2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Tak Dilihat || Untuk Teman-teman Kepulauan Kangean

Jaswanto by Jaswanto
December 22, 2020
in Esai
Mereka Tak Dilihat || Untuk Teman-teman Kepulauan Kangean

Salah satu sudut pantai di Sapeken [Foto Taufikur Rahman Al Habsyi]

I

Dr. Ignas Kleden dalam orasi mengenang Sutan Sjahrir di TIM, Jakarta 2006 yang berjudul Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik mengatakan: Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digul, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller (1723-96). Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: “und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein”—yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.

Benar. Hidup memang harus dipertaruhkan. Berani hidup harus berani bertaruh. Layaknya meja judi, tak jelas menang-kalahnya; beruntung-ruginya; berhasil-gagalnya. Hanya sekelas Dewa Judi—seperti film-film Mandarin—yang mampu menebak siapa yang akan menang atau siapa yang hanya akan menjadi pecundang.

Selama hidup di Singaraja, Bali, saya punya banyak kenalan anak-anak Madura—entah yang tinggal di Pulau Madura atau di daerah tapal kuda: Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dan sekitarnya.

Selain dari Pulau Madura dan daerah tapal kuda (orang-orang kadang menyebut Madura Swasta), saya juga banyak kenalan anak-anak Madura yang tinggal di kepulauan Kangean—gugusan pulau yang terdiri atas 60 pulau.

Secara administrasi, Kepulauan Kangean merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Sumenep. Di Kepulauan Kangean terdapat tiga kecamatan, yaitu Arjasa, Sapeken, dan Kecamatan Kangayan.

Dari sekian anak Kangean yang saya kenal, hanya ada tiga yang akrab dengan saya: Febri, Ainur, dan Huda—ketiganya adik tingkat saya di kampus.

Dulu saya tak pernah tahu di Indonesia ini—atau di Pulau Madura, Jawa Timur—ada wilayah bernama kepulauan Kangean. Saya tahu karena kenal Ainur, Febri, dan Huda. Mereka bertiga sering bercerita tentang pulau mereka. Bagaimana masyarakatnya, budayanya, kondisi ekonomi, infrastruktur, hingga kisah-kisah mengerikan dan menyedihkan yang kadang membuat saya meneteskan air mata.

Kisah tentang bagaimana perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan, misalnya. Pernah suatu kali Ainur bercerita tentang perjuangannya kuliah ke Singaraja kepada saya. Dan saya diam-diam di kamar mandi meneteskan air mata.

“Kampung halaman saya di Pulau Sepanjang, Bang, salah satu pulau di kepulauan Kangean, Madura. Kampung saya berada di wilayah Jawa Timur juga. Tapi jika ditarik garis lurus melewati laut, kampung saya sebenarnya lebih dekat dengan Kabupaten Buleleng, ya walaupun tak dekat-dekat amat sebenarnya—karena perjalanan 10 jam ke sini, Bang. Kalau ke Banyuwangi malah lebih jauh lagi,” kata Ainur saat bercerita kepada saya.

Saya tersentak. “Sepuluh jam, Nur? Itu naik perahu besar?”

“Enggak, Bang. Mana ada perahu besar. Kami naik perahu nelayan yang ukurannya kurang lebih 2×15 meterlah. Itupun kadang tak ada perahu yang berlayar. Dan ya, 10 jam perjalanan, Bang.”

“Terus kalian terombang-ambing di perahu ukuran kecil itu dengan ombak yang gede begitu?”

“Iya, Bang. Kami hanya bisa pasrah akan keadan dan menyerahkan perjalanan kepada Tuhan!”

“Dan itu kalian tempuh demi pendidikan?”

Ainur agak tersenyum getir. “Pulau kami itu terpencil, Bang. Jauh dari peradaban. Kami percaya pendidikan bisa merubah nasib kami. Apapun itu akan kami tempuh demi bisa merubah nasib, Bang.”

Seketika saya ingin meneteskan air mata. Tapi saya tahan. Saya malu menangis di hadapan Ainur.

