28 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 12, 2020
in Esai
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

AWALNYA saya hanya mendengar cerita orang tua jika ‘leluhur’ dahulu seorang pembaca dan penulis yang suntuk. Penilaian ini sangat sederhana. Puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas masih banyak tersimpan, meskipun beberapa sudah hancur—alias dekdek.

Dua kotak besar hanya nongol saat hari Saraswati saja—itupun tak lebih dari satu jam. Setelah dua ikat dupa habis terbakar, stok mantra sudah habis diucapkan, kotak kayu megah itu ditutup rapat-rapat. Tikus pun dilarang masuk!

Bukan Bali namanya jika tidak ada “bumbu mistik” di dalamnya. Cerita serem lebih sering saya dengar daripada tentang “isi” dari koleksi peradaban intelektual dan kebathinan Bali ini. Karena terlalu banyak cerita serem, akhirnya “sari” pemikiran warisan leluhur tak pernah dirasakan. Jangankan dirasakan, dibaca pun tidak. Jangankan dibaca dilihat pun tidak. Begitulah.

Biasanya, kita hanya mewarisi “ketakutan” yang tidak jelas asal usulnya. Kecuali dari cerita serem yang awet dari generasi ke generasi. Warisan ketakutan ini nyata di dalam diri generasi Bali—bahkan telah menubuh. Jadi yang menubuh bukan “ilmu” warisan leluhur, tetapi ketakutan. Singkatnya: menubuhkan ketakutan!

Padahal tidak banyak yang sadar bahwa warisan ketakutan ini hanyalah bentuk lain dari upaya merawat “kebutaan” ilmu. Ini tidak terjadi di satu tempat, tapi juga ditempat yang lain. Pertanyaannya, siapa biang kerok dari warisan ketakutan ini? Sabar, nanti akan terjawab.

Mungkin benar, ilmu dan pengetahuan itu berbahaya. Apalagi yang berhubungan dengan pengetahuan agama, pesan moral dan ketuhanan di dalamnya. Banyak fakta seseorang yang membaca tak lebih  dari satu kitab suci—terlebih hanya beberapa kutipan wacana—sudah berlagak seperti orang yang paling suci—lalu wara wiri jadi hakim moral. Merasa paling benar dan paling tahu Tuhan. Jika diuji isi kepalanya, ia pasti bilang: kembali ke kitab! Model begini banyak terlihat sekarang. Para “moralis” karbitan. Cepat matang, cepat pula busuknya.

Tapi ada juga sisi lain: bahwa pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan. Siapa yang menguasai pengetahuan dan isi lontar saat itu, ia yang menguasai dunia. Tak dipungkiri ada monopoli pengetahuan saat itu. Monopoli inilah kelak melahirkan “sistem” yang memproduksi sejarah ketakutan. 

Saya sering mendengar cerita orang tua, jika seseorang enggan jika lontar miliknya dibaca orang lain. Karena isi lontar digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya saja disalin dengan mengubah isinya, lalu memberi intensi pada dirinya sendiri. Apalagi lontar yang berhubungan dengan babad dan pemancangah.

Selain itu, ada kebiasaanya buruk: lontar dipinjam lalu tak kembali. Padahal isi lontar itu adalah sejarah keluarga si pemilik lontar. Karena dipinjam orang lain, akhirnya itu seolah menjadi sejarah keluarga si peminjam.

Saya sering dengar cerita bahwa satu keluarga berdebat panas soal jati dirinya: yang satu mengaku warih ini, yang satunya lagi mengaku warih itu berdasarkan koleksi lontar miliknya yang selama ini dikeramatkan. Padahal mereka tak tahu jika lontar itu “pinjaman” yang tak kembali. Bayangkan, kasus pinjam meminjam lontar di masa lalu berbuah persoalan yang rumit soal warih di masa depan.

Tak salah jika seorang peneliti asing menyebut bahwa tiga air paling sakral di Bali: air suci atau tirtha, air subak untuk pengairan sawah, dan air “mani” atau warih. Ketiga air ini bisa menjadi sumber konflik, tak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa depan. 

Ada juga fakta lain: pengkeramatan pengetahuan juga dipengaruhi oleh mistifikasi dalam kebudayaan Bali. Memang banyak terdapat pengetahuan tradisional untuk kesaktian, kawisesan. Orang Bali menyebutnya lontar pangiwa. Pokoknya yang berbau ‘kiwa” selalu dicurigai. Saya nggak paham asal usul “kecurigaan’ ini, apakah warisan dari tragedi pasca 65? Tidak juga. Sebelum itu stigma “kiwa” ini sudah negatif. Ini bisa dilacak dari cerita Calonarang.

