24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 26, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa

Sudah satu setengah tahun saya menjadi bagian dari keluarga kecil bernama Teater Kalangan. Satu setengah tahun yang padat dengan segala hal yang terjadi hingga mungkin beberapa lepas dari ingatan. Tapi sebisa mungkin saya ingin mengingat kejadian itu, mengingat proses yang saya lalui selama ini. Belum lagi tahun kemarin merupakan tahun yang sangat spesial bagi saya.

Mungkin bagi kebanyakan orang tahun 2020 adalah tahun yang tidak mengenakan, suram, dan segala hal buruk lainnya. Tahun ini pandemi Covid-19 muncul tak diundang, meluluh lantahkan semua dihadapannya. Menghancurkan rencana yang sudah tersusun rapi, menghilangkan pertemuan, dan menyebarkan ketakutan di sana dan sini. Tetapi di balik kesuraman itu banyak hal yang saya dapatkan pada tahun ini. Tidak hanya hal negatif tetapi juga banyak hal positif. Tidak hanya hal yang buruk tetapi juga hal yang baik.

Awal Tahun dan Pandemi

Pada bulan-bulan awal memang berjalan dengan lancar dan beberapa acara masih bisa dilaksanakan tanpa adanya masalah. Namun mulai bulan ketiga semua berubah. Seperti yang kita tahu semua mulai mengkarantina diri masing-masing dan menghindari pertemuan. Tentu saja itu juga berlaku untuk saya, bulan-bulan awal pandemi saya habiskan di rumah dan toko keluarga. Tidak seperti kebanyakan tempat yang harus menutup toko misalnya di tempat-tempat pariwisata. Toko di desa harus tetap buka setiap hari demi sesuap nasi esok hari. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tutup dan libur. 

Maka dari itu saya membantu orang tua sebisa mungkin dalam menjalankan toko. Meski bantuan saya tidak seberapa tetapi setidaknya ini lebih baik daripada berdiam diri di dalam kamar. Lambat laun hari-hari itu mulai terasa bosan. Berusaha menghilangkan kebosanan dengan mengerjakan tugas yang diberikan kampus, namun itu hanya bertahan sementara. Kebosanan itu datang kembali.

Lalu perlahan saya membawa buku-buku yang belum tuntas dibaca. Membacanya sambil menunggu pelanggan yang datang entah kapan. Setidaknya saya bisa mengobati kebosanan ini dengan membaca. Banyak hal yang menarik terjadi selama bulan-bulan awal pandemi. Saya kembali berkumpul dengan keluarga. Keluarga yang jarang sekali saya temui dan menghabiskan waktu bersama dalam beberapa tahun ini.

Semenjak kuliah saya lebih sering menghabiskan waktu di luar. Bahkan setelah kos bareng dengan beberapa kawan, kehadiran saya di rumah lebih kecil lagi. Bahkan kehadiran saya bisa dua tiga kali dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Setidaknya dengan adanya pandemi ini, saya dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Ini salah satu hal yang saya syukuri dengan adanya pandemi. Rasanya seperti diberikan kesempatan kembali untuk mengenal dan bersama keluarga.

Menjalin Pertemuan dan Pengalaman Menulis

Kemudian setelah berlalu beberapa bulan, akhirnya saya kembali berkumpul dengan kawan-kawan Teater Kalangan. Rasanya ada sekitar dua bulan tidak bertemu satu sama lain. Ketika bertemu ada hal yang sangat berjarak saya rasakan. Dua bulan itu membuat saya sedikit tidak mengerti apa yang diobrolkan saat itu, rasanya seperti sudah berbeda dunia. Terasa tertinggal. Karena itu juga saya berusaha untuk mengikuti segala pertemuan yang ada, berusaha untuk mengejar ketertinggalan.

Pada saat itu kami sedang membahas sebuah program Dini Ditu Kalangan. Sebuah program untuk menjaga pertemuan di tengah masa-masa seperti saat itu. Memang pandemi berusaha untuk membuat kita terpisah satu sama lain dengan melarang adanya pertemuan. Tapi dengan adanya pandemi ini malah membuka pintu pertemuan lainnya. Bahkan lebih luas jangkauannya bahkan melebihi sebelumnya. Pertemuan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Semuanya bisa terkoneksi dengan adanya media sosial dan perangkat lainnya.

Sangat terasa begitu banyak hal yang berubah, semua pertemuan langsung berganti dan berpindah ke digital. Banyak pertemuan, diskusi, meeting, dan lain sebagainya hadir lewat live ig, zoom, google meet, dan masih banyak lainnya. Pertemuan yang biasanya terhalang oleh jarak sekarang sudah lepas. Jarak antara waktu dan tempat sudah semakin mengabur berkat adanya perangkat-perangkat ini. Meskipun memang harus diakui bahwa pertemuan online tidak akan bisa menggantikan pertemuan offline. Tetapi setidaknya dengan adanya ini bisa membuka peluang relasi baru yang lebih luas.

