15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Rejang Dipentaskan Untuk Mendapatkan Rekor MURI | Nah, Fenomena Apa Ini?

tatkala by tatkala
July 4, 2022
in Esai
Tari Rejang Dipentaskan Untuk Mendapatkan Rekor MURI | Nah, Fenomena Apa Ini?

Paaa narasumber dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Seni Sakral bekerjasama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali di Ruang Rapat Padma Disbud Provinsi Bali, Sabtu (2/7/2022).

Kesenian sakral dikhawatirkan makin mengalami sekulerisasi akibat tergesernya fokus-fokus kesenian sakral yang semula sebagai persembahan rasa bhakti (Niskala) menjadi sajian yang menghibur menarik perhatian penonton manusia (Sekala).

Misalnya, tari rejang yang digunakan untuk mencari rekor MURI, dijadikan untuk penyambutan, dan keluar dari uger-uger seni sakral.

Nah, bagaimana menyikapi fenomena seperti ini?

Dinas Kebudayaan Bali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Seni Sakral bekerjasama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali di Ruang Rapat Padma Disbud Provinsi Bali, Sabtu (2/7/2022).

FGD ini untuk membicarakan kekhawatiran masyarakat terhadap fenomena sekularisasi tari sacral yang marak terjadi belakangan ini di ruang publik.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber yakni budayawan Prof Dr I Wayan Dibia ST MA, Prof Dr I Made Bandem MA, dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali yang diwakili oleh Petajuh Bidang Adatm Agama, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal Bali, I Gusti Made Ngurah.

Diskusi dimoderatori oleh Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra. Diskusi dihadiri oleh para anggota MKB dan Kelompok Ahli Bidang Pembangunan bidang Adat, Agama, Tradisi, Seni dan Budaya Pemprov Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof I Gede Arya Sugiartha mengungkapkan, FGD ini dilatarbelakangi oleh maraknya seni sakral yang dijalankan tidak pada tempatnya dan tidak memenuhi kriteria-kriteria seni sakral.

“Bahkan ada tari rejang yang digunakan untuk mencari rekor MURI, dijadikan untuk penyambutan, dan keluar dari uger-uger seni sakral. Kita khawatirkan akan terjadi degradasi nilai daripada tarian itu. Selain merupakan arahan dari pimpinan, kami juga menerima banyak masukan dari para pakar terkait kondisi ini,” ungkapnya.

Mantan Rektor ISI Denpasar ini melanjutkan, Disbud Bali akan bekerjasama dengan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat untuk memberikan pemahaman kepada para bendesa adat. Sebab kantong-kantong seni sakral itu ada di Desa Adat.

“Dengan PMA ini kita kerjasama ini harus kita awali dengan memberikan pemahaman kepada para bendesa adat tentang apa itu seni sakral. Seni sakral itu adalah seni yang diciptakan melalui proses sakralitas. Itu termaktub dalam Perda 4 tahun 2020. Setelah memberikan pemahaman kepada bendesa adat, kalau diperlukan kita mungkin akan keluarkan SE tentang perlindungan seni sakral,” kata Prof Arya.

Selain membahas seni sakral, dalam FGD tersebut juga disepakati, untuk tari-tari yang ada pakemnya, akan diperkuat lagi dengan membukukan pakem-pakem kesenian tersebut. Agar jangan justru kesenian yang mendominasi dibanding kesenian pokoknya.

“Sekarang pertunjukan-pertunjukan seperti topeng dan arja, itu bebondresannya terlalu mendominasi. Bahkan bebondresannya banyak juga yang tidak beretika, hal-hal yang dibahas itu tidak sesuai dengan keluhuran budaya Bali. Kembali ke pakem. Pakem itu adalah sumber nilai,” jelasnya.

Budayawan Prof Dibia mengaku sudah cukup lama mengamati perkembangan kesenian Bali dan merasakan kekhawatiran tersebut. Menurutnya, sekulerisasi terjadi akibat tergesernya fokus-fokus kesenian sakral dari semula sebagai persembahan menjadi sajian yang menghibur, menarik perhatian penonton manusia. Banyak yang melihat fenomena ini sebagai suatu hal yang biasa, bukti terus berdenyutnya kreativitas seni budaya dan dianggap sebagai inovasi dari seniman. Namun tak sedikit pula yang khawatir bahwa ini jelas-jelas menunjukkan degradasi terhadap nilai-nilai kesucian kesenian yang selama ini dimuliakan.

“Ada enam ciri-ciri seni sakral antara lain menggunakan benda dan simbol sakral, melibatkan proses penyucian, dilakukan oleh orang-orang pilihan, dilaksanakan di tempat suci, pada waktu tertentu yang disakralkan, dan membawakan tema sakral. Banyak tarian sakral dibawakan oleh orang yang tidak melalui proses penyucian. Penari topeng pajegan tidak mewinten, sehingga kualitas dari sajian itu semakin berkurang dan akhirnya tarian tidak lagi sesakral yang seharusnya,” ungkapnya.

Tidak semua tari yang berlabel “rejang” atau “baris gede” secara otomatis bisa dibawa masuk ke pura. Dalam paparannya Prof Dibia menjelaskan, sekulerisasi terjadi pada beberapa rejang ciptaan baru yang dijadikan sajian upacara tanpa proses ritual apa-apa. Selain itu, fokus penyajian rejang ciptaan baru lebih menekankan pada sundaram (pameran keindahan), daripada siwam dan satyam sebagai perwujudan rasa bhakti. Beberapa tari rejang ciptaan baru dijadikan tari penyambutan, dipentaskan untuk acara-acara non religius, dipentaskan secara kolosal untuk mendapatkan Rekor MURI.

