22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Juara yang Tak Dirindukan | Kisah Miris Film Pemenang Festival Internasional

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
October 4, 2021
in Esai
Juara yang Tak Dirindukan | Kisah Miris Film Pemenang Festival Internasional

Poster Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Foto: Palari Films)

Hampir setahun lebih bioskop-bioskop kita merindukan penonton. Pandemi ini membuat acara keramaian, apalagi di ruangan tertutup menjadi pilihan pertama yang mesti dilarang. Dan saya bisa menduga juga akan menjadi  kegiatan terakhir yang akan diperbolehkan seiring makin melandainya kasus baru Covid-19 di negeri  ini.

Adanya aplikasi  berbayar semisal  Netflix, sedikit mengobati  dahaga penggemar  film, untuk bisa menikmati film terbaru produksi  Hollywood  utamnya, dan beberapa serial Korea dan Jepang yang cukup booming akhir- akhir ini.

Terlepas dari situasi ini, prestasi dua film karya anak negeri  ini di kancah festival film internasional sayup terdengar. Diawali oleh film Seperti  Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash) yang disutradarai Edwin mendapat  tropi Golden Leopard di Locarno Film festival di Swiss pertengahan Agustus lalu. Dan  film berjudul  Yuni, karya Kamila Andini yang mendapat penghargaan dalam Toronto International  Film Festival pertengahan September kemarin.

Ini terjadi di tengah  sunyinya perhatian dari khalayak terhadap film, alih alih pemerintah, apalagi bila dibandingkan dengan  sambutan terhadap medali emas ganda putri badminton saat olimpiade kemarin.

Sedangkan boleh dibilang festival film ini adalah olimpiade untuk film, karena pesertanya pun  berasal dari  seluruh dunia, termasuk sang rajanya film, yang punya Holywood, Amerika Serikat. Saya mungkin akan sedikit membahasnya nanti, tapi saya ingin lebih fokus ke satu pemenang, Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (SD RHDT) yang diadaptasi dari novel dengan judul serupa karya penulis kita yang sedang bersinar Eka Kurniawan.

Novel ini meraih Prince Claus Lauretae tahun 2018. Karya Eka Kurniawan yang lain adalah duo novel berjudul Cantik Itu luka dan Lelaki harimau. Dan kumpulan cerpen-nya berjudul  Corat-Coret di Tolilet.

Saya pertama mengenal  nama ini saat Ben Anderson seorang Indonesianis terkemuka begitu terpukau pada novel karya Eka Kurniawan dan ingin mengenalkannya pada penerbit luar negeri untuk diterbitkan dalam bahasa Inggris. Kalau seorang Ben Anderson mengatakan novel ini bagus, berarti tak ada alasan saya untuk tak membacanya, begitu pikir saya.

Tapi sayang keinginan itu hanya terpendam di hati saja, saya sering kecewa saat buku yang di-endorse oleh tokoh idola saya ternyata tak memenuhi harapan. Saya mulai dengan membaca kumpulan cerpennya Corat-coret di toilet sekian tahun yang lalu, dan tak ada hal menarik yang melekat di otak saya hingga saya lupakan keinginan untuk membaca karya Eka Kurniawan yang lain.

Dan akhirnya terdengar kabar bahwa salah satu novelnya difilmkan sampai mendapat penghargaan di Festival Film Internasional, dan saya tak punya alasan lagi untuk tak membeli novel yang akan kita bahas ini.

Novel ini bercerita tentang orang tak wajar, dan berlatar negeri antah berantah, dan tema yang diangkat secara keseluruhan dari novel ini pun adalah suatu yang hal yang langka, kalau boleh dibilang sedikit vugar yaitu kelamin. Tetapi setelah disimak, direnungkan kembali  yang kita baca, terasa sekali tokoh-tokohnya, lingkungan kehidupan dan negeri yang mereka tinggali terasa akrab dengan benak kita.

Sampul novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Caranya melukiskan persoalan dengan kelamin pun terdengar sangat akrab, seperti kita mendengar guyonan sehari-hari tanpa terseret ke hal yang terdengar  cabul. Beberapa kejadian maupun situasi di tanah air kita, yang dipasangkan di novel ini mengingatkan saya pada novel  Pramudya Ananta Toer dan Romo Mangun Wijaya. Suatu peristiwa atau opini yang menurut saya bukanlah suatu asumsi dangkal, tapi merupakan hasil penalaran kritis atas sebuah informasi yang diterima. Dan itu membuat sebuah gegar sejarah sebentar di kepala saya, karena benar-benar sesuatu yang baru, yang tak saya dapatkan di buku buku resmi maupun media nasional yang selama ini saya konsumsi.

Taruhan para sopir di perbatasan kota di tempat yang sepi, dengan mengadu mereka yang tertangkap saat pelaksanaan DOM di beberapa wilayah di tanah air oleh pihak militer kita, bisa kita sandingkan dengan informasi  tentang tak diakuinya peran kepahlawanan Pangeran Diponegoro di lingkungan keraton Mataram sendiri dalam novel Burung burung Manyar Romo Mangun.

