24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Tradisi dalam Pertunjukan Teater Mini

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 21, 2022
in Ulas Pentas
Tubuh Tradisi dalam Pertunjukan Teater Mini

Pertunjukan Teater Mini dalam rangka Festival Seni Bali Jani IV di Ksirarnawa Art Center pada Selasa, 18 Oktober 2022

Menonton pertunjukan Teater Mini Bali (dulu Teater Mini Badung) yang berjudul “Danau Kematian” membuat saya bertanya, Proses apa yang sesungguhnya telah dialami oleh para aktor?

Pertunjukan diawali dengan masuknya segerombolan anak muda. Mereka bermain bunyi layaknya Tarian Kecak, lalu bermain alat musik—sekilas tampak seperti sedang menggelar ritual Mecaru.

Lalu beberapa orang keluar, dan dalam konteks ini, saya yakin: aktor-aktor dalam pertunjukan ini dipilih berdasarkan postur. Paling tidak postur menjadi satu ukuran penting. Saya menebak, lima orang lelaki yang keluar adalah Panca Pandawa, dan betul. Postur mereka cukup representatif untuk menunjukan tokoh-tokoh Panca Pandawa.

Kisah berlanjut. Tarian yang cukup membuat saya yakin bahwa itu adalah para bidadari muncul di panggung, lalu mereka bergerak seolah sedang mandi, tapi gerakan itu masih tetap terkontrol. Koreografi yang cukup representatif. Dan, adegan yang kemudian saya ingat adalah beberapa mayat tergeletak di pinggir danau. Mayat-mayat itu adalah Sahadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima.

Pertunjukan yang dibawakan oleh Teater Mini Badung ini mengisahkan tentang Panca Pandawa yang menjalani pengasingan di hutan. Dalam pertunjukan, digambarkan bahwa Pandawa berjalan di hutan, melewati semak-semak, pepohonan rindang, dan tiba-tiba mereka mendapat satu permintaan dari seorang Brahmana tua: “Tongkat saya dilarikan oleh seekor kijang,” kata Brahmana itu, dan Panca Pandawa berjanji untuk membantunya mengambil kembali tongkat itu.

Pertunjukan Teater Mini dalam kisah Danau Kematian di Festival Bali jani IV 2022

Saya meyakini bahwa generasi kini adalah generasi visual. Visual menjadi satu hal penting yang diperhatikan orang, termasuk saya. Maka dari itu, penampilan Panca Pandawa bagi saya adalah satu strategi yang menarik, tapi ada satu hal yang unik. Teater Mini Badung berusaha memanfaatkan proyektor dalam pertunjukan.

Di layar yang berada di tengah-tengah panggung ini gambar muncul bergantian, membawa penonton pada situasi tertentu. Untuk urusan ini, saya yakin, hal ini mesti diperbaiki lagi secara teknis. Tapi menariknya, saya yang menyadari kekurangan itu, justru masuk dalam situasi pertunjukan. Akan tetapi, gerak itu terasa keluar masuk: sesekali masuk ke dalam adegan, lalu menyadari teknis gambar, lalu masuk lagi, dan begitu seterusnya.

Dalam perjalanan mengambil kembali tongkat Brahmana itu dari Kijang, para Pandawa kehausan di tengah jalan. Sahadewa adalah orang pertama yang bertugas untuk mencari air. Tapi lama ia tak kembali, lalu disusul Nakula. Hal yang sama terjadi pada Nakula, setelah itu disusul Arjuna, lalu disusul Bima, kemudian Yudistira.

Bila kita perhatikan, pola yang sama ini merupakan pola kritis, ia rawan mengalami penotonan adegan yang mengakibatkan penonton meninggalkan pertunjukan. Tampaknya, Anom Ranuara sebagai sutradara menyadari hal itu. Maka, di sela-sela kemenotonan adegan itu, segerombolan pemain dengan tubuh-tubuhnya yang memukau keluar. Mereka adalah gerombolan makhluk yang mengakui dirinya sebagai makhluk kelas paling rendah.

