23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketapel dengan Peluru Harapan

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 3, 2021
in Esai
Ketapel dengan Peluru Harapan

Agus Noval Rivaldi

Sudah memasuki tahun 2021, entah tahun 2020 terlewati begitu cepat atau lambat saya tidak bisa menafsirkannya begitu saja. Sebab akan memiliki perbedaan arti jika dibedah menurut beberapa versi yang telah saya lewati. Misalnya jika saya mengingat 2020 dari segi ketika rebah-rebahan, itu akan terasa begitu sangat lama sebab sepanjang 2020 memang terlalu banyak anjuran untuk diam dan mengurung diri di rumah guna sekaligus mengurangi siklus rantai penyebaran Covid-19.

Tapi jika saya pikirkan dari segi kerja-kerja yang saya lakukan, tahun 2020 begitu sangat cepat bagi saya sebab rasanya tidak banyak hal yang saya lakukan untuk sekedar membuat dan meletakkan pencapaian-pencapaian kecil untuk diri. Tidak banyak, dan bahkan hanya sedikit sekali rasanya kerja-kerja yang saya lakukan khususnya terhadap teater.

Tapi saya percaya sekecil apapun pencapaian yang sudah digapai hal itu tetap menjadi penting untuk diingat, jika boleh mengumpamakan sesuatu yang sudah saya lewati selama kurang lebih dua setengah tahun bersama Teater Kalangan perjalanan saya dari waktu ke waktu seperti batu peluru pada ketapel yang dimainkan seseorang. Kadang mengenai sasaran, kadang melenceng, atau bahkan tidak sampai kepada sasaran jadi tidak bisa dikatakan hampir mengenai sasaran ataupun melenceng. Sebab itu tergantung dari seberapa besar gaya otot seorang pemain ketapel untuk menarik pegas pada ketapel yang kemudian akan menghasilkan sebuah energi gerak.

Jika pemain tersebut menarik dengan gaya otot yang besar, akan menghasilkan kecepatan dan energi yang besar juga pada gerak peluru yang ditembak untuk mengenai sasaran. Namun sebaliknya jika energi yang digunakan kecil, dia akan menimbulkan gaya yang kecil dan tidak beraturan bisa jadi bentuknya melengkung seperti air yang keluar dari patung pancuran kodok yang keluar dari mulutnya di kolam-kolam renang.

Jika saya ibaratkan pada sebuah kerja-kerja saya yang telah berlalu, saya curiga jangan-jangan penyebab saya sedikit mencapai hal tersebut karena saya kecil dalam mengambil energi untuk menarik pegas pada ketapel, sehingga jangankan untuk mengenai sasaran sampai saja tidak pada yang pernah saya harapkan sebagai sasaran pada tahun sebelumnya. Kemudian saya mengira-mengira dan menjabarkan apa yang salah pada sebuah permainan tembak sasaran ini, pada alat permainanya kah atau keahlian saya dalam membidik suatu sasaran. Saya rasa hal itu terjadi karena kurang jelinya saya melihat sasaran, atau malah saya tidak mengetahui sasaran saya? Wah, semakin pusing saya bermain tembak ketapel ini.

Baiklah untuk mempermudah saya dalam mengumpamakan diri saya dengan permainan ketapel, saya mempunyai ide untuk menjabarkan hal-hal itu menjadi beberapa bagian :

  • Niat

Dalam permainan ini saya rasa niat adalah hal yang penting untuk selalu kita pelihara agar nantinya menjadi sebuah tindak lanjutan dalam melakukan apapun. Tak terkecuali dalam permainan ketapel ini, tanamkan dalam diri untuk meniatkan diri ingin bermain ketapel. Sehingga sampai pada suatu kesadaran pikiran apa yang harus dilakukan setelah dirasa niat sudah matang ingin bermain ketapel.

  • Menyiapkan Alat-Alat

Ketika niat tadi sudah dirasa matang, maka hal selanjutnya yang patut untuk dipikirkan adalah alat dan bahan-bahan untuk membuat ketapel. Seperti cabang ranting berbentuk “Y”, benang karet, dan alas peluru. Kita harus mempersiapkan segala bahan yang diperlukan, mengumpulkan satu persatu hal tersebut. Entah dengan mencarinya atau membelinya, itu tergantung selera dan kekuatan kita untuk mengira-mengira. Ingat jangan sampai kehilangan niat, niat harus selalu dipelihara di sini, kalau tidak kita hanya akan berandai-andai untuk bergerak membuatnya.

