16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 22, 2020
in Ulasan
Perempuan yang Bersuara, Perempuan yang Berkarya || Pengantar Buku “Suara Tepi Hati”
  • Judul: SUARA TEPI HATI – Catatan Kecil 9 Perempuan
  • Authors Ni Luh Putu Mustika Praptiwi, Kadek Ridoi Rahayu, Putu Mariati Kaman Dewi, Wangsa Ayu Vidya Loka, Putu Ayu Sutaningrat Puspa Dewi, A.A.A Rahadiani Cwari, Iska Novi Udayani, Putu Norma Astyari, I Gusti Ayu Agung Istri Sari Dewi
  • Editor Kadek Sonia Piscayanti
  • Project Coordinator Putu Ayu Sutaningrat Puspa Dewi
  • ISBN 978-623-7220-79-4
  • Cover and Layout Made Dwita Kartini
  • Publisher Mahima Institute Indonesia
  • First published, December 2020

___________________

Perempuan. Kata ini telah melekat pada diri sejak lahir. Saya lahir sebagai perempuan, berpikir sebagai perempuan, berkarya sebagai perempuan. Menjadi perempuan adalah sebuah privilege dan sebuah beban bagi saya. Tidak hanya perkara menumbuhkan diri, namun juga bertanggung jawab atas diri dan pengembangan diri. Ketika berjalan, saya pun menemukan banyak perempuan lain di luar saya yang sedang menumbuhkan dirinya, sebaik-baiknya, sehebat-hebatnya, sesederhana-sederhananya. Dalam perkara menjadi baik, hebat, atau sederhana, tidak ada ukuran-ukuran pasti untuk menganalisisnya. Semua serba subjektif dan tak pasti. Di dalam semua ketidakpastian itu, perempuan harus menemukan dirinya. Menepi sesaat, mendengarkan suara-suara di tepi hatinya, untuk menjadi, untuk mengabdi, untuk memberi, untuk mengapresiasi, untuk merefleksi, dan seterusnya.

Namun terkadang realita menjadi perempuan tak semudah dan secantik yang terlihat di permukaan. Sering perempuan harus meredam suara sendiri, menawar dirinya dan atau keinginannya untuk berkompromi, berkonsolidasi kembali dan berlari kembali. Di antara semua proses menjadi yang tak akan pernah selesai ini, perempuan menemukan benturan dengan bukan hanya dirinya namun juga pihak-pihak yang bersinggungan dengannya, mulai yang terdekat; keluarga, sahabat, hingga yang terluas, masyarakat umum. Semua yang terjadi terkadang di luar ekspektasi dan menimbulkan emosi yang berlarut hingga depresi. Tak jarang perempuan lain di luar justru abai atau turut memperkeruh suasana yang berujung pada akibat fatal. Lalu apa sesungguhnya peran perempuan lain?

Perempuan lain bisa mengambil peran yaitu menjadi ruang dengar yang nyaman bagi perempuan. Menjadi ruang yang bebas penghakiman, menjadi telinga yang hanya sedia rasa, tanpa ancaman atau tekanan. Ruang dengar diciptakan oleh siapa saja yang terdekat, yang bisa memberi kenyamanan dan atau kelegaan. Dan itu tidak banyak tersedia terlebih di saat ini, dalam konteks pandemi covid-19, dimana kita seperti berjarak secara fisik dan sosial juga berjarak secara mental dan psikologis dengan teman-teman.

Namun di buku Suara Tepi Hati: Catatan Kecil 9 Perempuan ini, semua berbeda. Kesembilan perempuan ini saling mendengar, saling mendukung, saling memberi penguatan positif untuk maju dan bergerak. Diinisiatori oleh Sutaningrat Puspa Dewi, akrab disapa Puspa, gerakan kecil ini tumbuh menjadi ruang dengar bagi sesama perempuan, yang menjadi rumah bagi hati kesembilan perempuan ini untuk berbagi dan berdialog dengan ringan tanpa beban. Mengapa 9? Secara filosofis, 9 bermakna angka tertinggi, dan dalam konsep Hindu ada 9 arah mata angin yang menjadi pusat energi. 9 perempuan ini adalah 9 pusat, 9 arah, 9 kekuatan yang menyatu.

