2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tugas Kita Menghilangkan “Tenget” di Gedong Kirtya

Putu Mardika by Putu Mardika
September 5, 2020
in Esai
Tugas Kita Menghilangkan “Tenget” di Gedong Kirtya

webinar bertajuk “Koleksi Gedong Kirtya Sebagai Rujukan Para Pemikir Bali dan Dunia” yang digelar Pemkab Buleleng bersama STAHN Mpu Kuturan Singaraja di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis (3/9) sore.

Museum lontar Gedong Kirtya yang terletak di jantung Kota Singaraja bukan hanya sebatas museum lontar satu-satunya di Dunia. Ribuan koleksi lontar yang berusia ratusan tahun tersebut kini kerap menjadi rujukan bagi pemikir Bali dan peneliti dunia dari tahun ke tahun. Bahkan, Gedong Kirtya membantu dalam perumusan Agama Hindu di era kemerdekaan dan awal terbentuknya Parisada. Seperti apa?

Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk “Koleksi Gedong Kirtya Sebagai Rujukan Para Pemikir Bali dan Dunia” yang digelar Pemkab Buleleng bersama STAHN Mpu Kuturan Singaraja di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis (3/9/2020) sore.

Dalam webinar tersebut, menghadirkan sejumlah narasumber. Seperti Filolog sekaligus Peneliti Lontar, Sugi Lanus, Anggota Komisi IV DPRD Bali, Ir. I Gusti Ayu Aries Sujati, Kepala Dinas Kebudayaan, gede Dody Sukma Oktiva Askara, M.Si dan Ketua STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. I Gede Suwindia, S.Ag, M.A.

***

Ada rasa bangga dan haru. Ketika kampus saya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja punya perhatian besar terhadap Gedong Kirtya. Museum yang punya ribuan koleksi lontar berusia ratusan tahun. Yang mendapat julukan “satu-satunya” museum lontar di Dunia. Yang dulunya kerap dianggap “tenget”. Yang saat ini  masih “ditakuti” anak milenial untuk dikunjungi.

Haru itu ketika ditindaklanjuti dengan nota kesepahaman. Antara STAHN Mpu Kuturan dengan Pemkab Buleleng. Ini momentum untuk lebih serius memperhatikan warisan leluhur. Membangunkan kembali kearifan lokal yang diwariskan para leluhur yang sempat mati suri.

Tentu perhatian ini menjadi jalan menebus kesalahan jika pariwisata dan pembukaan jalan di Bali tahun 1920-an telah membuat banyak orang Bali menjual lontar ke para wisatawan ketika itu. Semoga kenangan pahit ini tak kembali terjadi di era sekarang.

Sebelumnya, beberapa kali saya sempat masuk Gedong Kirtya. Saat mahasiswa. Sekitar 2008 silam. Itupun karena tugas kampus. Saya harus mencari lontar yang berkaitan dengan Tattwa. Itupun sudah setengah mati membaca lontarnya. Malah tak sampai tuntas.

Malah saya paling greget cari Lontar Pengayam-Ayam. Lontar ini paling populer dan disebut-sebut sebagai “kitab sucinya” para bebotoh di arena Tajen. Saya penasaran. Rupanya, lontar ini memang tak sesederhana yang saya bayangkan. Tak sesederhana orang-orang menyebutnya.

Saking penasarannya, setelah dilihat sepintas, dalam lontar Pengayam-Ayam ini memang ada petunjuk mengadu ayam pada hari-hari tertentu yang berpedoman pada wuku, saptawara, dan pancawara secara terpadu. Jika patokan ini diikuti, konon ayam akan berjaya mencapai kemenangan.

