14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Tak Dilihat || Untuk Teman-teman Kepulauan Kangean

Jaswanto by Jaswanto
December 22, 2020
in Esai
Mereka Tak Dilihat || Untuk Teman-teman Kepulauan Kangean

Salah satu sudut pantai di Sapeken [Foto Taufikur Rahman Al Habsyi]

I

Dr. Ignas Kleden dalam orasi mengenang Sutan Sjahrir di TIM, Jakarta 2006 yang berjudul Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik mengatakan: Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digul, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller (1723-96). Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: “und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein”—yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.

Benar. Hidup memang harus dipertaruhkan. Berani hidup harus berani bertaruh. Layaknya meja judi, tak jelas menang-kalahnya; beruntung-ruginya; berhasil-gagalnya. Hanya sekelas Dewa Judi—seperti film-film Mandarin—yang mampu menebak siapa yang akan menang atau siapa yang hanya akan menjadi pecundang.

Selama hidup di Singaraja, Bali, saya punya banyak kenalan anak-anak Madura—entah yang tinggal di Pulau Madura atau di daerah tapal kuda: Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dan sekitarnya.

Selain dari Pulau Madura dan daerah tapal kuda (orang-orang kadang menyebut Madura Swasta), saya juga banyak kenalan anak-anak Madura yang tinggal di kepulauan Kangean—gugusan pulau yang terdiri atas 60 pulau.

Secara administrasi, Kepulauan Kangean merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Sumenep. Di Kepulauan Kangean terdapat tiga kecamatan, yaitu Arjasa, Sapeken, dan Kecamatan Kangayan.

Dari sekian anak Kangean yang saya kenal, hanya ada tiga yang akrab dengan saya: Febri, Ainur, dan Huda—ketiganya adik tingkat saya di kampus.

Dulu saya tak pernah tahu di Indonesia ini—atau di Pulau Madura, Jawa Timur—ada wilayah bernama kepulauan Kangean. Saya tahu karena kenal Ainur, Febri, dan Huda. Mereka bertiga sering bercerita tentang pulau mereka. Bagaimana masyarakatnya, budayanya, kondisi ekonomi, infrastruktur, hingga kisah-kisah mengerikan dan menyedihkan yang kadang membuat saya meneteskan air mata.

Kisah tentang bagaimana perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan, misalnya. Pernah suatu kali Ainur bercerita tentang perjuangannya kuliah ke Singaraja kepada saya. Dan saya diam-diam di kamar mandi meneteskan air mata.

“Kampung halaman saya di Pulau Sepanjang, Bang, salah satu pulau di kepulauan Kangean, Madura. Kampung saya berada di wilayah Jawa Timur juga. Tapi jika ditarik garis lurus melewati laut, kampung saya sebenarnya lebih dekat dengan Kabupaten Buleleng, ya walaupun tak dekat-dekat amat sebenarnya—karena perjalanan 10 jam ke sini, Bang. Kalau ke Banyuwangi malah lebih jauh lagi,” kata Ainur saat bercerita kepada saya.

Saya tersentak. “Sepuluh jam, Nur? Itu naik perahu besar?”

“Enggak, Bang. Mana ada perahu besar. Kami naik perahu nelayan yang ukurannya kurang lebih 2×15 meterlah. Itupun kadang tak ada perahu yang berlayar. Dan ya, 10 jam perjalanan, Bang.”

“Terus kalian terombang-ambing di perahu ukuran kecil itu dengan ombak yang gede begitu?”

“Iya, Bang. Kami hanya bisa pasrah akan keadan dan menyerahkan perjalanan kepada Tuhan!”

“Dan itu kalian tempuh demi pendidikan?”

Ainur agak tersenyum getir. “Pulau kami itu terpencil, Bang. Jauh dari peradaban. Kami percaya pendidikan bisa merubah nasib kami. Apapun itu akan kami tempuh demi bisa merubah nasib, Bang.”

Seketika saya ingin meneteskan air mata. Tapi saya tahan. Saya malu menangis di hadapan Ainur.

