24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 25, 2021
in Esai
Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Umberto Eco

—Catatan Harian Sugi Lanus 25 Februari 2021

Ada masa di waktu saya kuliah bergaul dengan orang-orang yang suka pamer bacaan. Kalau tidak membaca buku-buku Immanuel Kant, Friedrich Hegel, Karl Marx, Sigmund Freud, Max Weber, Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Herbert Marcuse,

Erich Fromm, dll, saya merasa minder, ya itu tuh, karena dianggap tidak punya wawasan.

Saya pikir gaya begituan, yang sok pamer, berlebihan. Tapi belakangan saya pikir, ada juga manfaatnya pamer-pamer bacaan dan berdebat isi bacaan. Minimal membangun budaya baca. Syukur-syukur bisa paham isi buku yang dipamer-pamerkan. Kalau tidak paham pun, lumayan, tahu judul dan nama pengarang. Dan, pada akhirnya, penting bisa mengapresiasi bacaan, penulis, serta orang-orang yang bisa paham bacaan yang kita tidak paham. Tradisi baca buku mengandung pesan bagaimana kita bisa mengapresiasi pemikiran orang lain. Penting kita paham kalau kita tidak paham. Agar kita tidak terjebak perdebatan yang kita sendiri tidak paham apa yang sedang kita perdebatkan.

Entah untung atau rugi,  sekalipun pernah babak belur membaca Nietzche, Foucault, Jung, Kant, Jasper, dll saya tidak pernah menjadi pemuja mereka mereka yang fanatik. Membaca untuk belajar pemikiran,  bukan mencari penulis yang kita jadikan pujaan hati.

Pergaulan membaca memberikan saya pelajaran: Bacaan dibaca untuk ditinggalkan ke tahapan selanjutnya. Sebatas tangga menuju perjalanan yang lebih berkembang.

Namun, ada penulis yang membuat saya “kesandung”. Saya kesandung keterusan membaca Umberto Eco. Tapi saya bukanlah pemuja foto Eco. Ini gara-gara ketika saya diterima sekolah SMA di kota, sebagai orang ndeso, mulailah saya mencoba nonton film layar lebar. Salah satunya Wisnu Teater, Singaraja, dan mendapat film yang belakangan baru saya tahu adalah berdasar novel Umberto Eco: The Name of the Rose

Saya menemukan kecocokan dalam pemikiran Umberto Eco. Rasanya memang cocok untuk orang yang membaca lontar. Ya, pembaca lontar-lontar mesti membaca Umberto Eco.

Kenapa?

Umberto Eco raja gembongnya buku-buku kuno Italia dan Eropa. Hampir tidak satu pun naskah-naskah kuno Italia yang dilewatkannya. Semua pergerakan peradaban kuno Eropa dipahami ke akar-akarnya.

Jika Antonio Gramsci gembongnya pemikiran Italia di wilayah kelas sosial, perjuangan kelas, dan kefilsafatan sosial, maka Umberto Eco menerawang ke alam imajinasi Italia yang berkait-mengkait dengan sejarah gereja, geliat kebebasan berpikir dan berbagai awan hitam persoalan yang menyelimut pemikiran Kristiani.

Jika Gramsci bisa kita pastikan “kiri”, dengan segala kepiawaiannya Eco menembus tapal batas kiri dan kanan, seperti pendulum berayun dari kiri ke kanan, di kedua sisinya memukul dan menusuk.

Membaca lontar-lontar, kalau bisa membayangkan adanya “format ruang semantik” dalam lontar-lontar, tentu akan sangat membantu.

UMBERTO ECO mendorong melihat bahwa pembicaraan-pembicaraan tentang sistem semantik akan mendorong kita untuk sekali lagi melongok pada gagasan tentang kode.

