13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbagi Ekspresi Dalam Mewarna Gelap

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
September 10, 2022
in Ulas Rupa
Berbagi Ekspresi Dalam Mewarna Gelap

Yuliana Rara, merangkai bunga | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Sabtu, 20 Agustus 2022, Café Dalam Rumah Art Station yang terletak di Jalan Gatot Subroto VI C No. 1, Denpasar, dipenuhi oleh peserta workshop yang merupakan rangkaian pameran lukisan Mewarna Gelap dalam rangka mengenang Didon Kajeng, founder Yayasan Telaga Teratai Indonesia. Sejak pukul 14.30 WITA mereka mulai berdatangan, mengingat acara akan dimulai pukul 15.00 WITA.

Terdapat tiga kegiatan dalam workshop yang diselenggarakan dalam waktu yang bersamaan yaitu workshop papier machie atau clay dari bahan bubur kertas, kegiatan melukis pada baju kaos, tas kain dan patung terakota serta demo merangkai bunga. Para peserta bebas untuk memilih kegiatan yang akan diikuti. Dari pengamatan penulis, terdapat peserta yang selain melukis juga mengikuti kegiatan paper clay. Dengan sigap pihak penyelenggara meladeni keinginan peserta tersebut. Sepanjang bahan masih tersedia, aman.

Acara dimulai sesuai jadwal yang ditetapkan. Pembawa acara Adi Siput membuka acara dengan gayanya yang segar dan kocak. Pendiri Sanggar Seni Surapradnya – Tampaksiring ini mengajak Ketua Yayasan Telaga Teratai Indonesia, I Made Jery Juliawan, untuk menyambut peserta workshop sekaligus mempersilakan untuk memulai berkarya. “Selalu semangat,” ujar Jery dalam sambutannya.

Begitu dipersilakan, peserta yang telah memenuhi tempat acara langsung beraksi, menuangkan ekspresi mereka masing-masing. Selain ragam kegiatannya, yang menarik dalam workshop kali ini adalah para pesertanya yang beragam. Peserta workshop berasal dari berbagai kalangan yaitu dari rekan-rekan disabilitas netra Yayasan Telaga Teratai Indonesia, sahabat tuli (panggilan sesuai dengan keinginan dari rekan-rekan sanggar) dari Sanggar Seni Budaya Dharma Santi, pegiat film Minikino, Bali Bersama Bisa, rekan-rekan pelukis, serta anak-anak dari kalangan umum. Ramainya peserta membuat pihak panitia harus menambahkan beberapa meja dan kursi agar seluruh peserta dapat berkarya dengan nyaman.

Made Budhiana (paling kiri) dan Sanggar Seni Dharma Santhi (Sahabat Tuli) | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Beberapa peserta, di luar seniman pelukis, ternyata memang memiliki kemampuan melukis yang mengagumkan. Empat orang sahabat tuli yang hadir saat acara, merupakan remaja yang telah berprestasi dibidang melukis. Sesuai penjelasan dari pihak sanggar yang mendampingi, para remaja tersebut merupakan juara lukis di tingkat nasional dan salah satu dari mereka karyanya telah dikirim ke Jepang. Dan memang, media berupa tas kain yang menjadi pilihan mereka, menjelma indah begitu mendapat goresan dari tangan-tangan yang piawai tersebut. Semua dijalankan dengan santai dan sambil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat, bersama beberapa peserta yang duduk di dekat mereka.

Sementara itu di sisi kanan panggung, tampak Yuliana Rara yang akrab dipanggil Rara, memandu demo merangkai bunga. Demo diikuti oleh beberapa peserta yang terlihat antusias bertanya tentang bahan-bahan yang digunakan serta bagaimana cara membentuk janur untuk menjadi bentuk-bentuk yang khas, yang kemudian akan menjadi bagian dari rangkaian bunga tersebut. Dengan sabar, Mb Rara yang merupakan Ketua DPC Denpasar Ikatan Perangkai Bunga Indonesia, mempraktekkan cara merangkai janur sembari menjelaskan bunga-bunga yang digunakan, salah satunya adalah bunga meduri ungu. Rangkaian bunga yang didemokan merupakan khas dari Didon Kajeng, yaitu mengutamakan bunga-bunga lokal, beberapa diantaranya merupakan bunga yang memang digunakan dalam kegiatan upacara agama di Bali.

“Saya berusaha menerjemahkan apa yang ingin diwujudkan oleh Didon,” ungkap Rara saat ditanyakan oleh Adi Siput mengenai proses kreatif dalam merangkai bunga. “Bunga, buah, posisi dan bentuk rangkaian diarahkan olehnya saat Didon sudah tidak bisa melihat. Begitu selesai, Didon akan memastikan apakah rangkaian tersebut sudah sesuai dengan keinginannya, dengan cara meraba rangkaian tersebut,” lanjut Rara yang merupakan floral designer yang sering diundang untuk memberikan workshop di berbagai acara.

Band Nirkala dengan MC Adi Siput | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Jika demo merangkai bunga berjalan dengan khidmat diselingi cara merangkai janur untuk membuat bentuk tertentu, maka workshop melukis pada kaos berjalan ekspresif. Begitu berhadapan dengan baju kaos putih polos yang telah dialasi karton coklat di bagian dalamnya, peserta langsung menggoreskan kuas dengan warna-warna yang telah disediakan dalam wadah-wadah bening di meja masing-masing. Beberapa seniman yang telah malang melintang di dunia seni lukis yaitu Made Budhiana, Nyoman Wirata, serta Gede Gunada turut andil dalam kegiatan tersebut. Dan tiga orang perupa outsider art yang pada waktu sebelumnya melakukan pameran lukisan di lokasi yang sama, juga ikut serta menuangkan ekspresi mereka, yaitu Wayan Jengki Sunarta, Bonk Ava dan Mediana Ayuning.

