28 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 12, 2020
in Esai
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

AWALNYA saya hanya mendengar cerita orang tua jika ‘leluhur’ dahulu seorang pembaca dan penulis yang suntuk. Penilaian ini sangat sederhana. Puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas masih banyak tersimpan, meskipun beberapa sudah hancur—alias dekdek.

Dua kotak besar hanya nongol saat hari Saraswati saja—itupun tak lebih dari satu jam. Setelah dua ikat dupa habis terbakar, stok mantra sudah habis diucapkan, kotak kayu megah itu ditutup rapat-rapat. Tikus pun dilarang masuk!

Bukan Bali namanya jika tidak ada “bumbu mistik” di dalamnya. Cerita serem lebih sering saya dengar daripada tentang “isi” dari koleksi peradaban intelektual dan kebathinan Bali ini. Karena terlalu banyak cerita serem, akhirnya “sari” pemikiran warisan leluhur tak pernah dirasakan. Jangankan dirasakan, dibaca pun tidak. Jangankan dibaca dilihat pun tidak. Begitulah.

Biasanya, kita hanya mewarisi “ketakutan” yang tidak jelas asal usulnya. Kecuali dari cerita serem yang awet dari generasi ke generasi. Warisan ketakutan ini nyata di dalam diri generasi Bali—bahkan telah menubuh. Jadi yang menubuh bukan “ilmu” warisan leluhur, tetapi ketakutan. Singkatnya: menubuhkan ketakutan!

Padahal tidak banyak yang sadar bahwa warisan ketakutan ini hanyalah bentuk lain dari upaya merawat “kebutaan” ilmu. Ini tidak terjadi di satu tempat, tapi juga ditempat yang lain. Pertanyaannya, siapa biang kerok dari warisan ketakutan ini? Sabar, nanti akan terjawab.

Mungkin benar, ilmu dan pengetahuan itu berbahaya. Apalagi yang berhubungan dengan pengetahuan agama, pesan moral dan ketuhanan di dalamnya. Banyak fakta seseorang yang membaca tak lebih  dari satu kitab suci—terlebih hanya beberapa kutipan wacana—sudah berlagak seperti orang yang paling suci—lalu wara wiri jadi hakim moral. Merasa paling benar dan paling tahu Tuhan. Jika diuji isi kepalanya, ia pasti bilang: kembali ke kitab! Model begini banyak terlihat sekarang. Para “moralis” karbitan. Cepat matang, cepat pula busuknya.

Tapi ada juga sisi lain: bahwa pengetahuan selalu berhubungan dengan kekuasaan. Siapa yang menguasai pengetahuan dan isi lontar saat itu, ia yang menguasai dunia. Tak dipungkiri ada monopoli pengetahuan saat itu. Monopoli inilah kelak melahirkan “sistem” yang memproduksi sejarah ketakutan. 

Saya sering mendengar cerita orang tua, jika seseorang enggan jika lontar miliknya dibaca orang lain. Karena isi lontar digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya saja disalin dengan mengubah isinya, lalu memberi intensi pada dirinya sendiri. Apalagi lontar yang berhubungan dengan babad dan pemancangah.

Selain itu, ada kebiasaanya buruk: lontar dipinjam lalu tak kembali. Padahal isi lontar itu adalah sejarah keluarga si pemilik lontar. Karena dipinjam orang lain, akhirnya itu seolah menjadi sejarah keluarga si peminjam.

Saya sering dengar cerita bahwa satu keluarga berdebat panas soal jati dirinya: yang satu mengaku warih ini, yang satunya lagi mengaku warih itu berdasarkan koleksi lontar miliknya yang selama ini dikeramatkan. Padahal mereka tak tahu jika lontar itu “pinjaman” yang tak kembali. Bayangkan, kasus pinjam meminjam lontar di masa lalu berbuah persoalan yang rumit soal warih di masa depan.

Tak salah jika seorang peneliti asing menyebut bahwa tiga air paling sakral di Bali: air suci atau tirtha, air subak untuk pengairan sawah, dan air “mani” atau warih. Ketiga air ini bisa menjadi sumber konflik, tak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa depan. 

Ada juga fakta lain: pengkeramatan pengetahuan juga dipengaruhi oleh mistifikasi dalam kebudayaan Bali. Memang banyak terdapat pengetahuan tradisional untuk kesaktian, kawisesan. Orang Bali menyebutnya lontar pangiwa. Pokoknya yang berbau ‘kiwa” selalu dicurigai. Saya nggak paham asal usul “kecurigaan’ ini, apakah warisan dari tragedi pasca 65? Tidak juga. Sebelum itu stigma “kiwa” ini sudah negatif. Ini bisa dilacak dari cerita Calonarang.

