2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
December 22, 2020
in Ulasan
Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Suatu hari entah itu kapan, aku sempat berpikir ketika selesai membaca sebuah cerpen. Cerpen yang baru selesai aku baca selama kurang lebih sepuluh menit dengan tujuh halaman panjangnya. Waktu yang cukup singkat untuk menuntaskan satu bacaan. Waktu singkat itulah yang membuat aku berpikir, apakah sesingkat itu juga ketika membuat sebuah cerpen? Pertanyaan itulah yang membuatku tertarik untuk mengikuti workshop menulis cerpen yang diadakan oleh Teater Kalangan dalam salah satu sub program Siar Siur Kalangan.

Workshop itu diadakan pada tanggal 19 Desember 2020 dan bertempat di Warung Men Brayut. Dimulai pada jam tiga sore pada lantai tiga yang biasanya di ruangan itu aku latihan untuk sebuah pementasan. Ruang yang cukup besar dengan banyak jendela sehingga bisa melihat sekitar bangunan itu. Terlebih dengan berada di lantai tiga memberikan perspektif yang cukup jelas dengan peristiwa yang ada. Selain ruang yang menarik dengan segala kemungkinan peristiwa yang bisa dilihat, apa yang disampaikan mentor saat itu juga sama menariknya. Mentor workshop itu ada dua yaitu Agus Wiratama dan Devy Gita. Keduanya juga baru saja merilis buku kumpulan cerpen mereka. Saat itu mereka memberikan tawaran metode dalam membuat sebuah cerpen menurut pengalaman pribadi. Metode inilah yang menarik untuk proses kepenulisanku. Dari apa yang aku alami dalam workshop, aku bagi menjadi beberapa bagian.

Karya Untuk Siapa?

Dalam diskusi pada workshop ada pembicaraan mengenai apakah sasaran karya akan mempengaruhi hasil akhirnya? Tentu saja ini akan sangat berpengaruh, bagaimana penulis membayangkan pembacanya? Siapa pembacanya? Apakah pembacanya anak muda? Apakah pembacanya orang yang lebih dewasa? Berapa rentang umurnya? Atau di mana lokasi pembacanya berada? Hal-hal ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Misal saja ketika berbicara mengenai lokasi pembaca, jika para pembaca yang dibayangkan adalah masyarakat Bali. Maka pada akhirnya ada beberapa konteks yang bisa dihadirkan dalam cerpen, seperti bahasa lokal dan kondisi sosial budaya yang ada di sana. Atau jika pembaca yang dibayangkan lebih luas lagi, Indonesia misalnya. Maka bahasa yang digunakan adalah bahasa mayoritasnya yaitu Bahasa Indonesia. Lalu ketika membayangkan pembaca di Indonesia, apakah bahasa dan konteks lokal tidak bisa dihadirkan? Tentu saja bisa, hanya saja musti ada catatan mengenai bahasa dan konteks lokal tersebut. Agar pembaca lainnya mengerti konteks yang dimaksud.

Begitu juga dengan rentang usia pembaca yang dibayangkan. Rentang usia tertentu akan menghasilkan cara penceritaan, diksi yang dipilih, tema, dan alur yang akan dipakai. Tema apa yang disukai oleh remaja pasti akan berbeda dengan orang dewasa. Diksi yang dipilih pun akan berbeda pula, terlebih lagi cara penceritaan. Ada yang menyukai cerita yang tak begitu berat, atau hanya yang ringan-ringan saja. Biasanya ini adalah kecendrungan remaja tetapi tidak semua juga menyukai cerita ringan. Mungkin saja remaja yang sudah sering membaca akan menyukai karya-karya yang cukup berat. Kemudian ada pula orang dewasa yang lebih suka membaca bacaan ringan ketimbang bacaan berat. Jadi selain umur dan wilayah ada hal lain yang juga menjadi penentu dalam membuat cerpen, yaitu latar belakang pembaca. Latar belakang bacaan yang pernah dibaca, latar belakang lingkungan sekitar, latar belakang kesejarahan, dan sebagainya.

Tetapi itu pada ranah penjualan atau tujuan keluar. Penulis juga punya tendesi untuk apa dia menulis. Seperti kemarin apa yang disampaikan oleh Devy ketika workshop. Dia menulis untuk selfhealing, menulis menjadi medianya untuk curhat atas kegelisahannya. Kegelisahan akan bagaimana masyarakat memandang perempuan dan kisah-kisah lainnya akan isu itu. Ada pula yang menulis hanya untuk menulis saja atau menjadi proses dari kepenulisannya. Ada juga yang untuk dijual, biasanya mereka yang berniat menjadikan buku sebagai barang jualan, akan melihat bagaimana kesenangan pasar. Tema-tema, penyajian, dan juga cara penceritaan yang disukai oleh pasar. Jadi ada banyak tujuan ketika tulisan itu hadir, baik untuk penulisnya sendiri atau keluar kepada pembaca.