Benar kata Friedrich Schiller, bahwa hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Seperti Ainur, Febri, Huda, dan teman-teman dari Kagean lainnya, mempertaruhkan nyawa demi memenangkan nasib; memenangkan masa depan gemilang yang ditawarkan lembaga pendidikan formal. Walaupun barangkali mereka juga paham bahwa hidup siapa yang tahu. Siapa yang bisa menjamin masa depan seseorang? Tak sedikit orang yang berpendidikan gagal meraih masa depan gemilang. Kluntang-klantung mencari pekerjaan. Menambah daftar angka pengangguran.

Hidup seperti drama dengan premis-premis: penuh tema, gagasan sentral, tujuan. Yang saya takutkan, ibarat lakon Shakespear, Macbeth, dengan premis: “Ambisi yang keterlaluan membawa kepada kehancurannya sendiri”.

Riwayat hidup teman-teman saya dari kepulauan Kangean, saya rumuskan premisnya sebagai berikut: “Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan”.

II

Cerita Ainur tentang pahit-manisnya tinggal di daerah kepulauan terpencil—yang infrastrukturnya tak memadai—tak cukup di situ. Tahun lalu ia bercerita tentang seorang ibu hamil yang meninggal karena pendarahan.

Kisahnya: ada seorang ibu dari kepulauan Kangean yang hendak melahirkan, tapi karena mengalami pendarahan hebat, pihak puskesmas tak sanggup menangani. Akhirnya harus dirujuk ke RS Parama Sidhi di Singaraja. Sedangkan perjalanan dari kepulauan Kangean ke Singaraja tak sebentar. 10 jam naik perahu nelayan.

“Nyawa ibu dan anaknya tak selamat setelah sampai di Singaraja, Bang. Ibu itu mengalami pendarahan yang hebat. Dalam keadaan darurat, mereka masih harus melawan maut dengan terombang-ambing di lautan selama 10 jam.”

Cerita ini membuat saya tak bisa menahan air mata. Di Jakarta sana orang-orang saling debat adu argumen; berkelahi atas nama keadilan rakyat, katanya. Tetapi seperti kata Anis Sholeh Ba’asyin, di Panji Masyarakat: Rasanya rakyat negeri ini sudah sah menyandang status yatim piatu. Tak lagi punya sosok yang begitu kasih melindungi dan mengembangkan. Yang tersisa, tinggal orang-orang asing. Sebagian kecil mungkin masih mendesiskan rasa kasihan meski tak bisa berbuat apa-apa.

Namun yang lain sepertinya tidak lagi punya kepedulian tentang apapun yang mereka alami, apalagi yang mereka rasakan. Jadi, agak berlebihan bila mengharap akan ada mata yang tertusuk derita mereka, telinga yang tergetar keluh kesah mereka, hati yang terguncang sumpah serapah dan doa-doa mereka.

Meski banyak yang lantas mencoba bermain peran selayaknya ‘ayah-ibu’ yang bertindak demi dan atas nama ‘anak-anaknya’; namun, dengan satu dan lain cara, ini semua diam-diam malah makin meyakinkan rakyat bahwa sebenarnya tak pernah ada yang serius memikirkan mereka.

Yang mereka tonton justru para pemimpin, dari nasional sampai lokal, yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang sibuk mengorupsi dirinya sendiri. Tak salah bila pada akhirnya mereka merasa sekadar menjadi slilit yang ketlingsut dikegaduhan retorika dan tumpukan hitung-hitungan.

III

Saya punya teman mahasiswa Sosiologi yang berasal dari kepulauan Kangean. Sebelum dia wisuda bapaknya sakit dan harus dirawat di rumah sakit di Singaraja. Malam keluarganya membawa bapaknya ke RSUD Buleleng. Kami teman-temannya seketika itu langsung mengunjunginya; menemaninya; menghiburnya di rumah sakit.

Saya tak ikut menginap di rumah sakit. Saya tidur di kontrakan Taufik yang tak jauh dari rumah sakit. Pagi-pagi saya bangun dan harus menunduk saat membaca kabar duka. Bapak teman saya itu meninggal dunia karena telat mendapatkan penanganan.

