2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Krisna Aji by Krisna Aji
August 8, 2021
in Esai
Sifat Manusia dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning”

Poster film Rurouni Kenshin: The Beginning. [Foto Google]

Film Rurouni Kenshin: The Beginning yang tayang pada pertengahan tahun 2021 adalah film laga adaptasi dari manga Jepang dengan judul Samurai X. Film tersebut menceritakan tokoh utama bernama Kenshin Himura–seorang samurai berdarah dingin–yang ikut andil dalam menumbangkan rezim Tokugawa. Sebagai seorang samurai, Kenshin sangat ditakuti karena keahliannya dalam membantai para musuh: membunuh tanpa ampun, tak terkalahkan, dan dengan tatapan mata dingin yang minim ekspresi.

Walaupun demikian, Kenshin ternyata tidak sedingin itu. Dibalik tampilan luar yang minim ekspresi, narasi cerita menggambarkan bahwa ia melakukan isolasi–mekanisme pembelaan ego dengan ciri memberi jarak antara emosi dan realita yang ada–dan mengalami depresi yang sangat besar karena telah banyak membunuh manusia. Sebagai seorang samurai, tentu saja tidak ada jalan kembali. Kenshin harus terus membunuh sampai tujuan akhir dari perjuangan rampung: tumbangnya rezim Tokugawa dan lahirnya rezim baru. Bahkan, sampai istrinya–secara tidak sengaja–mati terkena tebasan pedangnya.

Di luar narasi, pembangunan karakter yang kuat, dan aksi baku – pukul dengan sinematik yang dahsyat–menurut saya, sifat dari tokoh utama adalah hal yang paling menarik. Dalam penokohan yang dibangun, tokoh utama dapat merepresentasikan sifat dasar manusia yang benar-benar baik walaupun dididik dan berada dalam idealisme yang mengharuskannya haus akan darah. Dari sini, terlihat bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Benar-benar baik.

Apakah kalimat “manusia pada dasarnya baik” terdengar familiar? Jika jawabannya adalah “ya”, maka telaah berikut ini perlu dipertimbangkan kembali.

Dalam sejarah, manusia sering dilukiskan sebagai subjek yang sama dengan binatang. Buku Psychologie des foules atau ‘psikologi masa’ karangan Gustave Le Bon, misalnya, menjelaskan bahwa manusia akan menjadi anarki saat keadaan makin kritis: kepanikan berubah menjadi kekerasan; manusia kembali menjadi binatang.

Bagaimana dengan teori kapitalisme dari Adams Smith yang menjelaskan bahwa manusia itu liar dan saling mengekang satu sama lain sehingga perlu adanya kebebasan yang sebebas – bebasnya dengan batasan hak orang lain? Ujung – ujungnya, kebebasan tersebut berkibar dengan semangat kapitalisme di mana semua orang berhak untuk mencari kesejahteraan. Tetapi, manusia tetap berakhir dengan perbudakan modern yang lebih halus untuk menguasai manusia lain: kuasa kapital terhadap para buruh.

Atau, teori Sigmund Freud dan turunannya yang–salah satunya–menggunakan landasan berpikir adanya Id, Superego, dan Ego sebagai komponen dasar mental manusia. Id adalah dorongan dari dalam diri–bersifat liar; Superego adalah batasan norma yang terbentuk dari realita dan kepentingan manusia lain; sedangkan Ego adalah kemampuan untuk mendamaikan konflik atas polaritas keliaran Id melawan kontrol dari Superego.

Dalam perjalanannya, Id muncul terlebih dahulu, kemudian Superego datang dari arah berlawanan–berupa norma yang ditanamkan orang tua dan lingkungan. Akhirnya, Ego hadir untuk menengahi. Dari proses perkembangannya–di mana Id muncul terlebih dahulu, terlihat jelas bahwa pada dasarnya manusia itu suram. Sangat suram dan kelam.

Pandangan serupa dapat dilihat pada teori perkembangan moral yang disodorkan Kohlberg. Dalam teori tersebut–logika yang sama dengan perkembangan Id, Superego, dan Ego masih digunakan–disebutkan bahwa manusia mengenali norma sebagai sesuatu yang harus dipatuhi untuk menjauhi hukuman tanpa tahu alasannya. Kemudian, pemahaman berkembang dengan pandangan bahwa norma memang dibentuk agar berbagai kepentingan manusia yang berbeda tidak saling berbenturan.

