17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Krisna Aji by Krisna Aji
August 8, 2021
in Esai
Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Poster film Rurouni Kenshin: The Beginning. [Foto Google]

Film Rurouni Kenshin: The Beginning yang tayang pada pertengahan tahun 2021 adalah film laga adaptasi dari manga Jepang dengan judul Samurai X. Film tersebut menceritakan tokoh utama bernama Kenshin Himura–seorang samurai berdarah dingin–yang ikut andil dalam menumbangkan rezim Tokugawa. Sebagai seorang samurai, Kenshin sangat ditakuti karena keahliannya dalam membantai para musuh: membunuh tanpa ampun, tak terkalahkan, dan dengan tatapan mata dingin yang minim ekspresi.

Walaupun demikian, Kenshin ternyata tidak sedingin itu. Dibalik tampilan luar yang minim ekspresi, narasi cerita menggambarkan bahwa ia melakukan isolasi–mekanisme pembelaan ego dengan ciri memberi jarak antara emosi dan realita yang ada–dan mengalami depresi yang sangat besar karena telah banyak membunuh manusia. Sebagai seorang samurai, tentu saja tidak ada jalan kembali. Kenshin harus terus membunuh sampai tujuan akhir dari perjuangan rampung: tumbangnya rezim Tokugawa dan lahirnya rezim baru. Bahkan, sampai istrinya–secara tidak sengaja–mati terkena tebasan pedangnya.

Di luar narasi, pembangunan karakter yang kuat, dan aksi baku – pukul dengan sinematik yang dahsyat–menurut saya, sifat dari tokoh utama adalah hal yang paling menarik. Dalam penokohan yang dibangun, tokoh utama dapat merepresentasikan sifat dasar manusia yang benar-benar baik walaupun dididik dan berada dalam idealisme yang mengharuskannya haus akan darah. Dari sini, terlihat bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Benar-benar baik.

Apakah kalimat “manusia pada dasarnya baik” terdengar familiar? Jika jawabannya adalah “ya”, maka telaah berikut ini perlu dipertimbangkan kembali.

Dalam sejarah, manusia sering dilukiskan sebagai subjek yang sama dengan binatang. Buku Psychologie des foules atau ‘psikologi masa’ karangan Gustave Le Bon, misalnya, menjelaskan bahwa manusia akan menjadi anarki saat keadaan makin kritis: kepanikan berubah menjadi kekerasan; manusia kembali menjadi binatang.

Bagaimana dengan teori kapitalisme dari Adams Smith yang menjelaskan bahwa manusia itu liar dan saling mengekang satu sama lain sehingga perlu adanya kebebasan yang sebebas – bebasnya dengan batasan hak orang lain? Ujung – ujungnya, kebebasan tersebut berkibar dengan semangat kapitalisme di mana semua orang berhak untuk mencari kesejahteraan. Tetapi, manusia tetap berakhir dengan perbudakan modern yang lebih halus untuk menguasai manusia lain: kuasa kapital terhadap para buruh.

Atau, teori Sigmund Freud dan turunannya yang–salah satunya–menggunakan landasan berpikir adanya Id, Superego, dan Ego sebagai komponen dasar mental manusia. Id adalah dorongan dari dalam diri–bersifat liar; Superego adalah batasan norma yang terbentuk dari realita dan kepentingan manusia lain; sedangkan Ego adalah kemampuan untuk mendamaikan konflik atas polaritas keliaran Id melawan kontrol dari Superego.

Dalam perjalanannya, Id muncul terlebih dahulu, kemudian Superego datang dari arah berlawanan–berupa norma yang ditanamkan orang tua dan lingkungan. Akhirnya, Ego hadir untuk menengahi. Dari proses perkembangannya–di mana Id muncul terlebih dahulu, terlihat jelas bahwa pada dasarnya manusia itu suram. Sangat suram dan kelam.

Pandangan serupa dapat dilihat pada teori perkembangan moral yang disodorkan Kohlberg. Dalam teori tersebut–logika yang sama dengan perkembangan Id, Superego, dan Ego masih digunakan–disebutkan bahwa manusia mengenali norma sebagai sesuatu yang harus dipatuhi untuk menjauhi hukuman tanpa tahu alasannya. Kemudian, pemahaman berkembang dengan pandangan bahwa norma memang dibentuk agar berbagai kepentingan manusia yang berbeda tidak saling berbenturan.

