2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 9, 2022
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Fakultas kedokteran Undiksha telah menginjak usia yang ke-4 tahun. Dengan demikian, angkatan pertama fakultas ini sudah menjalani pendidikan profesi sebagai dokter muda atau populer disebut koas (co-ass/co-assistant). RSUD kabupaten Buleleng dan beberapa RS pemerintah di Bali saat ini menjadi wahana para koas untuk belajar keterampilan klinik sebagai syarat menjadi seorang dokter.

Untuk memenuhi target jumlah kasus yang mereka pelajari, bahkan beberapa RS swasta di kota Singaraja pun dijadikan tempat para dokter muda untuk belajar. Begitu nyata sudah, mereka yang sakitlah yang justru akan memenuhi syarat terpenting bagi koas untuk kelak menjadi seorang dokter.

Tak salah lagi, pasien-pasienlah guru para dokter muda itu. Tanpa pendidikan profesi ini seorang mahasiswa kedokteran hanya memiliki pengetahuan teori kedokteran belaka, sebagai seorang sarjana kedokteran (Sked). Mereka takkan pernah memiliki sertifikat untuk memberi terapi kepada pasien layaknya seorang dokter.

Topik khusus yang membahas betapa berharganya sumbangsih pasien-pasien ini bagi mahasiswa kedokteran dan bahkan juga bagi para dokter, sudah saya tulis beberapa tahun lalu dengan judul “Pasien, Guru Yang Sempurna.” 

Di FK Undiksha, saya diberikan tugas sebagai salah seorang pengajar, baik dosen pre klinik/teori, dari semester 1-7  maupun tahap profesi/praktik sebagai dokter pendidik klinis (doknis), dari semester 8 sampai selesai, biasanya selesai di semeseter 12.

Banyak hal lucu dan menarik yang saya catat sepanjang yang bisa saya ingat sebagai pengajar. Saya cenderung ingin berbagi hal-hal ringan dari sebuah isu maupun proses, agar dapat menghadirkan dimensi dan perspektif baru dari isu atau proses tersebut, apalagi yang dibahas merupakan hal-hal yang serius.

Sudah menjadi persepsi umum jika pendidikan kedokteran adalah dunia serius dan kaku. Sekolahnya lama dan mahasiswanya kurang gaul. Kesan kaku dan serius mungkin karena materi yang dibahas adalah segala penyakit dan sehari-hari berhadapan dengan penderitaan pasien-pasiennya atau mungkin dosen-dosennya yang killer. Kurang gaul bisa jadi karena tugas yang banyak dan menyangkut nyawa pasien membuat mereka kurang waktu buat merawat diri atau nongkrong bareng sahabat-sahabat.

Namun sekarang keadaan sudah jauh berubah. Tak kalah dengan mahasiswa lain, mahasiswa kedokteran saat ini tampil modis, wangi, komunikatif, kreatif dan kelulusannya pun diupayakan tepat waktu. Ini seiring dengan konsep pendidikan “Kampus Merdeka.”

Selama pandemi, tentu saja perkuliahan dilakukan dengan cara daring. Dari metode ini, tanpa disengaja dapat diketahui bagaimana keadaan rumah maupun lingkungan para mahasiswa. Ini

Biasanya saat mahasiswa unmute untuk bertanya atau berdiskusi. Saya sering kepo menanyakan hal-hal tersebut. Ada yang pada saat itu sedang memperbaiki dapurnya yang bocor atau ketahuan ayahnya gemar sabung ayam karena selama yang bersangkutan unmute, suara gaduh ayam jantan tak henti-henti berkokok.

Tentu saja kami semua menahan tawa, karena tak mungkin juga menyuruh ayam-ayam itu untuk diam. Dan tawa menjadi lepas saat saya menggoda si calon dokter untuk cari waktu masak bersama di rumahnya bikin kare ayam, ha ha ha!

Saya meyakini, pendidikan tidak cukup pada sisi kognitif saja. Itulah kemudian saya mengajak para mahasiswa FK Undiksha mengenal dan menikmati kebebasan yang ada saat ini. Dalam dunia sastra saya mengajak mereka untuk menjadi penikmat bahkan jika mau menjadi pelaku sastra.

Saya mengajak mereka berkenalan dengan rumah belajar Mahima, rumah di mana sastrawan dan penikmat sastra berkumpul dan berkarya.  Dunia kedokteran akan jauh menjadi lebih humanis saat “dianugerahi” sastra yang kaya filsafat.

