26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Suara Perubahan by Suara Perubahan
December 22, 2020
in Esai
“Mekorot“ di Masa Pandemi

Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba

Penulis: Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba

________

Kenikmatan bermain layang-layang di setiap daerah memang berbeda. Jika di wilayah Denpasar dan Badung yang merupakan bagian dari Bali Selatan menikmati layang-layang dengan keindahan dan gerakannya, maka tak demikian dengan di Buleleng. Di kawasan Bali bagian utara ini orang-orang justru menikmatinya dengan semangat mengadu layang-layang di udara, atau biasa disebut mekorot. Mekorot juga merupakan seni melayangan dari Bali Utara. Selain cara memainkannya perbedaan melayangan khas Bali Utara juga dapat dilihat dari ukuran layangannya yang lebih kecil.

Teringat ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sudah dikenalkan dengan permainan tradisional ini. Saat layang-layang saya berhasil mengudara dan dengan asiknya saya menarik ulur benang layangan hingga berhasil memotong benang layangan milik lawan, rasanya sangat asik dan seru sekali. Saking asiknya bermain layangan saya pun tak kenal waktu dan terus memainkannya hingga petang menjelang. Alhasil orang tua pun menegur saya karena hanya ingat bermain layangan dan mengabaikan tugas-tugas sekolah. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan.

Di era tahun 1990-an mekorot masih menggunakan benang yang berbahan katun yang masih polos tanpa gelasan dari pabrik, sebelum digunakan untuk bermain layangan, benang tersebut harus melalui proses penggelasan secara manual dengan menggunakan teknik melapisi benang tersebut dengan campuran getah/lem dan serbuk gelasan. Seiring dengan kemajuan teknologi, pemakaian benang gelasan berbahan katun dengan proses penggelasan secara manual tersebut sudah mulai ditinggalkan karena ada pengganti benang siap pakai berbahan kenur (senar) yang sudah berisi gelasan dari pabriknya.

Benang dibuat oleh pabrik dan siap pakai ini tentu sangat memudahkan para pecinta layangan, karena sudah siap pakai dan kualitas dari benang tersebut jauh lebih bagus dari benang gelasan tradisional yang dimodifikasi secara manual. Benang gelasan pabrikan ini memang sangat praktis dan kuat, tapi saat pertama kali benang ini di pasarkan, masyarakat tidak mudah menerimanya karena menyebabkan kesulitan dalam mengendalikan layangan di udara. Seiring berjalannya waktu dan pemakaian yang semakin sering para pecinta layangan menjadi terbiasa menggunakan benang gelasan pabrik. Benang berbahan katun gelasan manual pun mulai ditinggalkan. Walaupun terjadi perubahan pada benang layangan teknik mekorot harus tetap dipertahankan. Teknik pada saat kapan untuk mengulur dan menarik benang sehingga bisa didapatkan momen yang tepat untuk menyerang dan mengalahkan lawan.

Mekorot juga dijadikan ajang lomba dan festival. Sebelum adanya festival mekorot, lomba layang-layang mekorot ini bernama met-metan yaitu mengadu layangan dengan ketinggian sangat tinggi dengan menggunakan benang dengan panjang hampir 2000 yard. Festival mekorot ini diselenggarakan tidak saja untuk hiburan, tetapi dijadikan media dan edukasi kepada anak-anak dan generasi muda untuk mengenal permainan tradisional di tengah permainan modern yang belakangan ini populer dimainkan. Misi besar lainnya adalah bagaimana permaianan mekorot ini tetap dilestarikan dan menjadi pendukung dalam atraksi wisata di Bali Utara. Festival permainan tradisional ini sejak pertama digelar memang menjadi perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Lovina. Sejumlah wisatawan bahkan ikut tertawa-tawa ketika melihat sejumlah pemain layangan pontang-panting menarik-ulur benang layangan mereka untuk menyelamatkan layangan dari korotan layang-layang lawan. Festival mekorot ini sudah menjadi agenda bagi Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng setiap tahunnya. Di tahun 2019 silam Buleleng berhasil menyelenggarakan lomba mekorot dengan konsep kegiatan yang bertema “Bertarung di Udara, Bersahabat di Darat”.

Namun di era revolusi industri 4.0 saat ini banyak permainan modern berbasis aplikasi seperti mobile legend, free fire dan lainnya mudah diunduh di gawai setiap orang. Game online sangat banyak peminatnya karena kemudahan dalam memainkannya. Game ini juga bisa dimainkan kapanpun dan dimanapun asalkan terkoneksi dengan jaringan internet. Lomba-lomba game online juga mulai bermunculan dikalangan pemuda. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan bagi permainan tradisional melayangan.

Ditambah lagi kondisi pandemi saat ini, yang mengakibatkan banyak pertuntujukan, festival, dan pameran berhenti dilaksakan di Kabupaten Buleleng. Biasanya Kabupaten Buleleng setiap tahunnya ramai dengan festival maupun pegelaran-pegelaran seni yang digelar saat hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun Kota Singaraja, hari kemerdekaan Indonesia, tahun baru dan tanggal-tanggal lain yang menjadi agenda Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng.

Untuk mempertahankan budaya melayangan (mekorot) ini hendaknya pemerintah segera membuat rancangan festival yang dapat dilakukan di era new normal. Misalnya seperti membuat aturan batasan jumlah pengunjung saat memasuki area festival. Menyiapkan protokol kesehatan mulai dari sarana cuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak. Dengan demikian pengunjung dapat menyaksikan festival atau lomba mengadu layangan dengan rasa aman dan terhindar dari Covid-19.

Dibalik musibah yang terjadi masih ada hal positif yang didapat. Karena disaat masa pandemi banyak pelajar yang belajar dari rumah dan banyak pekerja yang bekerja dari rumah merekapun memilih untuk menghabiskan waktu dengan bermain layangan. Tidak hanya anak-anak bahkan yang tua-tua juga ikut bermain layangan dan menikmati asiknya mekorot di udara. Hal ini juga memberikan imbas kepada pengerajin dan penjual layangan. Produk yang mereka buat sangat laku dijual. Meskipun tidak ada festival di Lovina, di setiap desa/ kelurahan justru mengadakan lomba mekorot yang ramai diikuti oleh penduduk setempat. Kegiatan seperti ini sangat bagus dilakukan karena mampu memberikan hiburan dan melupakan stres akibat pandemi. Area perlombaan juga dalam skala kecil yaitu desa/kelurahan. [T]

  • Ida Bagus Ngurah Sidharta Manuaba, mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”

Next Post

Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post
Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Sebelum Cerpen Lahir dan Sebelumnya Lagi || Catatan Workshop Cerpen Siar Siur Kalangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co