Meskipun stigma “kiwa” ini negatif, tetapi kegandrungan orang Bali dengan pengetahuan yang dikategorikan “kiwa” ini malah besar. Orang lebih bangga disebut sebagai ahli “kiwa” daripada ahli “tengen”. Salah satu kampus Hindu di Bali pernah menggelar seminar pengliakan, ternyata pesertanya berjejal.

Mereka sangat antusias. Bahkan lontar-lontar berbau pengiwa diburu. Pentas Calonarang juga selalu menjadi ikon dalam pementasan seni tradisional Bali. Satu lagi: buku berbau leyak, kiwa, apalagi tantra selalu laris dipasaran. Ini fakta lain, memang.

Kembali soal ketakutan itu, bisa jadi pengetahuan yang dianggap berbau “kiwa” ini dilarang untuk dibaca karena persoalan konflik keluarga. Mereka khawatir, jika keluarga yang jadi musuhnya membaca ilmu “kiwa” ini akan berdampak pada dirinya. Lebih baik pengetahuan pengiwa ini tidak dibaca oleh siapapun. Lontar-lontar yang judulnya pengiwa pun dikeramatkan saja, bila perlu dibakar. Ketakutan ini turut menyebabkan upaya mistifikasi pengetahuan tradisional Bali.

Apakah ketakutan ini ikut saya warisi? Semoga tidak. Toh akhirnya, saya bisa mengakses puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas milik leluhur dahulu. Setelah saya buka, ternyata isinya sangat luar biasa. Bikin saya tersenyum tipis.  

Saya menemukan buku-buku lama di sana yang justru sedang saya cari: misalnya saja Glosarium Kawi-Balineesch-Nederlandsch oleh Dr. H.H Juynboll yang diterbitkan pada tahun 1902. Ada juga buku Wetboek Agama: Hoog-Balisch En Maleisch Vertaald. Karya-karya cendekiawan Hindu yang diterbitkan tahun 1950-an juga tersimpan, saat dimana upaya reformasi Hindu Bali dilakukan untuk pengakuan Negara. Seperti misalnya buku Darma Sastra Agama Hindu Bali oleh I Gusti Ananda Kusuma.

Dalam buku ini, Ananda Kusuma mempertegas bahwa kitab yang digunakan rujukan yakni Dwijendra, Tegesing Agama, Tegesing Sastra, Eka Pratama, Kandapat, Tirtha dan lain sebagainya. Ada juga Sedjarah Agama Hindu yang ditulis secara kolaboratif oleh cendekiawan India dan Bali yakni Narendra Dev Pandit Sastri dan I Gusti Made Tamba yang terbit tahun 1955. Pada tahun itu, buku ini dijual seharga Rp. 3.50.

Tidak hanya itu, ternyata ada beberapa buku terjemahan cendekiawan Bali I Gusti Bagus Sugriwa, seperti misalnya Babad Pasek, Pelajaran Kidung-Kakawin jilid satu dan dua yang isinya kutipan beberapa teks seperti Arjuna Wiwaha, Bhargawa Ciksa, dan Ramayana. Buku ini dibuat sangat sederhana, berisi aksara Bali, terjemahan Jawa Kuna dan Basaha Indonesia. Ada juga Sanghyang Kamahayanikan.

Selain itu, dikoleksi juga buku Sarwa Sastra; kitab pelajaran Bahasa Jawa Kuna jilid satu dan dua yang disiapkan oleh Ki Hadiwidjana R.D.S. Ada juga Kuntji Wariga yang disusun I Kt Bangbang Gde Rawi yang terbit tahun 1967. Ada banyak lagi buku berbahasa Belanda, termasuk empat puluhan cakep lontar, dan sisa-sisa lontar yang hancur. Termasuk Tika baik dalam bentuk kayu dan ditulis di atas kain putih sepanjang dua meter.  

Di depan orang tua dan kakek, saya jelaskan buku-buku dan puluhan cakep lontar yang ada di rumah. Meskipun hanya judul-judulnya saja. Untuk mengerjakan semua, saya perlu waktu dan mengundang ahlinya-ahli. Meskipun hanya paham sedikit, saya bisa memetakan orientasi intelektual leluhur dahulu. Benar kata nak lingsir; sekonden melajah ke sisi, telahang malu enjek natahe jumah.

Saya terlalu banyak belajar di luar, sekarang ingin ke dalam agar tak menjadi bagian pewaris ketakutan itu. Yang sudah ‘terperangkap’ di dalam, sesekali perlu keluar untuk memperluas pandangan ketika akan masuk lagi ke dalam. [T]

Jero Munggu Tegalcangkring Jembrana

15/11/2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poems by Devy Gita || Can We Close A Closed Door?

Next Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails
Next Post
“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

"Gamers", Idaman Kaum Milineal...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co