12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngelawang“ Bukan Ngemis

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
November 17, 2021
in Esai
Tradisi “Ngelawang“ Bukan Ngemis

Sekaa Ngelawang Anak-anak SSKI [Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2018]

Ngelawang adalah sebuah tradisi yang lahir dari kepercayaan Hindu. Mereka memuja dan meyakini bahwa dewa yang dipuja, yang berstana pada tapakan memiliki kekuatan maha dahsyat yang mampu memberikan perlindungan bagi semua mahluk ciptaannya termasuk alam raya ini. Dilihat dari beradaanya, tradisi ngelawang dimulai dari antara rentang abad ke VII sampai dengan abad ke X ada kaitannya dengan tradisi sirkus China yang dipentaskan oleh pedagang China pada masa Dinasti Tan.

Pada masa itu, China adalah pusat dari perdagangan dunia, dimana para pedagang yang berasal dari China sering melakukan perjalanan dari China ke India dan melalui Indonesia mulai dari Kalimantan, Sulawesi hingga mampir ke Bali. “Selama berdagang ini, para pedagang China memang sering melakukan pementasan Barong Macan dengan tujuan untuk mencari uang untuk bekal perjalanan,”.  

Pementasan tersebut lambat laun mulai ditiru oleh masyarakat Bali pada masa itu, namun lakon yang dipentaskan disesuaikan dengan lakon lokal yang berkembang di dalam budaya masyarakat Bali, dan aktivitas ini secara turun temurun tetap dilakukan dengan baik. Mulai saat itulah kemudian berkembang istilah ngelawang di Bali. (Bandem, dalam https://baliexpress.jawapos.com/balinese/10/06/2018).

Dilihat dari asal katanya ngelawang berasal dari kata lawang berarti pintu, nglawang; berkeliling dari rumah ke rumah dari desa ke desa untuk mempertunjukan tari barong dengan tak diupah (Warna, 1990:395). Mereka menarikan Barong dari rumah ke rumah dan berkeliling di jalan-jalan desa. Barong sendiri merupakan lambang perwujudan dari Sang Banas Pati Raja yang bisa menjaga manusia dari wabah dan bahaya.

Di Bali dikenal beberapa jenis barong, diantaranya: Barong Bangkung (rupa Babi), Barong Brutuk (Barong ini menggunakan tapel dari batok kelapa dengan rambut atau bulu-bulunya terbuat dari kraras atau daun pisang tua), Barong Macan (rupa Macan), Barong Landung (Cerita Jaya Pangus dan Kang Cing Wi), Barong Ket (Perpaduan rupa macan, singa, sapi dan naga) Barong Asu (rupa Anjing), Barong Gajah (rupa Gajah), Barong Sampi (rupa Sapi).

Berbagai bentuk rupa barong tersebut biasanya dijumpai pada tradisi ngelawang di Bali. Ngelawang adalah sebuah ritus yang bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada di lingkungan nyomia kekuatan bhuta menjadi dewa, sehingga memberikan keselamatan, ketentraman, dan kesuburan alam semesta.

Ngelawang dilakukan dengan mengusung tapakan berkeliling desa. Ida tapakan/sesuhunan (Barong, Rangda, dan sejenisnya) diarak keliling desa dan dihaturkan persembahan-persembahan upakara sesuai dengan dresta di daerah setempat. Ini adalah ritus sakral yang telah dilakukan berabad-abad yang mengakar dalam tradisi kepercayaan Hindu. Tradisi ngelawang tidak dilakukan sembarangan. Waktunya dipilih berdasarkan pemilihan hari baik dalam kalender Bali.

Selain itu, ngelawang juga dilakukan mana kala adnya petunjuk-petunjuk gaib, kejadian-kejadian aneh diluar nalar, ataupun fenomena-fenomena yang mengisyaratkan tradisi ini digelar. Tradisi ngelawang dahulu dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Para pendeta atau pemangku adalah pemimpin ritus ini dibantu oleh tetua dan masyarakat pendukungnya.

Di beberapa daerah tradisi ngelawang ini digelar setiap 6 bulan sekali diantara hari raya Galungan dan Kuningan. Perayaan Galungan senidiri merupakan perayaan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan), termasuk juga tujuan ngelawang tersebut, selain untuk mengusir hal-hal yang bersifat negatif dan tolak bala, juga untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Dalam perkembangannya kini, tradisi ngelawang dari sakral telah banyak diadopsi untuk kebutuhan seni hiburan (propan). Dalam hal ini, tidak lagi ada persembahan-persembahan ritual mana kala Barong itu mesolah (menari). Namun kegiatan ngelawang ini dilakukan berkaitan dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang disambut dengan suka cita dan pernak pernik hiasan penjor sebagai symbol Galungan. Banyak tradisi ngelawang kini dilakukan oleh anak-anak yang mempergunakan Barong Bangkung dan Barong Macan sebagai sarana untuk ngelawang. Mereka sangat antusias untuk melakukan tradisi itu yang dibalut dengan konsep pertunjukan yang bersifat hiburan.

Dari apa yang mereka lakukan, banyak anggapan atau wacana yang beredar, bahwa mereka tak layaknya sebagai “pengemis” yang mempergunakan frame budaya atau ngelawang sebagai medianya. Pandangan seperti itu, menurut penulis adalah hal keliru. Kata pengemis tidak elok diberikan pada mereka yang melakukan pertunjukan itu. Dilihat dari kata mengemis dalam KBBI mengemis/meng·e·mis/ berarti 1) meminta-minta sedekah: sebagai orang gelandangan dia hidup dari ~; 2) ki meminta dengan merendah- rendah dan dengan penuh harapan (https://kbbi.web.id/emis).

