23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Krisna Aji by Krisna Aji
August 8, 2021
in Esai
Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Poster film Rurouni Kenshin: The Beginning. [Foto Google]

Film Rurouni Kenshin: The Beginning yang tayang pada pertengahan tahun 2021 adalah film laga adaptasi dari manga Jepang dengan judul Samurai X. Film tersebut menceritakan tokoh utama bernama Kenshin Himura–seorang samurai berdarah dingin–yang ikut andil dalam menumbangkan rezim Tokugawa. Sebagai seorang samurai, Kenshin sangat ditakuti karena keahliannya dalam membantai para musuh: membunuh tanpa ampun, tak terkalahkan, dan dengan tatapan mata dingin yang minim ekspresi.

Walaupun demikian, Kenshin ternyata tidak sedingin itu. Dibalik tampilan luar yang minim ekspresi, narasi cerita menggambarkan bahwa ia melakukan isolasi–mekanisme pembelaan ego dengan ciri memberi jarak antara emosi dan realita yang ada–dan mengalami depresi yang sangat besar karena telah banyak membunuh manusia. Sebagai seorang samurai, tentu saja tidak ada jalan kembali. Kenshin harus terus membunuh sampai tujuan akhir dari perjuangan rampung: tumbangnya rezim Tokugawa dan lahirnya rezim baru. Bahkan, sampai istrinya–secara tidak sengaja–mati terkena tebasan pedangnya.

Di luar narasi, pembangunan karakter yang kuat, dan aksi baku – pukul dengan sinematik yang dahsyat–menurut saya, sifat dari tokoh utama adalah hal yang paling menarik. Dalam penokohan yang dibangun, tokoh utama dapat merepresentasikan sifat dasar manusia yang benar-benar baik walaupun dididik dan berada dalam idealisme yang mengharuskannya haus akan darah. Dari sini, terlihat bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Benar-benar baik.

Apakah kalimat “manusia pada dasarnya baik” terdengar familiar? Jika jawabannya adalah “ya”, maka telaah berikut ini perlu dipertimbangkan kembali.

Dalam sejarah, manusia sering dilukiskan sebagai subjek yang sama dengan binatang. Buku Psychologie des foules atau ‘psikologi masa’ karangan Gustave Le Bon, misalnya, menjelaskan bahwa manusia akan menjadi anarki saat keadaan makin kritis: kepanikan berubah menjadi kekerasan; manusia kembali menjadi binatang.

Bagaimana dengan teori kapitalisme dari Adams Smith yang menjelaskan bahwa manusia itu liar dan saling mengekang satu sama lain sehingga perlu adanya kebebasan yang sebebas – bebasnya dengan batasan hak orang lain? Ujung – ujungnya, kebebasan tersebut berkibar dengan semangat kapitalisme di mana semua orang berhak untuk mencari kesejahteraan. Tetapi, manusia tetap berakhir dengan perbudakan modern yang lebih halus untuk menguasai manusia lain: kuasa kapital terhadap para buruh.

Atau, teori Sigmund Freud dan turunannya yang–salah satunya–menggunakan landasan berpikir adanya Id, Superego, dan Ego sebagai komponen dasar mental manusia. Id adalah dorongan dari dalam diri–bersifat liar; Superego adalah batasan norma yang terbentuk dari realita dan kepentingan manusia lain; sedangkan Ego adalah kemampuan untuk mendamaikan konflik atas polaritas keliaran Id melawan kontrol dari Superego.

Dalam perjalanannya, Id muncul terlebih dahulu, kemudian Superego datang dari arah berlawanan–berupa norma yang ditanamkan orang tua dan lingkungan. Akhirnya, Ego hadir untuk menengahi. Dari proses perkembangannya–di mana Id muncul terlebih dahulu, terlihat jelas bahwa pada dasarnya manusia itu suram. Sangat suram dan kelam.

Pandangan serupa dapat dilihat pada teori perkembangan moral yang disodorkan Kohlberg. Dalam teori tersebut–logika yang sama dengan perkembangan Id, Superego, dan Ego masih digunakan–disebutkan bahwa manusia mengenali norma sebagai sesuatu yang harus dipatuhi untuk menjauhi hukuman tanpa tahu alasannya. Kemudian, pemahaman berkembang dengan pandangan bahwa norma memang dibentuk agar berbagai kepentingan manusia yang berbeda tidak saling berbenturan.

