28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2020
in Ulasan
Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”
  • Judul: SUARA TEPI HATI – Catatan Kecil 9 Perempuan
  • Authors Ni Luh Putu Mustika Praptiwi, Kadek Ridoi Rahayu, Putu Mariati Kaman Dewi, Wangsa Ayu Vidya Loka, Putu Ayu Sutaningrat Puspa Dewi, A.A.A Rahadiani Cwari, Iska Novi Udayani, Putu Norma Astyari, I Gusti Ayu Agung Istri Sari Dewi
  • Editor Kadek Sonia Piscayanti
  • Project Coordinator Putu Ayu Sutaningrat Puspa Dewi
  • ISBN 978-623-7220-79-4
  • Cover and Layout Made Dwita Kartini
  • Publisher Mahima Institute Indonesia
  • First published, December 2020

___________________

Perempuan. Kata ini telah melekat pada diri sejak lahir. Saya lahir sebagai perempuan, berpikir sebagai perempuan, berkarya sebagai perempuan. Menjadi perempuan adalah sebuah privilege dan sebuah beban bagi saya. Tidak hanya perkara menumbuhkan diri, namun juga bertanggung jawab atas diri dan pengembangan diri. Ketika berjalan, saya pun menemukan banyak perempuan lain di luar saya yang sedang menumbuhkan dirinya, sebaik-baiknya, sehebat-hebatnya, sesederhana-sederhananya. Dalam perkara menjadi baik, hebat, atau sederhana, tidak ada ukuran-ukuran pasti untuk menganalisisnya. Semua serba subjektif dan tak pasti. Di dalam semua ketidakpastian itu, perempuan harus menemukan dirinya. Menepi sesaat, mendengarkan suara-suara di tepi hatinya, untuk menjadi, untuk mengabdi, untuk memberi, untuk mengapresiasi, untuk merefleksi, dan seterusnya.

Namun terkadang realita menjadi perempuan tak semudah dan secantik yang terlihat di permukaan. Sering perempuan harus meredam suara sendiri, menawar dirinya dan atau keinginannya untuk berkompromi, berkonsolidasi kembali dan berlari kembali. Di antara semua proses menjadi yang tak akan pernah selesai ini, perempuan menemukan benturan dengan bukan hanya dirinya namun juga pihak-pihak yang bersinggungan dengannya, mulai yang terdekat; keluarga, sahabat, hingga yang terluas, masyarakat umum. Semua yang terjadi terkadang di luar ekspektasi dan menimbulkan emosi yang berlarut hingga depresi. Tak jarang perempuan lain di luar justru abai atau turut memperkeruh suasana yang berujung pada akibat fatal. Lalu apa sesungguhnya peran perempuan lain?

Perempuan lain bisa mengambil peran yaitu menjadi ruang dengar yang nyaman bagi perempuan. Menjadi ruang yang bebas penghakiman, menjadi telinga yang hanya sedia rasa, tanpa ancaman atau tekanan. Ruang dengar diciptakan oleh siapa saja yang terdekat, yang bisa memberi kenyamanan dan atau kelegaan. Dan itu tidak banyak tersedia terlebih di saat ini, dalam konteks pandemi covid-19, dimana kita seperti berjarak secara fisik dan sosial juga berjarak secara mental dan psikologis dengan teman-teman.

Namun di buku Suara Tepi Hati: Catatan Kecil 9 Perempuan ini, semua berbeda. Kesembilan perempuan ini saling mendengar, saling mendukung, saling memberi penguatan positif untuk maju dan bergerak. Diinisiatori oleh Sutaningrat Puspa Dewi, akrab disapa Puspa, gerakan kecil ini tumbuh menjadi ruang dengar bagi sesama perempuan, yang menjadi rumah bagi hati kesembilan perempuan ini untuk berbagi dan berdialog dengan ringan tanpa beban. Mengapa 9? Secara filosofis, 9 bermakna angka tertinggi, dan dalam konsep Hindu ada 9 arah mata angin yang menjadi pusat energi. 9 perempuan ini adalah 9 pusat, 9 arah, 9 kekuatan yang menyatu.