Misalnya Soma (Senin) Klwon ayam yang Berjaya adalah klawu, ijo dan brumbun. Dan ayam yang kalah adalah serawah, polos, sekuning mata putih, buik, wangkas, biying kuping putih. Hal itu harus dikaitkan dengan keberangkatan. Yakni ke selatan, atau ke timur dan ayam yang harus dilepas dari utara. Jika ke tajen, warna pakaian pun perlu diatur, agar peluang menang lebih besar. Nah, ruwet kan. Tak usah dilanjutkan. hanya sekedar contoh saja.

Kemudian, ketika berprofesi sebagai wartawan, tempat yang pertama saya liput adalah Gedong Kirtya. Kala itu, saya mendapat penjelasan beragam jenis lontar dari penjaga Gedong Kirtya. Ada sekitar 1.808 cakep lontar. Diklasifikasikan menjadi beberapa jenis seperti Weda, Agama, Wariga, Itihasa, Tantri, Usada, Lelampahan hingga babad.

Ada pula buku-buku tua yang berusia ratusan tahun di museum ini. Sudah keropos termakan usia. Tahun 2018 silam, ketika Gede Komang menjadi Kepala Dinas Kebudayaan buku tua ini sempat diajukan proposal agar mendapat anggaran untuk direstorasi oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Yang biayanya bisa menghabiskan Rp 25 juta per buku. Namun sampai saat ini belum jelas, sudah berapa buku yang diestorasi.

Jika dilihat dari daftar pengunjung, Gedong Kirtya memang tak setenar destinasi wisata yang “instagramable” di kalangan anak muda. Wajar saja, terkesan tak ramah bagi anak-anak milenial. Terlalu kuno bahkan “tenget”.

Pengunjung lokal hanya bisa dihitung dengan jari. Jika itu anak muda yang sedang kuliah, sudah pasti datang karena tugas kampus. Ya seperti saya ini dulu ketika kuliah, yang jika tidak ada tugas, mungkin saja tidak tahu ada apa saja di Gedong Kirtya. Memang tak patut ditiru.

Saya sempat telisik daftar pengunjungnya. Yang bikin kaget, setiap hari selalu saja ada turis berkunjung ke Gedong Kirtya. Tujuannya beragam. Ada yang untuk sekedar bewisata sembari foto-foto koleksi lontar, ada yang mencari lontar jenis tertentu untuk kajian dan penelitian, hingga mencari refrensi.

Sebelum pageblug Virus Corona mewabah, setiap ada kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Celukan Bawang, Gerokgak, para turis menjadikan Museum Gedong Kirtya sebagai city tour Kota Singaraja. Dalam sehari, sampai ada lima bus yang mengantar turis secara bertahap masuk ke museum Gedong kirtya.

Tak pelak muncul lelucon. Gedong Kirtya itu sangat jauh. Jauh bagi orang-orang lokal. Namun dekat bagi turis manca negara. Lelucon itu ada benarnya. Soalnya, turis dari manca negara utamanya dari Belanda lebih dulu menginjakkan kakinya lokasi Gedong Kirtya.

Mereka lebih dulu tahu isinya. Tahu koleksinya. Dipelajari, dikaji, dibukukan, dieksplorasi. Bahkan bisa meraih gelar Professor gara-gara koleksi lontar di Gedong Kirtya. Ironis memang. Seolah orang Belanda sedang mencari “kawitannya” ke Gedong Kirtya. Tak salah, Gedong Kirtya menjadi rujukan peneliti dunia. Bahkan, berbagai disertasi di Leiden tentang Bali, tidak satupun yang tidak merujuk koleksi Gedong Kirtya.

Dari penjelasan Filolog sekaligus peneliti lontar, Guru Sugi Lanus, di sela-sela webinar setelah penandatanganan MoU baru saya mendapat pencerahan. Jika koleksi lontar Gedong Kirtya menjadi rujukan penyusunan dan pedoman Parisada dan para pemuka agama atau sulinggih untuk menyusun buku-buku pengajaran dan penyuluhan Agama Hindu dari sebelum kemerdekaan dan sampai kini.

