14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lima Tahun Kalangan, Setelahnya Adalah Apa?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 13, 2021
in Esai
Lima Tahun Kalangan, Setelahnya Adalah Apa?

Sumahardika

Mari berandai-andai jika suatu saat sebuah kelompok teater sudah tak lagi memproduksi pertunjukan, masihkah bisa kita sebut sebagai kelompok teater? Jika suatu saat, kelompok teater ditinggalkan anggotanya, hanya menyisakan satu individu yang dalam proses, semua tugas ia pegang sendiri—sutradara ia, penulis naskah ia, penata musik ia, penata artistik ia, aktor ia, sampai penontonpun juga ia—bisakah kerja demikian disebut sebagai kerja kelompok teater? Apa sesungguhnya arti kelompok? Apa juga pentingnya teater mesti berkelompok?

Walau pada beberapa kasus ada juga yang akhirnya memilih berteater secara mandiri, tetap saja awalnya tak bisa dilepaskan dari ‘peristiwa’ berkelompok.. Seringkali, dalam kebersamaan proses kelompok, kata ‘kita’ menguar dengan lantang. “Kita harus tetap semangat! Ini kerja keras kita! Teater kita harus tetap bergerak! Panggung mesti kita hidupkan!” Dan sebagainya, dan sebagainya. Kata ‘kita’ seperti lecutan yang mengobarkan semangat juang latihan para penghuni kelompok teater. Hari demi hari. Hingga tiba panggung ditata. Lampu dihidupkan. Lakon dipentaskan. Di akhir acara, tepuk tangan penonton riuh menutup cerita. Setelahnya? Panggung sepi. Menanti pentas selanjutnya. Dimanakah kata ‘kita’ ketika itu?

Boleh saja menganggap bahwa inilah saat ‘kita’ sendiri-sendiri. Mengurus diri masing-masing. Meluwangkan waktu bersama keluarga, menyelesaikan segala urusan yang tertunda. Agar imbang kerja teater dengan kerja kehidupan. Hal semacam ini merupakan pandangan ideal bagi setiap insan masyarakat teater. Namun jika dipikir lebih dalam, seberapa terangkah kita bisa memilah kerja keduanya? Seberapa perlukah keduanya mesti dibedakan? Seandainya teater yang kita punya mampu mendukung daya hidup masyarakat penghuninya, sebagaimana kerja yang dilakukan orang kebanyakan, tentu tak jadi soal. Namun pada kenyataannya, teater—khususnya dalam lingkungan yang sedang kami jalani—masih belum cukup mapan sebagai sebuah kerja yang bisa dikata mampu menghidupi. Dalam konteks ini, kian miris jika mengingat dengan lantangnya teater kita berusaha mendedah, mengkritisi kenyataan masyarakat, namun jarang teater menguliti kenyataan dirinya sendiri.

Teater jadi tak ubahnya seperti cuap-cuap politisi yang bicara banyak hal tentang kemakmuran bangsa dan negara, namun rakyat di dalamnya dibiarkan terlantar. Teater seolah jadi ilusi yang dijejalkan di kepala masarakat penghuni dan dipaksa untuk menjadikannya kenyataan. Mereka dipaksa untuk membuat kenyataan yang hadir dalam bingkai pertujukan adalah yang paling penting. Sementara realitas individu sehari-hari yang dijalani para anggota penghuni teater adalah semu. Satu-satunya dunia teater adalah panggung. Maka seringkali teater lebih banyak memperhitungkan dimana pentas, dalam acara apa. Teater hanya jadi ladang eksistensi. Yang dipanen dengan jumlah tepuk tangan penonton dan komentar facebook mengatakan ‘toooop’.

Yang dipetik dari teater eksistensi adalah kepercayaan diri. Alih-alih menjadikan diri lebih bijak, justru kepercayaan diri kadang mengembang secara berlebih. Alih-alih memanfaatkan teater sebagai sebuah produk pengetahuan, memakai wawasan dunia teater untuk menghidupi diri, teater justru jadi opium yang terus menerus membuat masyarakat penghuninya kecanduan panggung. Seolah jika tak manggung ada hal yang akan hilang dalam keseharian. Panggung jadi tempat mengekspresikan rasa haus eksistensi. Dalam konteks ini, panggung justru hanya memuat segala bentuk kenarsisan personal sutradara, aktor, tim produksi, atau lembaga penyokong produk teater. Ia tak benar-benar menjadi pelantang suara masyarakat. Teater hanya menjajakan kenarsisan personal kreator dan lingkarannya.

