2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keabsahan Pariṣada

Sugi Lanus by Sugi Lanus
November 18, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Ketika kaum terpelajar pemeluk Sanātana Dharma membahas PARIṢADA, mereka pasti merujuk pada Kitab Manusmṛiti.

Apa yang dimaksud dengan PARIṢADA? Darimana cikal bakal lembaga ini?

PARIṢADA (dalam berbagai kitab kuno kadang ditulis ‘parishada, pāriṣada, pariṣadā, pariṣad’) sama seperti sabhā; pertemuan atau audiensi. Istilah PARIṢADA masuk dalam “glosarium epigrafis India” karena istilah ini ditulis dalam berbagai prasasti kuno dalam bahasa Sanskerta, Prakrit atau Dravida.

Dalam konteks dharmaśāstra (hukum agama), pariṣad (परिषद्) berarti “pengadilan agama”, berurusan dengan masalah agama dan moral, berperan memutuskan kasus pelanggaran hukum pribadi atau norma agama, yang kurang lebih terdiri dari pandita terpelajar yang mengatur dan memutuskan penebusan dosa (kesalahan tindakan).

Pāriṣada (पारिषद) berarti ‘majelis’ atau ‘dewan’; istilah pāriṣada juga mengacu pada hasil diskusi yang diadakan di majelis para cendekiawan atau orang terpelajar yang terkemuka; hal ini disebutkan dalam Mahābhārata II. 1. 58; VI. 3.14. ( sarvavedapāriṣadaṃ hīdaṃ āstraṃ ) ( ( byākaraṇam ) ) नैकः पन्थाः ( tatra naikaḥ panthāḥ akya āsthātum | ).

Bagaimana dengan komposisi dan jumlah anggota PARIṢADA?

Ada perbedaan pendapat di antara teks-teks politik India kuno mengenai jumlah anggota dalam sebuah PARIṢADA.  Disebutkan jumlah anggota harus diputuskan sesuai dengan kebutuhan negara. Mahābhārata telah menyarankan delapan anggota untuk PARIṢADA, tiga puluh tujuh orang sebagai Menteri. Demikian komposisi secara umum. Manusmṛti telah merekomendasikan bahwa PARIṢADA sebagai dewan pertimbangan raja semestinya terdiri dari tujuh atau delapan anggota, tetapi raja bisa memutuskan jumlah anggota sesuai dengan kebutuhan administrasi. Pedoman kenegaraan Śukranītisāra telah menganjurkan panitia kecil dengan tujuh atau delapan orang, tetapi dapat diperbanyak sampai sepuluh.

Menurut Yājñavalkya (I, 9), PARIṢADA semestinya terdiri dari dua puluh satu Brahmana atau Pandita yang fasih dalam filsafat, teologi, dan hukum.

Parāśara, lebih jauh memberikan gambaran mengenai komposisi dari PARIṢADA:

“Empat, bahkan tiga orang yang cakap dari kalangan Brahmana/Pandita di sebuah desa, yang mengetahui Veda, dan memelihara api kurban, dapat membentuk PARIṢADA. Atau, jika mereka tidak memelihara api kurban, lima atau tiga orang yang telah mempelajari Veda dan Vedangga dan pakar hukum agama. Seorang orang bijak tua, yang memiliki pengetahuan tertinggi tentang Diri Ilahi, yang dan lahir dua kali (dvijati), tekun melakukan yadnya suci, dan telah menyucikan diri dalam tugas-tugas Veda, seseorang juga dapat dianggap sebagai PARIṢADA. Lima jenis PARIṢADA telah saya jelaskan: tetapi jika semuanya tidak terpenuhi syaratnya, tiga orang independent (berpikir jernih) dapat membentuk sebuah PARIṢADA”.

Bṛhaspati menyebutkan bisa terdiri dari tujuh, lima, atau tiga Brahmana yang mengetahui adat-istiadat dunia, Veda, dan Vedangga-nya, dan hukum, duduk sebagai PARIṢADA. Kauṭilya menggunakan istilah PARIṢADA dalam berbagai pengertian dan mengacu pada jumlah-jumlah keanggotaan yang berbeda, sesuai konteks politik yang berbeda, dapat membentuk PARIṢADA.

Namun, terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, Kitab Manusmṛiti (XII.114) menegaskan bahwa jumlah anggota tidak menentukan absah tidaknya PARIṢADA. Yang menentukan adalah sejauhmana kepakaran atau kompetensi dari anggotanya.

