23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lestarikan Bahasa Bali | Atasi Problematika dalam Pembelajaran

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
March 29, 2021
in Esai
Lestarikan Bahasa Bali | Atasi  Problematika dalam Pembelajaran

Beberapa kajian tentang eksistensi bahasa Bali sudah banyak dilakukan oleh kalangan akademisi. Hasil kajian secara umum mengindikasikan ada pergeseran fungsi Bahasa Bali. Masyarakat Bali adalah masyarakat yang bilingualism. Masyarakat menggunakan bahasa Bali dan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi pada ranah keluarga. Ada fenomena saat ini, terutama di perkotaan, orang tua tidak lagi menggunakan bahasa Bali sebagai alat komunikasi dalam keluarga. Orang tua menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berkomunikasi dengan berbagai alasan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan karena bahasa Indonesia akan secara perlahan menggeser  fungsi bahasa Bali.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi bisa saja menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berprestise. Ada kebanggaan tersendiri apabila menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Fenomena ini tentu bisa “mengancam” keberadaan bahasa Bali.

Keseriusan Pemerintah Provinsi Bali dalam untuk memertahankan keberlangsungan bahasa Bali adalah dengan diterbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Pada pasal 2 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan perlindungan bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui (1) inventarisasi, (2) pengamanan, (3) pemeliharaan, (4) penyelamatan, dan (5) publikasi. (1) Inventarisasi sebagaimana dilakukan dengan pencatatan dan pendokumentasian, penetapan, serta pemutakhiran data. (2) Pengamanan sebagaimana dilakukan dengan cara: (a) memutakhirkan data bahasa, aksara, dan sastra Bali dalam sistem pendataan kebudayaan terpadu secara terus menerus;(b).mewariskan bahasa, aksara, dan sastra Bali pada generasi selanjutnya; dan (c) memperjuangkan secara selektif aksara dan sastra Bali sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dan warisan budaya dunia.(3) Pemeliharaan dilakukan dengan cara: (a) menjaga nilai keluhuran dan kearifan objek Perlindungan Bahasa, Aksara Dan Sastra Bali; (b).menggunakan objek Perlindungan Bahasa,Aksara dan Sastra Bali dalam kehidupan sehari-hari; (c) menjaga keanekaragaman objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali; (d).menghidupkan dan menjaga ekosistem Bahasa, Aksara dan Sastra Bali untuk setiap objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali; dan (e) mewariskan objek Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali kepada generasi berikutnya. (4) Penyelamatan dilakukan dengan cara: (a) revitalisasi; (b) repatriasi; dan/atau (c) restorasi.(5) Publikasi dilakukan melalui penyebaran informasi kepada seluruh masyarakat yang ada di Bali dan di luar Bali dalam berbagai bentuk media.

Berkaitan dengan usaha pemertahanan bahasa Bali, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 20 Tahun 2013. Pada Bab II Pasal 2 ayat 1 dengan jelas termaktub bahwa Bahasa, Aksara, dan sastra Bali diajarkan pada semua jenjang pendidikan dasar dan menengah sebagai mata pelajaran di Provinsi Bali. Ada landasan hukum yang jelas bagi sekolah untuk mengajarkan bahasa Bali di sekolah. Hal ini merupakan bentuk atau aksi dalam melestarikan bahasa Bali. Agar bahasa Bali tetap lestari salah satu jalan yang dilakukan adalah melalui pembelajaran di sekolah.

Bahasa Bali telah diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai menengah namun cakupan materi pembelajaran bahasa Bali begitu luas. Siswa dituntut untuk menguasai empat keterampilan bahasa yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca sedangkan alokasi waktu yang tersedia dalam pembelajaran 2 jam pelajaran seminggu. Bagaimana seorang guru dapat mencapai target pembelajaran dengan alokasi waktu yang tidak memadai sementara cakupan pembelajaran begitu luas. Siswa diharapkan menguasai keterampilan berbicara dengan menggunakan bahasa Bali. Bagi anak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga akan menganggap bahasa Bali itu sulit. Siswa tidak bisa  menggunakan bahasa Bali karena situasi kebahasaan dalam keluarga tidak mendukung. Pada pembelajaran membaca, siswa tidak saja dapat memahami wacana bahasa Bali yang ditulis dengan huruf Bali tetapi siswa dituntut bisa membaca teks wacana yang menggunakan huruf Bali. Begitu pula dalam keterampilan menulis, siswa diajarkan menulis dengan menggunakan huruf Bali.