Dalam dunia kemanusiaan saya mengajak mereka untuk langsung bersentuhan dengan mereka yang papa dan tak berdaya melalui kegiatan sosial bersama yayasan Sesama yang saya dirikan.

Sebagai seorang dokter, saya pun pernah menjalani pendidikan kedokteran dengan segala romantikanya. Saya bertugas sebagai koas di RSUP Prof Ngurah – FK Unud Denpasar sekitar tahun 1998-2000.

Saat itu, jika bertugas jaga malam, kesempatan untuk tidur sebentar saja, begitu sulit. Kami sesama dokter muda, harus rebutan tempat untuk berbaring. Jangan dibayangkan kasur yang kami perebutkan, melainkan meja, kursi panjang atau apapun yang bisa digunakan untuk sekadar merebahkan badan lalu memejamkan mata. Begitu beratnya proses pendidikan yang harus dijalani.

Karena saking lelahnya, saya pernah tertidur di atas bed untuk pemeriksaan ibu hamil. Saya berjanji untuk tidur sebentar saja. Demi mengatasi rasa lelah dan ngantuk yang teramat berat. Saat hendak bangun, saya kaget bukan main, karena tanpa saya ketahui, di samping saya ada koas cewek kakak tingkat yang juga berbaring kelelahan tak berdaya.

Kalau tidak salah ingat, senior itu adalah putri dari salah satu dosen anatomi kami yang tinggal di Kuta. Parasnya cantik dan kulitnya putih halus karena ia memang keturunan Tionghoa. Karena tak enak mengganggu tidurnya, saya pun melanjutkan tidur saya lagi, untuk sebentar saja, ha ha ha!  

Di lain waktu, saya mengalami kesialan. Karena rekan-rekan lain pada mengikuti program KKN, cuma sayalah yang bertugas di ruang bersalin. Terang saja, semua kasus persalinan di malam yang melelahkan itu saya tanggung sendiri. Tak kurang dari delapan kasus persalinan.

Sampai kapan pun saya akan mengingat pengalaman yang begitu mengesankan itu karena saya mengalami “banjir” air ketuban bahkan ada yang sampai masuk ke mulut saya.

Jika pada awalnya saya menganggapnya sebagai sebuah kesialan, belakangan baru saya yakini itu adalah sebuah berkah. Sebab dengan pengalaman keterampilan itu, saat bertugas di pedalaman sebagai dokter saya dapat mengerjakan dengan mudah dan percaya diri semua kasus-kasus kebidanan.

Brahm*  betul, katanya All is well. Sebetulnya masih banyak kisah-kisah unik dan lucu yang saya alami saat bertugas, namun cerita ini akan mengakhirnya. Saat itu kami bertugas di bagian mata dan mengikuti program operasi katarak masal.

Seperti biasa, sambil mengerjakan pembedahan, dosen selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada kami yang mendampingi sebagai observer maupun asisten.

Beliau bertanya, “Saat melihat menggunakan lensa binokuler, berapa mata yang kita gunakan?”

Kami perlu waktu sesaat berpikir untuk memastikan jawaban, ketika tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara pasien yang matanya sedang kami operasi, “Dua.”

Lho, kok dia tahu dan benar? Tentu saja kami penasaran. Seusai operasi kataraknya, kami cari tahu hal ini. Rupanya ia seorang perawat senior yang bertugas pada poliklinik mata di sebuah puskesmas, ha ha ha! [T]

*Ajahn Brahmn, seorang fisikawan teori yang memilih jalan hidup sebagai biksu, berkebangsaan Inggris.

[][][]

BACA esai-esai lain dari Dokter Arya

Keajaiban Itu Bernama Berbagi | Catatan Hari Jadi Ke-7 Yayasan Sesama
Dokter Gila | Cerpen Putu Arya Nugraha
Pasien, Guru Yang Sempurna
Tags: Dokter Arya NugrahaFakultas KedokterankedokteranmahasiswaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji

Next Post

Pawai Maulid Nabi di Desa Pegayaman, Semarak di Tengah Hujan

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pawai Maulid Nabi di Desa Pegayaman, Semarak di Tengah Hujan

Pawai Maulid Nabi di Desa Pegayaman, Semarak di Tengah Hujan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co