12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 26, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa

Sudah satu setengah tahun saya menjadi bagian dari keluarga kecil bernama Teater Kalangan. Satu setengah tahun yang padat dengan segala hal yang terjadi hingga mungkin beberapa lepas dari ingatan. Tapi sebisa mungkin saya ingin mengingat kejadian itu, mengingat proses yang saya lalui selama ini. Belum lagi tahun kemarin merupakan tahun yang sangat spesial bagi saya.

Mungkin bagi kebanyakan orang tahun 2020 adalah tahun yang tidak mengenakan, suram, dan segala hal buruk lainnya. Tahun ini pandemi Covid-19 muncul tak diundang, meluluh lantahkan semua dihadapannya. Menghancurkan rencana yang sudah tersusun rapi, menghilangkan pertemuan, dan menyebarkan ketakutan di sana dan sini. Tetapi di balik kesuraman itu banyak hal yang saya dapatkan pada tahun ini. Tidak hanya hal negatif tetapi juga banyak hal positif. Tidak hanya hal yang buruk tetapi juga hal yang baik.

Awal Tahun dan Pandemi

Pada bulan-bulan awal memang berjalan dengan lancar dan beberapa acara masih bisa dilaksanakan tanpa adanya masalah. Namun mulai bulan ketiga semua berubah. Seperti yang kita tahu semua mulai mengkarantina diri masing-masing dan menghindari pertemuan. Tentu saja itu juga berlaku untuk saya, bulan-bulan awal pandemi saya habiskan di rumah dan toko keluarga. Tidak seperti kebanyakan tempat yang harus menutup toko misalnya di tempat-tempat pariwisata. Toko di desa harus tetap buka setiap hari demi sesuap nasi esok hari. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tutup dan libur. 

Maka dari itu saya membantu orang tua sebisa mungkin dalam menjalankan toko. Meski bantuan saya tidak seberapa tetapi setidaknya ini lebih baik daripada berdiam diri di dalam kamar. Lambat laun hari-hari itu mulai terasa bosan. Berusaha menghilangkan kebosanan dengan mengerjakan tugas yang diberikan kampus, namun itu hanya bertahan sementara. Kebosanan itu datang kembali.

Lalu perlahan saya membawa buku-buku yang belum tuntas dibaca. Membacanya sambil menunggu pelanggan yang datang entah kapan. Setidaknya saya bisa mengobati kebosanan ini dengan membaca. Banyak hal yang menarik terjadi selama bulan-bulan awal pandemi. Saya kembali berkumpul dengan keluarga. Keluarga yang jarang sekali saya temui dan menghabiskan waktu bersama dalam beberapa tahun ini.

Semenjak kuliah saya lebih sering menghabiskan waktu di luar. Bahkan setelah kos bareng dengan beberapa kawan, kehadiran saya di rumah lebih kecil lagi. Bahkan kehadiran saya bisa dua tiga kali dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Setidaknya dengan adanya pandemi ini, saya dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Ini salah satu hal yang saya syukuri dengan adanya pandemi. Rasanya seperti diberikan kesempatan kembali untuk mengenal dan bersama keluarga.

Menjalin Pertemuan dan Pengalaman Menulis

Kemudian setelah berlalu beberapa bulan, akhirnya saya kembali berkumpul dengan kawan-kawan Teater Kalangan. Rasanya ada sekitar dua bulan tidak bertemu satu sama lain. Ketika bertemu ada hal yang sangat berjarak saya rasakan. Dua bulan itu membuat saya sedikit tidak mengerti apa yang diobrolkan saat itu, rasanya seperti sudah berbeda dunia. Terasa tertinggal. Karena itu juga saya berusaha untuk mengikuti segala pertemuan yang ada, berusaha untuk mengejar ketertinggalan.

Pada saat itu kami sedang membahas sebuah program Dini Ditu Kalangan. Sebuah program untuk menjaga pertemuan di tengah masa-masa seperti saat itu. Memang pandemi berusaha untuk membuat kita terpisah satu sama lain dengan melarang adanya pertemuan. Tapi dengan adanya pandemi ini malah membuka pintu pertemuan lainnya. Bahkan lebih luas jangkauannya bahkan melebihi sebelumnya. Pertemuan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Semuanya bisa terkoneksi dengan adanya media sosial dan perangkat lainnya.

Sangat terasa begitu banyak hal yang berubah, semua pertemuan langsung berganti dan berpindah ke digital. Banyak pertemuan, diskusi, meeting, dan lain sebagainya hadir lewat live ig, zoom, google meet, dan masih banyak lainnya. Pertemuan yang biasanya terhalang oleh jarak sekarang sudah lepas. Jarak antara waktu dan tempat sudah semakin mengabur berkat adanya perangkat-perangkat ini. Meskipun memang harus diakui bahwa pertemuan online tidak akan bisa menggantikan pertemuan offline. Tetapi setidaknya dengan adanya ini bisa membuka peluang relasi baru yang lebih luas.

