12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Munyin Paksi Itu Janggal | Hasil Tawar Menawar Pertunjukan Sanggar Banjrajnyana-Gianyar

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
October 30, 2021
in Ulasan
Munyin Paksi Itu Janggal | Hasil Tawar Menawar Pertunjukan Sanggar Banjrajnyana-Gianyar

ementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021, [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Apa yang terjadi bila suatu kebudayaan bersentuhan dengan kebudayaan lain, hanya tiga kemungkinannya, punah, bertahan atau melebur. Pada poin melebur jadi menarik untuk dibahas, ada tawar menawar, ada kemungkinan dan  harapan yang tumbuh menjadi hal baru. Jika saja kebudayaan disikapi sebagai ruang cair dan fleksibel. Hal ini mengerucut pada subjek atau pelaku budayanya ada semacam motivasi diri, atau kesadaran laku untuk membaur.

Motivasi inilah yang saya saksikan pada pementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021, pukul 16.00 wita. Sebagai catatan penting, saya sendiri datang untuk menonton pertunjukan tersebut, tidak melalui kanal youtube. Alasannya , tentu saja dalam rangka menangkap empresi ketegangan di atas panggung dan paket kuota yang semakin cekak.

Ada tiga titik fokus yang hadir di pertunjukan itu, panggung tengah sebagai pementasan utama, sisi kiri bawah tempat musik pengiring, dan kelir wayang di sebelah kanan. Secara bergantian memang mereka terjalin dengan baik, namun jika dibaca sebagai sebuah teks panggung, ketiga panggung tersebut sejatinya memiliki informasi serta kelindan teks yang berdiri sendiri.

Namun ditangan I Gusti Putu Sudarta selaku sutradara,  ketiga peristiwa ini dijalin sedemikian rupa dalam satuan utuh pengadeganan. Saya sendiri dituntut untuk memilih tontonan yang saya suka, jika ketiga panggung ini tengah beradegan. Alih-alih mengatakan memecah konsentrasi penonton, saya lebih suka mengatakan bahwa pertunjukan tersebut memberikan pilihan untuk dipihak, demokrasi sekali kan.

Bahwa realitas kita juga demikian hari ini, buktinya orang-orang datang untuk menonton. Mungkin saja dalam keberangkatannya menonton, mereka dihadapkan sejumlah pilhan di jam itu. Menonton atau pacaran, menonton atau mengerjakan tugas, menonton atau pergi sama teman, dan lain sebagainya.

Pilihan realtas itu selevel dengan pilihan untuk menonton pertunjukan Gusti Sudarta. Panggung mana saja, SAH.

15 menit pertama pementasan, saya mulai menangkap suatu kejanggalan di mata saya, sebongkah keasingan di telinga saya, serta selapang keganjilan di hati saya. Ini bukan pementasan yang biasanya saya tonton, mari saya jabarkan kelindannya ya. Pertama alat musiknya terdiri dari suling gambuh, rebana, gong, reong ukuran besar, alat musik mirip Shamisen- jepang, serta nyanyian sang dalang  mirip–mirip pelafalan pementasan PM Toh dari Aceh.

“Wah mirip PM Toh yah, tak apa juga kalau adik menangkap begitu, itu nyanyian pendekatannyamusik Sufi – Qawwali, saya suka dengan musik meditative,” ujar Gusti Sudarta usai pementasan.

Kedua, dari penggunaan bahasa yang digunakan pemainnya. Mereka menggunakan bahasa Melayu, Malaysia, Bali, logat Malaysia tapi bahasa Bali atau sebaliknya. Saya sendiri singkuh ningehin, tapi jika direnungkan lebih dalam itu cerminan realita kita hari ini, terdahap daya serap kebudayaan asing.

Pementasan teater tutur Munyin Paksi,  Sanggar Banjrajnyana, dari Bona Gianyar, di Gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, pada Jumat 29 Oktober 2021. [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Sebut saja para pemandu wisata di jalan Kuta, menawarkan jasanya dengan bahasa Inggris tapi logatnya Bali. “Sir Sir draiper ser, do yu wont go to Bedugul ser” semacam itu. Hal ini juga bisa kita simpulkan bahwa bahasa merupakan komponen kebudayaan paling rapuh dan goyah, dalam  menghadapi budaya lain.

Ketiga, kostum dan gerak tari. Kostumnya kerajaan Malaysia tapi juga dicampur dengan pernak-pernik khas Bali, Gerak tari juga berkembang dari pakem tari Bali, jadi gerak-gerak khas ketegangan budaya. Ini sih, susah saya menjelaskan, tapi ada semacam kejanggalan pada tari yang dibawakan, antara tubuh penari yang belum fasih atau sedang mencari kenyamanan bentuk dalam menarikan.

Munyin Paksi mengisahkan tentang perebutan burung langka oleh Diah Rangda dan Nakoda Hesam. Burung langka itu dibeli oleh Diah Rangda untuk hadiah kepada kedua anaknya. Hadiah itu merupakan permintaan kedua anaknya, agar mau melanjutkan bersekolah. Namun sayang Nakoda Hasem mengetahui bahwa burung tersebut bertuah, barang siapa yang memakan kepala dan hati burung itu, ia akan menjadi raja di raja.

Awalnya Nakoda Hesam berhasil mendapatkan burung tersebut dengan cara mengguna – guna Diah Rangda. Burung pun ditangannya, oleh kedua anak buahnya burung itu dipanggang lalu diletakkan diluar. Datanglah kedua anak Diah Rangda, yang tidak mengerti permasalahan , mereka mengira burung panggang itu buatan ibunya, dengan lahap merekapun memakannya. Terjadilah perselisihan antara kedua pihak,

Cerita tersebut berasal dari karya sastra Geguritan Amad Muhamad. Geguritan ini biasanya digunakan sebagai cerita dalam seni pertunjukan di Bali seperti Gambuh Batuan, sekitar tahun 1920-1930 tercatat dalam buku Dance and Drama in Bali.

Naskah Geguritan ini awalnya berupa lontar koleksi pribadi warga Jembrana, dialih aksarakan oleh I Gusti Kade Arka pada tanggal 17-Mei-1997, dan dituliskan kembali oleh I Gusti Agung Komang Widana. Geguritan ini biasanya dipentaskan dalam pernikahan, kelahiran bayi, dan upacara tiga bulanan, menggambarkan adanya akulturasi sosial kultural yang alami dari masa ke masa, cerminan tingginya sikap toleransi masyarakat Bali juga Nusantara, yang rukun dan guyub sejak dulu.

Dalam pandangan saya, sekiranya begitulah kesenian Jani (sekarang), bertolak pada tradisi, tapi juga sedang mengintip keluar secara bersamaan. Hadirlah pementasan dari hasil tawar menawar. Dan tawar-menawar adalah kerja kesenian. Tidak salah memang, jika dalam kesadaran pelaku, diawali dengan riset, membaca, observasi lalu mengkodefikasikan informasi itu dalam pertunjukan dengan takaran yang baik. [T]

Tags: Festival Bali JaniSeniseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Esa Bhaskara | Punggung Udang di Lingkar Piring

Next Post

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co