3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngelawang“ Bukan Ngemis

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
November 17, 2021
in Esai
Tradisi “Ngelawang“ Bukan Ngemis

Sekaa Ngelawang Anak-anak SSKI [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Ngelawang adalah sebuah tradisi yang lahir dari kepercayaan Hindu. Mereka memuja dan meyakini bahwa dewa yang dipuja, yang berstana pada tapakan memiliki kekuatan maha dahsyat yang mampu memberikan perlindungan bagi semua mahluk ciptaannya termasuk alam raya ini. Dilihat dari beradaanya, tradisi ngelawang dimulai dari antara rentang abad ke VII sampai dengan abad ke X ada kaitannya dengan tradisi sirkus China yang dipentaskan oleh pedagang China pada masa Dinasti Tan.

Pada masa itu, China adalah pusat dari perdagangan dunia, dimana para pedagang yang berasal dari China sering melakukan perjalanan dari China ke India dan melalui Indonesia mulai dari Kalimantan, Sulawesi hingga mampir ke Bali. “Selama berdagang ini, para pedagang China memang sering melakukan pementasan Barong Macan dengan tujuan untuk mencari uang untuk bekal perjalanan,”.  

Pementasan tersebut lambat laun mulai ditiru oleh masyarakat Bali pada masa itu, namun lakon yang dipentaskan disesuaikan dengan lakon lokal yang berkembang di dalam budaya masyarakat Bali, dan aktivitas ini secara turun temurun tetap dilakukan dengan baik. Mulai saat itulah kemudian berkembang istilah ngelawang di Bali. (Bandem, dalam https://baliexpress.jawapos.com/balinese/10/06/2018).

Dilihat dari asal katanya ngelawang berasal dari kata lawang berarti pintu, nglawang; berkeliling dari rumah ke rumah dari desa ke desa untuk mempertunjukan tari barong dengan tak diupah (Warna, 1990:395). Mereka menarikan Barong dari rumah ke rumah dan berkeliling di jalan-jalan desa. Barong sendiri merupakan lambang perwujudan dari Sang Banas Pati Raja yang bisa menjaga manusia dari wabah dan bahaya.

Di Bali dikenal beberapa jenis barong, diantaranya: Barong Bangkung (rupa Babi), Barong Brutuk (Barong ini menggunakan tapel dari batok kelapa dengan rambut atau bulu-bulunya terbuat dari kraras atau daun pisang tua), Barong Macan (rupa Macan), Barong Landung (Cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi), Barong Ket (Perpaduan rupa macan, singa, sapi dan naga) Barong Asu (rupa Anjing), Barong Gajah (rupa Gajah), Barong Sampi (rupa Sapi).

Berbagai bentuk rupa barong tersebut biasanya dijumpai pada tradisi ngelawang di Bali. Ngelawang adalah sebuah ritus yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada di lingkungan nyomia kekuatan bhuta menjadi dewa, sehingga memberikan keselamatan, ketentraman, dan kesuburan alam semesta.

Ngelawang dilakukan dengan mengusung tapakan berkeliling desa. Ida tapakan/sesuhunan (Barong, Rangda, dan sejenisnya) diarak keliling desa dan dihaturkan persembahan-persembahan upakara sesuai dengan dresta di daerah setempat. Ini adalah ritus sakral yang telah dilakukan berabad-abad yang mengakar dalam tradisi kepercayaan Hindu. Tradisi ngelawang tidak dilakukan sembarangan. Waktunya dipilih berdasarkan pemilihan hari baik dalam kalender Bali.

Selain itu, ngelawang juga dilakukan mana kala adnya petunjuk-petunjuk gaib, kejadian-kejadian aneh diluar nalar, ataupun fenomena-fenomena yang mengisyaratkan tradisi ini digelar. Tradisi ngelawang dahulu dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Para pendeta atau pemangku adalah pemimpin ritus ini dibantu oleh tetua dan masyarakat pendukungnya.

Di beberapa daerah tradisi ngelawang ini digelar setiap 6 bulan sekali diantara hari raya Galungan dan Kuningan. Perayaan Galungan senidiri merupakan perayaan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan), termasuk juga tujuan ngelawang tersebut, selain untuk mengusir hal-hal yang bersifat negatif dan tolak bala, juga untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Dalam perkembangannya kini, tradisi ngelawang dari sakral telah banyak diadopsi untuk kebutuhan seni hiburan (propan). Dalam hal ini, tidak lagi ada persembahan-persembahan ritual mana kala Barong itu mesolah (menari). Namun kegiatan ngelawang ini dilakukan berkaitan dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang disambut dengan suka cita dan pernak pernik hiasan penjor sebagai symbol Galungan. Banyak tradisi ngelawang kini dilakukan oleh anak-anak yang mempergunakan Barong Bangkung dan Barong Macan sebagai sarana untuk ngelawang. Mereka sangat antusias untuk melakukan tradisi itu yang dibalut dengan konsep pertunjukan yang bersifat hiburan.

Dari apa yang mereka lakukan, banyak anggapan atau wacana yang beredar, bahwa mereka tak layaknya sebagai “pengemis” yang mempergunakan frame budaya atau ngelawang sebagai medianya. Pandangan seperti itu, menurut penulis adalah hal keliru. Kata pengemis tidak elok diberikan pada mereka yang melakukan pertunjukan itu. Dilihat dari kata mengemis dalam KBBI mengemis/meng·e·mis/ berarti 1) meminta-minta sedekah: sebagai orang gelandangan dia hidup dari ~; 2) ki meminta dengan merendah- rendah dan dengan penuh harapan (https://kbbi.web.id/emis).

