23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lima Tahun Kalangan, Setelahnya Adalah Apa?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 13, 2021
in Esai
Lima Tahun Kalangan, Setelahnya Adalah Apa?

Sumahardika

Mari berandai-andai jika suatu saat sebuah kelompok teater sudah tak lagi memproduksi pertunjukan, masihkah bisa kita sebut sebagai kelompok teater? Jika suatu saat, kelompok teater ditinggalkan anggotanya, hanya menyisakan satu individu yang dalam proses, semua tugas ia pegang sendiri—sutradara ia, penulis naskah ia, penata musik ia, penata artistik ia, aktor ia, sampai penontonpun juga ia—bisakah kerja demikian disebut sebagai kerja kelompok teater? Apa sesungguhnya arti kelompok? Apa juga pentingnya teater mesti berkelompok?

Walau pada beberapa kasus ada juga yang akhirnya memilih berteater secara mandiri, tetap saja awalnya tak bisa dilepaskan dari ‘peristiwa’ berkelompok.. Seringkali, dalam kebersamaan proses kelompok, kata ‘kita’ menguar dengan lantang. “Kita harus tetap semangat! Ini kerja keras kita! Teater kita harus tetap bergerak! Panggung mesti kita hidupkan!” Dan sebagainya, dan sebagainya. Kata ‘kita’ seperti lecutan yang mengobarkan semangat juang latihan para penghuni kelompok teater. Hari demi hari. Hingga tiba panggung ditata. Lampu dihidupkan. Lakon dipentaskan. Di akhir acara, tepuk tangan penonton riuh menutup cerita. Setelahnya? Panggung sepi. Menanti pentas selanjutnya. Dimanakah kata ‘kita’ ketika itu?

Boleh saja menganggap bahwa inilah saat ‘kita’ sendiri-sendiri. Mengurus diri masing-masing. Meluwangkan waktu bersama keluarga, menyelesaikan segala urusan yang tertunda. Agar imbang kerja teater dengan kerja kehidupan. Hal semacam ini merupakan pandangan ideal bagi setiap insan masyarakat teater. Namun jika dipikir lebih dalam, seberapa terangkah kita bisa memilah kerja keduanya? Seberapa perlukah keduanya mesti dibedakan? Seandainya teater yang kita punya mampu mendukung daya hidup masyarakat penghuninya, sebagaimana kerja yang dilakukan orang kebanyakan, tentu tak jadi soal. Namun pada kenyataannya, teater—khususnya dalam lingkungan yang sedang kami jalani—masih belum cukup mapan sebagai sebuah kerja yang bisa dikata mampu menghidupi. Dalam konteks ini, kian miris jika mengingat dengan lantangnya teater kita berusaha mendedah, mengkritisi kenyataan masyarakat, namun jarang teater menguliti kenyataan dirinya sendiri.

Teater jadi tak ubahnya seperti cuap-cuap politisi yang bicara banyak hal tentang kemakmuran bangsa dan negara, namun rakyat di dalamnya dibiarkan terlantar. Teater seolah jadi ilusi yang dijejalkan di kepala masarakat penghuni dan dipaksa untuk menjadikannya kenyataan. Mereka dipaksa untuk membuat kenyataan yang hadir dalam bingkai pertujukan adalah yang paling penting. Sementara realitas individu sehari-hari yang dijalani para anggota penghuni teater adalah semu. Satu-satunya dunia teater adalah panggung. Maka seringkali teater lebih banyak memperhitungkan dimana pentas, dalam acara apa. Teater hanya jadi ladang eksistensi. Yang dipanen dengan jumlah tepuk tangan penonton dan komentar facebook mengatakan ‘toooop’.

Yang dipetik dari teater eksistensi adalah kepercayaan diri. Alih-alih menjadikan diri lebih bijak, justru kepercayaan diri kadang mengembang secara berlebih. Alih-alih memanfaatkan teater sebagai sebuah produk pengetahuan, memakai wawasan dunia teater untuk menghidupi diri, teater justru jadi opium yang terus menerus membuat masyarakat penghuninya kecanduan panggung. Seolah jika tak manggung ada hal yang akan hilang dalam keseharian. Panggung jadi tempat mengekspresikan rasa haus eksistensi. Dalam konteks ini, panggung justru hanya memuat segala bentuk kenarsisan personal sutradara, aktor, tim produksi, atau lembaga penyokong produk teater. Ia tak benar-benar menjadi pelantang suara masyarakat. Teater hanya menjajakan kenarsisan personal kreator dan lingkarannya.

