24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Hindu Jawa Kuno & Bali Tidak Mentuhankan Sri Krishna?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 22, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 22 Maret 2022.

Hindu India mengalami perubahan secara radikal dalam mentuhankan Sri Krisna karena salah satu sebab terpentingnya adalah kemunculan kitab BRAHMA-SAṀHITĀ, yang baru ditulis sekitar tahun 1300 Masehi. Inilah yang menjadi salah satu rujukan atau babon terpenting dari “pentuhanan Sri Krishna” yang berkembang di India secara luas. Kitab tersebut tidak menyebar di Jawa dan Bali.

Kitab BRAHMA-SAṀHITĀ adalah sebuah teks Pancharatra berbahasa Sanskekerta yang terdiri dari syair-syair doa yang diucapkan oleh Dewa Brahma yang memuliakan atau mentuhankan Krishna atau Govinda pada awal penciptaan. Dalam kitab inilah disebutkan bagaimana Dewa Brahma menyembah Sri Krishna. Demikian juga di sini disusun cerita bahwa Gayatri dan ayat Weda bersumber dari Sri Krishna. Kitab-kitab Weda tidak menyebutkan demikian. Kitab ini berkembang dan dikembangkan menjadi dihormati dan menjadi pedoman dalam Gaudiya Vaishnavisme, yang didirikan abad ke-16 oleh Chaitanya Mahaprabhu (1486-1534), yang menemukan kembali sebagian dari karya tersebut, 62 ayat dari bab lima, yang sebelumnya telah hilang selama beberapa abad, di Kuil Adikesava Perumal, Kanyakumari di India Selatan. BRAHMA-SAṀHITĀ mempengaruhi munculnya tradisi pikir dan berbagai teks yang “MENTUHANKAN-KRISHNA”.

Seorang pakar peneliti khusus kitab ini, Mitsunori Matsubara, dalam bukunya ‘Pañcarātra Saṁhitās and Early Vaisṇava Theology’  menyebutkan bahwa kitab BRAHMA-SAṀHITĀ  ditulis sekitar tahun 1300 M. Dalam teks inilah tersebut berisi deskripsi yang sangat esoteris tentang Krishna bertempat tinggal di Goloka.

PENTUHANAN KRISHNA dari fragmen atau kutipan BRAHMA-SAṀHITĀ, pada bab kelima, syair pertamanya dengan jelas MENTUHANKAN Sri Krishna, sebagai berikut:

īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇaḥ sac-cid-ānanda-vigrahaḥ
anādir ādir govindaḥ sarva kāraṇa kāraṇam

Terjemahannya:

“Krishna, yang dikenal sebagai Govinda , adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dia memiliki tubuh spiritual bahagia yang abadi. Dia adalah asal dari segalanya. Dia tidak memiliki asal lain dan Dia adalah penyebab utama dari semua penyebab.” 

Teks tersebut pertama kali diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Inggris oleh Bhaktisiddhanta Saraswati pada tahun 1932 dan sering dinyanyikan atau dibacakan baik sebagai teks renungan maupun filosofis, dengan terjemahan Inggeris sebagai berikut:

“Krishna, who is known as Govinda, is the Supreme Personality of Godhead. He has an eternal blissful spiritual body. He is the origin of all. He has no other origin and He is the prime cause of all causes.”

HINDU & KEJAWEN BERHALA?