Koleksi Kirtya menjadi sumber-sumber mempelajari pemikiran filsafat, etika, sejarah kerajaan, teologi, sastra dan lingustik bagi para peneliti dunia dan masyarakat Bali. Dari sebelum kemerdekaan dan sampai kini. Ini luar biasa.

Sugi Lanus juga menceritakan, ketika rombongan Rabindranath Tagore datang ke Bali tahun 1927, ikut salah seorang ahli Sanskrit terbaik di India ketika itu bernama Suniti Kumar Chatterji mengunjungi Kirtya dan menulis laporan panjang dimuat di koran berbahasa Bengali secara bersambung.

Tahun 1930 ia berpidato di depan Asiatic Society, sebuah forum intellectual di India, menyatakan bahwa seluruh institusi di India yang mempelajari sejarah India atau Indologist harus bekerjasama dengan Kirtya. Pidato ini sangat berpengaruh pada masyarakat India yang ingin mengenal peradaban Hindu Kuno yang masih murni terwariskan di Bali. Di India sendiri telah punah atau jarang bisa ditemui berbagai text dan mantra-mantra yang sebagian ada di Kirtya.

Kembali ke MoU. Saya banyak berharap kerjasama ini menjadi awal eksplorasi isi Gedong Kirtya untuk dikaji dan sebarluaskan kepada masyarakat luas dengan cara kekinian. Kearifan lokal para leluhur yang tak ternilai dan sarat akan pengetahuan bisa menjadi “lentera” penerang.

Gedong Kirtya tak perlu lagi dianggap tenget. Di sinilah peran semua pihak. Termasuk STAHN Mpu Kuturan Singaraja dan Pemerintah. Lembaga ini bertanggung jawab menjadikan Gedong Kirtya sebagai pusat penelitian dan pengkajian lontar agar kian ramah milenial.

Saya membayangkan, suatu saat generasi muda mulai sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi akan terbiasa berduyun-duyun keluar masuk Gedong Kirtya. Mereka mengantre datang untuk mencari beragam jenis ilmu dari ribuan jenis lontar sesuai bidang pendidikan.

Yang kuliah kedokteran, bisa mempelajari lontar usadha Bali seperti Taru Pramana yang sudah terbukti berkhasiat untuk menyembuhkan beragam penyakit. Yang kuliah Arsitektur bisa mengkaji lontar tentang asta kosal-kosali. Yang kuliah astronomi bisa mengkaji lontar yang berkaitan dengan perbintangan maupun wariga.

Mahasiswa yang kuliah Hukum Hindu, Teologi Hindu, Filsafat Hindu, pendidikan Agama Hindu bisa mengkaji beragam lontar tattwa, weda dan agama. Jika kesulitan, mereka bisa saja bertanya kepada pemandu yang lihai membaca lontar-lontar untuk diterjemahkan, dan dikaitkan dengan ilmu masa kini.

Masyarakat dan Pemerintah Buleleng sudah sepantasnya bangga dengan keberadaan Gedong Kirtya. Pemerintah dan swasta juga bisa menganggarkan dana untuk memberikan hibah penelitian kepada akademisi di Bali agar mengkaji dan mempublikasikan isi lontar di Gedong Kirtya, sehingga mendatangkan manfaat kepada masyarakat dari berbagai bidang keilmuan. Astungkara.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Belajar ke India Sebelum ke Gedong Kirtya Buleleng

Next Post

Ngempu Cucu di Masa Pandemi: Sang Kakek Sampai Beli Wayang dan Pengeras Suara

Putu Mardika

Putu Mardika

Wartawan muda, pengajar muda. Punya keinginan besar untuk belajar apa saja, terutama dalam hal tulis-menulis . Tinggal di Singaraja.

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Ngempu Cucu di Masa Pandemi: Sang Kakek Sampai Beli Wayang dan Pengeras Suara

Ngempu Cucu di Masa Pandemi: Sang Kakek Sampai Beli Wayang dan Pengeras Suara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co