25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagi-lagi, Ketut Putrayasa Menebar Satir Modern, Kini Lewat “The Golden Toilet in Winter’’

tatkala by tatkala
November 16, 2022
in Pameran, Pilihan Editor
Lagi-lagi, Ketut Putrayasa Menebar Satir Modern, Kini Lewat “The Golden Toilet in Winter’’

Ketut Putrayasa Menebar Satir dalam “The Golden Toilet in Winter’’

Kita bisa melihatnya sebagai hal yang wajar. Bisa juga sebagai sesuatu yang absurd.

Toilet dicat warna emas. Ada karpet merah. Tumpukan es balok. Benar-benar es. Dan seseorang menggotong toilet emas itu, melintasi jalan berkarpet merah, tertatih dan ngos-ngosan.

Ini titah. Seseorang itu, dengan tenaga besarnya, berjuang sekuat-kuatnya untuk bisa meletakkan toilet pada tumpukan balok es.

Begitulah bagian dari seni intalasi ‘’The Golden Toilet in Winter’’ karya seniman Ketut Putrayasa, saat dipamerkan sekaligus diberi raga di Rumah Budaya Penggak Men Mersi di Jalan WR Supratman Denpasar, Sabtu, 12 November 2022.

Jika kita tak peka, peristiwa seni itu bisa disebut sebagai kewajaran yang biasa-biasa saja. Jika kita peka, dan menyaksikan peristiwa itu dengan mata hati, peristiwa itu adalah tumpukan halus dari rentetan kritik sosial yang cerdas.

Karya instalasi itu diberi khayat oleh pembacaan puisi yang menggetarkan dari sastrawan Wayan Jengki Sunarta dan gerakan-gerakan teaterikal dari seniman Achmad Obe Marzuki.

“The Golden Toilet in Winter” adalah karya seni instalasi paling baru yang dihasilkan dari buah tangan dan buah pikiran I Ketut Putrayasa.Sebelumnya ada sederetan seni instalasi yang dipamerkan pada berbagai lokasi, berbagai cuaca dan berbagai event, yang semuanya mengandung daya sindir yang amat kontekstual.

Putrayasa adalah perupa pematung kelahiran Canggu, Bali. Karya instalasi ini, sebagaimana juga banyak karya-karya dia sebelumnya, selalu berhasil menjadi satir, “art simbolik”, di dunia modern, yang boleh ditafsir dengan cara pandang  beragam sekaligus ambigu. 

Karya it bisa dimaknai   sebagai sapaan,  suara kritis,  serta cibiran halus  pada kekonyolan-kekonyolan kita hari ini. Secara tidak sadar kita menjadi manusia paradok (nungkalik), yang hulu kita jadikan hilir.

Gerakan-gerakan teaterikal dari seniman Achmad Obe Marzuki.

“The Golden Toilet in Winter” menjadi sejenis medium, bagaimana  kritik dan sapaan  yang  kadang terbaca berseberangan itu ditembakkan lewat seni instalasi sebagai bentuk suara yang lain  dan juga  bentuk kepedulian yang tulus ikut terlibat   merasakan  krisis  multidimensional hari ini. 

Di titik ini, The Golden Toilet in Winter  bukan lalu  menjadi suara yang berseberangan  dengan  pemegang kemufakatan dunia yang  panglimannya  hampir dipastikan adalah modal yang tunduk pada sistem pasar,  rancangan ideologi digaja dunia kapitalis.

Misalnya,  apa yang ada di balik kemufakatan-kemufakatan  para pemimpin dunia  bisa saja menafikan suara-suara warga dari bilik yang lain. Karena sungguh berbahaya   manakala politik dan ekonomi kawin mawin. 

Naluri-naluri gelap manusia   pasti selalu menelusup dalam “pernikahan” itu.   Memang sebagaimana dikatakan Dr. B. Herry-Priyono, pengajar filsafat di Sekolah Tinggi Driyarkara,  ” Rezim pemangsa ada di mana-mana dan menghasilkan ketimpangan atau peminggiran yang makin  dalam.”  

Sewaktu-waktu Bisa Meledak

Tumpukan  balok es, piranti utama dalam karya seni instalasi itu,  boleh dipahami sebagai  simbol  singasana yang dingin, juga   menggambarkan  situasi politik dunia yang  dingin,  yang saban waktu bisa  meledak jadi krisis mengerikan.  