Gerombolan makhluk ini melihat para Pandawa yang tergeletak karena sesungguhnya air di Danau itu tidak bisa langsung diminum. Setiap salah seorang Pandawa hendak mengambil air untuk minum, tiba-tiba muncul suara asing: “jangan minum air itu, kau hanya boleh minum setelah menjawab pertanyaanku,” kata suara yang dari entah itu. Tapi, Para Pandawa mengabaikan permintaan suara asing itu, karena sikap itulah mereka mengalami petaka.

Pertunjukan Teater Mini dalam kisah Danau Kematian di Festival Bali jani IV 2022

Dalam situasi genting itu, para pemeran gerombolan makhluk kelas bawah ini menunjukkan kelihaian bermain di atas panggung. Saya tiba-tiba teringat suatu ungkapan salah seorang teman. Seniman pertunjukan—kala itu ia menyebut pregina—semakin tua tubuhnya akan semakin matang. Sedikit saja bergerak, sudah menunjukan sesuatu. Tubuhnya sudah bicara.

Barangkali hal ini karena penguasaan teknik “Kenyang Lempung” yang sederhananya bisa disebut sebagai pengendalian tubuh lembut dan keras. Tentu ini hanya salah satu, dan barangkali ada banyak hal lain yang tak dapat saya identifikasi. Ketua gerombolan itu sungguh tak banyak bergerak, tangannya bahkan tak terangkat terlalu tinggi, tapi ia mampu membuat penonton terdiam, lalu tertawa pada dialog-dialog lucu yang dilontarkan.

Ada sekitar lima orang makhluk itu, dan mereka tidak memperkenalkan diri. Akan tetapi, dari gestur, cara bicara, dan mimiknya, kita akan dengan mudah mengenali karakter mereka: lugu, penurut, dan sebagainya, dan saya berkesimpulan, ada proses yang panjang di balik tubuh-tubuh mereka.

Terkadang, gerak dalam tari-tari Bali muncul dalam pertunjukan teater. Bentuk-bentuk itu hadir tak terkendali. Hal seperti itu akan memunculkan anggapan bahwa satu pertunjukan itu kotor. Tetapi tidak dengan tubuh-tubuh pemain ini. Mereka tampak khatam, dan secara terang mengeksplorasi beberapa bentuk, semisal cara berdiri, berjalan, posisi kaki dalam agem, tangan, tolehan mata, dan sebagainya. Mereka bermain dengan modal itu. Gerombolan makhluk kelas bawah itu kemudian bersembunyi—mereka keluar panggung.

Dalam lakon itu, dikisahkan bahwa Arjuna dan Bima sempat murka setelah melihat adik-adiknya tergeletak, tapi hal yang sama menimpa mereka setelah dengan arogan hendak melanggar kata-kata yang muncul entah dari mana itu. Mereka meninggal. Tak seperti empat Pandawa yang sudah meminum air, lalu mati itu, Yudistira justru dengan cemerlang mengikuti peraturan itu. Tapi, satu hal yang mengejutkan adalah jawaban dari Yudistira.

“Saya ke sini tidak untuk minum air, hanya kebetulan lewat, jadi saya minta kalau berhasil menjawab pertanyaan itu, beri saya tongkat Brahmana yang dilarikan kijang itu,” katanya.

Yudistira tidak meminta adik-adiknya untuk hidup kembali atau meminta agar bisa minum air, tapi tongkat, sebagaimana tujuan awalnya. Bagi Yudistira, kematian adalah keniscayaan, tapi jika ia tak bisa mengembalikan tongkat Brahmana itu, Yudistira melanggar janjinya. Suara itu sepakat.

Yudistira diberikan pertanyaan-pertanyaan rumit, yang menuntun jawaban pada pemuliaan air. Yudistira berhasil menjawab, tapi setelah semua terjawab suara itu berkata lain: “Aku tak bisa memenuhi keinginanmu.”