Di dalam kegiatan ngelawang yang dilakukan secara propan, disana ada sebuah penjulan jasa dimana para penikmatnya disuguhkan hiburan yang mampu dinikmati oleh penikmatnya. Pertunjukan ngelawang telah memberikan kenyaman, perasaan suka cita, dan sangat menikmati sebagai seni hiburan.

Jadi kata ngemis, tidak tepat diberikan pada mereka. Sujatinya mengemis adalah sebuah kegiatan meminta-minta yang hanya ingin menerima imbalan namun tidak ada barang, jasa, yang diberikan kepada pemberinya. Jadi berbeda dengan ngelawang yang sudah tentu ada produk jasa yang ditawarkan atau dijualnya. Selain itu, kegiatan ini juga hanya dilakukan pada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan perayaan hari raya Galungan dan Kuningan.

Dari tradisi ngelawang merupakan sebuah cara pemertahanan kearifan lokal yang mengandung banyak nilai-nilai bagi anak-anak. Nilai-nilai yang ada pada tradisi ngelawang diantaranya:

1.    Nilai pemertahanan tradisi

Pemertahanan budaya dilakukan secara berkesinambungan. Tradisi ngelawang adalah sebuah konsep pemertahanan nilai budaya dalam kemasan seni pertunjukan. Pelimpahan dari generasi ke generasi merupakan sebuah cara bagaimana seni ini tumbuh dan tetap lestari. Kemasannya dalam bentuk seni hiburan adalah sebuah jalan alternatif untuk merangsang generasi muda untuk tumbuh dalam jiwanya sebagai penerus budaya ini.

Harapannya mereka tergugah dan selalu termotifasi untuk menggali, melakukan, dan mengembangkan kesenian ngelawang sebagai pewarisan kebudayaan yang nantinya akan berimbas pada seni-seni yang sifatnya sakral. Mereka belajar dari sakral untuk propan ataupun juga sebaliknya. Nantinya melalui tradisi ini mereka akan tau cara dan perbedaan bagaimana melakukan seni sakral dan seni propan.

2.    Nilai Pendidikan

Dalam aktivitas ngelawang identik dengan anak-anak, karena penari dan penabuhnya lebih cenderung melibat anak-anak usia sekolah. Biasanya pada serangkaian hari raya Galungan hingga hari raya Kuningan, anak-anak sekolah diliburkan. Waktu liburan ini diisi dengan kegiatan ngelawang. Sekaa-sekaa ngelawang terbentuk dari anggota sanggar seni yang ada di daerah ataupun terbentuk berdasarkan kesenangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.

Dalam kelompok ngelawang ini, anak-anak akan dilatih untuk mengenal kesenian daerahnya. Selain belajar mengenai kesenian daerahnya, dalam kelompok ini, anak-anak ini juga bisa bermain untuk mengisi waktu liburan dan melupakan gejetnya. Hal ini juga dapat menumbuh kembangkan bakat/talent anak-anak dibidang seni melalui sistem pendidikan tradisional di desa. Dengan ini akan tumbuh rasa untuk mencintai keseniannya.

Dalam tradisi ngelawang mereka belajar menarikan Barong melalui gerak tarinya dan belajar menabuh gamelan. Ini adalah sebuah jalan mereka untuk mengenal lebih dalam keseniannya, melakoni seninya sebagai bentuk cinta budaya yang mereka lakukan.

3.    Nilai sosial

Melalui kegiatan ngelawang, terdapat nilai sosial yang diambil. Mereka melakukan dengan senang hati menghibur masyarakat dengan suka cita dan penuh semangat. Besar kecilnya upah yang mereka terima,tidak menjadikan surutnya niat mereka untuk mengibur. Mereka lakukan atas dasar suka. Ketika mereka kehausan, diantara mereka pun kerap berbagi.

4.    Nilai kerja sama

Tradisi ngelawang dilakukan secara berkelompok yang melibatkan kurang lebih 10-15 orang anak-anak. Masing-masing memiliki tugas sebagai penari barong dan juga sebagai pemain musiknya. Melalui kegiatan ini melatih mereka bagaimana menjadi interpreneurship, leadership, dan management seni sejak dini. Dalam kegiatan ngelawang, sudah barang tentu dipimpin oleh seseorang yang berlaku sebagai ketuanya (leader) yang bertugas mengatur pertunjukannya sekaligus menata, mengatur musik, dan pemainnya.

5.    Nilai ekonomi

Di dalam tradisi ngelawang, mereka kerap menerima upah yang diberikan oleh si penikmat seninya. Upah sebagai bentuk nilai jasa hiburan yang berikan, dikelola secara bersama. Upah tersebut memberikan nilai ekonomi yang dapat digunakan untuk kehidupannya. [T]

Sumber Referensi:

  • https://baliexpress.jawapos.com/balinese/10/06/2018/ngelawang-diadopsi-dari-tradisi-sirkus-china-ini-sejarahnya
  • https://bali.tribunnews.com/2019/01/07/tribun-wiki-10-jenis-barong-yang-ada-di-bali?page=all.
  • Warna, I Wayan. 1990. Kamus Bali-Indonesia. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Pemerintah Tingkat I Bali.
Tags: Baronghari raya galunganHindu Balingelawang barongtradisi ngelawang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lilin di Tengah Pandemi Bernama IKM dan UMKM Bali | Dari Road to IDC Sesi Bali

Next Post

Keabsahan Pariṣada

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Keabsahan Pariṣada

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co