21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 12, 2020
in Esai
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

AWALNYA saya hanya mendengar cerita orang tua jika ‘leluhur’ dahulu seorang pembaca dan penulis yang suntuk. Penilaian ini sangat sederhana. Puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas masih banyak tersimpan, meskipun beberapa sudah hancur—alias dekdek.

Dua kotak besar hanya nongol saat hari Saraswati saja—itupun tak lebih dari satu jam. Setelah dua ikat dupa habis terbakar, stok mantra sudah habis diucapkan, kotak kayu megah itu ditutup rapat-rapat. Tikus pun dilarang masuk!

Bukan Bali namanya jika tidak ada “bumbu mistik” di dalamnya. Cerita serem lebih sering saya dengar daripada tentang “isi” dari koleksi peradaban intelektual dan kebathinan Bali ini. Karena terlalu banyak cerita serem, akhirnya “sari” pemikiran warisan leluhur tak pernah dirasakan. Jangankan dirasakan, dibaca pun tidak. Jangankan dibaca dilihat pun tidak. Begitulah.

Biasanya, kita hanya mewarisi “ketakutan” yang tidak jelas asal usulnya. Kecuali dari cerita serem yang awet dari generasi ke generasi. Warisan ketakutan ini nyata di dalam diri generasi Bali—bahkan telah menubuh. Jadi yang menubuh bukan “ilmu” warisan leluhur, tetapi ketakutan. Singkatnya: menubuhkan ketakutan!

Padahal tidak banyak yang sadar bahwa warisan ketakutan ini hanyalah bentuk lain dari upaya merawat “kebutaan” ilmu. Ini tidak terjadi di satu tempat, tapi juga ditempat yang lain. Pertanyaannya, siapa biang kerok dari warisan ketakutan ini? Sabar, nanti akan terjawab.

Mungkin benar, ilmu dan pengetahuan itu berbahaya. Apalagi yang berhubungan dengan pengetahuan agama, pesan moral dan ketuhanan di dalamnya. Banyak fakta seseorang yang membaca tak lebih  dari satu kitab suci—terlebih hanya beberapa kutipan wacana—sudah berlagak seperti orang yang paling suci—lalu wara wiri jadi hakim moral. Merasa paling benar dan paling tahu Tuhan. Jika diuji isi kepalanya, ia pasti bilang: kembali ke kitab! Model begini banyak terlihat sekarang. Para “moralis” karbitan. Cepat matang, cepat pula busuknya.

Tapi ada juga sisi lain: bahwa pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan. Siapa yang menguasai pengetahuan dan isi lontar saat itu, ia yang menguasai dunia. Tak dipungkiri ada monopoli pengetahuan saat itu. Monopoli inilah kelak melahirkan “sistem” yang memproduksi sejarah ketakutan. 

Saya sering mendengar cerita orang tua, jika seseorang enggan jika lontar miliknya dibaca orang lain. Karena isi lontar digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya saja disalin dengan mengubah isinya, lalu memberi intensi pada dirinya sendiri. Apalagi lontar yang berhubungan dengan babad dan pemancangah.

Selain itu, ada kebiasaanya buruk: lontar dipinjam lalu tak kembali. Padahal isi lontar itu adalah sejarah keluarga si pemilik lontar. Karena dipinjam orang lain, akhirnya itu seolah menjadi sejarah keluarga si peminjam.

Saya sering dengar cerita bahwa satu keluarga berdebat panas soal jati dirinya: yang satu mengaku warih ini, yang satunya lagi mengaku warih itu berdasarkan koleksi lontar miliknya yang selama ini dikeramatkan. Padahal mereka tak tahu jika lontar itu “pinjaman” yang tak kembali. Bayangkan, kasus pinjam meminjam lontar di masa lalu berbuah persoalan yang rumit soal warih di masa depan.

Tak salah jika seorang peneliti asing menyebut bahwa tiga air paling sakral di Bali: air suci atau tirtha, air subak untuk pengairan sawah, dan air “mani” atau warih. Ketiga air ini bisa menjadi sumber konflik, tak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa depan. 

Ada juga fakta lain: pengkeramatan pengetahuan juga dipengaruhi oleh mistifikasi dalam kebudayaan Bali. Memang banyak terdapat pengetahuan tradisional untuk kesaktian, kawisesan. Orang Bali menyebutnya lontar pangiwa. Pokoknya yang berbau ‘kiwa” selalu dicurigai. Saya nggak paham asal usul “kecurigaan’ ini, apakah warisan dari tragedi pasca 65? Tidak juga. Sebelum itu stigma “kiwa” ini sudah negatif. Ini bisa dilacak dari cerita Calonarang.

