24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tidur dapat gaji” || Tentang Investasi dengan Hasil-hasil di Luar Akal

Suara Perubahan by Suara Perubahan
December 22, 2020
in Esai
“Tidur dapat gaji” || Tentang Investasi dengan Hasil-hasil di Luar Akal

Ilustrasi

Penulis: Putu Andi Wirasetia

________

Belakangan ada kata-kata yang seakan tidak asing lagi kita dengar. Antara lain, “tidur dapat uang”, tidur digaji”, dan sejenisnya.

Siapa sih yang tidak mau jika diam saja dapat gaji?

Nah, jika mengingat kalimat itu, maka di pikiran kita akan terbersit  kalimat tak percaya. ‘Tidak ada orang dapat gaji jika tidak bekerja’. Namun ketidakpercayaan itu seakan terlupa oleh keinginan-keinginan lain yang amat mendesak. Kita jadi hilang akal, dan mempercayai hal-hal yang tak masuk akal.

Banyak orang menginginkan “tidur digaji” atau “tidur dapat uang”, karena tidak perlu sibuk dan mengeluarkan banyak tenaga, sudah bisa menikmati hidup. Apalagi, semenjak merebaknya pandemi Covid-19 ini banyak warga yang kehilangan pekerjaan, ada yang di-PHK dan tentu dalam keadaan seperti ini membuat semua kebingungan memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup.

Ada yang mencoba banting setir dari awalnya bekerja di hotel menjadi jual telur menggunakan mobil pribadinya. Apalagi tenaga kerja kapal pesiar menurut BP3TKI yang jumlahnya 1634 dari Bali yang biasanya libur mereka berkisar 2-3 bulan kini harus berbulan-bulan tidak bekerja dan tidak tau kapan pandemi ini selesai.

Banyak yang beralih profesi demi mendapatkan penghasilan dan tidak kalah banyak juga yang berpikiran dalam situasi seperti ini semakin banyak yang berjualan tapi permintaan semakin sedikit. Ada yang pasrah, sudah berjuang mencari pekerjaan tetapi tidak pernah diterima karena banyak perusahaan atau usaha yang gulung tikar.

Tidak masalah bagi mereka yang sudah mempersiapkan uang darurat demi kelangsungan hidup mereka, tapi apa daya bagi mereka yang banyak punya hutang yang sudah terlanjur membangun rumah, membeli tanah dan biaya pendidikan anak-anak, tentu mereka berpikir keras bagaimana caranya membayar itu semua sedangkan penghasilan tidak ada.

Himbauan “DI RUMAH SAJA” bikin semua orang bosan. Semua serba online, semua dipaksa untuk berubah dan keluar dari zona nyaman. Kalangan orang tua sekarang, setiap hari menghadapi group whatsapp untuk keperluan sekolah dan tugas anak-anaknya. Facebook dan youtube sudah tidak asing lagi bagi mereka. Berita atau informasi apapun sangat cepat menyebar luas melalui media internet.

Saya mengamati, di kalangan masyarakat sekarang, banyak yang mencari informasi tentang bagaimana mereka bisa berpenghasilan di era serba online ini. Youtube adalah media yang banyak diminati oleh orang-orang. Ada youtuber yang kontennya tentang hiburan dan ada juga yang menjelaskan cara mendapatkan penghasilan yang tidak perlu kerja keras tetapi tetap mendapatkan penghasilan.

Seperti youtuber  “YT Pejuang Receh” ada salah satu kontennya judulnya “Nonton youtube dibayar Rp.5.100.000”. Siapa sih orang yang tidak tergiur dengan itu, kerjaannya nonton saja tinggal dirumah saja dan mendapatkan penghasilan sebesar itu?

Sedikit orang yang sadar untuk mendapatkan uang sebanyak itu kemungkinannya sangatlah kecil hanya dengan menonton saja. Yang penulis amati, kerja pada aplikasi-aplikasi penghasil uang tertentu untuk mendapatkan uang banyak tidak hanya dengan menonton akan tetapi harus membagikan kode reveral tertentu ke orang-orang agar mendapatkan point banyak. Berapa kali dicoba ternyata modal nonton saja dan tidak mendapatkan teman yang ikut join itu sangat merugikan.

Orang-orang tidak akan pernah merasa puas jika kerja keras tapi penghasilan sedikit. Banyak juga youtuber terkenal seperti Raditya Dika (si standup comedy) tersebut membuat konten tentang investasi. Banyak konten-konten yang di-publish di youtube oleh youtuber-youtuber memberikan informasi tentang investasi, trading, copytrading dengan judul yang menggiurkan dan terpancing untuk mengikutinya.