Observasi Realitas

Menulis adalah bagian dari proses pengeluaran apa yang sudah kita pahami hingga sekarang. Pemahaman itu bisa datang dari mana saja. Bisa dari studi literatur, menonton film, atau juga mengamati sekitar. Misal dalam workshop kemarin aku dan beberapa peserta lainnya diminta untuk mengobservasi keadaan disekeliling kami.  Apa saja yang terjadi? Apa saja yang ada? Bagaimana kondisinya? Bagaimana suaranya? Bagaimana baunya? Bagaimana rasanya? Semua indra diaktifkan lalu kami mencatatnya. Mencatatnya menjadi sebuah kalimat-kalimat singkat. Semisal kami duduk di ruangan yang cukup besar. Bisa seperti itu, tetapi tidak hanya apa yang ada di dalam ruangan. Melainkan apa saja yang ada di luar bangunan, itu juga kami observasi ketika workshop.

Aku yang sudah biasa dengan tempat itu, bangunan pada lantai tiga dan suasana apa yang bisa dilihat dari sana. Rumah makan pada sebelah utara dan jalan raya pada sebelah timur. Pengalamanku di ruang itu membuatku bisa lebih memfokuskan ke mana yang akan aku observasi. Seperti memfokuskan peristiwa yang hadir pada rumah makan di sebelah utara, yang menurutku cukup menarik untuk diamati detail-detailnya. Bagaimana cara pelayan di sana mengantarkan makanan. Bagaimana pengunjung di sana ketika menyantap pesanannya. Dan bagaimana kondisi ruang di sana. Semua itu dicatat, kemudian kami diminta untuk membuat sebuah paragraf dari itu.

Semua itu dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan kepada sekitar. Bagaimana indra menyadari apa yang ada pada sekitar dirinya. Karena apa yang disaksikan kemudian dituliskan itu akan sangat membantu pada saat menulis. Kita juga bisa membayangkan dan menuliskan lebih jelas ketika pernah melihat dan mengobservasi sesuatu. Jadi apa yang ditulis bukanlah sesuatu yang bersifat imajinasi semua. Melainkan hasil dari pengalaman dan observasi langsung oleh penulis terhadap dunia di sekitarnya.

Suasana agak serius workshop cerpen Siar Siur Kalangan

Dunia Penulis

Setelah semua data hasil observasi itu, baru sekarang bagian mengolah dan menjadikannya sebuah cerita atau narasi. Dari semua data yang diperoleh, penulis bisa memasukkan apa saja yang menurutnya bisa dijadikan sebagai alatnya untuk bercerita. Tentu saja tidak semua data akan dimasukkan ke dalam sebuah tulisan. Ada yang terpakai, ada juga yang tak terpakai.

Data yang terpakai juga tidak serta merta digunakan secara langsung. Bagaimana cara penceritaan penulis juga akan berdampak pada pengolahan data. Bisa saja tidak langsung data mentah yang ditampilkan tetapi bisa juga menyiratkan data tersebut. Misal ketika ingin menuliskan keadaan ramai pada tempat makan di utara tempat workshop, mungkin tidak akan digunakan kata ramai tetapi bagaimana jejeran motor pelanggan yang membuat kewalahan tukang parkir. Atau bisa juga pelayan yang terus mengantarkan pesanan tanpa henti dari sejam yang lalu. Itu bisa menjadi sebuah makna tersirat, bagaimana pelayan yang terus mengantarkan pesanan tanpa henti itu bisa menandakan bagaimana ramai kondisi di sana. Tetapi itu balik lagi kepada penulis, bagaimana ia menghadirkan data pada tulisannya. Entah itu secara langsung atau tidak, itu semua terserah penulis karena itu adalah dunianya.

Lalu ada juga imajinasi, menjadikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin dan juga sebaliknya. Seperti pembunuhan, perjalanan ke luar angkasa, menjadi nabi, berselancar di lautan api, dan sebagainya. Sesuatu yang kemungkinan tidak akan terjadi bisa kita hadirkan dengan menulis. Menulis secara tidak langsung juga akan menjadikan tulisan sebagai dunia yang sepenuhnya kita ciptakan. Apa saja yang ada di dalamnya? Bagaimana alurnya? Bagaimana endingnya? Semua dirancang oleh penulis, tetapi itu semua juga berdasarkan realita dan data yang dikumpulkan.

Setelah menjalani workshop, aku sadar bahwa penciptaan sebuah cerpen bisa jadi lebih lama ketimbang membacanya. Data yang didapat dari segala indra kemudian diolah oleh penulis baik dengan pikiran dan imajinasi. Sebuah proses dialek antara indra dengan pikiran dan imajinasi. Juga dengan adanya workshop ini, aku sadar bahwa apa yang kita baca pada sebuah buku cerpen tidak serta merta hadir karena hasil pergulatan imajinasi penulis semata. Ada hal lain yang lebih kompleks dari itu. Sesuatu yang kompleks itu pada akhirnya menjadi apa yang kita baca pada cerpen-cerpen dalam sebuah buku. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Next Post

Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog

Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co