Lalu apa bedanya kemudian teater jenis ini dengan media sosial? Dengan tiktok misalnya yang tak kalah banyak mengobyektifikasi para pemeluknya?  Tak ada. Jikapun ada yang berbeda, itu terletak pada keberhasilan manajemen tiktok dalam  merancang dramaturgi pertunjukannya sehingga mampu membuat masyarakat berbagai lapisan turut hanyut dalam kegilaan eksistensi. Sementara teater tak pernah memperhitungkan soal manajemen. Kerja dramaturgi teater cenderung fokus pada soal panggung dengan berlandaskan tiga hal: Semangat menghidupkan teater, eksistensi, dan narsisme.

Tak heran kemudian, teater hanya jadi ruang rekreasi. Bergerak kalau tak ada kesibukan. Bergerak kalau ada dana. Bergerak dalam rangka acara. Tak heran juga pada suatu masa—dimana para penghuninya tak sibuk, dimana banyak terdapat sokongan dana, dimana acara teater tergelar setiap waktu—tiba-tiba lahir kelompok teater begitu banyaknya. Dari kelompok teater yang baru hingga yang dulu tinggal pelang namanya saja, tiba-tiba saja hidup kembali.

Tak heran pula pada banyak kasus pegiat teater di masa tuanya mengalami delusi, megalomania, merasa satu-satunya agen perubahan. Tanpa ia sadari, bahwa kini ia telah sendiri. Anggotanya telah menyelamatkan diri dari panggung yang tak memberikan apa-apa untuk mereka. Kalaupun ada anggota yang masih bertahan, mereka hanyalah anak muda yang coba-coba menjajal panggung atau orang tua yang ingin kembali mendapatkan eksistensinya setelah meninggalkan kerja teater cukup lama. Yang di kemudian hari mungkin juga akan sadar dan pergi. Maka pulang dan pergi, masuk dan keluar kelompok teater jadi hal yang lumrah. Jadi salah satu kenyataan teater yang—lagi-lagi—tak pernah benar-benar jadi hitungan bagaimana sesungguhnya teater mesti merancang kehidupan masyarakat di dalamnya.

Kita lantang bicara pentingnya teater, tapi gagap menguraikan untuk apa teater? Mengapa mesti berteater? Maka hal-hal abstrak semacam kemanusiaan dan kehidupan menjadi bahasa paling praktis mengungkap teater. Tanpa penjelasan lebih lanjut, kemanusiaan yang bagaimana? Kehidupan yang seperti apa? Teater jadi berputar pada kerja ‘perasaan’. Praktik kerja ‘perasaan’ tanpa metodelogi, analisis dan literatur yang jelas hanya jadi kerja ‘merasa-rasa’. Sedang kerja ‘merasa-rasa’ ini—yang kemudian dikultuskan sebagai sebuah capaian—hanya menjadi diskusi dengan berjibun kata ‘rasanya-rasanya’ di dalamnya, tanpa ukuran dan rencana. Padahal ukuran jadi hal penting untuk dirumuskan agar anggota suatu kelompok teater mampu mengetahui batas mana mereka berpijak sekarang, batas mana yang harus diterobos kemudian. Sementara perencanaan jadi hal yang semestinya terus didiskusikan agar kelompok teater punya harapan dan masa depan. Teater semestinya menjadi kerja terukur dan terencana.

