30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 12, 2020
in Esai
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

AWALNYA saya hanya mendengar cerita orang tua jika ‘leluhur’ dahulu seorang pembaca dan penulis yang suntuk. Penilaian ini sangat sederhana. Puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas masih banyak tersimpan, meskipun beberapa sudah hancur—alias dekdek.

Dua kotak besar hanya nongol saat hari Saraswati saja—itupun tak lebih dari satu jam. Setelah dua ikat dupa habis terbakar, stok mantra sudah habis diucapkan, kotak kayu megah itu ditutup rapat-rapat. Tikus pun dilarang masuk!

Bukan Bali namanya jika tidak ada “bumbu mistik” di dalamnya. Cerita serem lebih sering saya dengar daripada tentang “isi” dari koleksi peradaban intelektual dan kebathinan Bali ini. Karena terlalu banyak cerita serem, akhirnya “sari” pemikiran warisan leluhur tak pernah dirasakan. Jangankan dirasakan, dibaca pun tidak. Jangankan dibaca dilihat pun tidak. Begitulah.

Biasanya, kita hanya mewarisi “ketakutan” yang tidak jelas asal usulnya. Kecuali dari cerita serem yang awet dari generasi ke generasi. Warisan ketakutan ini nyata di dalam diri generasi Bali—bahkan telah menubuh. Jadi yang menubuh bukan “ilmu” warisan leluhur, tetapi ketakutan. Singkatnya: menubuhkan ketakutan!

Padahal tidak banyak yang sadar bahwa warisan ketakutan ini hanyalah bentuk lain dari upaya merawat “kebutaan” ilmu. Ini tidak terjadi di satu tempat, tapi juga ditempat yang lain. Pertanyaannya, siapa biang kerok dari warisan ketakutan ini? Sabar, nanti akan terjawab.

Mungkin benar, ilmu dan pengetahuan itu berbahaya. Apalagi yang berhubungan dengan pengetahuan agama, pesan moral dan ketuhanan di dalamnya. Banyak fakta seseorang yang membaca tak lebih  dari satu kitab suci—terlebih hanya beberapa kutipan wacana—sudah berlagak seperti orang yang paling suci—lalu wara wiri jadi hakim moral. Merasa paling benar dan paling tahu Tuhan. Jika diuji isi kepalanya, ia pasti bilang: kembali ke kitab! Model begini banyak terlihat sekarang. Para “moralis” karbitan. Cepat matang, cepat pula busuknya.

Tapi ada juga sisi lain: bahwa pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan. Siapa yang menguasai pengetahuan dan isi lontar saat itu, ia yang menguasai dunia. Tak dipungkiri ada monopoli pengetahuan saat itu. Monopoli inilah kelak melahirkan “sistem” yang memproduksi sejarah ketakutan. 

Saya sering mendengar cerita orang tua, jika seseorang enggan jika lontar miliknya dibaca orang lain. Karena isi lontar digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya saja disalin dengan mengubah isinya, lalu memberi intensi pada dirinya sendiri. Apalagi lontar yang berhubungan dengan babad dan pemancangah.

Selain itu, ada kebiasaanya buruk: lontar dipinjam lalu tak kembali. Padahal isi lontar itu adalah sejarah keluarga si pemilik lontar. Karena dipinjam orang lain, akhirnya itu seolah menjadi sejarah keluarga si peminjam.

Saya sering dengar cerita bahwa satu keluarga berdebat panas soal jati dirinya: yang satu mengaku warih ini, yang satunya lagi mengaku warih itu berdasarkan koleksi lontar miliknya yang selama ini dikeramatkan. Padahal mereka tak tahu jika lontar itu “pinjaman” yang tak kembali. Bayangkan, kasus pinjam meminjam lontar di masa lalu berbuah persoalan yang rumit soal warih di masa depan.

Tak salah jika seorang peneliti asing menyebut bahwa tiga air paling sakral di Bali: air suci atau tirtha, air subak untuk pengairan sawah, dan air “mani” atau warih. Ketiga air ini bisa menjadi sumber konflik, tak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa depan. 

Ada juga fakta lain: pengkeramatan pengetahuan juga dipengaruhi oleh mistifikasi dalam kebudayaan Bali. Memang banyak terdapat pengetahuan tradisional untuk kesaktian, kawisesan. Orang Bali menyebutnya lontar pangiwa. Pokoknya yang berbau ‘kiwa” selalu dicurigai. Saya nggak paham asal usul “kecurigaan’ ini, apakah warisan dari tragedi pasca 65? Tidak juga. Sebelum itu stigma “kiwa” ini sudah negatif. Ini bisa dilacak dari cerita Calonarang.

