antrian calon peserta PPG Guru sebagai tiket masuk mendapatkan Sertifikasi Profesi Guru di Aplikasi SIM-PKB. Kalau bersertifikasi Profesi Pendidik, maka peluang Ibu dalam seleksi calon guru P3K jenjang PAUD terbuka lebar”.

Begitu lugas dan menohok jawaban yang kami terima. Semua itu menyadarkan kami para guru honorer bahwa mata air kesejukan karir sebagai guru PAUD yang sejahtera masih sangatlah jauh. Masih ada banyak anak-anak tangga perjuangan yang harus kami daki setahap demi setahap, dengan banyak cucuran keringat bahkan air mata perjuangan. Tetapi setidaknya gambaran perjuangan selanjutnya yang harus kami tempuh untuk meraih hak-hak kami sebagai pendidik PAUD secara egaliter dan professional mulai jelas.

Menjadi guru memang soal pengabdian. Namun saat sibuk mengabdi, tak dipungkiri bahwa kebutuhan. Saya berpikir, semua orang  tak mengenal dan tak tahu kelelahan ini. Harus bangun lebih pagi, kerja lembur yang menyiksa. Rasa lelah yang luar biasa  hampir setiap hari dirasakan bahkan bukan itu saja, sering kali harus direpotkan dengan pekerjaan sampingan.

Pekerjaan sampingan bila tidak dikerjakan maka penghasilan tidak mencukupi segala kebutuhan. Terkadang berpikir juga untuk orang tua, apa yang harus dilakukan untuk membantunya. Sebagai anak pasti ingin membahagiakan orang tua. Dengan gaji yang tak mencukupi tak bisa membantu beban orang tua. Takut orang tua terlalu khawatir atau mungkin kecewa dengan mengabdi bertahun-tahun, pekerjaan banyak dilakukan tapi hasil tak seberapa. Rasanya ingin menangis namun, bagaimanapun harus bertahan karena semua yang dilakukan itu membawa berkah kepada semua orang.

Kepada pemerintah sejahterakanlah dan atasi masalah-masalah guru di dunia pendidikan. Perhatikanlah guru karena peran mereka sangat penting dalam membangun bangsa ini. Kualitas pendidikan akan baik apabila kesejahteraan guru juga baik. Pahlawan tanpa jasa dapat dimiliki dalam profesi yang digeluti. “No teacher no education”.

“Terpuruklah wahai engkau, ibu bapak guru, Gajimu takkan menanggung hidupmu, Dalam hari-harimu, Semua baktimu takkan terpikir, oleh pemerintahmu. Sebagai pengabdi terima gajimu. Tak cukup seminggu. Engkau tak pernah pelitnya. Dalam dunia pendidikan. Engkau patriot pahlawan bangsa. Tanpa imbalan jasa.” [T]

Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
“PR“ Itu Tak Akan Pernah Usai Bagi Guru
Tags: guruguru honorerguru PAUDHari GuruHari Guru NasionalPGRItabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu

Next Post

Jangan Lihat Tatonya, Sumertana Hidupi Keluarga dengan Kerja Baik Pantang Meminta

DN Sarjana

DN Sarjana

Guru. Ketua PGRI Tabanan

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lihat Tatonya, Sumertana Hidupi Keluarga dengan Kerja Baik Pantang Meminta

Jangan Lihat Tatonya, Sumertana Hidupi Keluarga dengan Kerja Baik Pantang Meminta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co