PENTUHANAN SRI KRISHNA makin berkembang semenjak dalam terjemahan pengikutnya secara sistematis memakai sebutan istilah bahasa Inggeris “GODHEAD” (Tuhan Tertinggi) untuk Sri Krishna, sementara dewa lainnya adalah “DEMIGODS” atau ‘setengah-dewa’ atau di bawah ‘Godhead’ (Tuhan Tertinggi). Terjemahan dengan istilah Inggeris ‘Godhead’, dipakai dalam terjemahan buku-buku sekte keagamaan Hare Krishna dan mendudukkan bahwa Sri Krisna yang Tuhan Tinggi, dan secara konsisten dan sistematis menempatkan dewa-dewa lain diterjemahkan sebagai ‘demigods’ atau ‘setengah-dewa’ sebagai bawahan ‘Godhead’ (Krishna). AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada, pendiri International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) menerjemahkan kata Sansekerta “dewa” sebagai ‘demigods’ (“setengah dewa”) dalam terjemahan-terjemahannya, dan mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Esa yaitu Sri Krishna sebagai “GODHEAD” (Tuhan Tertinggi) dan semua dewa-dewi yang lain hanyalah hamba Krishna. Namun, terjadi pengecualian ketika menterjemahkan kata “deva”, setidaknya ada tiga kejadian dalam bab kesebelas Bhagavad-Gita di mana muncul kata “deva”, yang digunakan untuk merujuk kepada Dewa Krishna, diterjemahkan sebagai “Tuhan”. Gelar “deva” diterjemahkan sebagai Tuhan Yang Maha Esa atau “GODHEAD” kalau diikuti nama Krishna, sementara kalau gelar “deva” diikuti oleh nama lain, maka diterjemahkan sebagai “DEMIGODS” atau hanyalah hamba Dewa Krishna.

Kitab BRAHMA-SAṀHITĀ dan isinya tidak pernah ditemukan jejaknya secara jelas dalam peninggalan lontar-lontar keagamaan di Bali.

Ketika BRAHMA-SAṀHITĀ yang menjadi “PENDOMAN PENTUHANAN KRISHNA” disusun di India sekitar tahun 1300-an Masehi, Hindu di Jawa dan Bali telah berkembang pesat di Kerajaan Singasari dan kemudian dilanjutkan Kerajaan Majapahit. Di era ini di Jawa dan Bali telah mengembangkan kitab-kitab Hindu-Buddha dalam versi Jawa Kuno yang diserap dari kitab-kitab yang lebih kuno lain, yang merujuk pada teks-teks Weda. Sementara itu, era kerajaan Majapahit hubungan Hinduisme di Jawa dan Bali bisa dikatakan terputus dengan tanah Bharata Warsa (premodern India), sehingga secara hubungan tekstual atau intertektualitas di antara keduanya semakin jauh. Barangkali karena keterputusan hubungan Jawa-Bali dengan India di sekitar abad 14-15 menjadi penyebab kitab BRAHMA-SAṀHITĀ atau teks-teks sejenis yang “MENTUHANKAN-KRISHNA” yang berkembang di India di abad ke 14 tidak pernah populer di Nusantara.

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Lontar-lontar Stava-Puja dan Widhi-sastra banyak mengandung jejak Weda kuno. Lontar-lontar Itihasa  mengandung banyak jejak Purana. Lontar-lontar Tatwa banyak mengandung jejak berbagai teks Upanisad. Tetapi tidak ditemukan secara gamblang teks-teks yang punya paham seperti kitab BRAHMA-SAṀHITĀ dalam lontar-lontar Bali. BRAHMA-SAṀHITĀ terhitung kitab baru jika dibandingkankan isi lontar-lontar Jawa Kuno era yang berisi teks dari era Medang dan Kediri. Kitab Brahma-saṁhitā di India tersebut terhitung sebaya dengan lontar-lontar yang ditulis di akhir kejayaan Singasari dan awal Majapahit, seperti Kakawin Nāgarakṛtâgama (atau Deśawarnana), Kakawin Sutasoma, Kakawin Śiwarātrikalpa, yang isinya bernuansa Śaiwa-Baudhha dan tidak ditemukan adanya jejak teks-teks yang “mentuhankan Bhatara Kresna” di era ini.  

Apakah tidak ada pemuliaan Sri Krishna dalam tradisi lontar ‘puja-stawa’ di Bali?

Ada. Tetapi, secara umum sosok Sri Krishna berkedudukan sebagai Awatara dari Wisnu, seperti dalam Kakawin Bhisma Parwa versi Jawa Kuno, yang berisi percakapan Krishna dan Arjuna tentang keabadian. Dalam kakawin ini Krishna disebut sebagai Bhatara Krishna. Sementara itu dalam puja-stava, seperti contoh dalam lontar mantra RAMA-KAVACA yang diwarisi di Bali sebagai puja perlindungan diri (KAVACA), Sri Krishna disebut sebagai salah satu dewa di antara dewa-dewa yang lainnya, tanpa pernah disebut sebagai Tuhan Tertinggi dan tidak ditemukan ada jejak meletakkan dewa-dewa yang lainnya sebagai bawahan Sri Krishna.