“Kode biasanya dianggap menerjemahkan dan menjelaskan elemen-elemen dari dua sistem yang ekuivalen, term dengan term (atau rangkaian unit-unit dengan rangkaian unit-unit). Namun kajian yang dilakukan atas medan-medan semantis menunjukkan bahwa (misalnya ‘bahasa’ sebagai sebuah kode) adalah perlu juga mempertimbangkan rangkaian-rangkaian yang begitu beragam dari sistem isi (atau medan) parsial yang baru bisa sesuai dengan unit-unit ekspresif lewat cara yang berbeda. Fakta ini melibatkan situasi di mana beberapa pohon komposisional dapat tersedia untuk setiap wahana-tanda, dan secara simultan menghubungkannya dengan posisi yang berbeda di medan semantis yang berbeda pula. Maka sistem medan-medan semantis, yang terlibat sebagai sesuatu yang selalu bergeser, menjadi terpotong-potong (bersama dimensi lain yang takkan pernah mampu disatukan oleh tulisan dengan dimensi sebelumnya) oleh berbagai jalan… “

Isi lontar-lontar membentangkan ruang semantis yang tidak sederhana. Isinya bisa dikatakan sistem kode yang kita import dari masa silam yang jauh, yang umumnya, telah banyak kehilangan konteksnya. Ia bergeser dan terpotong-potong, berjarak dengan referensi yang kita pahami. Celakanya, kalau membaca lontar-lontar tanpa referensi yang mencukupi, maka lontar-lontar tidak bisa kita artikan sekalipun kita fasih membaca aksara, sebatas paham bahasa, tapi tidak bisa melihat “kode” tersebut di medan semantis di masanya secara jernih.

Dari Eco kita bisa melihat bahwa sebuah lontar adalah ‘kode’, sebagai ‘langue’ yang harus dipahami sebagai sehimpunan pengertian yang sebagian berkaitan dengan kaidah-kaidah kombinasional item-item ekspresi atau marka-marka sintaksis. Sebagiannya lagi lebih jauh berkaitan dengan kaidah-kaidah kombinasional item-item isi atau marka-marka semantis) yang dapat dipandang sebagai kompetensi pembicara.

Lontar-lontar juga ditulis oleh seseorang yang harus kita pahami kompetensi berbahasanya. Tidak semua penulis lontar-lontar punya kompetensi berbahasa sejernih dan seutuh Mpu Sedah. Atau, katakanlah, jika mencari kalimat-kalimat gombal dan menyesakkan akibat keharuan yang diuntai, tidak semua sepiawai Mpu Tanakung. Banyak yang ngelantur, apalagi lontar-lontar geguritan. Banyak yang coba-coba. Demikian juga babad buatan baru, lebih besar nafsunya membuat kejayaan silsilah, sementara narasinya tidak teradvokasi secara kebahasaan. Kasarnya, penulisnya kurang memiliki kompetensi kebahasaan yang diperlukan untuk menjadi penulis yang layak menulis babad.

Penulis-penulis lontar-lontar belakangan, banyak dengan kompetensi berbahasa Kawi yang perlu diragukan. Tapi, sebelum meragukan bahasa Kawi mereka, sebaiknya pembaca lontar sudah sampai kepiawaiannya berbahasa Kawi tanpa halangan. Sebab, bagaimana bisa kita menilai dan meragukan kemampuan anggah-ungguh bahasa Bali, kalau kita sendiri umpamanya tidak fasih?

Dalam melihat kompetensi tersebut, Eco memberikan uraian bahwa kompetensi ini adalah sehimpunan kompetensi individual yang membentuk kode sebagai sebuah konvensi kolektif. Jadi, apa yang disebut sebagai sebuah kode lebih baik dipandang sebagai sebuah jejaring subkode yang kompleks yang melampaui kategori-kategori seperti ‘tata bahasa yang betapa pun komprehensifnya’.

Kita bisa dapat melihat aspek kebahasaan dan isi lontar-lontar sebagai hiper-kode yang menghimpun berbagai subkode sekaligus, yang di antaranya ada yang kuat dan stabil, sementara yang lainnya ada yang lemah dan cepat hilang. Jika lontar-lontar mengandung metafor atau makna-makna konotatif, ini akan melelahkan, dengan situasi sosial atau konteks apa hiper-kode itu berkorelasi.

Lontar-lontar membuka ruang semantik yang tidak terbatas pada “pendekatan filologis”, dia perlu sesekali diajak berjalan melampaui dirinya, dibawa ke luar textnya sendiri untuk mencari konteksnya. Jika teks dilihat dari berbagai variabel dan sudut pandang, ia lebih memberi harapan untuk dipahami makna sematiknya.

Umberto Eco menarik diajak “membaca lontar.” [T]

Tags: baliLiterasilontarPendidikanUmberto Eco
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Titik Temu antara Lintasan Teater dan Sekitarnya

Next Post

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co