Pun dengan tari baris gede ciptaan baru yang dimasukkan ke dalam sajian upacara juga tanpa proses penyucian yang jelas, ditampilkan dalam acara non religius, dipentaskan secara kolosal untuk mendapatkan rekor MURI. Begitu juga sajian Topeng Sidakarya disajikan dalam format topeng bondres, dipenuhi aksi spontan bernuansa jaruh, ngacuh, buduh, berisi nuansa pelecehan simbol-simbol agama, perbincangan uang, politik, dan lain-lain, serta dibawakan oleh penari yang belum mewinten.

“Jadinya kita melihat tarian-tarian sakral yang disakralkan itu digunakan untuk bermacam-macam tujuan. Untuk penyambutan iya, upacara di pura iya, peresmian gedung pemerintah iya, perlombaan tari juga iya. Sehingga ini menjadi tidak jelas,” bebernya.

Prof Dibia pun berpendapat, pemahaman masyarakat tentang mana yang dimaksud dengan tari sakral itu perlu terus digencarkan. Termasuk para pelaku seni juga mengetahui tatanan jika akan membawakan tari sakral. Memang diperlukan pemahaman ulang terkait hal ini. Prof Dibia pun setuju pemahaman ini diberikan terlebih dahulu kepada bendesa adat.

“Masyarakat masih belum paham, tidak tahu bahwa tari rejang seperti ini belum disucikan. Asal ada kata rejang, lalu dikesankan sebagai tari sakral. Masyarakat masih perlu diberikan pemahaman mengenai seni sakral ini biar tidak berkembang ke arah yang keliru,” kata budayawan asal Desa Singapadu, Gianyar ini.

Soal proses penyucian untuk berkesenian sakral juga menjadi fokus pembahasan bagi narasumber lainnya, Prof Dr I Made Bandem MA. Selain itu, dari segi kostum penari juga menggunakan pakaian-pakaian yang disucikan, bukan sembarangan. “Untuk menarikan tari sakral biasanya melalui proses penyucian sebelumnya. Seperti mewinten dan melukat, proses disucikan selama 5 sampai 11 hari untuk rejang. Sedangkan untuk berutuk disucikan selama 42 hari, jadi penari tidak boleh berhubungan dengan duniawi, tetap di pura saja menjadi pengayah. Dikondisikan mereka menjadi orang suci. Jadi proses penyucian itu penting sekali dalam seni sakral,” kata Prof Bandem.

Dalam paparannya, Prof Bandem mengutarakan seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, banyak tari-tari sakral kita berubah menjadi tari sekuler. Banyak anggota masyarakat yang belum memahami arti dari sakral dan profan sehingga mereka bisa mengaburkan pementasan-pementasan yang terkait dengan berbagai upacara keagamaan. Untuk tujuan promosi dan konstruksi, ada tari sakral seperti rejang dipentaskan dalam rangka menyambut tamu, perlombaan desa, bahkan ada yang dilombakan untuk sebuah prestasi semacam MURI.

Untuk menanggulangi dampak buruk dari sebuah kemajuan zaman, menurut Prof Bandem perlu mengembalikan fungsi tari sakral untuk dipentaskan di pura-pura di desa pemilik tarian tersebut. Selain itu, masih terasa perlu diadakan seminar (pesamuhan) “redefinisi” mengenai klasifikasi Wali, Bebali, dan Balih-balihan, serta menyosialisasikan hasil seminar klasifikasi Wali, Bebali, Balih-balihan ke dalam masyarakat melalui Desa Adat.

Kemudian diperlukan juga pendokumentasian berbagai bentuk rejang dan sanghyang di seluruh Bali sebagai bahan penciptaan tari-tari baru, baik untuk tari Bebali, maupun Balih-balihan. Perlu adanya sosialisasi dan pembinaan 9 tari Bali yang telah diinskripsi oleh UNESCO tahun 2015 sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda, mengenai manfaatnya bagi Bali. Tarian itu ialah Tari Wali: (Sanghyang Dedari, Rejang Dewa, dan Baris Gede), Tari Bebali (Topeng Pajegan, Gambuh, dan Wayang Wong), dan Tari Wali (Barong Kuntisraya, dan Joged Bungbung).

Sementara itu, Petajuh Bidang Adat Agama, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal MDA Bali, I Gusti Made Ngurah mengungkapkan, lakon tari wali yang dipentaskan dalam Panca Yadnya disesuaikan dengan hakikat dan makna yadnya yang bersangkutan. Tingkatan yadnya yang patut disertai dengan tari wali pun disesuaikan yadnya dengan tingkatan madya sesuai dresta masing-masing.

Mengutip Himpunan Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang telah ditetapkan sebagai Hasil Mahasabha V PHDI Tahun 1986, Gusti Made Ngurah mengungkapkan beberapa saran yang bisa dilakukan yakni PHDI Pusat supaya menginstruksikan kepada PHDI seluruh Indonesia agar umat Hindu dalam melakasanakan upacara yadnya selalu mempertahankan tari wali sesuai disesuaikan dengan yadnya yang bersangkutan, dalam hal ini peran serta Tri Manggalaning Yadnya mengadakan pembinaan oleh instansi atau lembaga terkait secara formal lewat sekolah dan informal melalui sanggar-sanggar tari Bali, organisasi kemasyarakatan Hindu seperti Sekaa Teruna dan KKN mahasiswa.

Tags: Pesta Kesenian Bali 2022Tari Rejangtari sakral
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegeg Bagus Karangasem 2022: Cantik dan Tampan, Mesti Paham Adat dan Budaya

Next Post

Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

Gong Kebyar dari Tabanan Bawa “Wangsuh Peneduh”, “Hujan Kesanga”, dan Lain-lain

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co