Metode pemilihan samplingnya sungguh sederhana saja, purposive sampling, subjek perempuan diambil secara subjektif oleh sang inisiator dengan tujuan yang pasti, disertai dengan pertimbangan beberapa hal di antaranya profil kelayakan secara akademik, profil berkarya dan profil pengalaman yang berkontribusi dengan isu perempuan. Lalu terjaringlah sembilan perempuan dengan keunikannya masing-masing dan dengan struggle masing-masing, menjadi group dengan saya sebagai mentor dan editornya. Pemilihan saya sebagai mentor pun, terjadi secara purposive dan subjektif, saya adalah mentor Puspa di Komunitas Mahima, komunitas seni budaya yang menggodok anak muda menjadi pemikir dan produsen karya. Puspa tentu juga menimbang bahwa saya terlibat dalam berbagai gerakan perempuan berkarya. Salah satunya menjadi penulis naskah dan sutradara penerima hibah Ford Foundation dalam project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, yang pertama kalinya mendokumentasikan kehidupan para ibu di “panggung” rumah mereka sendiri. Namun, beda project ini dengan project 11 Ibu adalah bahwa di project ini semua ibu dan calon ibu adalah para ‘pemula’, mereka baru memulai rumah tangga, mulai menapaki jalan menjadi ibu, atau bahkan baru melatih diri menjadi ibu. Yang istimewa pada semua yang baru bermula adalah, sangat mungkin mereka belum bisa menjadi dirinya yang pasti, karena semua masih serba “baru” dan “mungkin”.

Pendek kata, mana ada sesuatu yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Seseorang pernah mengatakan bahwa sekecil apapun pergerakan kita senantiasa dipengaruhi pergerakan lain dan (barangkali) akan mempengaruhi pergerakan lainnya juga. Jadi jika buku ini diniatkan sebagai sebuah gerakan, maka kemana tujuan buku ini bergerak?

Ke hati. Hati siapa saja yang membaca. Sebab tujuannya sederhana sekali, untuk berbagi suara hati. Itu saja. Mendokumentasikan suara hati itu penting sekali dalam rangka refleksi. Namun bagaimana suara hati dituliskan? Kesembilan perempuan yang terlibat disini bukan penulis (profesional). Mereka menulis dalam rangka kebutuhan profesi dan akademik, dan bukan untuk kebutuhan di luar itu. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka menulis kreatif yang intinya adalah menuliskan perjalanan mereka, pilihan hidup dan tantangan yang mereka hadapi. Persoalan berikutnya, bentuk apa yang dipilih?

Tentu tak semudah membalik telapak tangan untuk membuat kesembilan perempuan ini menulis. Ada semacam mentoring untuk memulai, menumbuhkan ide, memelihara ide, mengembangkan, dan menuliskan. Disinilah ruang dengar dan ruang berbagi terjadi. Semua mengalir begitu saja. Di awal, saya tak memberi batasan apa dan bagaimana harus menulis. Yang harus terjadi hanyalah mengalir dan mengalir begitu saja. Lalu tibalah kami pada sesi menulis yang sesungguhnya. Apa, bagaimana, mengapa, pertanyaan-pertanyaan seperti itu menghantui. Sehingga ada semacam writer’s block yang menjeda atau mengganjal proses. Namun kemudian, tanpa kesepakatan, akhirnya ada semacam formula untuk merumuskan tulisan ini. Kami menemukan semacam bentuk yang akhirnya menjadi benang merah yang menjadi penanda tulisan di semua karya.

Memoar, atau memoir. Sebuah pendekatan penulisan autobiografi.Perjalanan batin yang sangat personal, sangat subjektif dan sangat menyentuh. Di dalam buku ini hampir semua perempuan menumpahkan suara hatinya. Sesuai judulnya, suara tepi hati, maka buku ini adalah saksi perjalanan batin kesembilan perempuan dalam hidup mereka. Tak ada yang lebih baik dari yang lain, tak ada yang lebih buruk dari yang lain. Yang ada adalah ruang nyaman berbagi cerita.

Lalu apa setelah ini? Barangkali, banyak yang harus terjadi. Atau mungkin setidaknya harus ada sesuatu yang terjadi. Seperti yang seharusnya dalam sesuatu yang mengada, terjadi pergesekan energi atau percikan kreatif yang menyebar dan mempengaruhi energi lain. Buku ini semacam awal bagi yang lain untuk terus tumbuh, ruang dengar, ruang berbagi yang nyaman dan lega bagi perempuan. Bahwa perempuan tak harus sendiri, merasa sendiri, atau menyelesaikan semua persoalan sendiri. Bahwa perempuan punya teman, perempuan di luar dirinya yang juga sedang berjuang, belajar, berproses, dan jatuh bangun mengkontruksi dirinya.

Maka, demikianlah pengantar ini hanya sebagai pembuka gerbang untuk membuka percakapan. Percakapan sesungguhnya terjadi di dalam. Selamat menikmati. Silakan datang kembali. [T]

Singaraja, 14 Desember 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Diikat Waktu

Next Post

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Mekorot“ di Masa Pandemi

“Mekorot“ di Masa Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co