3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi, Buku Cerpen, dan Kemungkinan-kemungkinan Lain – [Catatan dari Siar Siur Kalangan]

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
December 9, 2020
in Ulasan
Buku Puisi, Buku Cerpen, dan Kemungkinan-kemungkinan Lain – [Catatan dari Siar Siur Kalangan]

Pembicara dalam acara bedah buku di Warung Men Brayut Denpasar

Sabtu, 5 Desember 2020, merupakan hari berbahagia bagi Agus Wiratama, Devy Gita, Manik Sukadana, dan Jong Santiasa Putra. Pasalnya hari itu, buku pertama mereka diluncurkan. Agus dan Devy dengan buku kumpulan cerpennya, serta Manik dan Jong dengan buku kumpulan puisinya.

Malam itu pula ada acara diskusi dan bedah buku mereka, para pembedahnya ada Dharma Putra seorang pegiat lontar, Satyawati seorang penulis juga mahasiswa linguistik serta dimoderatori oleh Sidhiy seorang kurator dan penulis.

Menerbitkan karya sendiri ke dalam sebuah buku tentu menjadi impian bagi setiap penulis. Tulisan menjadi lebih tertata dengan dijadikannya sebuah buku. Terkadang kita sering membuat catatan atau tulisan lainnya, tetapi tercecer di mana-mana. Maka dengan dijadikannya sebuah buku, ceceran-ceceran itu lebih tersusun.

Suasana bedah buku dalam acara Siar Siur Kalangan di Warung Men Brayut Denpasar

Buku juga menjadi catatan perjalanan kepenulisan atau barangkali menjadi sebuah arsip bagi penulisnya. Entah itu arsip bagi dirinya atau orang lain, karena dengan buku setidaknya kita telah mencatat sebuah peristiwa, ide atau gagasan. Dengan begitu penulis atau peristiwa itu akan hidup lebih lama dalam benak para pembacanya. Misal kita ambil saja contoh seperti Pramudya Ananta Toer yang sampai saat ini namanya bahkan masih didengungkan melalui karya-karyanya. Atau contoh lainnya seperti Vitruvius seorang penulis dan arsitek Romawi yang berasal dari abad ke-1 SM yang tulisan-tulisannya sangat berpengaruh di dunia arsitektur.

Bayangkan saja seseorang masih diingat dan dikenang meski sudah dua ribu tahun lebih berlalu pasca kematiannya. Tulisan juga bisa menjadi penentu ke mana arah dunia ini akan melaju. Itu adalah salah satu contoh dari manfaat menulis, tetapi yang lebih penting itu adalah bagi si penulis. Bagaimana ia mengolah isi pikirannya ke dalam sebuah tulisan. Dan bagaimana ia melihat sekitarnya lalu menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Seiring berjalannya waktu tulisan akan terus berkembang juga seiring dengan bagaimana seorang penulis melihat sekitarnya dengan cara yang berkembang juga. Jadi menulis bukan hanya menggaris tinta di atas kertas atau memencet huruf di keyboard. Tetapi juga bagaimana seorang penulis mengolah buah pikirannya dan diceritakannya melalui huruf.

Maka dari itu proses kepenulisan seseorang sangat menarik untuk diulik. Bagaimana ia memandang, mengolahnya, lalu kemudian menjadikannhya sebuah tulisan. Semua itu menarik untuk disimak dan membuat pembaca juga bisa mengulik tidak hanya tentang karyanya tetapi juga penulisnya.

Dari karya pun kita bisa membaca bagaimana karakter penulis, bagaimana tendensinya dalam menulis, dan apa saja yang mempengaruhi tulisannya. Seperti cerpen Devy yang banyak menyeruakan kegelisahan bagaimana orang-orang memandang perempuan dan posisi perempuan di masyarakat.

Jong dengan catatan lukanya, sebagai pengingat bahwa luka itu pernah singgah dan menetap di tubuhnya. Manik dengan segala harapan serta angan-angan dan dokumentasi perasaannya saat menulis puisi. Serta Agus akan kegelisahannya yang dituangkan dalam cerpennya, serta bagaimana cerpen menjadi media belajar untuk proses kepenulisannya.

Manik Sukadana, oenulis yang bukunya dibedah dalam acara Siar Siur Kalangan

Saat ini Agus, Devy, Manik, dan Jong telah membuat sebuah langkah dari perjalanannya. Mengarsipkan perjalanan kepenulisannya serta membagikan apa yang selama ini dipikirkan, membagikan semua kegelisahannya. Karena saya yakin sebuah tulisan hadir untuk mengutarakan apa yang tak bisa disampaikan secara langsung oleh penulis.