Banyak juga yang menjelaskan kalau mau berinvestasi tentu perlu modal banyak dan berisiko tinggi. Semacam itu tentu banyak orang jarang yang mau ribet dan perlu modal banyak baru mendapatkan hasil yang banyak. Orang jaman sekarang kebanyakan mau kerja sedikit tapi penghasilan banyak. Dalam situasi pandemi seperti ini banyak bermunculan investasi-investasi yang punya kemungkinan besar bodong, apalagi investasi semacam itu  tidak terdaftar dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tidak berada dalam pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Investasi semacam ini menawarkan bunga banyak, dan dengan modal sedikit tetap bisa join. Dan ada juga bisnis baru bermunculan yang menawarkan cukup menonton iklan 60 kali sudah bisa mendapatkan bunga sebesar 0,2 % sehari. Siapa yang tidak tergiur akan hal itu?

Dengan situasi seperti sekarang ini, di mana banyak dari kita tidak bisa bekerja karena tidak ada lowongan, tidak bisa bikin usaha karena banyaknya pesaing sementara permintaan sedikit, tentu kita akan mudah tergoda, karena dengan tawaran bunga besar dan hanya perlu waktu 3 bulan sudah bisa kembali modal.

Dulu  Bali dihebohkan dengan berita tentang investasi  yang banyak makan korban. Investasi ditawarkan dengan konsep piramida uang atau segitiga uang, dimana seorang menginvestasikan uangnya demi mendapatkan keuntungan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan oleh investor, dan selanjutnya dan dijanjikan bunga besar.

Tentu model investasi seperti ini tidak akan bertahan lama, dan ujung-ujungnya jadi masalah, karena yang dipakai membayar bunga untuk invest tentu dari orang-orang baru, yakni orang-orang yang berasal dari ajakan orang yang duluan ikut.

Ada juga investasi berkedok trading atau investasi valas. Ini juga banyak memakan korban dengan kerugian ratusan miliar. Belakangan ini, terutama pada masa pandemi, makin banyak tawaran-tawaran investasi yang dicurigai bodong.  Ada investasi yang didesain sangat meyakinkan dengan menawarkan bunga lebih besar lagi yaitu setiap orang yang invest mendapatkan bunga 1,5% perhari dan sebulan terdiri dari 20 hari kerja sesuai dengan hari kerja pasar dunia.

Orang-orang yang disasar oleh investasi semacam ini kebanyakan mantan pekerja kapal pesiar dan mantan pegawai hotel yang memiliki banyak tabungan. Dan banyak juga yang kepincut. Saat tidak bekerja, mereka bukan mencari penghasilan yang sesuai, tapi malah ikut ber-invest dengan modal cukup banyak dengan ekspektasi hanya 3 bulan sudah balik modal, dan jika ingin cepat balik modal maka mereka akan berusaha untuk mengajak temannya.

Langkah yang dilakukan adalah dengan men-share di social media atau dari mulut ke mulut dengan kata-kata rayuan, misalnya “tidak perlu kerja, tidur pun digaji, tidur pun dapat uang”, dan kata-kata lain yang kedengarannya bisa dilakukan dengan mudah dan gampang. Dari kata-kata itu seharusnya orang-orang sadar kalau hal itu tidak mungkin, akan tetapi masih saja ada orang yang jadi korban.

Ada juga tawaran bisnis yang belakangan juga populer. Model investasi ini yaitu hanya menonton iklan dapat keuntungan 0,2% sehari. Tentu sangat menggiurkan apalagi ada nama-nama progam investasi itu dikait-kaitkan dengan orang-orang besar dan perusahaan-perusahaan yang terkenal.

Saya pikir ada kesimpulan aneh, di mana kemajuan teknologi ternyata juga diiringi dengan canggihnya penipuan. Pemerintah sebenarnya sudah berusaha mengatasi permasalahan penipuan dengan kedok investasi  ini, namun jika masyarakat kita tidak ikut serta memberantas dan menghentikan penipuan semacam ini, siapa lagi yang akan bisa menghilangkan itu semua. Sadarlah tidak ada investasi dengan bunga yang tidak masuk akal.

Jika punya uang atau ingin berinvestasi, datanglah ke perbankan atau lembaga-lembaga resmi yang hitungan investasinya masuk akal dan sesuai dengan ketentuan hukum. Tidak ada orang kaya tidak pernah bekerja, tidak ada dengan tidur saja dapat gaji. Janganlah jadi orang bodoh karena akan terus dibodohi.

Jadilah orang pintar untuk mengikuti dan mengimbangi kemajuan dan perubahan, bukan menjadi orang pintar untuk membodohi orang. Semua berawal dari diri kita sendiri. SALAM PERUBAHAN. [T]

Putu Andi Wirasetia, mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Undiksha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dompet Digital, Bukan Hanya Milik Kalangan Milenial

Next Post

Tantangan “Ngayah”, Individualisme dan Era New Normal

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tantangan “Ngayah”, Individualisme dan Era New Normal

Tantangan "Ngayah", Individualisme dan Era New Normal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co