Meskipun bahasa Bali telah diberikan sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah, kompetensi siswa dalam pelajaran bahasa Bali belum memadai. Ada tendensi bahwa motivasi siswa dalam belajar bahasa Bali kurang. Ini tentu perlu kajian yang mendalam untuk menjawab pertanyaan itu sehingga siswa memiliki motivasi dalam pembelajaran bahasa Bali.

Dalam pembelajaran tatap muka sebelum pandemi Covid 19, cukup banyak kendala yang dialami guru dalam pembelajaran bahasa Bali. Adnyana (2018) telah melakukan kajian terhadap problematika pembelajaran bahasa Bali. Problematika itu berupa pilihan metode pembelajaran bahasa Bali belum teraplikasi dengan baik. Banyak guru belum menerapkan model pembelajaran inovatif dalam pembelajaran. Di samping itu, sikap bahasa siswa terhadap bahasa bali kurang baik. Siswa menganggap pembelajaran bahasa Bali tidak penting.

Kendala tentu semakin banyak ketika pelaksanaan pembelajaran  pada Pandemi Covid 19 dari diubah dari luring menjadi daring. Berikut ini hasil wawancara dengan guru bahasa Bali berkaitan dengan kendala yang dialami dalam pembelajaran bahasa Bali selama pandemi Covid 19.  Guru awalnya tidak siap melakukan pembelajaran daring karena pembelajaran tidak didesain dengan pembelajaran daring. Guru dituntut mampu menggunakan berbagai aplikasi dalam pembelajaran. Untuk  siswa di sekolah dasar aplikasi yang paling memungkinkan  digunakan adalah dengan menggunakan whatsapp. Tentu dengan aplikasi ini guru tidak dapat melaksanakan pembelajaran mencakup empat keterampilan bahasa. Siswa mengalami kendala dalam pembelajaran karena pembelajaran secara shyncronous dan asyncrhonous tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Guru terkesan memberikan banyak tugas karena dengan whatsapp interaksi siswa dengan guru tidak maksimal. Walaupun guru dapat menjelaskan materi dengan melakukan video call hasil yang diharapkan belum maksimal. Kualitas gambar dan suara ketika melakukan video call tidak begitu bagus karena jaringan yang kurang stabil.

Kendala pembelajaran bahasa Bali pada tingkat sekolah menengah juga mengalami kesulitan. Pertama, konten materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa dipahami semua peserta didik. Dalam pembelajaran membaca misalnya, guru tidak dapat mengetahui keterampilan membaca siswa secara keseluruhan karena guru tidak dapat melakukan bimbingan dengan maksimal untuk mengetahui kesulitan siswa dalam membaca. Kalau pembelajaran dilakukan dengan tatap muka, guru dapat memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa yang masih menghadapi kendala dalam membaca teks berhuruf Bali. Begitu pula dalam menulis (menggunakan aksara Bali), guru tidak dapat menjelaskan secara maksimal karena guru tidak bisa mengetahui apakah tugas yang dikerjakan siswa pada saat proses pembelajaran sudah benar atau salah.           

Kedua, kemampuan guru terbatas dalam menggunakan teknologi pada pembelajaran daring. Tidak semua guru mampu mengoperasikan komputer atau telepon pintar untuk mendukung kegiatan pembelajaran, baik dalam tatap muka langsung, terlebih lagi dalam pembelajaran daring. Memang ada sebagian guru mampu mengoperasikan komputer, tetapi dalam hal pengoperasian terbatas. Mereka tidak mampu membuat media/video pembelajaran sendiri dan sebagainya. Ketiga motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Bali cukup rendah. Keaktifan siswa dalam pembelajaran tidak begitu baik. Motivasi inilah yang perlu ditingkatkan oleh guru.

Dari kendala-kendala tersebut guru  berusaha memecahkan dan menemukan solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Guru bisa membuat pembelajaran semenarik mungkin dengan mendesain pembelajaran dalam bentuk power point dan video pembelajaran sehingga siswa tergugah untuk mengikuti pembelajaran. Guru diharapkan meningkatkan keterampilannya dalam penguasaan teknologi pembelajaran yang sederhana dulu perlahan-lahan guru dapat meningkatkan  kompetensi penguasaan IT-nya.  Salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam pembelajaran, guru bisa menerapkan blended learning. Dengan penerapan blended learning pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa berpandangan apa yang mereka pelajari adalah sesuatu yang mereka butuhkan. [T]

Tags: Bahasa BalipembelajaranPengetahuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS | Jatuh Cinta, Sesungguhnya Sunyi

Next Post

Mengenang Gede Seen, Menonton Kembali Film-filmnya yang Orisinal

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang Gede Seen, Menonton Kembali Film-filmnya yang Orisinal

Mengenang Gede Seen, Menonton Kembali Film-filmnya yang Orisinal

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co