24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Rejang Dipentaskan Untuk Mendapatkan Rekor MURI | Nah, Fenomena Apa Ini?

tatkala by tatkala
July 4, 2022
in Esai
Tari Rejang Dipentaskan Untuk Mendapatkan Rekor MURI | Nah, Fenomena Apa Ini?

Paaa narasumber dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Seni Sakral bekerjasama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali di Ruang Rapat Padma Disbud Provinsi Bali, Sabtu (2/7/2022).

Kesenian sakral dikhawatirkan makin mengalami sekulerisasi akibat tergesernya fokus-fokus kesenian sakral yang semula sebagai persembahan rasa bhakti (Niskala) menjadi sajian yang menghibur menarik perhatian penonton manusia (Sekala).

Misalnya, tari rejang yang digunakan untuk mencari rekor MURI, dijadikan untuk penyambutan, dan keluar dari uger-uger seni sakral.

Nah, bagaimana menyikapi fenomena seperti ini?

Dinas Kebudayaan Bali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Seni Sakral bekerjasama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali di Ruang Rapat Padma Disbud Provinsi Bali, Sabtu (2/7/2022).

FGD ini untuk membicarakan kekhawatiran masyarakat terhadap fenomena sekularisasi tari sacral yang marak terjadi belakangan ini di ruang publik.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber yakni budayawan Prof Dr I Wayan Dibia ST MA, Prof Dr I Made Bandem MA, dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali yang diwakili oleh Petajuh Bidang Adatm Agama, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal Bali, I Gusti Made Ngurah.

Diskusi dimoderatori oleh Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra. Diskusi dihadiri oleh para anggota MKB dan Kelompok Ahli Bidang Pembangunan bidang Adat, Agama, Tradisi, Seni dan Budaya Pemprov Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof I Gede Arya Sugiartha mengungkapkan, FGD ini dilatarbelakangi oleh maraknya seni sakral yang dijalankan tidak pada tempatnya dan tidak memenuhi kriteria-kriteria seni sakral.

“Bahkan ada tari rejang yang digunakan untuk mencari rekor MURI, dijadikan untuk penyambutan, dan keluar dari uger-uger seni sakral. Kita khawatirkan akan terjadi degradasi nilai daripada tarian itu. Selain merupakan arahan dari pimpinan, kami juga menerima banyak masukan dari para pakar terkait kondisi ini,” ungkapnya.

Mantan Rektor ISI Denpasar ini melanjutkan, Disbud Bali akan bekerjasama dengan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat untuk memberikan pemahaman kepada para bendesa adat. Sebab kantong-kantong seni sakral itu ada di Desa Adat.

“Dengan PMA ini kita kerjasama ini harus kita awali dengan memberikan pemahaman kepada para bendesa adat tentang apa itu seni sakral. Seni sakral itu adalah seni yang diciptakan melalui proses sakralitas. Itu termaktub dalam Perda 4 tahun 2020. Setelah memberikan pemahaman kepada bendesa adat, kalau diperlukan kita mungkin akan keluarkan SE tentang perlindungan seni sakral,” kata Prof Arya.

Selain membahas seni sakral, dalam FGD tersebut juga disepakati, untuk tari-tari yang ada pakemnya, akan diperkuat lagi dengan membukukan pakem-pakem kesenian tersebut. Agar jangan justru kesenian yang mendominasi dibanding kesenian pokoknya.

“Sekarang pertunjukan-pertunjukan seperti topeng dan arja, itu bebondresannya terlalu mendominasi. Bahkan bebondresannya banyak juga yang tidak beretika, hal-hal yang dibahas itu tidak sesuai dengan keluhuran budaya Bali. Kembali ke pakem. Pakem itu adalah sumber nilai,” jelasnya.

Budayawan Prof Dibia mengaku sudah cukup lama mengamati perkembangan kesenian Bali dan merasakan kekhawatiran tersebut. Menurutnya, sekulerisasi terjadi akibat tergesernya fokus-fokus kesenian sakral dari semula sebagai persembahan menjadi sajian yang menghibur, menarik perhatian penonton manusia. Banyak yang melihat fenomena ini sebagai suatu hal yang biasa, bukti terus berdenyutnya kreativitas seni budaya dan dianggap sebagai inovasi dari seniman. Namun tak sedikit pula yang khawatir bahwa ini jelas-jelas menunjukkan degradasi terhadap nilai-nilai kesucian kesenian yang selama ini dimuliakan.

“Ada enam ciri-ciri seni sakral antara lain menggunakan benda dan simbol sakral, melibatkan proses penyucian, dilakukan oleh orang-orang pilihan, dilaksanakan di tempat suci, pada waktu tertentu yang disakralkan, dan membawakan tema sakral. Banyak tarian sakral dibawakan oleh orang yang tidak melalui proses penyucian. Penari topeng pajegan tidak mewinten, sehingga kualitas dari sajian itu semakin berkurang dan akhirnya tarian tidak lagi sesakral yang seharusnya,” ungkapnya.

Tidak semua tari yang berlabel “rejang” atau “baris gede” secara otomatis bisa dibawa masuk ke pura. Dalam paparannya Prof Dibia menjelaskan, sekulerisasi terjadi pada beberapa rejang ciptaan baru yang dijadikan sajian upacara tanpa proses ritual apa-apa. Selain itu, fokus penyajian rejang ciptaan baru lebih menekankan pada sundaram (pameran keindahan), daripada siwam dan satyam sebagai perwujudan rasa bhakti. Beberapa tari rejang ciptaan baru dijadikan tari penyambutan, dipentaskan untuk acara-acara non religius, dipentaskan secara kolosal untuk mendapatkan Rekor MURI.