Pagi-pagi sekali saya dan Taufik ke RSUD. Di sana teman-teman IMARA (Ikatan Mahasiswa Madura) sudah berkumpul. Kami bergabung. Kami semua ikut merasakan apa yang dirasakan teman kami itu.

Saya harus kembali meneteskan air mata saat mengetahui jenazah bapaknya harus diangkut dengan perahu nelayan selama 10 jam dari Singaraja ke kepulauan Kangean. Tuhan, dunia macam apa ini? Negara macam apa ini yang membiarkan kondisi rakyatnya begini? Apa susahnya negara membangun rumah sakit dan menyediakan transfortasi yang layak bagi orang-orang Kangean? Begitu tak terlihatnyakah atau memang sengaja tak dilihat?

Barangkali Pancasila hanyalah mitos. Cita-cita tinggi yang tak dapat diwujudkan. Keadilan bagi seluruh rakyat hanyalah semboyan kosong lima tahun sekali. Dongeng yang diajarkan kepada anak-anak sejak dini.

Atau barangkali kondisi seperti ini sengaja dibiarkan agar setiap lima tahun sekali mereka yang haus kekuasaan punya bahan untuk kampanye? Atau hal ini malah dianggap tontonan komedi kehidupan? Mungkin Charlie Chaplin benar. Ia mengatakan hidup itu tragedi dari jarak dekat, menjadi komedi dari jarak jauh. Aktor pentomim ini paham benar jarak acap mendistorsi realitas. Kita bisa keliru memahami tragedi menjadi komedi karena tafsir akibat ruang yang memisahkan. Jarak menentukan bagaimana cara kita melihat kenyataan.

IV

Apa yang dialami teman-teman saya dari kepulauan Kangean ini adalah bentuk ketidakadilan yang nyata. Jika memang kemerdekaan Indonesia 1945 adalah “kado” maka janganlah ia menjadi kado yang hanya dibagi-bagikan kepada “anak-anak kota” belaka. Seharusnya kado (hadiah) itu harus dibagikan kepada seluruh rakyat Indonesia; kepada kaum tertindas (kelas bawah), sebagai kado “pembebasan” yang pernah diucapkan Muhammad ketika membebaskan Mekkah dulu: ‘Antumuth Thulaq’, kalian bebas. Jadi yang penting bukan kadonya, tapi jenis kado itu sendiri, serta buat siapa.

Saya yakin tak hanya teman-teman saya dari Kangean saja yang mengalami kondisi seperti ini. Banyak daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan infrastruktur: pendidikan, kesehatan, layanan masyarakat lainnya.

Jargon “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tampaknya hanya “utopia”, hanya diidamkan. Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir, Mata: dalam Seeing like a State, Scott menunjukkan contoh sejarah bagaimana kesalahan justru sering terjadi, dalam skala besar, ketika—dengan ketakaburan yang tak disengaja—Negara melihat dari atas dan merancang hidup di bumi yang tak bisa sepenuhnya dikuasai.

“Mata yang di langit” itu tak buta, memang. Tapi ia tak selalu bisa meramal yang di atas tanah. Mau sampai kapan orang-orang Kangean hidup dalam bayang-bayang kematian? Tak ada yang bisa menjawab.

Sekali lagi, riwayat hidup teman-teman saya dari kepulauan Kangean, saya rumuskan premisnya sebagai berikut: “Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan”.

Sekarang tinggal membuktikan premis itu. Tabir tersibak. Lakon dimulai. [T]

BACA JUGA:

  • Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali
  • Kabar Sedih Pulau Kecil: Ibu Hamil Mau Lahiran, Berperahu 10 Jam ke Bali, Akhirnya…
  • Sapeken, Perjalanan adalah Guru; Mengasupi Segala Pengetahuan Dari Sebuah Perkenalan

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“The Spirit Of Sobean”, Sebuah Perubahan Paradigma Citra Pariwisata Buleleng di Tengah Pandemi

Next Post

Otewe Gym Otewe Body Goal

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Otewe Gym Otewe Body Goal

Otewe Gym Otewe Body Goal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co