Benar kata Friedrich Schiller, bahwa hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Seperti Ainur, Febri, Huda, dan teman-teman dari Kagean lainnya, mempertaruhkan nyawa demi memenangkan nasib; memenangkan masa depan gemilang yang ditawarkan lembaga pendidikan formal. Walaupun barangkali mereka juga paham bahwa hidup siapa yang tahu. Siapa yang bisa menjamin masa depan seseorang? Tak sedikit orang yang berpendidikan gagal meraih masa depan gemilang. Kluntang-klantung mencari pekerjaan. Menambah daftar angka pengangguran.

Hidup seperti drama dengan premis-premis: penuh tema, gagasan sentral, tujuan. Yang saya takutkan, ibarat lakon Shakespear, Macbeth, dengan premis: “Ambisi yang keterlaluan membawa kepada kehancurannya sendiri”.

Riwayat hidup teman-teman saya dari kepulauan Kangean, saya rumuskan premisnya sebagai berikut: “Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan”.

II

Cerita Ainur tentang pahit-manisnya tinggal di daerah kepulauan terpencil—yang infrastrukturnya tak memadai—tak cukup di situ. Tahun lalu ia bercerita tentang seorang ibu hamil yang meninggal karena pendarahan.

Kisahnya: ada seorang ibu dari kepulauan Kangean yang hendak melahirkan, tapi karena mengalami pendarahan hebat, pihak puskesmas tak sanggup menangani. Akhirnya harus dirujuk ke RS Parama Sidhi di Singaraja. Sedangkan perjalanan dari kepulauan Kangean ke Singaraja tak sebentar. 10 jam naik perahu nelayan.

“Nyawa ibu dan anaknya tak selamat setelah sampai di Singaraja, Bang. Ibu itu mengalami pendarahan yang hebat. Dalam keadaan darurat, mereka masih harus melawan maut dengan terombang-ambing di lautan selama 10 jam.”

Cerita ini membuat saya tak bisa menahan air mata. Di Jakarta sana orang-orang saling debat adu argumen; berkelahi atas nama keadilan rakyat, katanya. Tetapi seperti kata Anis Sholeh Ba’asyin, di Panji Masyarakat: Rasanya rakyat negeri ini sudah sah menyandang status yatim piatu. Tak lagi punya sosok yang begitu kasih melindungi dan mengembangkan. Yang tersisa, tinggal orang-orang asing. Sebagian kecil mungkin masih mendesiskan rasa kasihan meski tak bisa berbuat apa-apa.

Namun yang lain sepertinya tidak lagi punya kepedulian tentang apapun yang mereka alami, apalagi yang mereka rasakan. Jadi, agak berlebihan bila mengharap akan ada mata yang tertusuk derita mereka, telinga yang tergetar keluh kesah mereka, hati yang terguncang sumpah serapah dan doa-doa mereka.

Meski banyak yang lantas mencoba bermain peran selayaknya ‘ayah-ibu’ yang bertindak demi dan atas nama ‘anak-anaknya’; namun, dengan satu dan lain cara, ini semua diam-diam malah makin meyakinkan rakyat bahwa sebenarnya tak pernah ada yang serius memikirkan mereka.

Yang mereka tonton justru para pemimpin, dari nasional sampai lokal, yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang sibuk mengorupsi dirinya sendiri. Tak salah bila pada akhirnya mereka merasa sekadar menjadi slilit yang ketlingsut dikegaduhan retorika dan tumpukan hitung-hitungan.

III

Saya punya teman mahasiswa Sosiologi yang berasal dari kepulauan Kangean. Sebelum dia wisuda bapaknya sakit dan harus dirawat di rumah sakit di Singaraja. Malam keluarganya membawa bapaknya ke RSUD Buleleng. Kami teman-temannya seketika itu langsung mengunjunginya; menemaninya; menghiburnya di rumah sakit.

Saya tak ikut menginap di rumah sakit. Saya tidur di kontrakan Taufik yang tak jauh dari rumah sakit. Pagi-pagi saya bangun dan harus menunduk saat membaca kabar duka. Bapak teman saya itu meninggal dunia karena telat mendapatkan penanganan.