Dini Ditu Kalangan merupakan ruang pertemuan itu, pertemuan yang melepas batas jarak. Di dalamnya ada banyak acara, mulai dari diskusi dan pertunjukan. Selain juga menjadi alasan untuk menjaga kewarasan, Dini Ditu juga menghadirkan banyak hal yang tak terduga. Terutama saya merasakan pengaruh dari Dini Ditu terhadap diri ini. Dalam program ini saya mendapat tugas untuk menulis cuplikan dari setiap minggunya.

Dan dari sini saya belajar banyak menganai kepenulisan. Terutama dalam membiasakan diri untuk menulis. Menulis setiap minggu ternyata membutuhkan tenaga yang ekstra, terutama dalam membulatkan tekad untuk menyelesaikannya tepat waktu. Jujur saja sampai saat ini saya masih kesulitan untuk menyelesaikan tulisan tepat pada waktunya. Saya bingung mengapa ini terjadi? Padahal awal-awal menulis cuplikan saya dapat menyelesaikannya tepat pada waktu. Lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat dengan deadline hingga pengumpulan melewati batas waktu yang ditentukan.

Apakah ini kebosanan? Atau memang diri ini yang malas? Atau jangan-jangan mandet? Saya masih bingung akan jawaban ini, akhir-akhir ini saya juga merasa tulisan terdahulu lebih bercerita. Entah mengapa lebih enak di baca ketimbang yang sekarang. Lagi-lagi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkinkah karena jengah? Atau ini hanya perkiraan saya saja? Atau mungkin saat ini saya tidak bisa merasakan puas dalam tulisan akhir-akhir ini?

Tapi saya bersyukur tahun ini tidak begitu buruk. Pengalaman menulis yang cukup menarik selama tahun kemarin membuatnya menjadi tahun yang cukup spesial. Memang kadang kala saya kesulitan dalam menulis. Kadang juga stress dan yang paling parah suka mengganggu jam tidur. Kadang harus begadang menyelesaikan tulisan, terkadang juga sampai ke bawa mimpi. Lalu pagi-pagi ketika masih pada fase antara setengah sadar dan tidur, kadang memikirkan dan menyusun apa yang ingin saya tulis.

Atau memikirkan ide-ide yang mungkin menarik jika dijadikan tulisan. Jalan kepenulisan setahun kemarin cukup berat tidak hanya lantaran tugas kampus dan tugas-tugas lainnya. Tetapi juga melawan diri ini yang masih sangat suka dengan rebahan dan malas-malasan. Tentu saja jalan kepenulisan saya belum selesai, masih banyak hal yang kurang di sana-sini. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena masih banyak kekurangan artinya masih banyak hal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Melalui tulisan saya bisa mengungkapkan apa yang selama ini tidak bisa terucapkan. Melalui tulisan saya mengasah pikiran dan gagasan. Melalui tulisan saya bisa terhubung dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Melalui tulisan saya bisa membuka kemungkinan-kemungkinan menarik lainnya.

Ruang-Ruang Baru dan Kabar Ulat

Tahun kemarin menjadi sangat menarik bagi saya, meski ada beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti kuliah online dan lain sebagainya. Tahun lalu saya banyak mencoba beberapa ruang-ruang baru. Mulai dari mencoba mengikuti pameran, workshop, dan penelitian. Ruang-ruang yang cukup menarik untuk dimasuki. Mencoba bertemu dengan berbagai macam orang dan merasakan berbagai suasana.

Tahun kemarin menjadi gudang percobaan saya dalam memasuki ruang-ruang tersebut. Pameran yang menjadi laboratorium saya dalam merancang dan menggagas sebuah karya. Banyak hal yang terjadi selama prosesnya, mulai dari banyak diskusi yang hadir dan banyak revisi yang terjadi.  Banyak ide yang diulang, dipakai, diganti, bahkan dibuang. Kemudian workshop yang membawa peluang pertemuan baru dan menambah pertemanan. Lalu penelitian yang membawa banyak hal baru terutama dalam hal saya memandang arsitektur.

Pada akhirnya tahun 2020 bukanlah tahun yang cukup buruk untuk diri saya. Banyak pengalaman, pertemuan, percobaan, dan hal-hal menarik lainnya terjadi dalam tahun itu. Saya jadi teringat akan tulisan saya di catatan awal tahun 2020 kemarin.

Dalam tulisan itu ulat, baru saja mengenal dunia yang disinggahinya, kemudian berusaha ingin menjadi kupu-kupu yang cantik. Tetapi dalam tulisan ini saya rasa ulat masih senang menjadi dirinya, kemudian mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya. Mencoba berkeliling untuk mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahuinya. Mencoba menikmati masa-masanya menjadi ulat sebelum pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Next Post

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co