17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 26, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa

Sudah satu setengah tahun saya menjadi bagian dari keluarga kecil bernama Teater Kalangan. Satu setengah tahun yang padat dengan segala hal yang terjadi hingga mungkin beberapa lepas dari ingatan. Tapi sebisa mungkin saya ingin mengingat kejadian itu, mengingat proses yang saya lalui selama ini. Belum lagi tahun kemarin merupakan tahun yang sangat spesial bagi saya.

Mungkin bagi kebanyakan orang tahun 2020 adalah tahun yang tidak mengenakan, suram, dan segala hal buruk lainnya. Tahun ini pandemi Covid-19 muncul tak diundang, meluluh lantahkan semua dihadapannya. Menghancurkan rencana yang sudah tersusun rapi, menghilangkan pertemuan, dan menyebarkan ketakutan di sana dan sini. Tetapi di balik kesuraman itu banyak hal yang saya dapatkan pada tahun ini. Tidak hanya hal negatif tetapi juga banyak hal positif. Tidak hanya hal yang buruk tetapi juga hal yang baik.

Awal Tahun dan Pandemi

Pada bulan-bulan awal memang berjalan dengan lancar dan beberapa acara masih bisa dilaksanakan tanpa adanya masalah. Namun mulai bulan ketiga semua berubah. Seperti yang kita tahu semua mulai mengkarantina diri masing-masing dan menghindari pertemuan. Tentu saja itu juga berlaku untuk saya, bulan-bulan awal pandemi saya habiskan di rumah dan toko keluarga. Tidak seperti kebanyakan tempat yang harus menutup toko misalnya di tempat-tempat pariwisata. Toko di desa harus tetap buka setiap hari demi sesuap nasi esok hari. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tutup dan libur. 

Maka dari itu saya membantu orang tua sebisa mungkin dalam menjalankan toko. Meski bantuan saya tidak seberapa tetapi setidaknya ini lebih baik daripada berdiam diri di dalam kamar. Lambat laun hari-hari itu mulai terasa bosan. Berusaha menghilangkan kebosanan dengan mengerjakan tugas yang diberikan kampus, namun itu hanya bertahan sementara. Kebosanan itu datang kembali.

Lalu perlahan saya membawa buku-buku yang belum tuntas dibaca. Membacanya sambil menunggu pelanggan yang datang entah kapan. Setidaknya saya bisa mengobati kebosanan ini dengan membaca. Banyak hal yang menarik terjadi selama bulan-bulan awal pandemi. Saya kembali berkumpul dengan keluarga. Keluarga yang jarang sekali saya temui dan menghabiskan waktu bersama dalam beberapa tahun ini.

Semenjak kuliah saya lebih sering menghabiskan waktu di luar. Bahkan setelah kos bareng dengan beberapa kawan, kehadiran saya di rumah lebih kecil lagi. Bahkan kehadiran saya bisa dua tiga kali dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Setidaknya dengan adanya pandemi ini, saya dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Ini salah satu hal yang saya syukuri dengan adanya pandemi. Rasanya seperti diberikan kesempatan kembali untuk mengenal dan bersama keluarga.

Menjalin Pertemuan dan Pengalaman Menulis

Kemudian setelah berlalu beberapa bulan, akhirnya saya kembali berkumpul dengan kawan-kawan Teater Kalangan. Rasanya ada sekitar dua bulan tidak bertemu satu sama lain. Ketika bertemu ada hal yang sangat berjarak saya rasakan. Dua bulan itu membuat saya sedikit tidak mengerti apa yang diobrolkan saat itu, rasanya seperti sudah berbeda dunia. Terasa tertinggal. Karena itu juga saya berusaha untuk mengikuti segala pertemuan yang ada, berusaha untuk mengejar ketertinggalan.

Pada saat itu kami sedang membahas sebuah program Dini Ditu Kalangan. Sebuah program untuk menjaga pertemuan di tengah masa-masa seperti saat itu. Memang pandemi berusaha untuk membuat kita terpisah satu sama lain dengan melarang adanya pertemuan. Tapi dengan adanya pandemi ini malah membuka pintu pertemuan lainnya. Bahkan lebih luas jangkauannya bahkan melebihi sebelumnya. Pertemuan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Semuanya bisa terkoneksi dengan adanya media sosial dan perangkat lainnya.

Sangat terasa begitu banyak hal yang berubah, semua pertemuan langsung berganti dan berpindah ke digital. Banyak pertemuan, diskusi, meeting, dan lain sebagainya hadir lewat live ig, zoom, google meet, dan masih banyak lainnya. Pertemuan yang biasanya terhalang oleh jarak sekarang sudah lepas. Jarak antara waktu dan tempat sudah semakin mengabur berkat adanya perangkat-perangkat ini. Meskipun memang harus diakui bahwa pertemuan online tidak akan bisa menggantikan pertemuan offline. Tetapi setidaknya dengan adanya ini bisa membuka peluang relasi baru yang lebih luas.