Pagi-pagi sekali saya dan Taufik ke RSUD. Di sana teman-teman IMARA (Ikatan Mahasiswa Madura) sudah berkumpul. Kami bergabung. Kami semua ikut merasakan apa yang dirasakan teman kami itu.

Saya harus kembali meneteskan air mata saat mengetahui jenazah bapaknya harus diangkut dengan perahu nelayan selama 10 jam dari Singaraja ke kepulauan Kangean. Tuhan, dunia macam apa ini? Negara macam apa ini yang membiarkan kondisi rakyatnya begini? Apa susahnya negara membangun rumah sakit dan menyediakan transfortasi yang layak bagi orang-orang Kangean? Begitu tak terlihatnyakah atau memang sengaja tak dilihat?

Barangkali Pancasila hanyalah mitos. Cita-cita tinggi yang tak dapat diwujudkan. Keadilan bagi seluruh rakyat hanyalah semboyan kosong lima tahun sekali. Dongeng yang diajarkan kepada anak-anak sejak dini.

Atau barangkali kondisi seperti ini sengaja dibiarkan agar setiap lima tahun sekali mereka yang haus kekuasaan punya bahan untuk kampanye? Atau hal ini malah dianggap tontonan komedi kehidupan? Mungkin Charlie Chaplin benar. Ia mengatakan hidup itu tragedi dari jarak dekat, menjadi komedi dari jarak jauh. Aktor pentomim ini paham benar jarak acap mendistorsi realitas. Kita bisa keliru memahami tragedi menjadi komedi karena tafsir akibat ruang yang memisahkan. Jarak menentukan bagaimana cara kita melihat kenyataan.

IV

Apa yang dialami teman-teman saya dari kepulauan Kangean ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata. Jika memang kemerdekaan Indonesia 1945 adalah “kado” maka janganlah ia menjadi kado yang hanya dibagi-bagikan kepada “anak-anak kota” belaka. Seharusnya kado (hadiah) itu harus dibagikan kepada seluruh rakyat Indonesia; kepada kaum tertindas (kelas bawah), sebagai kado “pembebasan” yang pernah diucapkan Muhammad ketika membebaskan Mekkah dulu: ‘Antumuth Thulaq’, kalian bebas. Jadi yang penting bukan kadonya, tapi jenis kado itu sendiri, serta buat siapa.

Saya yakin tak hanya teman-teman saya dari Kangean saja yang mengalami kondisi seperti ini. Banyak daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan infrastruktur: pendidikan, kesehatan, layanan masyarakat lainnya.

Jargon “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tampaknya hanya “utopia”, hanya diidamkan. Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir, Mata: dalam Seeing like a State, Scott menunjukkan contoh sejarah bagaimana kesalahan justru sering terjadi, dalam skala besar, ketika—dengan ketakaburan yang tak disengaja—Negara melihat dari atas dan merancang hidup di bumi yang tak bisa sepenuhnya dikuasai.

“Mata yang di langit” itu tak buta, memang. Tapi ia tak selalu bisa meramal yang di atas tanah. Mau sampai kapan orang-orang Kangean hidup dalam bayang-bayang kematian? Tak ada yang bisa menjawab.

Sekali lagi, riwayat hidup teman-teman saya dari kepulauan Kangean, saya rumuskan premisnya sebagai berikut: “Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan”.

Sekarang tinggal membuktikan premis itu. Tabir tersibak. Lakon dimulai. [T]

BACA JUGA:

  • Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali
  • Kabar Sedih Pulau Kecil: Ibu Hamil Mau Lahiran, Berperahu 10 Jam ke Bali, Akhirnya…
  • Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“The Spirit Of Sobean”, Sebuah Perubahan Paradigma Citra Pariwisata Buleleng di Tengah Pandemi

Next Post

Otewe Gym Otewe Body Goal

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Otewe Gym Otewe Body Goal

Otewe Gym Otewe Body Goal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co