23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi, Buku Cerpen, dan Kemungkinan-kemungkinan Lain – [Catatan dari Siar Siur Kalangan]

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
December 9, 2020
in Ulasan
Buku Puisi, Buku Cerpen, dan Kemungkinan-kemungkinan Lain – [Catatan dari Siar Siur Kalangan]

Pembicara dalam acara bedah buku di Warung Men Brayut Denpasar

Sabtu, 5 Desember 2020, merupakan hari berbahagia bagi Agus Wiratama, Devy Gita, Manik Sukadana, dan Jong Santiasa Putra. Pasalnya hari itu, buku pertama mereka diluncurkan. Agus dan Devy dengan buku kumpulan cerpennya, serta Manik dan Jong dengan buku kumpulan puisinya.

Malam itu pula ada acara diskusi dan bedah buku mereka, para pembedahnya ada Dharma Putra seorang pegiat lontar, Satyawati seorang penulis juga mahasiswa linguistik serta dimoderatori oleh Sidhiy seorang kurator dan penulis.

Menerbitkan karya sendiri ke dalam sebuah buku tentu menjadi impian bagi setiap penulis. Tulisan menjadi lebih tertata dengan dijadikannya sebuah buku. Terkadang kita sering membuat catatan atau tulisan lainnya, tetapi tercecer di mana-mana. Maka dengan dijadikannya sebuah buku, ceceran-ceceran itu lebih tersusun.

Suasana bedah buku dalam acara Siar Siur Kalangan di Warung Men Brayut Denpasar

Buku juga menjadi catatan perjalanan kepenulisan atau barangkali menjadi sebuah arsip bagi penulisnya. Entah itu arsip bagi dirinya atau orang lain, karena dengan buku setidaknya kita telah mencatat sebuah peristiwa, ide atau gagasan. Dengan begitu penulis atau peristiwa itu akan hidup lebih lama dalam benak para pembacanya. Misal kita ambil saja contoh seperti Pramudya Ananta Toer yang sampai saat ini namanya bahkan masih didengungkan melalui karya-karyanya. Atau contoh lainnya seperti Vitruvius seorang penulis dan arsitek Romawi yang berasal dari abad ke-1 SM yang tulisan-tulisannya sangat berpengaruh di dunia arsitektur.

Bayangkan saja seseorang masih diingat dan dikenang meski sudah dua ribu tahun lebih berlalu pasca kematiannya. Tulisan juga bisa menjadi penentu ke mana arah dunia ini akan melaju. Itu adalah salah satu contoh dari manfaat menulis, tetapi yang lebih penting itu adalah bagi si penulis. Bagaimana ia mengolah isi pikirannya ke dalam sebuah tulisan. Dan bagaimana ia melihat sekitarnya lalu menuangkannya ke dalam sebuah tulisan.

Seiring berjalannya waktu tulisan akan terus berkembang juga seiring dengan bagaimana seorang penulis melihat sekitarnya dengan cara yang berkembang juga. Jadi menulis bukan hanya menggaris tinta di atas kertas atau memencet huruf di keyboard. Tetapi juga bagaimana seorang penulis mengolah buah pikirannya dan diceritakannya melalui huruf.

Maka dari itu proses kepenulisan seseorang sangat menarik untuk diulik. Bagaimana ia memandang, mengolahnya, lalu kemudian menjadikannhya sebuah tulisan. Semua itu menarik untuk disimak dan membuat pembaca juga bisa mengulik tidak hanya tentang karyanya tetapi juga penulisnya.

Dari karya pun kita bisa membaca bagaimana karakter penulis, bagaimana tendensinya dalam menulis, dan apa saja yang mempengaruhi tulisannya. Seperti cerpen Devy yang banyak menyeruakan kegelisahan bagaimana orang-orang memandang perempuan dan posisi perempuan di masyarakat.

Jong dengan catatan lukanya, sebagai pengingat bahwa luka itu pernah singgah dan menetap di tubuhnya. Manik dengan segala harapan serta angan-angan dan dokumentasi perasaannya saat menulis puisi. Serta Agus akan kegelisahannya yang dituangkan dalam cerpennya, serta bagaimana cerpen menjadi media belajar untuk proses kepenulisannya.

Manik Sukadana, oenulis yang bukunya dibedah dalam acara Siar Siur Kalangan

Saat ini Agus, Devy, Manik, dan Jong telah membuat sebuah langkah dari perjalanannya. Mengarsipkan perjalanan kepenulisannya serta membagikan apa yang selama ini dipikirkan, membagikan semua kegelisahannya. Karena saya yakin sebuah tulisan hadir untuk mengutarakan apa yang tak bisa disampaikan secara langsung oleh penulis.

