4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tuhan Berumur Panjang Karena Kita Lucu

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
September 4, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Kalimat di atas saya ambil dari judul novel karya Nanoq da Kansas, “Plitik”. Bukan karena saya ingin mengupas arti dan maknanya, tapi entah kenapa ketika membaca kalimat itu saya luar biasa tertawa terbahak-bahak dan bahagia. Begitulah bagaimana kelucuan bisa tiba-tiba mengubah mood dan emosi kita.

Kali ini saya ingin menulis soal humor dan kaitannya dengan kesehatan mental. Sejak dulu kala, semua orang paham bahwa dengan kita melucu dan tertawa bersama bisa mengubah keadaan kesehatan mental seseorang. Sejak dulu kala juga orang berkumpul melakukan yoga tertawa atau yoga gembira semata-mata sebagai usaha untuk memperbaiki mood dan emosi kita.

Sama seperti apa yang saya tonton di film favorit saya dulu Patch Adams kisah tentang bagaimana Hunter Adam, seorang dokter yan memiliki minat pada isu kesehatan mental membuat sebuah gerakan dengan menghadirkan badut-badut di rumah sakit terutama di bagian penanganan kanker anak. Ia tidak hanya menjadi dokter tapi juga menjadi badut dalam arti sebenarnya, menghibur anak-anak di bangsal perawatan kanker. Hal itu menarik, bagaimana kegembiraan bisa menjadi sebuah obat.

Sense of humor atau perasaan dan sensitivitas kita terhadap suatu hal yang lucu bisa menandakan taraf kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang bisa dengan sensitif memahami sebuah kelucuan dari suatu peristiwa biasanya mempunyai kepribadian yang lebih terbuka dan lebih mampu untuk menghadapi stres yang datang pada dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang kehilangan sense of humour misalnya yang terjadi pada orang-orang yang mengalami depresi, menjadi kehilangan minat dan kegembiraan. Sesuatu yang sebelumnya bisa kita anggap lucu dan membuat kita tertawa  terbahak-bahak bersama, ketika kita mengalami depresi entah kemana sense of humour itu pergi.

Tentu Anda sudah cukup sering mendengar bahwa dengan tertawa bisa meningkatkan endorfin kita dan membantu mengoptimalisasikan fungsi serotonin dalam otak dan juga oksitosin kita. Tertawa terbahak-bahak juga membuat kita bernapas lebih dalam dan itu sangat baik untuk peredaran oksigenisasi di dalam otak kita.

Saya tidak membahas lebih banyak soal itu. Saya ingin melihatnya dari sudut psikologi. Banyak yang tidak tahu bahwa sebetulnya humor adalah salah satu dari enam mekanisme pertahanan diri kita yang tergolong mature atau matang. Ketika kita menghadapi masalah atau stres sebenarnya tingkat kesehatan mental kita tidak hanya dipengaruhi dari besar stres yang kita hadapi tetapi tergantung dari respon kita menghadapi stres tersebut.

Seringkali ketika menghadapi stress kita menyalahkan orang lain. Itu dinamakan proyeksi. Seringkali juga kita tidak mengakui bahwa hal itu adalah sebuah masalah, atau dinamakan denial.  Itulah contoh-contoh mekanisme atau respon diri yang kurang baik dan bisa membawa kita mengalami gangguan jiwa. Dan, humor menjadi salah satu dari enam mekanisme pertahanan diri yang matang.

Namun, perlu diketahui humor disini maksudnya adalah kemampuan kita secara sadar untuk mentertawai kesulitan-kesulitan kehidupan yang kita alami. Ada sebuah penelitian yang membandingkan tipe humor yang berseberangan. Yang pertama adalah Affiliative Humor atau humor yang kita bagi bersama tentang keadaan diri, menertawakan kesulitan yang ada dalam diri kita. Yang kedua adalah Aggressive Humor atau menertawakan kehidupan dan kesulitan orang lain, mencerca kehidupan orang lain sehingga menjadi lucu.

Ternyata yang berefek baik dan membantu pemulihan gangguan depresi selain dengan obat, artinya melengkapi pengobatan dan psikoterapi adalah Affiliative Humor atau menertewakan kehidupan diri kita sendiri. Kelihatannya tidak masuk akal, tetapi cobalah, seringkali kita juga pernah menggunakan hal ini. Saya teringat ketika suatu waktu berjalan dengan pasangan di saat hujan dan di jalan terdapat kubangan. Lalu sebuah mobil ngebut melintas, mencipratkan air kubangan itu ke badan kami. Bisa saja kami marah, tapi orangnya sudah pergi. Atau kami mengamuk tapi dia tidak bisa mendengar. Kami akhirnya tertawa, menertawai diri masing-masing, betapa lucu dan romantisnya hal-hal semacam itu.

Kita ingat ada komik kartun yang ada ketika saya kecil  dan menjadi favorit, yakni Donald Duck. Tokoh kartun itu sebenarnya mengajarkan kita bagaimana menertawai kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam hidup. Donald Duck digambarkan sebagai orang yang paling sial dan itu menghibur banyak orang. Sebenarnya bakat-bakat itu sudah ada dalam diri kita. Jadi penting sekali mengembangkan kemampuan untuk bisa menertawai diri kita, melihat momen-momen buruk dalam diri kita menjadi sebuah hal yang lucu dan itu masuk akal untuk dilakukan.

Saya mempunyai pengalaman ketika berkumpul bersama teman-teman yang mengalami gangguan panik ataupun psikosomatis. Saat itu saya membimbing delapan hingga sembilan orang yang mengalami gangguan panik dalam sebuah grup terapi. Kami mengadakan challenge, menuliskan berapa kali jumlah masing-masing orang pernah datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena “alarm palsu”, merasa takut mati atau takut sakit berat oleh karena serangan panik. Masing-masing peserta menuliskan hal itu. Ada yang 4 kali, ada yang 6 kali, dan terakhir ada menuliskan selama 17 kali dan kami tertawa bersama-sama saat mengetahui hal tersebut.

Termasuk orang yang membagi pengalaman bahwa dirinya pernah 17 kali datang ke UGD bahkan memaksa untuk dirawat di Intensive Care Unit (ICU), padahal tidak mengalami gangguan fisik apapun. Apa yang dialaminya bukanlah pura-pura, itu terjadi secara nyata karena serangan panik.

Momen yang saat itu sangat menyedihkan dan menegangkan bagi dirinya namun ia bisa membagi cerita itu dengan tertawa. Peserta lain ikut merasakan kelucuan dan kebahagiaannya. Hal tersebut sangat membantu pemulihan, melengkapi pengobatan dan psikoterapi mereka.

Pesan saya, marilah kita berlatih melihat setiap sisi kelucuan dari kehidupan dengan tertawa. Kita berhak untuk tertawa, tetapi saya tidak mengakhiri artikel ini dengan ikon Warkop DKI “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” tapi dengan kalimat “Sebaiknya kita mulai belajar tertawa sebelum nanti kita tertawa-tawa sendiri”.  Semoga kita semua selalu dalam keadaan mantap jiwa dan raga menghadapi semua kesulitan hidup dengan sesekali menertawainya. Salam mantap jiwa. 

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan Menuju “Ubud Royal Weekend” 5 September 2020

Next Post

“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan

“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co