Meskipun stigma “kiwa” ini negatif, tetapi kegandrungan orang Bali dengan pengetahuan yang dikategorikan “kiwa” ini malah besar. Orang lebih bangga disebut sebagai ahli “kiwa” daripada ahli “tengen”. Salah satu kampus Hindu di Bali pernah menggelar seminar pengliakan, ternyata pesertanya berjejal.

Mereka sangat antusias. Bahkan lontar-lontar berbau pengiwa diburu. Pentas Calonarang juga selalu menjadi ikon dalam pementasan seni tradisional Bali. Satu lagi: buku berbau leyak, kiwa, apalagi tantra selalu laris dipasaran. Ini fakta lain, memang.

Kembali soal ketakutan itu, bisa jadi pengetahuan yang dianggap berbau “kiwa” ini dilarang untuk dibaca karena persoalan konflik keluarga. Mereka khawatir, jika keluarga yang jadi musuhnya membaca ilmu “kiwa” ini akan berdampak pada dirinya. Lebih baik pengetahuan pengiwa ini tidak dibaca oleh siapapun. Lontar-lontar yang judulnya pengiwa pun dikeramatkan saja, bila perlu dibakar. Ketakutan ini turut menyebabkan upaya mistifikasi pengetahuan tradisional Bali.

Apakah ketakutan ini ikut saya warisi? Semoga tidak. Toh akhirnya, saya bisa mengakses puluhan cakep lontar dan buku-buku lawas milik leluhur dahulu. Setelah saya buka, ternyata isinya sangat luar biasa. Bikin saya tersenyum tipis.  

Saya menemukan buku-buku lama di sana yang justru sedang saya cari: misalnya saja Glosarium Kawi-Balineesch-Nederlandsch oleh Dr. H.H Juynboll yang diterbitkan pada tahun 1902. Ada juga buku Wetboek Agama: Hoog-Balisch En Maleisch Vertaald. Karya-karya cendekiawan Hindu yang diterbitkan tahun 1950-an juga tersimpan, saat dimana upaya reformasi Hindu Bali dilakukan untuk pengakuan Negara. Seperti misalnya buku Darma Sastra Agama Hindu Bali oleh I Gusti Ananda Kusuma.

Dalam buku ini, Ananda Kusuma mempertegas bahwa kitab yang digunakan rujukan yakni Dwijendra, Tegesing Agama, Tegesing Sastra, Eka Pratama, Kandapat, Tirtha dan lain sebagainya. Ada juga Sedjarah Agama Hindu yang ditulis secara kolaboratif oleh cendekiawan India dan Bali yakni Narendra Dev Pandit Sastri dan I Gusti Made Tamba yang terbit tahun 1955. Pada tahun itu, buku ini dijual seharga Rp. 3.50.

Tidak hanya itu, ternyata ada beberapa buku terjemahan cendekiawan Bali I Gusti Bagus Sugriwa, seperti misalnya Babad Pasek, Pelajaran Kidung-Kakawin jilid satu dan dua yang isinya kutipan beberapa teks seperti Arjuna Wiwaha, Bhargawa Ciksa, dan Ramayana. Buku ini dibuat sangat sederhana, berisi aksara Bali, terjemahan Jawa Kuna dan Basaha Indonesia. Ada juga Sanghyang Kamahayanikan.

Selain itu, dikoleksi juga buku Sarwa Sastra; kitab pelajaran Bahasa Jawa Kuna jilid satu dan dua yang disiapkan oleh Ki Hadiwidjana R.D.S. Ada juga Kuntji Wariga yang disusun I Kt Bangbang Gde Rawi yang terbit tahun 1967. Ada banyak lagi buku berbahasa Belanda, termasuk empat puluhan cakep lontar, dan sisa-sisa lontar yang hancur. Termasuk Tika baik dalam bentuk kayu dan ditulis di atas kain putih sepanjang dua meter.  

Di depan orang tua dan kakek, saya jelaskan buku-buku dan puluhan cakep lontar yang ada di rumah. Meskipun hanya judul-judulnya saja. Untuk mengerjakan semua, saya perlu waktu dan mengundang ahlinya-ahli. Meskipun hanya paham sedikit, saya bisa memetakan orientasi intelektual leluhur dahulu. Benar kata nak lingsir; sekonden melajah ke sisi, telahang malu enjek natahe jumah.

Saya terlalu banyak belajar di luar, sekarang ingin ke dalam agar tak menjadi bagian pewaris ketakutan itu. Yang sudah ‘terperangkap’ di dalam, sesekali perlu keluar untuk memperluas pandangan ketika akan masuk lagi ke dalam. [T]

Jero Munggu Tegalcangkring Jembrana

15/11/2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poems by Devy Gita || Can We Close A Closed Door?

Next Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails
Next Post
“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

"Gamers", Idaman Kaum Milineal...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co