Lebih jauh ke belakang, jika kita lihat dalam jejak teks-teks dalam berbagai lontar dari abad ke 9 dan 10 masehi, seperti KAKAWIN RAMAYAN dan AGASTYA PARWA, tidak ditemukan PENTUHANAN KRISNA. Bisa dikatakan tidak pernah ditemukan temuan ke arah sana di era kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan Bali. Dalam era Kerajaan Gelgel, yang punya tradisi kesenian wayang yang sangat kuat, memang ada sosok wayang Krishna, yang perannya sebagaimana sosok Sang Krishna dalam Kakawin Bhisma Parwa, sebagai awatara yang membantu dalam perang Mahabhatara, tapi tidak ada “pentuhanan Krishna”. Sekalipun Kakawin Bhisma Parwa menyebutkan Krishna sebagai Bhatara Kresna, tidak sekalipun ada disebutkan  bahwa Bhatara Krishna sebagai jalan satu-satunya untuk memahami hakikat tertinggi ketuhanan Hindu. Dalam era Kerajaan Gelgel, jejak Hindu Majapahit sangat kuat, hakikat KEDEWATAAN yang terdapat ajaram dalam DEWATA-NAWASANGA yang dipakai secara luas dalam Yadnya di Kerajaan Gelgel. DEWATA-NAWASANGA sebagai HAKIKAT HYANG MAHA TUNGGAL yang mengejawantah dalam berbagai ritual untuk KEDEWATAAN NAWASANGA. HAKIKAT MAHATUNGGAL dari DEWATA NAWASANGA inilah yang menjiwai berbagai lontar-lontar kepanditaan Hindu Bali, yang bersumber dari Weda-Puja-Stawa dengan pengantar bahasa Jawa Kuno. HAKIKAT MAHATUNGGAL dari DEWATA NAWASANGA  disebut dengan gelar WIDHI, BHATARA WIDHI, WIDHIWASA, HYANG WIDHI, IDA HYANG WIDHI. Dan inilah, ketika terbentuk PHDB (Parisada Hindu Dharma Bali) penyebutan Tuhan Tertinggi untuk Hindu di Bali secara aklamasi disebut sebagai IDA SANG HYANG WIDHI WASA — gelar untuk Brahman atau Tuhan Tertinggi bagi Hindu di Nusantara yang memuliakan tradisi Catur Weda.

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

PENTUHANAN KRISHNA di Bali baru muncul semenjak terbitnya terjemahan buku-buku berbahasa Inggeris yang menterjemahkan Dewa Krishna atau Sri Krishna sebagai “GODHEAD” — dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tuhan Tinggi atau Tuhan Yang Maha Esa; sementara “deva” lainnya adalah disebut dalam bahasa Inggeris sebagai “DEMIGODS” — yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘setengah-dewa’ atau dewa bawahan dari dari ‘Godhead’ (Krishna). Ini tidak terjadi dalam buku-buku terjemahan Bhagavad Gita yang dikerjakan oleh tokoh-tokoh Hindu, seperti Prof Ida Bagus Mantra, Nyoman S. Pendit, Made Menaka (yang menterjemahkan Bhagavad Gita ke dalam bahasa Bali). Mereka secara konsisten memberikan penjelasan bahwa sosok Sri Krishna dalam Bhagavad Gita adalah salah satu dari awatara Wisnu. Para tokoh Hindu di Bali tidak pernah menyebut Krishna sebagai ‘Godhead’, karena istilah ini tidak dijumpai dalam naskah Bhagavad Gita aslinya dalam bahasa Sansekerta. Istilah dan pemisahan antara “Godhead” dan “demigods” juga tidak dikenal dalam cara pikir para penulis kitab-kitab lontar Hindu Jawa Kuno dan Bali. [T]

Tags: hinduHindu BaliHindu Nusantarajawa kuno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mau Cari Berbagai Jenis Rempah? Datanglah ke Arab, Eh, ke Toko Arab di Singaraja

Next Post

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co