Juga dengan informasi tentang peran Tirto Adhi Soediro dan dokter  Wahidin di awal era pergerakan nasional pada novel  karya Pram. Informasi baru yang perlu kita renungkan, untuk memberi sudut pandang lain dari yang kita miliki terhadap suatu peristiwa yang menentukan nasib bangsa kemudian.

Teknik bercerita maju mundur, dengan metode flashback dan menyisipkan cerita masa lalu di tengah kejadian saat ini, jamak kita temui di novel  karya penulis lain. Satu yang cukup mengganggu saya, cerita tentang tokoh Pak Tua tanpa perasaan yang dengan kejam menyiksa tokoh utama saat masih di penjara. Tak cukup banyak dieksplorasi latar belakangnya sampai dia bisa sekejam  dan sedingin itu, bagian ini saya tunggu sampai halaman terakhir dan tetap tak saya temukan titik temunya.

Secara umum, novel ini cukup bagus hingga bisa membuat saya tertantang untuk segera menyudahinya. Terlepas dari jumlah halaman yang masuk akal untuk waktu saya yang terasa makin sempit ini. Keasyikan membacanya bisa disamakan dengan saat saya membaca tetralogi Buru-nya Pram dan duo Saman Larung karya Ayu Utami.

Kembali ke film pemenang festival  film internasional. Banyak novel yang telah difilmkan, novel Laskar pelangi, Negeri 5 Menara dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan yang saya ingat masyarakat cukup antusias menyambut film-film tersebut. Meskipun jujur saja saya tak sempat menonton satupun film tersebut. Tapi saat sebuah film sampai memenangi festival internasional, meskipun tak segemerlap Piala Oscar, semestinyalah kita, apalagi pemerintah  memberikan sedikit apresiasi terhadap karya anak bangsa tersebut.

Mungkin yang membedakan film ini dengan film yang saya sebut lebih dulu, adalah sisi komersialnya. Film yang bisa dijual, yang menarik minat lebih banyak orang pastilah mendapat perhatian lebih dari khayalak..Susah membayangkan  film komersil  semisal DKI Reborn, atau sinetron Ikatan Cinta (kesayangan istri saya) misalnya, bisa diterima penonton luar negeri, dengan tema lokal begitu.

 Dan saat sebuah film seperti SD RHDT dan Yuni  terbukti menang di festival Internasional, itu artinya film tersebut secara ide dan teknik pembuatan film telah dianggap sejajar bahkan mendapat pengakuan di tingkat dunia. 

Saat pemenang olimpiade olahraga mendapat atensi luar biasa dari masyarakat dan terutama pemerintah maupun politisi negeri ini. Sepantasnyalah  produser maupun sutradara ke-2 film itu mendapat perlakuan yang serupa.  Kita mesti  berkaca dari pengalaman dunia hiburan selama ini.

Bertahun tahun televisi kita dijajajah film, telenovela buatan asing. Dari Amerika, Mexico, Brazil dilanjutkan hari hari ini dari Jepang dan terutama Korea Selatan, dengan demam BTS- nya. Saat kita merasa tak mampu bersaing dengan mereka menghasilkan karya karya sejenis, maka kita mesti pintar membuat karya dengan sudut lain seperti film-film festival seperti ini.

Dengan menjuarai festival film seperti ini, saya rasa tak seketika kedua  film itu akan menjadi  box office di seluruh dunia. Tapi setidaknya mata dunia akan tertuju kepada kita, bahwa bangsa kita juga kaya bakat bakat potensial di bidang film, bahwa negeri kita juga mempunyai sisi lain yang bisa dibanggakan, biar tak dikenal sebagai bangsa yang paling korup, negeri dengan kebakaran hutan, pengabaian lingkungan  yang utama, dan segala sesuatu  bernada negatif yang selama ini kita terima.

Selain rasa syukur atas juaranya mereka, satu yang tak bisa dipungkiri adalah kurangnya kesempatan kita, orang awam seperti saya untuk bisa menikmati  film film tersebut. Biasanya film kelas festival begini, tak bertahan lama di layar bioskop nasional (itupun kalau bioskopnya dibuka nanti).

Film-film seperti ini, termasuk film dokumenter Sexy Killer yang sempat heboh beberapa tahun  lalu itu biasanya hanya beredar di antara komunitas-komunitas tertentu yang memang konsen pada bidangnya. Tugas pelaku perfilman tanah air dan terutama pemerintah-lah mengusahakan agar karya-karya yang terbukti bagus ini bisa lebih dinikmati oleh lebih banyak kalangan masyarakat.

Dan siapa tahu, tahun depan Pak Menteri Nadiem Makarim mempunyai ide untuk menyelenggarakan nonton bareng film-film berkualitas karya anak bangsa , misalnya, untuk menyaingi  film lawas yang biasa diputar di akhir bulan September setiap tahunnya. Kalau hal itu terjadi, saya merasa ini adalah salah satu hadiah terindah menuju usia emas kemerdekaan nasional, sebagai  jembatan emas menuju Indonesia yang lebih  berbudaya. Astungkara.

Tags: Eka Kurniawanfilmnovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Open Border | Art Camp 2021 Wianta Foundation di Desa Apuan, Tabanan

Next Post

Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co