Lalu apa bedanya kemudian teater jenis ini dengan media sosial? Dengan tiktok misalnya yang tak kalah banyak mengobyektifikasi para pemeluknya?  Tak ada. Jikapun ada yang berbeda, itu terletak pada keberhasilan manajemen tiktok dalam  merancang dramaturgi pertunjukannya sehingga mampu membuat masyarakat berbagai lapisan turut hanyut dalam kegilaan eksistensi. Sementara teater tak pernah memperhitungkan soal manajemen. Kerja dramaturgi teater cenderung fokus pada soal panggung dengan berlandaskan tiga hal: Semangat menghidupkan teater, eksistensi, dan narsisme.

Tak heran kemudian, teater hanya jadi ruang rekreasi. Bergerak kalau tak ada kesibukan. Bergerak kalau ada dana. Bergerak dalam rangka acara. Tak heran juga pada suatu masa—dimana para penghuninya tak sibuk, dimana banyak terdapat sokongan dana, dimana acara teater tergelar setiap waktu—tiba-tiba lahir kelompok teater begitu banyaknya. Dari kelompok teater yang baru hingga yang dulu tinggal pelang namanya saja, tiba-tiba saja hidup kembali.

Tak heran pula pada banyak kasus pegiat teater di masa tuanya mengalami delusi, megalomania, merasa satu-satunya agen perubahan. Tanpa ia sadari, bahwa kini ia telah sendiri. Anggotanya telah menyelamatkan diri dari panggung yang tak memberikan apa-apa untuk mereka. Kalaupun ada anggota yang masih bertahan, mereka hanyalah anak muda yang coba-coba menjajal panggung atau orang tua yang ingin kembali mendapatkan eksistensinya setelah meninggalkan kerja teater cukup lama. Yang di kemudian hari mungkin juga akan sadar dan pergi. Maka pulang dan pergi, masuk dan keluar kelompok teater jadi hal yang lumrah. Jadi salah satu kenyataan teater yang—lagi-lagi—tak pernah benar-benar jadi hitungan bagaimana sesungguhnya teater mesti merancang kehidupan masyarakat di dalamnya.

Kita lantang bicara pentingnya teater, tapi gagap menguraikan untuk apa teater? Mengapa mesti berteater? Maka hal-hal abstrak semacam kemanusiaan dan kehidupan menjadi bahasa paling praktis mengungkap teater. Tanpa penjelasan lebih lanjut, kemanusiaan yang bagaimana? Kehidupan yang seperti apa? Teater jadi berputar pada kerja ‘perasaan’. Praktik kerja ‘perasaan’ tanpa metodelogi, analisis dan literatur yang jelas hanya jadi kerja ‘merasa-rasa’. Sedang kerja ‘merasa-rasa’ ini—yang kemudian dikultuskan sebagai sebuah capaian—hanya menjadi diskusi dengan berjibun kata ‘rasanya-rasanya’ di dalamnya, tanpa ukuran dan rencana. Padahal ukuran jadi hal penting untuk dirumuskan agar anggota suatu kelompok teater mampu mengetahui batas mana mereka berpijak sekarang, batas mana yang harus diterobos kemudian. Sementara perencanaan jadi hal yang semestinya terus didiskusikan agar kelompok teater punya harapan dan masa depan. Teater semestinya menjadi kerja terukur dan terencana.

