2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Munyin Paksi Itu Janggal | Hasil Tawar Menawar Pertunjukan Sanggar Banjrajnyana-Gianyar

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
October 30, 2021
in Ulasan
Munyin Paksi Itu Janggal | Hasil Tawar Menawar Pertunjukan Sanggar Banjrajnyana-Gianyar

ementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021, [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Apa yang terjadi bila suatu kebudayaan bersentuhan dengan kebudayaan lain, hanya tiga kemungkinannya, punah, bertahan atau melebur. Pada poin melebur jadi menarik untuk dibahas, ada tawar menawar, ada kemungkinan dan  harapan yang tumbuh menjadi hal baru. Jika saja kebudayaan disikapi sebagai ruang cair dan fleksibel. Hal ini mengerucut pada subjek atau pelaku budayanya ada semacam motivasi diri, atau kesadaran laku untuk membaur.

Motivasi inilah yang saya saksikan pada pementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021, pukul 16.00 wita. Sebagai catatan penting, saya sendiri datang untuk menonton pertunjukan tersebut, tidak melalui kanal youtube. Alasannya , tentu saja dalam rangka menangkap empresi ketegangan di atas panggung dan paket kuota yang semakin cekak.

Ada tiga titik fokus yang hadir di pertunjukan itu, panggung tengah sebagai pementasan utama, sisi kiri bawah tempat musik pengiring, dan kelir wayang di sebelah kanan. Secara bergantian memang mereka terjalin dengan baik, namun jika dibaca sebagai sebuah teks panggung, ketiga panggung tersebut sejatinya memiliki informasi serta kelindan teks yang berdiri sendiri.

Namun ditangan I Gusti Putu Sudarta selaku sutradara,  ketiga peristiwa ini dijalin sedemikian rupa dalam satuan utuh pengadeganan. Saya sendiri dituntut untuk memilih tontonan yang saya suka, jika ketiga panggung ini tengah beradegan. Alih-alih mengatakan memecah konsentrasi penonton, saya lebih suka mengatakan bahwa pertunjukan tersebut memberikan pilihan untuk dipihak, demokrasi sekali kan.

Bahwa realitas kita juga demikian hari ini, buktinya orang-orang datang untuk menonton. Mungkin saja dalam keberangkatannya menonton, mereka dihadapkan sejumlah pilhan di jam itu. Menonton atau pacaran, menonton atau mengerjakan tugas, menonton atau pergi sama teman, dan lain sebagainya.

Pilihan realtas itu selevel dengan pilihan untuk menonton pertunjukan Gusti Sudarta. Panggung mana saja, SAH.

15 menit pertama pementasan, saya mulai menangkap suatu kejanggalan di mata saya, sebongkah keasingan di telinga saya, serta selapang keganjilan di hati saya. Ini bukan pementasan yang biasanya saya tonton, mari saya jabarkan kelindannya ya. Pertama alat musiknya terdiri dari suling gambuh, rebana, gong, reong ukuran besar, alat musik mirip Shamisen- jepang, serta nyanyian sang dalang  mirip–mirip pelafalan pementasan PM Toh dari Aceh.

“Wah mirip PM Toh yah, tak apa juga kalau adik menangkap begitu, itu nyanyian pendekatannyamusik Sufi – Qawwali, saya suka dengan musik meditative,” ujar Gusti Sudarta usai pementasan.

Kedua, dari penggunaan bahasa yang digunakan pemainnya. Mereka menggunakan bahasa Melayu, Malaysia, Bali, logat Malaysia tapi bahasa Bali atau sebaliknya. Saya sendiri singkuh ningehin, tapi jika direnungkan lebih dalam itu cerminan realita kita hari ini, terdahap daya serap kebudayaan asing.

Pementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021. [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Sebut saja para pemandu wisata di jalan Kuta, menawarkan jasanya dengan bahasa Inggris tapi logatnya Bali. “Sir Sir draiper ser, do yu wont go to Bedugul ser” semacam itu. Hal ini juga bisa kita simpulkan bahwa bahasa merupakan komponen kebudayaan paling rapuh dan goyah, dalam  menghadapi budaya lain.

Ketiga, kostum dan gerak tari. Kostumnya kerajaan Malaysia tapi juga dicampur dengan pernak-pernik khas Bali, Gerak tari juga berkembang dari pakem tari Bali, jadi gerak-gerak khas ketegangan budaya. Ini sih, susah saya menjelaskan, tapi ada semacam kejanggalan pada tari yang dibawakan, antara tubuh penari yang belum fasih atau sedang mencari kenyamanan bentuk dalam menarikan.

Munyin Paksi mengisahkan tentang perebutan burung langka oleh Diah Rangda dan Nakoda Hesam. Burung langka itu dibeli oleh Diah Rangda untuk hadiah kepada kedua anaknya. Hadiah itu merupakan permintaan kedua anaknya, agar mau melanjutkan bersekolah. Namun sayang Nakoda Hasem mengetahui bahwa burung tersebut bertuah, barang siapa yang memakan kepala dan hati burung itu, ia akan menjadi raja di raja.

Awalnya Nakoda Hesam berhasil mendapatkan burung tersebut dengan cara mengguna – guna Diah Rangda. Burung pun ditangannya, oleh kedua anak buahnya burung itu dipanggang lalu diletakkan diluar. Datanglah kedua anak Diah Rangda, yang tidak mengerti permasalahan , mereka mengira burung panggang itu buatan ibunya, dengan lahap merekapun memakannya. Terjadilah perselisihan antara kedua pihak,

Cerita tersebut berasal dari karya sastra Geguritan Amad Muhamad. Geguritan ini biasanya digunakan sebagai cerita dalam seni pertunjukan di Bali seperti Gambuh Batuan, sekitar tahun 1920-1930 tercatat dalam buku Dance and Drama in Bali.

Naskah Geguritan ini awalnya berupa lontar koleksi pribadi warga Jembrana, dialih aksarakan oleh I Gusti Kade Arka pada tanggal 17-Mei-1997, dan dituliskan kembali oleh I Gusti Agung Komang Widana. Geguritan ini biasanya dipentaskan dalam pernikahan, kelahiran bayi, dan upacara tiga bulanan, menggambarkan adanya akulturasi sosial kultural yang alami dari masa ke masa, cerminan tingginya sikap toleransi masyarakat Bali juga Nusantara, yang rukun dan guyub sejak dulu.

Dalam pandangan saya, sekiranya begitulah kesenian Jani (sekarang), bertolak pada tradisi, tapi juga sedang mengintip keluar secara bersamaan. Hadirlah pementasan dari hasil tawar menawar. Dan tawar-menawar adalah kerja kesenian. Tidak salah memang, jika dalam kesadaran pelaku, diawali dengan riset, membaca, observasi lalu mengkodefikasikan informasi itu dalam pertunjukan dengan takaran yang baik. [T]

Tags: Festival Bali JaniSeniseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Esa Bhaskara | Punggung Udang di Lingkar Piring

Next Post

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co