Dan akhirnya, paham betul akan hakikat bahwa tidak ada benar salah yang absolut: dua orang yang berkonflik pada dasarnya sama – sama benar jika dilihat dari sudut pandang masing – masing. Walaupun pada dasarnya berakhir dengan kebaikan, tetap saja, teori Kohlberg dan juga Freud beranjak dari pemahaman bahwa manusia pada dasarnya liar; subjek yang tidak bisa dikontrol; entitas yang memiliki otak hanya untuk menelaah perlunya kesepakatan bersama agar tercipta keuntungan untuk diri sendiri.

Tetapi, bagaimana jika ada kemungkinan lain? Bahwa pada dasarnya, manusia itu baik dan perkembangan peradabanlah yang membuat manusia semakin suram? Kemungkinan tersebut juga disodorkan oleh Rutger Bregman dalam bukunya yang berjudul “Humankind: A Hopeful History.

Bregman menjelaskan bahwa terdapat beberapa fakta sejarah yang menunjukkan kebaikan manusia sudah ada sejak dahulu dan baru diikuti oleh kekelaman seiring berubahnya jaman. Misalkan saja, beberapa bukti arkeologi menunjukkan adanya kekerasan yang baru muncul pada sesama homo sapines saat era bercocok tanam. Kekerasan terjadi karena homo sapiens saling serang untuk memperluas wilayah. Lambat laun, penyerangan koloni lain terus dilakukan pada kebudayaan yang makin maju. Ketidakpuasan akan sesuatu yang dimiliki saat ini adalah ujung pangkalnya. Hal tersebut tidak berlaku pada era berburu, di mana homo sapiens belum memikirkan “hak milik” terhadap sesuatu.

Di era modern, hal yang sejalan terjadi pada wawancara yang dilakukan oleh Kolonel Marshall kepada para prajurit di era perang dunia II di Pasifik dan Eropa. Hasilnya: terdapat 15% sampai 25% serdadu saja yang menembakkan senjatanya walau dalam keadaan kritis. Atau, kisah enam anak kecil yang terdampar di Pulau ‘Ata–sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik–yang saling membantu satu sama lain untuk bertahan hidup. Hal yang berkebalikan dari prediksi, di mana saat kondisi kritis, setiap manusia akan mementingkan diri sendiri. Dan realita yang sama juga terjadi pada era pandemi covid di mana terdapat banyak relawan yang menyumbang tenaga dan hartanya untuk membantu sesama. Jelas sekali bukan untuk mementingkan diri sendiri, kan?

Dengan sudut pandang pemikiran kritis penulis: jika manusia pada dasarnya kejam dan hanya mementingkan dirinya sendiri, lalu, bagaimana menjelaskan terjadinya empati? Bagaimana menjelaskan dorongan untuk menolong orang lain walaupun bantuan tersebut tidak memiliki efek positif terhadap diri sendiri? Atau, bagaimana menjelaskan ketidaktegaan yang datang dari diri sendiri saat menyembelih binatang? Dorongan tersebut tentu tidak berasal dari norma dan etika yang merupakan kesepakatan umum.

Untuk memperkuat argumen tersebut–tanpa berniat untuk melakukan argumentum ad hominem, cara pandang manusia terhadap realita–termasuk dalam memandang orang lain–sangat dipengaruhi oleh latar belakang dari subjek tersebut. Fenomenologi tidak bisa bebas dari subjektivitas sang subjek. Itulah yang membuat penjabaran latar belakang dari para pemikir adalah hal pertama yang disampaikan dalam berbagai diskursus sebelum ide dari pemikir tersebut diuraikan.

Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana latar belakang pemikir yang memersepsikan manusia sebagai makhluk yang kelam? Jangan – jangan, pandangan tersebut sebenarnya adalah pandangan terhadap dirinya sendiri? Lalu, bagaimanakah pandangan kita terhadap manusia lain? Kelam atau penuh harapan? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja tidak lepas dari pandangan kita terhadap diri sendiri. [T]

  • Baca artikel lain dr. Krisna Aji, SpKJ.
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Percaya Tidak Percaya Covid

Percaya Tidak Percaya Covid

Tags: filmkemanusiaankesehatanRurouni Kenshin: The Beginning
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkibarlah Merah Putih di Hutan Bawah Laut Penimbangan

Next Post

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Organisasi Penulis Satupena Dipimpin Kolektif 5 Orang Ketua | Bambang Harymurti sebagai Ketua Tim Rekonsiliasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co