Dalam waktu singkat baju kaos yang awalnya berwarna putih polos menjelma menjadi baju yang “berbicara” sesuai dengan karakter masing-masing peserta. Baju kaos yang dilukis oleh Gede Gunada, menyuarakan tentang kelebihan dan kekurangan yang membentuk keseimbangan. Hal tersebut diutarakan oleh Gunada saat dikonfirmasi oleh Adi Siput. Tentu pesan ini sangat berhubungan dengan acara Mewarna Gelap yang secara tidak langsung memang ingin menyuarakan tentang keseimbangan tersebut.

“Jarang ada acara semacam ini, begitu egaliter dan kita bisa berbaur bersama tanpa harus melihat latar belakang masing-masing,” ungkap Jengki, penyair yang belakangan ini terlihat makin tekun dalan menyelami dunia lukis.

Di bawah panduan Adi Siput, acara berlangsung kocak nan segar, tak jarang Adi melontarkan guyonan kepada panitia yang sibuk memfasilitasi peserta. Termasuk saat proses pengeringan hasil karya papier machie atau clay, yang dilakukan dengan menggunakan oven. Penjelasan dari Diandra Raditya, mentor workshop papier machie, proses pengovenan ini dilakukan untuk mengganti proses pengeringan menggunakan sinar matahari yang tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

“Jika menggunakan oven, maka clay akan lebih cepat kering. Paling pas dalam waktu tiga hari clay sudah betul-betul kering dan keras. Jika sudah kering clay siap untuk diwarnai,” terang alumni ISI Denpasar yang saat ini bergelut di bidang seni patung.

Kostra | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Workshop papier machie sendiri menghasilkan bentuk-bentuk yang unik. I Wayan Mudrayana, yang merupakan rekan disabilitas netra dari Yayasan Telaga Teratai Indonesia, membuat bentuk keris, yang sebelumnya telah dibuatkan rangka dari kawat. Dari rangka tersebut, perlahan Mudra mulai membuat bentuk dari bahan bubur kertas yang telah disiapkan. Sementara itu beberapa peserta lainnya membuat bentuk sesuai keinginan mereka, seperti kepala manusia dengan taring, rumah jamur, rangkaian bunga, dinosaurus serta bentuk abstrak. Sesudah selesai di oven, kurang lebih dua puluh menit, karya tersebut kemudian diberi warna.

Beberapa peserta lainnya memilih untuk melukis patung terakota, berbentuk badan atau torso dan kepala manusia. I Putu Yogantara, anggota Yayasan Telaga Teratai Indonesia, merupakan salah satunya. Yoga mewarnai torso dengan menggunakan jarinya tanpa kuas, yang dengan lincahnya memoles torso tersebut menggunakan cat berwarna ungu tua. Lalu dengan panduan rekan lainnya, Yoga melukis di beberapa bagian, sehingga menghasilkan torso dengan lukisan bunga. Dalam berkarya rekan-rekan disabilitas netra didampingi oleh pendamping yang penglihatannya normal, mereka membantu pada proses pengambilan warna agar tidak keliru.

“Mewarna Gelap”, Lukisan-Lukisan Mengenang Didon Kajeng

Tepat pukul 18.00 WITA, acara workshop pun ditutup, seluruh karya kemudian di pajang di venue, dan ke depannya akan dilelang ke khalayak umum. Acara kemudian ditutup dengan penampilan dari band Nirkala, yang pesertanya terdiri dari tiga orang disabilitas netra. Seluruh peserta tampak gembira dan larut dalam lagu-lagu berbahasa Bali yang dilantunkan oleh sang vokalis, beberapa hadirin pun turut bernyanyi, saat dilantunkan lagu-lagu yang memang sudah familiar.

Tak terlihat adanya kecanggungan dari seluruh peserta untuk berbaur dan berbagi ekspresi. Sehingga tepat jika Pande Mahardika, yang selama ini membimbing rekan-rekan Yayasan Telaga Teratai Indonesia dalam melukis, mengatakan dalam pesan singkatnya bahwa tidak ada perbedaan antara yang bisa melihat dengan yang tidak bisa melihat, semua bisa menghasilkan karya seni. Hal serupa dikatakan oleh Nyoman Wirata, seniman lukis, bahwa ekspresi seni dapat disampaikan melalui berbagai media, termasuk baju kaos dan tas kain.

Nyoman Wirata melukis kaos | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Pameran Lukisan “Mewarna Gelap” masih berlangsung sampai dengan tanggal 27 Agustus 2022. Sehingga khalayak umum masih bisa menikmati karya seni dan hasil workshop diantaranya berupa baju dan tote bag yang telah dilukis antara lain oleh pelukis yang hadir saat acara. Karya-karya yang dihasilkan oleh peserta workshop sangat beragam dan unik, sehingga tak salah rasanya menyimpulan workshop Mewarna Gelap merupakan salah satu sarana untuk berbagi ekspresi. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Wayan Latri, Legenda Mantri Manis Arja Keramas

Next Post

Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A.: Etnomusikolog, Mantan Rektor, Pernah Jualan Pisang Goreng

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A.: Etnomusikolog, Mantan Rektor, Pernah Jualan Pisang Goreng

Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A.: Etnomusikolog, Mantan Rektor, Pernah Jualan Pisang Goreng

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co