Dan akhirnya, paham betul akan hakikat bahwa tidak ada benar salah yang absolut: dua orang yang berkonflik pada dasarnya sama – sama benar jika dilihat dari sudut pandang masing – masing. Walaupun pada dasarnya berakhir dengan kebaikan, tetap saja, teori Kohlberg dan juga Freud beranjak dari pemahaman bahwa manusia pada dasarnya liar; subjek yang tidak bisa dikontrol; entitas yang memiliki otak hanya untuk menelaah perlunya kesepakatan bersama agar tercipta keuntungan untuk diri sendiri.

Tetapi, bagaimana jika ada kemungkinan lain? Bahwa pada dasarnya, manusia itu baik dan perkembangan peradabanlah yang membuat manusia semakin suram? Kemungkinan tersebut juga disodorkan oleh Rutger Bregman dalam bukunya yang berjudul “Humankind: A Hopeful History.

Bregman menjelaskan bahwa terdapat beberapa fakta sejarah yang menunjukkan kebaikan manusia sudah ada sejak dahulu dan baru diikuti oleh kekelaman seiring berubahnya jaman. Misalkan saja, beberapa bukti arkeologi menunjukkan adanya kekerasan yang baru muncul pada sesama homo sapines saat era bercocok tanam. Kekerasan terjadi karena homo sapiens saling serang untuk memperluas wilayah. Lambat laun, penyerangan koloni lain terus dilakukan pada kebudayaan yang makin maju. Ketidakpuasan akan sesuatu yang dimiliki saat ini adalah ujung pangkalnya. Hal tersebut tidak berlaku pada era berburu, di mana homo sapiens belum memikirkan “hak milik” terhadap sesuatu.

Di era modern, hal yang sejalan terjadi pada wawancara yang dilakukan oleh Kolonel Marshall kepada para prajurit di era perang dunia II di Pasifik dan Eropa. Hasilnya: terdapat 15% sampai 25% serdadu saja yang menembakkan senjatanya walau dalam keadaan kritis. Atau, kisah enam anak kecil yang terdampar di Pulau ‘Ata–sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik–yang saling membantu satu sama lain untuk bertahan hidup. Hal yang berkebalikan dari prediksi, di mana saat kondisi kritis, setiap manusia akan mementingkan diri sendiri. Dan realita yang sama juga terjadi pada era pandemi covid di mana terdapat banyak relawan yang menyumbang tenaga dan hartanya untuk membantu sesama. Jelas sekali bukan untuk mementingkan diri sendiri, kan?

Dengan sudut pandang pemikiran kritis penulis: jika manusia pada dasarnya kejam dan hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu, bagaimana menjelaskan terjadinya empati? Bagaimana menjelaskan dorongan untuk menolong orang lain walaupun bantuan tersebut tidak memiliki efek positif terhadap diri sendiri? Atau, bagaimana menjelaskan ketidaktegaan yang datang dari diri sendiri saat menyembelih binatang? Dorongan tersebut tentu tidak berasal dari norma dan etika yang merupakan kesepakatan umum.

Untuk memperkuat argumen tersebut–tanpa berniat untuk melakukan argumentum ad hominem, cara pandang manusia terhadap realita–termasuk dalam memandang orang lain–sangat dipengaruhi oleh latar belakang dari subjek tersebut. Fenomenologi tidak bisa bebas dari subjektivitas sang subjek. Itulah yang membuat penjabaran latar belakang dari para pemikir adalah hal pertama yang disampaikan dalam berbagai diskursus sebelum ide dari pemikir tersebut diuraikan.

Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana latar belakang pemikir yang memersepsikan manusia sebagai makhluk yang kelam? Jangan – jangan, pandangan tersebut sebenarnya adalah pandangan terhadap dirinya sendiri? Lalu, bagaimanakah pandangan kita terhadap manusia lain? Kelam atau penuh harapan? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja tidak lepas dari pandangan kita terhadap diri sendiri. [T]

  • Baca artikel lain dr. Krisna Aji, SpKJ.
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Percaya Tidak Percaya Covid

Percaya Tidak Percaya Covid

Tags: filmkemanusiaankesehatanRurouni Kenshin: The Beginning
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkibarlah Merah Putih di Hutan Bawah Laut Penimbangan

Next Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co