Sama seperti pendapat Dharma Putra mengenai puisi Manik dan Jong. Ia berpendapat apa yang mereka sampaikan di puisi itu terasa sangat berjarak dengan penyairnya. Seakan-akan ia seperti diri penyair yang lain, diri yang berbeda dengan apa yang kita lihat ketika memandang mereka. Memang pada suatu titik kita tidak tahu mau dibawa ke mana apa yang kita rasakan atau dengan siapa mau diungkapkan. Maka menulis menjadi jalan keluar bagi hati-hati yang gelisah, menjadi media untuk mengungkapkan apa yang tak bisa diungkapkan. Jadi jangan heran jika terkadang tulisan memiliki image yang berbeda dengan penulisnya. Kertas menjadi ruang privat untuk penulis, tempat dia menorehkan setiap angka dan huruf, mengkurasinya dan membentuk sebuah pengarsipan gagasan. Bagaimana ia memandang ruang privat tersebut menjadi sebuah arena bermain atau arena peperangan dalam mengalih wahanakan gagasan dalam sebuah karya.

Selain itu dalam acara diskusi malam itu juga merupakan pembukaan dari program Siar Siur Kalangan. Sebuah program di mana karya-karya Agus, Devy, Manik, dan Jong dibaca, direspon, dan dialih wahanakan dalam sebuah medium lain. Bisa berupa pembacaan, respon atau menjadi lagu dan musik. Dalam program ini selain mengalih wahanakan juga menjadi alternatif bagi para pendengar dalam menyerap atau mendengarkan karya sastra.

Selain itu dalam program ini juga dapat mempertemukan dua titik. Di mana mempertemukan bagaimana musisi dan penulis dalam melihat karya sastra. Bagaimana musisi membaca sebuah cerpen atau puisi lalu memindahkannya ke medium bunyi. Tentu saja kesejarahan tubuh seorang musisi dan jenis musik yang digelutinya akan menciptakan hasil yang berbeda. Menjadikan respon mereka terhadap karya cerpen dan puisi menjadi beragam dengan taste dan melodi musiknya berbeda pula.

Hasil ciptaan musisi akan respon mereka terhadap cerpen dan puisi tersebut akan memberikan warna baru atau mungkin pemaknaan lain. Musik juga meenghadirkan pemaknaan yang berbeda, bagaimana sebuah melodi menghasilkan perasaan tertentu. Apakah respon tersebut akan memperkuat makna dari karya sastra atau malah memberikan pemaknaan yang berbeda. Tetapi terlepas dari perdebatan antara memperkuat atau menghadirkan makna lainnya, dengan mengalih wahanakan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan baru. Misalnya saja dalam efisiensi waktu dalam membaca karya sastra. Dalam kecepatan dunia sekarang, terkadang banyak orang memilih sesuatu yang instan.

Mengalih wahanakan karya ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang tak sempat untuk membaca. Atau saat bersamaan ketika mendengarkan bisa juga melakukan aktivitas lainnya. Misal mengerjakan tugas atau kerjaan lainnya. Itu adalah salah satu contoh bagaimana keuntungan dari pengalih wahanaan karya sastra tersebut. Tetapi yang jelas dengan adanya pengalih wahanaan ini membuat penyebaran karya sastra bisa lebih luas. Bisa memiliki kemungkinan-kemungkinan baru, entah adanya jalinan kolaborasi lebih lanjut antara penulis dengan musisi atau kemungkinan lainnya.

Kehangatan terasa menyambar seluruh sisi Warung Men Brayut yang menjadi tempat acara bedah dan perilisan buku empat penulis…

Pengalih wahanaan karya sastra ini ke medium lain juga menurut saya menjadi cara pengarsipan yang lain. Tidak hanya buku tetapi juga menjadi sebuah musik yang bisa didengar kapanpun dan di manapun. Tentu kita bisa menikmati sebuah karya lebih praktis dengan hanya memutarnya dalam kanal youtube di layar gawai. Jika suatu ketika lupa membawa bukunya atau ingin mengingat kembali apa yang pernah dibaca, dalam hal ini menjadi pemantik dalam mengingat kembali memori yang lalu. Memori akan buku yang telah usai dibaca.

Tetapi dari sekian banyaknya kemungkinan yang hadir, acara bedah buku serta respon cerpen dan puisi ini menjadi sebuah ruang pertemuan. Di mana penulis, musisi, dan sahabat bertemu kembali. Berincang-bincang setelah sekian lama tak melihat wajah satu sama lain. Berbincang akan rencana-rencana masa depan serta karya yang baru saja dibaptis pada malam itu.

Kehangatan terasa menyambar seluruh sisi Warung Men Brayut yang menjadi tempat acara bedah dan perilisan buku tersebut. Membawa serta merta percakapan yang telah lama tertunda serta rindu untuk saling bertemu yang telah mengendap dalam setiap jengkal tubuh. Buku tidak hanya menjadi pengarsipan akan sebuah gagasan pikiran atau dokumentasi hidup seseorang. Juga tidak hanya menjadi sebuah pertemuan bagaimana pandangan seorang musisi dan penulis dalam memandang karya sastra. Tetapi juga menjadi alasan untuk berkumpul kembali, berincang kembali. Melebur rindu dalam setiap halaman waktu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut

Next Post

Bergerilya di Bangli

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Bergerilya di Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co