अव्रतानाममन्त्राणां जातिमात्रोपजीविनाम् ।
सहस्रशः समेतानां परिषत्त्वं न विद्यते ॥ ११४ ॥

avratānāmamantrāṇāṃ jātimātropajīvinām |
sahasraśaḥ sametānāṃ pariṣattvaṃ na vidyate || 114 ||

“Sekalipun jika ribuan brāhmaṇa dan pandita berkumpul, tetapi belum memahami ‘tugas kebrahmanaan’ mereka, yang tidak memiliki kepakaran dalam teks-teks suci, yang hidup hanya berdasarkan nama ‘varna’ (gelar yang didapat dari keturunan) mereka,  maka mereka tidak memiliki kualifikasi menjadi anggota PARIṢADA. (114 )”

Baudhāyana-dharmaśāstra (I.1.16) menjelaskan:

“Beribu-ribu orang tidak dapat membentuk PARIṢADA, jika mereka belum memenuhi tugas suci mereka, tidak mengenal Veda, dan hanya hidup berdasarkan nama kasta mereka.”

Vaśiṣṭha (3.5) (Dharmaśāstra), Parāśara (8.12), juga menjelaskan hal yang sama.

Kompetensi apa yang wajib dimiliki oleh anggota PARIṢADA?

Layak tidaknya seseorang duduk sebagai anggota PARIṢADA adalah tergantung kepakarannya dalam Veda. Jika tidak pakar Veda, maka keabsahannya sebagai anggota PARIṢADA meragukan.

Prihal syarat pengetahuan, kompetensi atau kepakaran ini dinyatakan dengan tegas dalam Kitab Manusmrti XII.112, sebagai berikut:

ऋग्वेदविद् यजुर्विद्च सामवेदविदेव च ।
त्र्य्ऽवरा परिषद्ज्ञेया धर्मसंशयनिर्णये ॥ ११२ ॥

ṛgvedavid yajurvidca sāmavedavideva ca |
try’varā pariṣadjñeyā dharmasaṃśayanirṇaye || 112 ||

“Seseorang pakar Ṛgveda, seseorang pakar Yajurveda, dan seseorang pakar Sāmaveda, harus diterima-dipahami untuk membentuk majelis yang terdiri dari setidaknya tiga anggota, yang kompeten untuk memutuskan poin-poin hukum yang meragukan. (112)”

Penjelasan dan komentar Medhātithi (manubhāṣya) atas kepakaran ini: Anggota PARIṢADA harus mengupas arti Veda dengan bantuan Nirukta, Vyākaraṇa dan Mīmāṃsā; anggota PARIṢADA wajib memiliki pengetahuan Nirukta, Vyākaraṇa dan Mīmāṃsā. Pengetahuan tersebut membantu pemahaman makna kitab Veda, baik isi dan konteks secara luas. Pengetahuan ini sangat penting dalam semua kasus terkait kehidupan keumatan yang berpatokan pada Veda, untuk memahami konteks sosialnya, dan berbagai kasus lainnya yang dihadapi atau ditangani dalam menjalani tugas sebagai anggota PARIṢADA.

Menurut Kitab Manusmṛiti, bukan jumlah anggota dan atau besarnya jumlah dukungan letak keabsahan dari sebuah PARIṢADA, tapi terletak pada kompentensi anggotanya. Karena dari kompetensi dan kualitas kejernihan anggotanya dipercaya akan mengalir kejelasan panduan bagi umat.

Ketika orang-orang yang memenuhi kewajiban mereka (telah memasuki kehidupan suci dan pemikiran jernih) dan terpelajar dalam Veda menetapkan hukum tertentu, tidak ada keraguan tentangnya, baik oleh orang yang terpelajar atau oleh orang awam. Sebaliknya, mereka yang tidak terpelajar dalam Veda, jika diberikan posisi dalam memutuskan atau menentukan keputusan tertentu terkait Veda dan kehidupan umat, tentu keputusannya bisa meresahkan umat. Bukannya umat mendapat cahaya terang dharma, namun akan padam pelita penerang di tengah umat. [T]

Tags: hinduparisada
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi “Ngelawang“ Bukan Ngemis

Next Post

Tumbuhkan Terumbu Karang, Desa Wisata Bahari Kalibukbuk Dibantu Kementerian Kelautan dan Perikanan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tumbuhkan Terumbu Karang, Desa Wisata Bahari Kalibukbuk Dibantu Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tumbuhkan Terumbu Karang, Desa Wisata Bahari Kalibukbuk Dibantu Kementerian Kelautan dan Perikanan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co