Pun dengan tari baris gede ciptaan baru yang dimasukkan ke dalam sajian upacara juga tanpa proses penyucian yang jelas, ditampilkan dalam acara non religius, dipentaskan secara kolosal untuk mendapatkan rekor MURI. Begitu juga sajian Topeng Sidakarya disajikan dalam format topeng bondres, dipenuhi aksi spontan bernuansa jaruh, ngacuh, buduh, berisi nuansa pelecehan simbol-simbol agama, perbincangan uang, politik, dan lain-lain, serta dibawakan oleh penari yang belum mewinten.

“Jadinya kita melihat tarian-tarian sakral yang disakralkan itu digunakan untuk bermacam-macam tujuan. Untuk penyambutan iya, upacara di pura iya, peresmian gedung pemerintah iya, perlombaan tari juga iya. Sehingga ini menjadi tidak jelas,” bebernya.

Prof Dibia pun berpendapat, pemahaman masyarakat tentang mana yang dimaksud dengan tari sakral itu perlu terus digencarkan. Termasuk para pelaku seni juga mengetahui tatanan jika akan membawakan tari sakral. Memang diperlukan pemahaman ulang terkait hal ini. Prof Dibia pun setuju pemahaman ini diberikan terlebih dahulu kepada bendesa adat.

“Masyarakat masih belum paham, tidak tahu bahwa tari rejang seperti ini belum disucikan. Asal ada kata rejang, lalu dikesankan sebagai tari sakral. Masyarakat masih perlu diberikan pemahaman mengenai seni sakral ini biar tidak berkembang ke arah yang keliru,” kata budayawan asal Desa Singapadu, Gianyar ini.

Soal proses penyucian untuk berkesenian sakral juga menjadi fokus pembahasan bagi narasumber lainnya, Prof Dr I Made Bandem MA. Selain itu, dari segi kostum penari juga menggunakan pakaian-pakaian yang disucikan, bukan sembarangan. “Untuk menarikan tari sakral biasanya melalui proses penyucian sebelumnya. Seperti mewinten dan melukat, proses disucikan selama 5 sampai 11 hari untuk rejang. Sedangkan untuk berutuk disucikan selama 42 hari, jadi penari tidak boleh berhubungan dengan duniawi, tetap di pura saja menjadi pengayah. Dikondisikan mereka menjadi orang suci. Jadi proses penyucian itu penting sekali dalam seni sakral,” kata Prof Bandem.

Dalam paparannya, Prof Bandem mengutarakan seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, banyak tari-tari sakral kita berubah menjadi tari sekuler. Banyak anggota masyarakat yang belum memahami arti dari sakral dan profan sehingga mereka bisa mengaburkan pementasan-pementasan yang terkait dengan berbagai upacara keagamaan. Untuk tujuan promosi dan konstruksi, ada tari sakral seperti rejang dipentaskan dalam rangka menyambut tamu, perlombaan desa, bahkan ada yang dilombakan untuk sebuah prestasi semacam MURI.

Untuk menanggulangi dampak buruk dari sebuah kemajuan zaman, menurut Prof Bandem perlu mengembalikan fungsi tari sakral untuk dipentaskan di pura-pura di desa pemilik tarian tersebut. Selain itu, masih terasa perlu diadakan seminar (pesamuhan) “redefinisi” mengenai klasifikasi Wali, Bebali, dan Balih-balihan, serta menyosialisasikan hasil seminar klasifikasi Wali, Bebali, Balih-balihan ke dalam masyarakat melalui Desa Adat.

Kemudian diperlukan juga pendokumentasian berbagai bentuk rejang dan sanghyang di seluruh Bali sebagai bahan penciptaan tari-tari baru, baik untuk tari Bebali, maupun Balih-balihan. Perlu adanya sosialisasi dan pembinaan 9 tari Bali yang telah diinskripsi oleh UNESCO tahun 2015 sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda, mengenai manfaatnya bagi Bali. Tarian itu ialah Tari Wali: (Sanghyang Dedari, Rejang Dewa, dan Baris Gede), Tari Bebali (Topeng Pajegan, Gambuh, dan Wayang Wong), dan Tari Wali (Barong Kuntisraya, dan Joged Bungbung).

Sementara itu, Petajuh Bidang Adat Agama, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal MDA Bali, I Gusti Made Ngurah mengungkapkan, lakon tari wali yang dipentaskan dalam Panca Yadnya disesuaikan dengan hakikat dan makna yadnya yang bersangkutan. Tingkatan yadnya yang patut disertai dengan tari wali pun disesuaikan yadnya dengan tingkatan madya sesuai dresta masing-masing.

Mengutip Himpunan Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang telah ditetapkan sebagai Hasil Mahasabha V PHDI Tahun 1986, Gusti Made Ngurah mengungkapkan beberapa saran yang bisa dilakukan yakni PHDI Pusat supaya menginstruksikan kepada PHDI seluruh Indonesia agar umat Hindu dalam melakasanakan upacara yadnya selalu mempertahankan tari wali sesuai disesuaikan dengan yadnya yang bersangkutan, dalam hal ini peran serta Tri Manggalaning Yadnya mengadakan pembinaan oleh instansi atau lembaga terkait secara formal lewat sekolah dan informal melalui sanggar-sanggar tari Bali, organisasi kemasyarakatan Hindu seperti Sekaa Teruna dan KKN mahasiswa.

Tags: Pesta Kesenian Bali 2022Tari Rejangtari sakral
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegeg Bagus Karangasem 2022: Cantik dan Tampan, Mesti Paham Adat dan Budaya

Next Post

Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co