Toilet, karpet, merah, dan balok es  adalah barang   sehari-hari biasa kita temui. Namun di tangan seniman Ketut Putrayasa, istalasi ini benar-benar menjadi satir, cibiran halus  pada pemegang kuasa  yang tidak sungguh-sungguh   melenyapkan  derita warga, tapi diam-diam membangun koorporasi, membuat kesenjangan antara yang miskin dan kaya begitu jomblang. 

Indikasi ini pernah dilansir B.Herry-Priyono & Yanuar Nugroho  (2007), bahwa di tahun 1960, sebanyak 20% warga paling kaya dunia menguasai 70,2% kekayaan dunia, dan 20% warga paling miskin mengontrol 2,3% kekayaan dunia. Dan di tahun 1989, kelompok pertama sudah menguasai 82,7%, sedang  yang kedua hanya kebagian 1,4%.

Jadi apapun kesepakatan-kesepakatan dunia yang bergulir di antara  negara-negara, entah apa namanya,  belum sanggup untuk tidak dicurigai. Kita yakin, pasti ada niat baik untuk membangun kesejahteran dan perdamain bersama.

Namun sejumlah problem dunia yang tak kunjung selesai, semisal krisis iklim,  krisis energi, kelangkaan pangan, perusakan lingkungan, krisis air bersih, limbah industri, dan lain-lain menunjukkan ketidakseriusan  pemegang kebijakan.

Maka, suatu  hari George Soros pun mengaku, sebagaimana dikutip Herry -Priyono, “Ritual demokrasi memang dilakukan, tetapi kapasitas negara untuk mengelola banyak hal sesunggunya sudah dilucuti oleh kepentingan privat kelompok-kelompok bisnis.” Inilah bahayanya, bila pemilik modal kawin-mawin dengan pengelola negara. Ekonomi dan politik bersetubuh.

Jadi, apapun usaha dan kemufakatan itu,  ujung-ujungnya adalah soal makan dan toilet.  Dan di setiap persinggaha itu hanya akan menjadi tempat makan dan toilet. Negara-negara abai merawat bumi, sumber segala makanan yang semestinya dirawat dengan kesepatakan-kesepatakan saling membutuhkan.

Tapi ada nasihat bijak dari Robin Sharma, penulis buku THE  5 AM CLUB, “Tolaklah khayalan umum bahwa mereka yang menumpuk paling banyak adalah pemenangnya.” Sementara orang Timur membalut ide asketiknya dengan melenyapkan penderitaan warga —   itulah derma, itulah  tugas pemimpin paling mulia.

Toilet Emas

Sastrawan Wayan Jengki Sunarta menciptakan puisi sendiri dari apa-apa yang ia rasakan dari seni instalasi karya Putrayasa itu. Ia membacakan puisi sendiri berjudul ‘’Toilet Emas.’’

Puisi yang dibuat pada Hari Pahlawan 10 November 2022 itu diambil dari judul seni instalasi karya Ketut Putrayasa “The Golden Toilet in Winter.”

‘’Puisi tersebut saya buat khusus untuk merespons karya instalasi Ketut Putrayasa. Puisi tersebut berbicara tentang kritik sosial, juga mengkritik kekuasaan yang rakus, tamak dan jumawa, memangsa alam dan rakyat jelata demi kepuasan diri dan kelompok elitenya,’’ ujar Jengki Sunarta.

Kelian Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita mengapresiasi lompatan kreativitas Ketut Putrayasa. Pemilik Rich Stone ini dipandang sebagai sosok seniman yang selalu memiliki gagasan cemerlang dan berani tampil out of the box.

Selain lihai melahirkan karya-karya spektakuler, Putrayasa juga sering menyisipkan kritik cerdas untuk senantiasa mengingatkan kepada kita arti dari kehidupan yang harmonis. Baik bersama alam, manusia, maupun kepada sang Maha Pencipta. [T][Ole/*]

Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022
Tags: kesenian baliKetut PutrayasaPameran Seni RupasatireSeni InstalasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Insan-insan Imajiner Made Kaek Dipamerkan di Chiang Mai, Thailand

Next Post

Januarta Wibawa, Penjaga Kedai, Jago Karate, dan Medali Emas untuk Buleleng

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Januarta Wibawa, Penjaga Kedai, Jago Karate, dan Medali Emas untuk Buleleng

Januarta Wibawa, Penjaga Kedai, Jago Karate, dan Medali Emas untuk Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co