14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Pertalian Ubud dan Karangasem pada Masa Lalu

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
February 11, 2021
in Esai
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Suatu sore dalam rangka persiapan piodalan Hari Saraswati, seperti biasa saya merapikan beberapa dokumen buku milik Alm. Tjokorda Gde Rai Sayan (adapula yang mengenalnya dengan Tjokorda Gde Rai Rengu – wafat 1969). Beberapa tumpukan buku tulis berukuran 21 x 16 cm itu terletak dalam satu almari bersama beberapa lontar peninggalan Beliau di masa silam.

Tak semua dari koleksi buku dan tumpukan kertas itu ditulis dalam aksara bali, karena ada pula yang tertulis menggunakan huruf latin utamanya goretan surat-surat almarhum kepada putra dan para cucunya selama periode 1958 hingga 1960.

Salinan bukti korespondensi itu tersembunyi pada lepitan buku yang bertumpuk rapi, namun tak dapat dipungkiri sedikit robek dan tak mudah dibaca.

Hari itu, saya merasa tertarik pada salah satu buku berwarna biru yang berjudul “Gurit Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun” terlebih pada tulisan berikutnya tertera “Saking Cokorda Lingsir Puri Ubud Saren Kawuh”.

Walau saya tidak berani memastikan buku itu merupakan salinan atau tulisan asli dari Sang Penulis-nya, namun membaca nama Cokorda Lingsir Puri Saren Kawuh sontak pikiran saya tertuju pada sosok Tjokorda Gde Ngoerah (wafat 1967). Tetua-tetua masyarakat di Ubud menyebutnya dengan sebutan “Tjokorda Lingsir Saren Kauh”.

Oleh karenanya, segera saya melakukan konfirmasi kepada salah satu putra dan cucu almarhum. Ternyata, tak satu pun dari mereka pernah mendengar catatan tersebut, terlebih buku itu justru tersimpan di kediaman adindanya (Tjokorda Gde Rai Sayan) di Puri Anyar.

Secara umum catatan itu menceritakan tentang keagungan sosok Raja Karangasem – Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, tentang catatan meletusnya Gunung Agung serta peristiwa kesah (perpindahan) evakuasi AAA Anglurah Ketut Karangasem menuju Puri Anyar di Ubud saat tahun 1963.

Dari sekilas pembacaan pada catatan tersebut, saya jadi teringat pada Buku “The Last Rajah of Karangasem” karya Girindrawardani, Vickers, dan Holt. Pada halaman 141 dari buku tersebut tersirat kalimat: “The Rajah’s Son Dr. A.A. Made Jelantik, who was head of the Bali Health Department at the time of the eruption and in charge of the evacuations and rescue efforts, eventually convinced his father to evacuate to Ubud with the rest of the royal family.” Oleh sebab itu, mendapati Buku “Gurit Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun” tersebut seperti memperoleh gambaran peristiwa lanjutan dari cerita kedatangan AAA Anglurah Ketut Karangasem ke Ubud seperti yang pernah disinggung singkat dalam keterangan Buku “The Last Rajah of Karangasem”.

Sebagai seorang pengamat jaman, tampaknya Tjokorda Gde Ngoerah tidak mau terlewati oleh setiap kejadian penting tanpa menghasilkan sebuah catatan karya. Perlu diakui Beliau merupakan sosok yang multitalenta tidak saja dalam bidang kesusastraan namun juga sebagai Undagi dengan deretan Karya “Barong” yang disungsung di beberapa desa hingga saat ini.

Tjokorde Gde Ngoerah terlahir di Puri Saren Kauh Ubud pada tahun 1856 (Angka Tahun ini Saya kutip dari Buku Seniman Gianyar Tahun 1996). Ayahnya bernama Tjokorda Gde Oka. Beberapa masyarakat Ubud menyebut ayahnya dengan sebutan Mangkubumi – seorang penasehat penting di samping Tjokorda Gde Soekawati (Poenggawa Oeboed).

Selanjutnya, Tjokorda Gde Ngoerah memiliki tiga saudara perempuan dan satu saudara laki-laki yang sempat bertugas di Desa Sayan sebelum akhirnya kembali ke Ubud menjadi Punggawa serta mendiami areal kosong di utara pemrajan agung Ubud yang dikenal dengan Puri Anyar (tempat Buku Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun itu tersimpan).

Sesungguhnya, beberapa penglingsir sempat berujar kepada saya perihal sosok Tjokorda Gde Ngoerah yang memiliki hubungan dekat dengan Raja Karangasem. Bahkan kepulangannya pada awal tahun 1967 bertepatan dengan digelarnya pelaksanaan Upacara Pelebon mendiang AAA Anglurah Ketut Karangasem. Oleh beberapa tetua desa di Ubud kejadian itu dipercayai sebagai ikatan janji bersama “nyujur sunya loka”.