Meskipun stigma “kiwa” ini negatif, tetapi kegandrungan orang Bali dengan pengetahuan yang dikategorikan “kiwa” ini malah besar. Orang lebih bangga disebut sebagai ahli “kiwa” daripada ahli “tengen”. Salah satu kampus Hindu di Bali pernah menggelar seminar pengliakan, ternyata pesertanya berjejal.

Mereka sangat antusias. Bahkan lontar-lontar berbau pengiwa diburu. Pentas Calonarang juga selalu menjadi ikon dalam pementasan seni tradisional Bali. Satu lagi: buku berbau leyak, kiwa, apalagi tantra selalu laris dipasaran. Ini fakta lain, memang.

Kembali soal ketakutan itu, bisa jadi pengetahuan yang dianggap berbau “kiwa” ini dilarang untuk dibaca karena persoalan konflik keluarga. Mereka khawatir, jika keluarga yang jadi musuhnya membaca ilmu “kiwa” ini akan berdampak pada dirinya. Lebih baik pengetahuan pengiwa ini tidak dibaca oleh siapapun. Lontar-lontar yang judulnya pengiwa pun dikeramatkan saja, bila perlu dibakar. Ketakutan ini turut menyebabkan upaya mistifikasi pengetahuan tradisional Bali.

Apakah ketakutan ini ikut saya warisi? Semoga tidak. Toh akhirnya, saya bisa mengakses puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas milik leluhur dahulu. Setelah saya buka, ternyata isinya sangat luar biasa. Bikin saya tersenyum tipis.  

Saya menemukan buku-buku lama di sana yang justru sedang saya cari: misalnya saja Glosarium Kawi-Balineesch-Nederlandsch oleh Dr. H.H Juynboll yang diterbitkan pada tahun 1902. Ada juga buku Wetboek Agama: Hoog-Balisch En Maleisch Vertaald. Karya-karya cendekiawan Hindu yang diterbitkan tahun 1950-an juga tersimpan, saat dimana upaya reformasi Hindu Bali dilakukan untuk pengakuan Negara. Seperti misalnya buku Darma Sastra Agama Hindu Bali oleh I Gusti Ananda Kusuma.

Dalam buku ini, Ananda Kusuma mempertegas bahwa kitab yang digunakan rujukan yakni Dwijendra, Tegesing Agama, Tegesing Sastra, Eka Pratama, Kandapat, Tirtha dan lain sebagainya. Ada juga Sedjarah Agama Hindu yang ditulis secara kolaboratif oleh cendekiawan India dan Bali yakni Narendra Dev Pandit Sastri dan I Gusti Made Tamba yang terbit tahun 1955. Pada tahun itu, buku ini dijual seharga Rp. 3.50.

Tidak hanya itu, ternyata ada beberapa buku terjemahan cendekiawan Bali I Gusti Bagus Sugriwa, seperti misalnya Babad Pasek, Pelajaran Kidung-Kakawin jilid satu dan dua yang isinya kutipan beberapa teks seperti Arjuna Wiwaha, Bhargawa Ciksa, dan Ramayana. Buku ini dibuat sangat sederhana, berisi aksara Bali, terjemahan Jawa Kuna dan Basaha Indonesia. Ada juga Sanghyang Kamahayanikan.

Selain itu, dikoleksi juga buku Sarwa Sastra; kitab pelajaran Bahasa Jawa Kuna jilid satu dan dua yang disiapkan oleh Ki Hadiwidjana R.D.S. Ada juga Kuntji Wariga yang disusun I Kt Bangbang Gde Rawi yang terbit tahun 1967. Ada banyak lagi buku berbahasa Belanda, termasuk empat puluhan cakep lontar, dan sisa-sisa lontar yang hancur. Termasuk Tika baik dalam bentuk kayu dan ditulis di atas kain putih sepanjang dua meter.  

Di depan orang tua dan kakek, saya jelaskan buku-buku dan puluhan cakep lontar yang ada di rumah. Meskipun hanya judul-judulnya saja. Untuk mengerjakan semua, saya perlu waktu dan mengundang ahlinya-ahli. Meskipun hanya paham sedikit, saya bisa memetakan orientasi intelektual leluhur dahulu. Benar kata nak lingsir; sekonden melajah ke sisi, telahang malu enjek natahe jumah.

Saya terlalu banyak belajar di luar, sekarang ingin ke dalam agar tak menjadi bagian pewaris ketakutan itu. Yang sudah ‘terperangkap’ di dalam, sesekali perlu keluar untuk memperluas pandangan ketika akan masuk lagi ke dalam. [T]

Jero Munggu Tegalcangkring Jembrana

15/11/2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poems by Devy Gita || Can We Close A Closed Door?

Next Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Next Post
“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

"Gamers", Idaman Kaum Milineal...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co