Di dalam kegiatan ngelawang yang dilakukan secara propan, disana ada sebuah penjulan jasa dimana para penikmatnya disuguhkan hiburan yang mampu dinikmati oleh penikmatnya. Pertunjukan ngelawang telah memberikan kenyaman, perasaan suka cita, dan sangat menikmati sebagai seni hiburan.

Jadi kata ngemis, tidak tepat diberikan pada mereka. Sujatinya mengemis adalah sebuah kegiatan meminta-minta yang hanya ingin menerima imbalan namun tidak ada barang, jasa, yang diberikan kepada pemberinya. Jadi berbeda dengan ngelawang yang sudah tentu ada produk jasa yang ditawarkan atau dijualnya. Selain itu, kegiatan ini juga hanya dilakukan pada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan perayaan hari raya Galungan dan Kuningan.

Dari tradisi ngelawang merupakan sebuah cara pemertahanan kearifan lokal yang mengandung banyak nilai-nilai bagi anak-anak. Nilai-nilai yang ada pada tradisi ngelawang diantaranya:

1.    Nilai pemertahanan tradisi

Pemertahanan budaya dilakukan secara berkesinambungan. Tradisi ngelawang adalah sebuah konsep pemertahanan nilai budaya dalam kemasan seni pertunjukan. Pelimpahan dari generasi ke generasi merupakan sebuah cara bagaimana seni ini tumbuh dan tetap lestari. Kemasannya dalam bentuk seni hiburan adalah sebuah jalan alternatif untuk merangsang generasi muda untuk tumbuh dalam jiwanya sebagai penerus budaya ini.

Harapannya mereka tergugah dan selalu termotifasi untuk menggali, melakukan, dan mengembangkan kesenian ngelawang sebagai pewarisan kebudayaan yang nantinya akan berimbas pada seni-seni yang sifatnya sakral. Mereka belajar dari sakral untuk propan ataupun juga sebaliknya. Nantinya melalui tradisi ini mereka akan tau cara dan perbedaan bagaimana melakukan seni sakral dan seni propan.

2.    Nilai Pendidikan

Dalam aktivitas ngelawang identik dengan anak-anak, karena penari dan penabuhnya lebih cenderung melibat anak-anak usia sekolah. Biasanya pada serangkaian hari raya Galungan hingga hari raya Kuningan, anak-anak sekolah diliburkan. Waktu liburan ini diisi dengan kegiatan ngelawang. Sekaa-sekaa ngelawang terbentuk dari anggota sanggar seni yang ada di daerah ataupun terbentuk berdasarkan kesenangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan dan Kuningan.

Dalam kelompok ngelawang ini, anak-anak akan dilatih untuk mengenal kesenian daerahnya. Selain belajar mengenai kesenian daerahnya, dalam kelompok ini, anak-anak ini juga bisa bermain untuk mengisi waktu liburan dan melupakan gejetnya. Hal ini juga dapat menumbuh kembangkan bakat/talent anak-anak dibidang seni melalui sistem pendidikan tradisional di desa. Dengan ini akan tumbuh rasa untuk mencintai keseniannya.

Dalam tradisi ngelawang mereka belajar menarikan Barong melalui gerak tarinya dan belajar menabuh gamelan. Ini adalah sebuah jalan mereka untuk mengenal lebih dalam keseniannya, melakoni seninya sebagai bentuk cinta budaya yang mereka lakukan.

3.    Nilai sosial

Melalui kegiatan ngelawang, terdapat nilai sosial yang diambil. Mereka melakukan dengan senang hati menghibur masyarakat dengan suka cita dan penuh semangat. Besar kecilnya upah yang mereka terima,tidak menjadikan surutnya niat mereka untuk mengibur. Mereka lakukan atas dasar suka. Ketika mereka kehausan, diantara mereka pun kerap berbagi.

4.    Nilai kerja sama

Tradisi ngelawang dilakukan secara berkelompok yang melibatkan kurang lebih 10-15 orang anak-anak. Masing-masing memiliki tugas sebagai penari barong dan juga sebagai pemain musiknya. Melalui kegiatan ini melatih mereka bagaimana menjadi interpreneurship, leadership, dan management seni sejak dini. Dalam kegiatan ngelawang, sudah barang tentu dipimpin oleh seseorang yang berlaku sebagai ketuanya (leader) yang bertugas mengatur pertunjukannya sekaligus menata, mengatur musik, dan pemainnya.

5.    Nilai ekonomi

Di dalam tradisi ngelawang, mereka kerap menerima upah yang diberikan oleh si penikmat seninya. Upah sebagai bentuk nilai jasa hiburan yang berikan, dikelola secara bersama. Upah tersebut memberikan nilai ekonomi yang dapat digunakan untuk kehidupannya. [T]

Sumber Referensi:

  • https://baliexpress.jawapos.com/balinese/10/06/2018/ngelawang-diadopsi-dari-tradisi-sirkus-china-ini-sejarahnya
  • https://bali.tribunnews.com/2019/01/07/tribun-wiki-10-jenis-barong-yang-ada-di-bali?page=all.
  • Warna, I Wayan. 1990. Kamus Bali-Indonesia. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Pemerintah Tingkat I Bali.
Tags: Baronghari raya galunganHindu Balingelawang barongtradisi ngelawang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lilin di Tengah Pandemi Bernama IKM dan UMKM Bali | Dari Road to IDC Sesi Bali

Next Post

Keabsahan Pariṣada

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Keabsahan Pariṣada

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co