Meskipun stigma “kiwa” ini negatif, tetapi kegandrungan orang Bali dengan pengetahuan yang dikategorikan “kiwa” ini malah besar. Orang lebih bangga disebut sebagai ahli “kiwa” daripada ahli “tengen”. Salah satu kampus Hindu di Bali pernah menggelar seminar pengliakan, ternyata pesertanya berjejal.

Mereka sangat antusias. Bahkan lontar-lontar berbau pengiwa diburu. Pentas Calonarang juga selalu menjadi ikon dalam pementasan seni tradisional Bali. Satu lagi: buku berbau leyak, kiwa, apalagi tantra selalu laris dipasaran. Ini fakta lain, memang.

Kembali soal ketakutan itu, bisa jadi pengetahuan yang dianggap berbau “kiwa” ini dilarang untuk dibaca karena persoalan konflik keluarga. Mereka khawatir, jika keluarga yang jadi musuhnya membaca ilmu “kiwa” ini akan berdampak pada dirinya. Lebih baik pengetahuan pengiwa ini tidak dibaca oleh siapapun. Lontar-lontar yang judulnya pengiwa pun dikeramatkan saja, bila perlu dibakar. Ketakutan ini turut menyebabkan upaya mistifikasi pengetahuan tradisional Bali.

Apakah ketakutan ini ikut saya warisi? Semoga tidak. Toh akhirnya, saya bisa mengakses puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas milik leluhur dahulu. Setelah saya buka, ternyata isinya sangat luar biasa. Bikin saya tersenyum tipis.  

Saya menemukan buku-buku lama di sana yang justru sedang saya cari: misalnya saja Glosarium Kawi-Balineesch-Nederlandsch oleh Dr. H.H Juynboll yang diterbitkan pada tahun 1902. Ada juga buku Wetboek Agama: Hoog-Balisch En Maleisch Vertaald. Karya-karya cendekiawan Hindu yang diterbitkan tahun 1950-an juga tersimpan, saat dimana upaya reformasi Hindu Bali dilakukan untuk pengakuan Negara. Seperti misalnya buku Darma Sastra Agama Hindu Bali oleh I Gusti Ananda Kusuma.

Dalam buku ini, Ananda Kusuma mempertegas bahwa kitab yang digunakan rujukan yakni Dwijendra, Tegesing Agama, Tegesing Sastra, Eka Pratama, Kandapat, Tirtha dan lain sebagainya. Ada juga Sedjarah Agama Hindu yang ditulis secara kolaboratif oleh cendekiawan India dan Bali yakni Narendra Dev Pandit Sastri dan I Gusti Made Tamba yang terbit tahun 1955. Pada tahun itu, buku ini dijual seharga Rp. 3.50.

Tidak hanya itu, ternyata ada beberapa buku terjemahan cendekiawan Bali I Gusti Bagus Sugriwa, seperti misalnya Babad Pasek, Pelajaran Kidung-Kakawin jilid satu dan dua yang isinya kutipan beberapa teks seperti Arjuna Wiwaha, Bhargawa Ciksa, dan Ramayana. Buku ini dibuat sangat sederhana, berisi aksara Bali, terjemahan Jawa Kuna dan Basaha Indonesia. Ada juga Sanghyang Kamahayanikan.

Selain itu, dikoleksi juga buku Sarwa Sastra; kitab pelajaran Bahasa Jawa Kuna jilid satu dan dua yang disiapkan oleh Ki Hadiwidjana R.D.S. Ada juga Kuntji Wariga yang disusun I Kt Bangbang Gde Rawi yang terbit tahun 1967. Ada banyak lagi buku berbahasa Belanda, termasuk empat puluhan cakep lontar, dan sisa-sisa lontar yang hancur. Termasuk Tika baik dalam bentuk kayu dan ditulis di atas kain putih sepanjang dua meter.  

Di depan orang tua dan kakek, saya jelaskan buku-buku dan puluhan cakep lontar yang ada di rumah. Meskipun hanya judul-judulnya saja. Untuk mengerjakan semua, saya perlu waktu dan mengundang ahlinya-ahli. Meskipun hanya paham sedikit, saya bisa memetakan orientasi intelektual leluhur dahulu. Benar kata nak lingsir; sekonden melajah ke sisi, telahang malu enjek natahe jumah.

Saya terlalu banyak belajar di luar, sekarang ingin ke dalam agar tak menjadi bagian pewaris ketakutan itu. Yang sudah ‘terperangkap’ di dalam, sesekali perlu keluar untuk memperluas pandangan ketika akan masuk lagi ke dalam. [T]

Jero Munggu Tegalcangkring Jembrana

15/11/2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poems by Devy Gita || Can We Close A Closed Door?

Next Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

"Gamers", Idaman Kaum Milineal...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co