Kelompok teater semestinya mampu untuk mengidentifikasi—minimal—pribadi anggota kelompoknya sendiri. Boleh saja kita amini bahwa ekosistem teater hari ini belum dapat memberi kehidupan yang layak bagi pemeluknya. Namun perlu juga kiranya mempertanyakan ulang potensi apa yang sesungguhnya hadir dalam teater. Sebuah rumusan untuk memberi kompensasi pada para anggota untuk terus berteater. Apakah berteater hanya untuk pentas saja? Apakah hanya untuk melatih kepercayaan diri saja? Apakah hanya untuk terampil akting saja? Apakah hanya untuk terkenal saja? Selanjutnya apa? Setelah itu apa? Saya pribadi percaya bahwa produk teater bukan hanya sebatas pentas. Teater adalah cara pandang manusia memahami realitas. Kita mengawalinya dengan satu kata kunci: laku! Laku manusia, laku hewan, laku tumbuhan, laku ruang, laku waktu, laku sosial, laku alamiah, laku agama, laku filsafat, laku apa saja. Teater tumbuh dari pusaran lintasan jejaring laku. Maka tak dipungkiri jika teater kerapkali bersentuhan dengan berbagai macam disiplin ilmu untuk membedah laku.

Persentuhan ini pula yang semestinya juga menjadi dasar memperluas proyeksi kerja teater pada produk-produk di luar konteks pemanggungan. Memperluas cita-cita masyarakat teater agar tak terjebak pada kategori laku profesi panggung: produser teater, sutradara teater, aktor teater, penata musik teater, penata artistik teater, dan lain sebagainya. Di satu sisi, anggota mesti fasih menguasai laku profesi ini, di sisi lain mereka juga harus bisa memanfaatkan pengetahuan teater yang diperoleh dalam laku kerja kehidupannya masing-masing. Jika ia jurnalis, ia bisa berlaku menggunakan teater sebagai pendekatan memproduksi produk jurnalistiknya. Jika ia sastrawan, ia bisa berlaku menggunakan teater sebagai pendekatan menulisnya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Pun ketika menggarap produk teater, jurnalistik, sastra, dan disiplin lain. Hal ini bisa dipakai sebagai laku pendekatan dramaturgi pertunjukan. Maka kerja teater ataupun nonteater sesungguhnya jadi tak ada bedanya. Keduanya boleh jadi satu strategi yang saling bertaut dalam laku kerja kehidupan sehari-hari.

Meski berat dan memerlukan proses yang cukup panjang, namun kesadaran semacam ini mesti segera ditumbuhkan. Agar kita—saya dan kawan-kawan—mampu keluar dari jerat ‘gagah dalam kemiskinan’. Teater kita—sekali lagi, saya dan kawan-kawan—mesti kaya: kaya akan modal kultural, modal sosial dan modal ekonomi. Agar terhindar dari rasa lapar akan pentas panggung serta kelatahan menganggap ‘panggung teater mesti dihidupkan’. Teater kita harus kaya, agar bisa hidup dalam ekosistem teater yang bahkan paling buruk sekalipun: tak ada dana, tak ada apresiasi, tak ada jaringan, diisi oleh gerombolan individu teater yang krisis eksistensi, narsis, banyak kepentingan, minim gagasan, pembacaan, visi dan wacana.

Peng-kaya-an teater dapat dimulai dari subterkecil ekosistem teater, yaitu: kelompok. Kata ‘kita’ tak boleh hanya sekadar jargon yang pada kenyataannya hanya menguntungkan pentolan teater atau oknum-oknum yang berkepentingan di baliknya. Teater mesti bisa memberi modal kultural, sosial dan ekonomi anggotanya. Memberi sebab pada anggotanya untuk terus berteater. Di sisi lain, kerja teater juga menjadi kerja individu bebas yang siap untuk meninggalkan anggotanya yang melempem, yang tak yakin akan kerja kelompoknya sendiri. Teater mesti bisa bergerak dalam ketegangan estetika dan politis antara individu-kelompok.

Bagi Kalangan, lima tahun yang dilewati adalah masa-masa pembacaan pada ekosistem seperti apakah sebenarnya kelompok teater kami bertumbuh. Jika 2016 adalah pembayangan atas bentuk lembaga yang kami sepakati sebagai sebuah kolektif seni, jika 2017 dan 2018 adalah masa dimana kami memasuki arena produksi kultural di Bali, sedang 2019 dan 2020 adalah situasi transisi dalam membaca pola, kerja, dan anggota kami sebagai sebuah lembaga teater, maka 2021 boleh dikata menjadi awal upaya Kalangan dalam merancang agenda estetis dan politis teater kami. Untuk ‘bagaimanakah’ teater kami sesungguhnya di-laku-kan? [T]

Denpasar, 2021

Tags: baliTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Next Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co