Sesungguhnya hubungan erat kedua sosok tersebut telah terjalin sebelum peristiwa Gunung Agung itu meletus. Tidak saja kesamaan paham akan urusan ketatapemerintahan, namun juga bakat seni dan jiwa sastrawi rupanya mendekatkan batin keduanya. Jalinan silahturahmi kedua Puri makin terbangun tatkala salah satu cucu Tjokorda Gde Rai Sayan (bernama Tjokorde Istri Putri “Rietje”) di Puri Anyar Ubud melangsungkan pernikahannya dengan putra AAA Anglurah Ketut Karangasem (bernama Anak Agung Gde Oka Djelantik) pada tanggal 7 Oktober 1957 di Puri Agung Karangasem.

Nama Anak Agung Gde Oka juga tersirat dalam beberapa kutipan kalimat catatan Gurit Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun tersebut. Mudah-mudahan Saya tidak salah. Tampaknya memang Anak Agung Gde Oke yang dimaksud adalah salah satu putra AAA Anglurah Ketut Karangasem yang juga suami “Rietje” dari Puri Anyar Ubud.

Sebelum kedatangan AAA Anglurah Ketut Karangasem ke Ubud, disebutkan Anak Agung Gde Oka sempat berkunjung menemui Tjokorde Gde Ngoerah di Ubud. Tjokorde Gde Ngoerah terlihat cemas akan kondisi dan berita dampak letusan Gunung Agung yang menghancurkan Kota Amplapura serta beberapa desa di Karangasem. Terlebih tersiar kabar adanya instruksi atau perintah agar beberapa penduduk segera melakukan evakuasi. Tjokorda Gde Ngoerah merasa prihatin dan cemas akan kondisi AAA Anglurah Ketut Karangasem – sosok yang sudah Lingsir, senantiasa menjalankan kebenaran serta berpegangan pada Sastra Gama.

“….Krana Tityang kadi Jujut, Ida I Aji mraga lingsir, lwih pageh ring kadarman, paramartha satya ngisti, matken sang Hyang Sastra Gama, Krethi yajnya ring Hyang Widhi…”

Oleh karena itu, Anak Agung Gde Oka menyampaikan bahwa perkenan esok hari AAA Anglurah Ketut Karangasem akan berkunjung serta menetap sementara di Ubud, seperti dijelaskan dibawah ini:

“……Tan liang munggwing ring kayun, ngrwauhin cokorda mriki, maring ubud masandekan, krana tityang ngrihinan, nguninga bawos Ida, Sane benjang rawuh mriki……”

Tjokorde Gde Ngoerah bersama seluruh keluarga Puri Ubud tentu merasa senang dan berbangga akan kehadiran AAA Anglurah Ketut Karangasem. Lebih lanjut Tjokorda Gde Ngoerah menyampaikan kepada Anak Agung Gde Oka agar ayahandanya berkenan tinggal beristirahat di Puri Anyar, sebelah utara Pemrajan Agung seperti yang tertera di bawah ini:

“Jumah Anyar I Aji mlungguh, ring genah I Adi Gde Rai, elah pagenjahan irika, wenten ngiring lanang istri, drawyang sampunang kubda, ledang sekadi Puri Kangin”.

“Gde Rai mangda nyatumut, ngiring Ida I aji, magosana syakrana, anggen murnang kayunne wingit, sareng locita mangda medal bawose hneng ledangin.”.

Gde Rai yang dimaksud adalah Tjokorde Gde Rai Sayan, adik kandung Tjokorde Gde Ngoerah. Di sebuah tempat kosong di utara Pemrajan Agung Ubud, Tjokorde Gde Rai Sayan mendirikan Puri serta tinggal bersama dengan beberapa istri Beliau. Putra tertua Tjokorde Gde Rai berkeliling tugas sebagai Brigadir Mobil Polisi, sedangkan putranya yang lain menetap di Desa Sayan sebagai Manca Sayan.

Dari beberapa narasi surat-surat Tjokorde Gde Rai Sayan kepada cucunya, tampaknya salinan surat kepada “Rietje” yang paling banyak saya temukan. Misalkan salah satu surat tertanggal 13 Juni 1958 yang menanyakan perihal kabar cucunya “Rietje” dan suaminya A.A. Gde Oka yang sebelum kawin telah menyandang gelar Mr. (Meester in de Rechten) dari Universitas Leiden.  Tampaknya para tetua di Puri Ubud cukup merasa senang dan terhormat atas perkawinan keduanya.