Dini Ditu Kalangan merupakan ruang pertemuan itu, pertemuan yang melepas batas jarak. Di dalamnya ada banyak acara, mulai dari diskusi dan pertunjukan. Selain juga menjadi alasan untuk menjaga kewarasan, Dini Ditu juga menghadirkan banyak hal yang tak terduga. Terutama saya merasakan pengaruh dari Dini Ditu terhadap diri ini. Dalam program ini saya mendapat tugas untuk menulis cuplikan dari setiap minggunya.

Dan dari sini saya belajar banyak menganai kepenulisan. Terutama dalam membiasakan diri untuk menulis. Menulis setiap minggu ternyata membutuhkan tenaga yang ekstra, terutama dalam membulatkan tekad untuk menyelesaikannya tepat waktu. Jujur saja sampai saat ini saya masih kesulitan untuk menyelesaikan tulisan tepat pada waktunya. Saya bingung mengapa ini terjadi? Padahal awal-awal menulis cuplikan saya dapat menyelesaikannya tepat pada waktu. Lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat dengan deadline hingga pengumpulan melewati batas waktu yang ditentukan.

Apakah ini kebosanan? Atau memang diri ini yang malas? Atau jangan-jangan mandet? Saya masih bingung akan jawaban ini, akhir-akhir ini saya juga merasa tulisan terdahulu lebih bercerita. Entah mengapa lebih enak di baca ketimbang yang sekarang. Lagi-lagi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkinkah karena jengah? Atau ini hanya perkiraan saya saja? Atau mungkin saat ini saya tidak bisa merasakan puas dalam tulisan akhir-akhir ini?

Tapi saya bersyukur tahun ini tidak begitu buruk. Pengalaman menulis yang cukup menarik selama tahun kemarin membuatnya menjadi tahun yang cukup spesial. Memang kadang kala saya kesulitan dalam menulis. Kadang juga stress dan yang paling parah suka mengganggu jam tidur. Kadang harus begadang menyelesaikan tulisan, terkadang juga sampai ke bawa mimpi. Lalu pagi-pagi ketika masih pada fase antara setengah sadar dan tidur, kadang memikirkan dan menyusun apa yang ingin saya tulis.

Atau memikirkan ide-ide yang mungkin menarik jika dijadikan tulisan. Jalan kepenulisan setahun kemarin cukup berat tidak hanya lantaran tugas kampus dan tugas-tugas lainnya. Tetapi juga melawan diri ini yang masih sangat suka dengan rebahan dan malas-malasan. Tentu saja jalan kepenulisan saya belum selesai, masih banyak hal yang kurang di sana-sini. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena masih banyak kekurangan artinya masih banyak hal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Melalui tulisan saya bisa mengungkapkan apa yang selama ini tidak bisa terucapkan. Melalui tulisan saya mengasah pikiran dan gagasan. Melalui tulisan saya bisa terhubung dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Melalui tulisan saya bisa membuka kemungkinan-kemungkinan menarik lainnya.

Ruang-Ruang Baru dan Kabar Ulat

Tahun kemarin menjadi sangat menarik bagi saya, meski ada beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti kuliah online dan lain sebagainya. Tahun lalu saya banyak mencoba beberapa ruang-ruang baru. Mulai dari mencoba mengikuti pameran, workshop, dan penelitian. Ruang-ruang yang cukup menarik untuk dimasuki. Mencoba bertemu dengan berbagai macam orang dan merasakan berbagai suasana.

Tahun kemarin menjadi gudang percobaan saya dalam memasuki ruang-ruang tersebut. Pameran yang menjadi laboratorium saya dalam merancang dan menggagas sebuah karya. Banyak hal yang terjadi selama prosesnya, mulai dari banyak diskusi yang hadir dan banyak revisi yang terjadi.  Banyak ide yang diulang, dipakai, diganti, bahkan dibuang. Kemudian workshop yang membawa peluang pertemuan baru dan menambah pertemanan. Lalu penelitian yang membawa banyak hal baru terutama dalam hal saya memandang arsitektur.

Pada akhirnya tahun 2020 bukanlah tahun yang cukup buruk untuk diri saya. Banyak pengalaman, pertemuan, percobaan, dan hal-hal menarik lainnya terjadi dalam tahun itu. Saya jadi teringat akan tulisan saya di catatan awal tahun 2020 kemarin.

Dalam tulisan itu ulat, baru saja mengenal dunia yang disinggahinya, kemudian berusaha ingin menjadi kupu-kupu yang cantik. Tetapi dalam tulisan ini saya rasa ulat masih senang menjadi dirinya, kemudian mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya. Mencoba berkeliling untuk mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahuinya. Mencoba menikmati masa-masanya menjadi ulat sebelum pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Next Post

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co