Dini Ditu Kalangan merupakan ruang pertemuan itu, pertemuan yang melepas batas jarak. Di dalamnya ada banyak acara, mulai dari diskusi dan pertunjukan. Selain juga menjadi alasan untuk menjaga kewarasan, Dini Ditu juga menghadirkan banyak hal yang tak terduga. Terutama saya merasakan pengaruh dari Dini Ditu terhadap diri ini. Dalam program ini saya mendapat tugas untuk menulis cuplikan dari setiap minggunya.

Dan dari sini saya belajar banyak menganai kepenulisan. Terutama dalam membiasakan diri untuk menulis. Menulis setiap minggu ternyata membutuhkan tenaga yang ekstra, terutama dalam membulatkan tekad untuk menyelesaikannya tepat waktu. Jujur saja sampai saat ini saya masih kesulitan untuk menyelesaikan tulisan tepat pada waktunya. Saya bingung mengapa ini terjadi? Padahal awal-awal menulis cuplikan saya dapat menyelesaikannya tepat pada waktu. Lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat dengan deadline hingga pengumpulan melewati batas waktu yang ditentukan.

Apakah ini kebosanan? Atau memang diri ini yang malas? Atau jangan-jangan mandet? Saya masih bingung akan jawaban ini, akhir-akhir ini saya juga merasa tulisan terdahulu lebih bercerita. Entah mengapa lebih enak di baca ketimbang yang sekarang. Lagi-lagi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkinkah karena jengah? Atau ini hanya perkiraan saya saja? Atau mungkin saat ini saya tidak bisa merasakan puas dalam tulisan akhir-akhir ini?

Tapi saya bersyukur tahun ini tidak begitu buruk. Pengalaman menulis yang cukup menarik selama tahun kemarin membuatnya menjadi tahun yang cukup spesial. Memang kadang kala saya kesulitan dalam menulis. Kadang juga stress dan yang paling parah suka mengganggu jam tidur. Kadang harus begadang menyelesaikan tulisan, terkadang juga sampai ke bawa mimpi. Lalu pagi-pagi ketika masih pada fase antara setengah sadar dan tidur, kadang memikirkan dan menyusun apa yang ingin saya tulis.

Atau memikirkan ide-ide yang mungkin menarik jika dijadikan tulisan. Jalan kepenulisan setahun kemarin cukup berat tidak hanya lantaran tugas kampus dan tugas-tugas lainnya. Tetapi juga melawan diri ini yang masih sangat suka dengan rebahan dan malas-malasan. Tentu saja jalan kepenulisan saya belum selesai, masih banyak hal yang kurang di sana-sini. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena masih banyak kekurangan artinya masih banyak hal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Melalui tulisan saya bisa mengungkapkan apa yang selama ini tidak bisa terucapkan. Melalui tulisan saya mengasah pikiran dan gagasan. Melalui tulisan saya bisa terhubung dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Melalui tulisan saya bisa membuka kemungkinan-kemungkinan menarik lainnya.

Ruang-Ruang Baru dan Kabar Ulat

Tahun kemarin menjadi sangat menarik bagi saya, meski ada beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti kuliah online dan lain sebagainya. Tahun lalu saya banyak mencoba beberapa ruang-ruang baru. Mulai dari mencoba mengikuti pameran, workshop, dan penelitian. Ruang-ruang yang cukup menarik untuk dimasuki. Mencoba bertemu dengan berbagai macam orang dan merasakan berbagai suasana.

Tahun kemarin menjadi gudang percobaan saya dalam memasuki ruang-ruang tersebut. Pameran yang menjadi laboratorium saya dalam merancang dan menggagas sebuah karya. Banyak hal yang terjadi selama prosesnya, mulai dari banyak diskusi yang hadir dan banyak revisi yang terjadi.  Banyak ide yang diulang, dipakai, diganti, bahkan dibuang. Kemudian workshop yang membawa peluang pertemuan baru dan menambah pertemanan. Lalu penelitian yang membawa banyak hal baru terutama dalam hal saya memandang arsitektur.

Pada akhirnya tahun 2020 bukanlah tahun yang cukup buruk untuk diri saya. Banyak pengalaman, pertemuan, percobaan, dan hal-hal menarik lainnya terjadi dalam tahun itu. Saya jadi teringat akan tulisan saya di catatan awal tahun 2020 kemarin.

Dalam tulisan itu ulat, baru saja mengenal dunia yang disinggahinya, kemudian berusaha ingin menjadi kupu-kupu yang cantik. Tetapi dalam tulisan ini saya rasa ulat masih senang menjadi dirinya, kemudian mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya. Mencoba berkeliling untuk mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahuinya. Mencoba menikmati masa-masanya menjadi ulat sebelum pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Next Post

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co