Kembali pada catatan kedatangan Raja Karangasem ke Ubud di tahun 1963 tersebut, saya tidak menemukan beberapa lama Beliau bersama istri, putra dan beberapa pengikut menetap di Puri Anyar Ubud. Namun yang pasti saat kedatangan Beliau, seluruh keluarga besar Puri Ubud hadir menyambut serta silih berganti berdatangan ke Puri Anyar setiap harinya.

Tercatat beberapa tokoh yang berkunjung serta berdisuki hangat bersama AAA Anglurah Ketut Karangasem seputar beragam filsafat parwa, cerita-cerita pengembaraan, tata aturan, pandangan keagamaan sampai pada inti bahasa kidung adalah: Anak Agung Gde Oka Gianyar, Tjokorda Gde Oka Sekretaris dari Puri Peliatan, Tjokorda Gde Agung Sukawati, Ida Putu Maron, Tjokorda Putu Batubulan, Anak Agung Niang Pejengaji, Padanda Griya Dawan.

Dari tuturan beberapa informan, sesekali pertemuan juga dilaksanakan di Pemrajan Agung Ubud. Yang pasti topik perbincangan masih seputar adat dan kebudayaan Bali. Dari sekian kali diskusi hangat itulah “konon” antara Tjokorda Gde Ngoerah dan AAA Anglurah Ketut Karangasem saling berjanji satu sama lainnya. Pada titik ini, awalnya saya tidak paham apa yang dimaksud “janji” oleh para tetua saya di Ubud. Namun dari runtutan tanggal dan peristiwa, tampaknya “1 Januari 1967” (*seperti yang telah saya sebut sebelumnya) merupakan hari yang bersejarah bagi kedua tokoh tersebut.

Bayangkan saja tepat di hari Minggu saat itu, Pelebon Agung digelar di Puri Karangasem untuk mendiang Raja Karangasem-AAA Anglurah Ketut Karangsem dan tepat pula suatu pagi di hari yang sama itu, Tjokorde Gde Ngoerah menghembuskan nafas terakhirnya di Gedong Loji Puri Saren Kauh Ubud.

Peristiwa yang cukup mengejutkan sekaligus menjadi buah bibir di Ubud kala itu akan “samaya” kedua tokoh ini. Mungkinkah betul itu “janji” seperti yang diperbincangkan para tetua di Ubud?

Setidaknya gurit Sri Nata Wasitwa Amla Nagantun ini mencerminkan kedekatan dan perhatian Tjokorde Gde Ngoerah pada AAA. Anglurah Ketut Karangasem. Pelebon Tjokorde Gde Ngoerah kemudian dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 1967 bersamaan satu “Bade” dengan Tjokorde Gde Rake Soekawati (mantan Presiden NIT) yang meninggal belakangan pada tanggal 19 Maret 1967. Lalu pada tahun 1969 (dua tahun berikutnya), adindanya Tjokorde Gde Rai Sayan di Puri Anyar Ubud juga turut berpulang menuju sunya loka. [T]

Catatan:

Walau tidak mampu mendapati secara detail janji dan perbincangan kedua tokoh saat tahun 1963 di Ubud kala itu, setidaknya tulisan ini menyiratkan gambaran akan hubungan yang erat antara Tjokorde Gde Ngoerah dan AAA Anglurah Ketut Karangasem. Dua tokoh yang memiliki kesamaan pandangan, berpegang pada Sastra Gama serta sama-sama produktif menghasilkan beberapa karya sastra.

Satu lagi, pada durasi yang cukup berdekatan AAA Anglurah Ketut Karangasem mendirikan Taman Tirta Gangga di Karangasem dan Tjokorde Gde Ngoerah membangun Taman Kumuda Saraswati di Ubud – dua Taman Air yang sangat indah dan belakangan menjadi primadona pariwisata Bali”.

Mohon maaf jika ada salah kata dan kurang rapi dalam penulisan “BANTAS ANGGE AUBUDAN”

____

BACA TULISAN COKORDA GDE BAYU PUTRA YANG LAIN

Tags: balikarangasemsastraUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino] – Documentary Dojo 3 | Memperkuat Posisi Film Dokumenter Asia

Next Post

Mengenal Kembali Sosok Panji Tisna: Kaitan antara Biografi, Proses Kreatif, dan Karya-karyanya

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Kembali Sosok Panji Tisna: Kaitan antara Biografi, Proses Kreatif, dan Karya-karyanya

Mengenal Kembali Sosok Panji Tisna: Kaitan antara Biografi, Proses Kreatif, dan Karya-karyanya

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa
Pendidikan

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada...

by tatkala
June 12, 2026
OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali
Pendidikan

OSIS dan MPK SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Gelar Bakti Sosial di Yayasan Bali Baby Home dan Yayasan Sayangi Bali

Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
June 12, 2026
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?
Bahasa

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co