Dan akhirnya, paham betul akan hakikat bahwa tidak ada benar salah yang absolut: dua orang yang berkonflik pada dasarnya sama – sama benar jika dilihat dari sudut pandang masing – masing. Walaupun pada dasarnya berakhir dengan kebaikan, tetap saja, teori Kohlberg dan juga Freud beranjak dari pemahaman bahwa manusia pada dasarnya liar; subjek yang tidak bisa dikontrol; entitas yang memiliki otak hanya untuk menelaah perlunya kesepakatan bersama agar tercipta keuntungan untuk diri sendiri.

Tetapi, bagaimana jika ada kemungkinan lain? Bahwa pada dasarnya, manusia itu baik dan perkembangan peradabanlah yang membuat manusia semakin suram? Kemungkinan tersebut juga disodorkan oleh Rutger Bregman dalam bukunya yang berjudul “Humankind: A Hopeful History.

Bregman menjelaskan bahwa terdapat beberapa fakta sejarah yang menunjukkan kebaikan manusia sudah ada sejak dahulu dan baru diikuti oleh kekelaman seiring berubahnya jaman. Misalkan saja, beberapa bukti arkeologi menunjukkan adanya kekerasan yang baru muncul pada sesama homo sapines saat era bercocok tanam. Kekerasan terjadi karena homo sapiens saling serang untuk memperluas wilayah. Lambat laun, penyerangan koloni lain terus dilakukan pada kebudayaan yang makin maju. Ketidakpuasan akan sesuatu yang dimiliki saat ini adalah ujung pangkalnya. Hal tersebut tidak berlaku pada era berburu, di mana homo sapiens belum memikirkan “hak milik” terhadap sesuatu.

Di era modern, hal yang sejalan terjadi pada wawancara yang dilakukan oleh Kolonel Marshall kepada para prajurit di era perang dunia II di Pasifik dan Eropa. Hasilnya: terdapat 15% sampai 25% serdadu saja yang menembakkan senjatanya walau dalam keadaan kritis. Atau, kisah enam anak kecil yang terdampar di Pulau ‘Ata–sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik–yang saling membantu satu sama lain untuk bertahan hidup. Hal yang berkebalikan dari prediksi, di mana saat kondisi kritis, setiap manusia akan mementingkan diri sendiri. Dan realita yang sama juga terjadi pada era pandemi covid di mana terdapat banyak relawan yang menyumbang tenaga dan hartanya untuk membantu sesama. Jelas sekali bukan untuk mementingkan diri sendiri, kan?

Dengan sudut pandang pemikiran kritis penulis: jika manusia pada dasarnya kejam dan hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu, bagaimana menjelaskan terjadinya empati? Bagaimana menjelaskan dorongan untuk menolong orang lain walaupun bantuan tersebut tidak memiliki efek positif terhadap diri sendiri? Atau, bagaimana menjelaskan ketidaktegaan yang datang dari diri sendiri saat menyembelih binatang? Dorongan tersebut tentu tidak berasal dari norma dan etika yang merupakan kesepakatan umum.

Untuk memperkuat argumen tersebut–tanpa berniat untuk melakukan argumentum ad hominem, cara pandang manusia terhadap realita–termasuk dalam memandang orang lain–sangat dipengaruhi oleh latar belakang dari subjek tersebut. Fenomenologi tidak bisa bebas dari subjektivitas sang subjek. Itulah yang membuat penjabaran latar belakang dari para pemikir adalah hal pertama yang disampaikan dalam berbagai diskursus sebelum ide dari pemikir tersebut diuraikan.

Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana latar belakang pemikir yang memersepsikan manusia sebagai makhluk yang kelam? Jangan – jangan, pandangan tersebut sebenarnya adalah pandangan terhadap dirinya sendiri? Lalu, bagaimanakah pandangan kita terhadap manusia lain? Kelam atau penuh harapan? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja tidak lepas dari pandangan kita terhadap diri sendiri. [T]

  • Baca artikel lain dr. Krisna Aji, SpKJ.
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Percaya Tidak Percaya Covid

Percaya Tidak Percaya Covid

Tags: filmkemanusiaankesehatanRurouni Kenshin: The Beginning
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkibarlah Merah Putih di Hutan Bawah Laut Penimbangan

Next Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co