Metode pemilihan samplingnya sungguh sederhana saja, purposive sampling, subjek perempuan diambil secara subjektif oleh sang inisiator dengan tujuan yang pasti, disertai dengan pertimbangan beberapa hal di antaranya profil kelayakan secara akademik, profil berkarya dan profil pengalaman yang berkontribusi dengan isu perempuan. Lalu terjaringlah sembilan perempuan dengan keunikannya masing-masing dan dengan struggle masing-masing, menjadi group dengan saya sebagai mentor dan editornya. Pemilihan saya sebagai mentor pun, terjadi secara purposive dan subjektif, saya adalah mentor Puspa di Komunitas Mahima, komunitas seni budaya yang menggodok anak muda menjadi pemikir dan produsen karya. Puspa tentu juga menimbang bahwa saya terlibat dalam berbagai gerakan perempuan berkarya. Salah satunya menjadi penulis naskah dan sutradara penerima hibah Ford Foundation dalam project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, yang pertama kalinya mendokumentasikan kehidupan para ibu di “panggung” rumah mereka sendiri. Namun, beda project ini dengan project 11 Ibu adalah bahwa di project ini semua ibu dan calon ibu adalah para ‘pemula’, mereka baru memulai rumah tangga, mulai menapaki jalan menjadi ibu, atau bahkan baru melatih diri menjadi ibu. Yang istimewa pada semua yang baru bermula adalah, sangat mungkin mereka belum bisa menjadi dirinya yang pasti, karena semua masih serba “baru” dan “mungkin”.

Pendek kata, mana ada sesuatu yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Seseorang pernah mengatakan bahwa sekecil apapun pergerakan kita senantiasa dipengaruhi pergerakan lain dan (barangkali) akan mempengaruhi pergerakan lainnya juga. Jadi jika buku ini diniatkan sebagai sebuah gerakan, maka kemana tujuan buku ini bergerak?

Ke hati. Hati siapa saja yang membaca. Sebab tujuannya sederhana sekali, untuk berbagi suara hati. Itu saja. Mendokumentasikan suara hati itu penting sekali dalam rangka refleksi. Namun bagaimana suara hati dituliskan? Kesembilan perempuan yang terlibat disini bukan penulis (profesional). Mereka menulis dalam rangka kebutuhan profesi dan akademik, dan bukan untuk kebutuhan di luar itu. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka menulis kreatif yang intinya adalah menuliskan perjalanan mereka, pilihan hidup dan tantangan yang mereka hadapi. Persoalan berikutnya, bentuk apa yang dipilih?

Tentu tak semudah membalik telapak tangan untuk membuat kesembilan perempuan ini menulis. Ada semacam mentoring untuk memulai, menumbuhkan ide, memelihara ide, mengembangkan, dan menuliskan. Disinilah ruang dengar dan ruang berbagi terjadi. Semua mengalir begitu saja. Di awal, saya tak memberi batasan apa dan bagaimana harus menulis. Yang harus terjadi hanyalah mengalir dan mengalir begitu saja. Lalu tibalah kami pada sesi menulis yang sesungguhnya. Apa, bagaimana, mengapa, pertanyaan-pertanyaan seperti itu menghantui. Sehingga ada semacam writer’s block yang menjeda atau mengganjal proses. Namun kemudian, tanpa kesepakatan, akhirnya ada semacam formula untuk merumuskan tulisan ini. Kami menemukan semacam bentuk yang akhirnya menjadi benang merah yang menjadi penanda tulisan di semua karya.

Memoar, atau memoir. Sebuah pendekatan penulisan autobiografi.Perjalanan batin yang sangat personal, sangat subjektif dan sangat menyentuh. Di dalam buku ini hampir semua perempuan menumpahkan suara hatinya. Sesuai judulnya, suara tepi hati, maka buku ini adalah saksi perjalanan batin kesembilan perempuan dalam hidup mereka. Tak ada yang lebih baik dari yang lain, tak ada yang lebih buruk dari yang lain. Yang ada adalah ruang nyaman berbagi cerita.

Lalu apa setelah ini? Barangkali, banyak yang harus terjadi. Atau mungkin setidaknya harus ada sesuatu yang terjadi. Seperti yang seharusnya dalam sesuatu yang mengada, terjadi pergesekan energi atau percikan kreatif yang menyebar dan mempengaruhi energi lain. Buku ini semacam awal bagi yang lain untuk terus tumbuh, ruang dengar, ruang berbagi yang nyaman dan lega bagi perempuan. Bahwa perempuan tak harus sendiri, merasa sendiri, atau menyelesaikan semua persoalan sendiri. Bahwa perempuan punya teman, perempuan di luar dirinya yang juga sedang berjuang, belajar, berproses, dan jatuh bangun mengkontruksi dirinya.

Maka, demikianlah pengantar ini hanya sebagai pembuka gerbang untuk membuka percakapan. Percakapan sesungguhnya terjadi di dalam. Selamat menikmati. Silakan datang kembali. [T]

Singaraja, 14 Desember 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Diikat Waktu

Next Post

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Mekorot“ di Masa Pandemi

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co