Kelompok teater semestinya mampu untuk mengidentifikasi—minimal—pribadi anggota kelompoknya sendiri. Boleh saja kita amini bahwa ekosistem teater hari ini belum dapat memberi kehidupan yang layak bagi pemeluknya. Namun perlu juga kiranya mempertanyakan ulang potensi apa yang sesungguhnya hadir dalam teater. Sebuah rumusan untuk memberi kompensasi pada para anggota untuk terus berteater. Apakah berteater hanya untuk pentas saja? Apakah hanya untuk melatih kepercayaan diri saja? Apakah hanya untuk terampil akting saja? Apakah hanya untuk terkenal saja? Selanjutnya apa? Setelah itu apa? Saya pribadi percaya bahwa produk teater bukan hanya sebatas pentas. Teater adalah cara pandang manusia memahami realitas. Kita mengawalinya dengan satu kata kunci: laku! Laku manusia, laku hewan, laku tumbuhan, laku ruang, laku waktu, laku sosial, laku alamiah, laku agama, laku filsafat, laku apa saja. Teater tumbuh dari pusaran lintasan jejaring laku. Maka tak dipungkiri jika teater kerapkali bersentuhan dengan berbagai macam disiplin ilmu untuk membedah laku.

Persentuhan ini pula yang semestinya juga menjadi dasar memperluas proyeksi kerja teater pada produk-produk di luar konteks pemanggungan. Memperluas cita-cita masyarakat teater agar tak terjebak pada kategori laku profesi panggung: produser teater, sutradara teater, aktor teater, penata musik teater, penata artistik teater, dan lain sebagainya. Di satu sisi, anggota mesti fasih menguasai laku profesi ini, di sisi lain mereka juga harus bisa memanfaatkan pengetahuan teater yang diperoleh dalam laku kerja kehidupannya masing-masing. Jika ia jurnalis, ia bisa berlaku menggunakan teater sebagai pendekatan memproduksi produk jurnalistiknya. Jika ia sastrawan, ia bisa berlaku menggunakan teater sebagai pendekatan menulisnya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Pun ketika menggarap produk teater, jurnalistik, sastra, dan disiplin lain. Hal ini bisa dipakai sebagai laku pendekatan dramaturgi pertunjukan. Maka kerja teater ataupun nonteater sesungguhnya jadi tak ada bedanya. Keduanya boleh jadi satu strategi yang saling bertaut dalam laku kerja kehidupan sehari-hari.

Meski berat dan memerlukan proses yang cukup panjang, namun kesadaran semacam ini mesti segera ditumbuhkan. Agar kita—saya dan kawan-kawan—mampu keluar dari jerat ‘gagah dalam kemiskinan’. Teater kita—sekali lagi, saya dan kawan-kawan—mesti kaya: kaya akan modal kultural, modal sosial dan modal ekonomi. Agar terhindar dari rasa lapar akan pentas panggung serta kelatahan menganggap ‘panggung teater mesti dihidupkan’. Teater kita harus kaya, agar bisa hidup dalam ekosistem teater yang bahkan paling buruk sekalipun: tak ada dana, tak ada apresiasi, tak ada jaringan, diisi oleh gerombolan individu teater yang krisis eksistensi, narsis, banyak kepentingan, minim gagasan, pembacaan, visi dan wacana.

Peng-kaya-an teater dapat dimulai dari subterkecil ekosistem teater, yaitu: kelompok. Kata ‘kita’ tak boleh hanya sekadar jargon yang pada kenyataannya hanya menguntungkan pentolan teater atau oknum-oknum yang berkepentingan di baliknya. Teater mesti bisa memberi modal kultural, sosial dan ekonomi anggotanya. Memberi sebab pada anggotanya untuk terus berteater. Di sisi lain, kerja teater juga menjadi kerja individu bebas yang siap untuk meninggalkan anggotanya yang melempem, yang tak yakin akan kerja kelompoknya sendiri. Teater mesti bisa bergerak dalam ketegangan estetika dan politis antara individu-kelompok.

Bagi Kalangan, lima tahun yang dilewati adalah masa-masa pembacaan pada ekosistem seperti apakah sebenarnya kelompok teater kami bertumbuh. Jika 2016 adalah pembayangan atas bentuk lembaga yang kami sepakati sebagai sebuah kolektif seni, jika 2017 dan 2018 adalah masa dimana kami memasuki arena produksi kultural di Bali, sedang 2019 dan 2020 adalah situasi transisi dalam membaca pola, kerja, dan anggota kami sebagai sebuah lembaga teater, maka 2021 boleh dikata menjadi awal upaya Kalangan dalam merancang agenda estetis dan politis teater kami. Untuk ‘bagaimanakah’ teater kami sesungguhnya di-laku-kan? [T]

Denpasar, 2021

Tags: baliTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Next Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co