Sama seperti pendapat Dharma Putra mengenai puisi Manik dan Jong. Ia berpendapat apa yang mereka sampaikan di puisi itu terasa sangat berjarak dengan penyairnya. Seakan-akan ia seperti diri penyair yang lain, diri yang berbeda dengan apa yang kita lihat ketika memandang mereka. Memang pada suatu titik kita tidak tahu mau dibawa ke mana apa yang kita rasakan atau dengan siapa mau diungkapkan. Maka menulis menjadi jalan keluar bagi hati-hati yang gelisah, menjadi media untuk mengungkapkan apa yang tak bisa diungkapkan. Jadi jangan heran jika terkadang tulisan memiliki image yang berbeda dengan penulisnya. Kertas menjadi ruang privat untuk penulis, tempat dia menorehkan setiap angka dan huruf, mengkurasinya dan membentuk sebuah pengarsipan gagasan. Bagaimana ia memandang ruang privat tersebut menjadi sebuah arena bermain atau arena peperangan dalam mengalih wahanakan gagasan dalam sebuah karya.

Selain itu dalam acara diskusi malam itu juga merupakan pembukaan dari program Siar Siur Kalangan. Sebuah program di mana karya-karya Agus, Devy, Manik, dan Jong dibaca, direspon, dan dialih wahanakan dalam sebuah medium lain. Bisa berupa pembacaan, respon atau menjadi lagu dan musik. Dalam program ini selain mengalih wahanakan juga menjadi alternatif bagi para pendengar dalam menyerap atau mendengarkan karya sastra.

Selain itu dalam program ini juga dapat mempertemukan dua titik. Di mana mempertemukan bagaimana musisi dan penulis dalam melihat karya sastra. Bagaimana musisi membaca sebuah cerpen atau puisi lalu memindahkannya ke medium bunyi. Tentu saja kesejarahan tubuh seorang musisi dan jenis musik yang digelutinya akan menciptakan hasil yang berbeda. Menjadikan respon mereka terhadap karya cerpen dan puisi menjadi beragam dengan taste dan melodi musiknya berbeda pula.

Hasil ciptaan musisi akan respon mereka terhadap cerpen dan puisi tersebut akan memberikan warna baru atau mungkin pemaknaan lain. Musik juga meenghadirkan pemaknaan yang berbeda, bagaimana sebuah melodi menghasilkan perasaan tertentu. Apakah respon tersebut akan memperkuat makna dari karya sastra atau malah memberikan pemaknaan yang berbeda. Tetapi terlepas dari perdebatan antara memperkuat atau menghadirkan makna lainnya, dengan mengalih wahanakan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan baru. Misalnya saja dalam efisiensi waktu dalam membaca karya sastra. Dalam kecepatan dunia sekarang, terkadang banyak orang memilih sesuatu yang instan.

Mengalih wahanakan karya ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang tak sempat untuk membaca. Atau saat bersamaan ketika mendengarkan bisa juga melakukan aktivitas lainnya. Misal mengerjakan tugas atau kerjaan lainnya. Itu adalah salah satu contoh bagaimana keuntungan dari pengalih wahanaan karya sastra tersebut. Tetapi yang jelas dengan adanya pengalih wahanaan ini membuat penyebaran karya sastra bisa lebih luas. Bisa memiliki kemungkinan-kemungkinan baru, entah adanya jalinan kolaborasi lebih lanjut antara penulis dengan musisi atau kemungkinan lainnya.

Kehangatan terasa menyambar seluruh sisi Warung Men Brayut yang menjadi tempat acara bedah dan perilisan buku empat penulis…

Pengalih wahanaan karya sastra ini ke medium lain juga menurut saya menjadi cara pengarsipan yang lain. Tidak hanya buku tetapi juga menjadi sebuah musik yang bisa didengar kapanpun dan di manapun. Tentu kita bisa menikmati sebuah karya lebih praktis dengan hanya memutarnya dalam kanal youtube di layar gawai. Jika suatu ketika lupa membawa bukunya atau ingin mengingat kembali apa yang pernah dibaca, dalam hal ini menjadi pemantik dalam mengingat kembali memori yang lalu. Memori akan buku yang telah usai dibaca.

Tetapi dari sekian banyaknya kemungkinan yang hadir, acara bedah buku serta respon cerpen dan puisi ini menjadi sebuah ruang pertemuan. Di mana penulis, musisi, dan sahabat bertemu kembali. Berincang-bincang setelah sekian lama tak melihat wajah satu sama lain. Berbincang akan rencana-rencana masa depan serta karya yang baru saja dibaptis pada malam itu.

Kehangatan terasa menyambar seluruh sisi Warung Men Brayut yang menjadi tempat acara bedah dan perilisan buku tersebut. Membawa serta merta percakapan yang telah lama tertunda serta rindu untuk saling bertemu yang telah mengendap dalam setiap jengkal tubuh. Buku tidak hanya menjadi pengarsipan akan sebuah gagasan pikiran atau dokumentasi hidup seseorang. Juga tidak hanya menjadi sebuah pertemuan bagaimana pandangan seorang musisi dan penulis dalam memandang karya sastra. Tetapi juga menjadi alasan untuk berkumpul kembali, berincang kembali. Melebur rindu dalam setiap halaman waktu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut

Next Post

Bergerilya di Bangli

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Bergerilya di Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co