Yudistira menjadi murka, dusta adalah kejahatan baginya. Lalu, Yudistira yang bijaksana ini memperlihatkan gelagat marah: “Aku adalah bumi, tak banyak bicara, tapi sekali bicara bisa menenggelamkan gunung sekalipun!” Dalam layar di panggung, muncul gambar gunung, petir, awan hitam; terdengar suara gemuruh, suara asing itu yang pada gilirannya meminta Yudistira untuk berhenti, dan cahaya turun.

Suara itu adalah suara dari seorang Dewa, yaitu Dewa Dharma, yang hampir dilawan Yudistira; Dewa yang sesungguhnya adalah ayah Yudistira sendiri.

Sekali lagi, Dewa Dharma berkata bahwa tongkat itu tak bisa dikembalikan karena Brahmana itu adalah jelmaan dirinya, dan cerita tentang tongkat hanyalah rekaan. Semua itu disusun hanya karena Kerinduan Dewa Dharma kepada Yudistira, anaknya. Lalu, setelah percakapan yang panjang,

Pandawa yang telah meninggal dibangkitkan lagi, dan Dewa Dharma memberi pentujuk pada Pandawa untuk menyelesaikan pengasingan itu, dan mereka diizinkan untuk minum air. Pemeran Dewa Dharma yang tampak tenang itu berdiri di dekat layar, para bidadari keluar untuk menari. Pertunjukan selesai.

Pertunjukan Teater Mini dalam kisah Danau Kematian di Festival Bali jani IV 2022

Teks pertunjukan yang berjudul “Danau Kematian” ini ditulis oleh Anom Ranuara, dimainkan oleh Teater Mini dalam rangka Festival Seni Bali Jani IV di Ksirarnawa Art Center pada Selasa, 18 Oktober 2022, dan saya pikir, pertunjukan ini digelar dalam waktu yang tepat.

Beberapa hari yang lalu, banjir terjadi di beberapa tempat di Bali, merobohkan jembatan, menghanyutkan rumah warga, bahkan merobohkan bangunan Pura. Belakangan ini, air seolah hadir sebagai tokoh antagonis dalam realitas. Meskipun tak ada satu kehidupan pun yang tampaknya bisa hadir tanpa air. Tapi air dalah dualitas itu sendiri, pengurip (yang memberi hidup) sekaligus pelebur.

Dalam pertunjukan, penonton tahu bahwa air pula yang mampu membunuh lima kesatria tangguh dalam waktu yang singkat—meskipun ada campur tangan Dewa. Meskipun begitu, air tetap mesti dihormati, sebagaimana menghormati ibu, sebagaimana yang disebutkan oleh Yudistira dalam pertunjukan.

Tentu tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan pertunjukan ini. Selain aktor-aktor yang memukau, pertunjukan ini mesti menimbang ulang penyampaian pesan. Pesan-pesan penting dalam pertunjukan ini, dalam beberapa hal disampaikan secara harfiah. Padahal, dialog-dialog itu cukup berjarak dengan bahasa lisan, dan pesan, kadang tak mampu menancap dalam benak penonton, tapi cerita selalu melekat. Karena itu pula, hal inilah yang sesungguhnya mesti ditimbang lagi, atau mungkin mesti digali.

Pertunjukan “Danau Kematian” meskipun melakukan perpindahan yang tidak banyak, kadang tempo terasa lambat, tetapi ada sesuatu yang membuat penonton tetap bertahan, dan pada titik tertentu, mereka tertawa-tawa. Menjaga perhatian penonton adalah satu keberhasilan dari Teater Mini. [T]

Kisah “Telaga Naga” Berseri-seri dalam Garapan Teater Kini Berseri
Makin Beragam Musik Puisi di Bali
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2022kesenian baliTeaterTeater Mini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Next Post

Film “Bondres Tata Titi”: Cedil dan Dadong Rerod dalam Wujud Animasi

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Film “Bondres Tata Titi”: Cedil dan Dadong Rerod dalam Wujud Animasi

Film “Bondres Tata Titi”: Cedil dan Dadong Rerod dalam Wujud Animasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co