  • Membuat Ketapel

Di sini lah kita diuji untuk mengasah kretifitas serta menjadikan proses ini sebagai taruhan atas niat yang kita rawat di awal tadi, proses ini menjadi penting dan sangat religius saya kira. Kenapa religius? Jika saja nantinya dalam pembuat ketapel kita tidak konsentrasi dan tidak serius, bisa saja nantinya ranting itu patah ketika memahat untuk pengikat karetnya. Artinya kita harus mengulang itu dari awal. Atau karetnya terputus, syukurnya kalau kita membeli lebih, kalau tidak? Ya artinya sama, kita harus mengulang dari awal. Intinya ini harus sangat serius dikerjakan karena menyangkut semuanya, baik kelanjutan proses serta niat di awal tadi. Kita harus menuangkan hati, pikiran, serta tubuh ke dalam proses membuat ketapel dari tahap ke tahap. Makanya saya katakana ini adalah proses perjalanan yang sangat spiritual dan religius.

  •  Menyiapkan Peluru

Proses ini juga penting untuk dipersiapkan dalam proses selanjutnya ketika dirasa ketapel yang sudah dibuat siap untuk dimainkan. Bagaimana kita tahu bahwa ketapel sudah siap untuk dimainkan? Baiklah, saya kira untuk mengira-ngira itu pertama kita bisa lihat dari perasaan kita ketika melihat bentuk ketapel yang kita buat, jika timbul perasaan merasa keren dan bahagia, itu artinya ketapel siap dipakai. Kedua, kita persiapkan peluru baik itu dari batu krikil kecil atau apapun yang sekiranya berbentuk bulat kecil seperti batu misalnya biji-bijian buah. Tembak saja dulu asal-asalan, sampai nanti timbul lagi perasaan merasa keren dan merasa bahagia. Jika sudah, siapkan peluru sebanyak-banyaknya.

  • Menentukan Sasaran

Ini dia, proses yang sangat membingungkan dan kadang membuat kita berpikir ulang bahkan berulang-ulang. Untuk apa membuat ketapel? Ini sedikit filsuf jika berpikir dan balik ke awal niat tadi. Kadang kala kita sangat menggebu-gebu membuat niat untuk sesuatu, tanpa kita tahu sasaran yang mana yang akan menjadi fokus. Katakanlah sekarang misalnya kita membuat ketapel untuk mencari buah, buah yang seperti apa? Apakah mencari buah stroberi kita membutuhkan ketapel? Katakanlah sekarang jika kita memilih buah yang ada di ketinggian pohon. Pohon yang seperti apa? Sebab logiskah kita menembak buah kelapa yang sangat erat itu dengan ketapel?

Maka kita lupakan saja soal mencari buah. Kita ganti untuk berburu hewan, tetapi pertanyaanya tetap sama. Hewan yang seperti apa? Memburu ikan di dalam laut, perlu ketapel? Betapa filsufnya kita mulai berpikir untuk mencari sasaran yang ingin kita tembak. Mari, untuk mempermudah ini kita sama-sama sepakati kegunaan ketapel yang kita buat untuk latihan menembak sasaran saja, agar tidak pusing dengan banyak pertanyaan-pertanyaan filsuf tadi. Sebab ini adalah satu-satunya hal paling mudah untuk menentukan sasaran, kita cukup ambil kemasan air mineral botol yang bekas kemudian isi air sedikit agar tidak mudah jatuh saat tertiup angin, lalu taruh beberapa meter dari tempat anda ingin menembak sasaran. Usahakan tempatnya terbuka dan jauh dari keramaian, misalnya tanah lapang. Jika sudah, selamat bermain!

Kemudian kita mulai bertanya-tanya, apakah korelasi antara tahun 2021 dengan cara membuat ketapel? Hal yang ingin saya sampaikan sekiranya adalah bahwa pada proses pengandaian ini saya mencoba menaruh niat untuk menggapai suatu hal, dan tentu dalam niat-niat tersebut banyak hal pula yang harus dibangun serta dipersiapkan. Kemudian menentukan sebuah impian serta cita-cita yang dirasa begitu absurd jika dipikirkan kembali.

Saya mencoba merealitaskan dan mencoba membuat sasaran itu dari hal-hal yang mudah dan ada. Kemudian menajdikan harapan itu sebagai peluru, membidiknya secara teliti bertaruh dengan niat, bekal, dan harapan yang ada pada tubuh saat ini. Menjelma sebuah ketapel yang kini ditarik oleh pemainnya dan tassssshhh! Kena atau tidak pada sasaran? Mari kita mulai tahun ini dengan menentukan niat dan sasaran. Masalah kena atau tidak, itu urusan alam. Selamat tahun baru, salam dari Teater Kalangan untuk tahun 2021 ini. Semoga kita sama-sama mengenai sasaran.[T]

CATATAN AWAL TAHUN TEATER KALANGAN 2021

Jong Santiasa Putra

Lagi Belajar di Kelas

Manik Sukadana/Teater Kalangan

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bencana Gempa Seririt & Himbauan Gubernur Soekarmen tentang Tat Twam Asi

Next Post

Royyan Julian: Aku Tidak Mau Meromantisasi Madura

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Royyan Julian: Aku Tidak Mau Meromantisasi Madura

Royyan Julian: Aku Tidak Mau Meromantisasi Madura

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co