2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tai dan Spiritual

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 28, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Saya tidak bermaksud untuk memasangkan kedua kata itu sebagai kawan, atau pun mempertentangkannya sebagai lawan. Keduanya berdiri sendiri, tapi berhubungan dengan sangat halus. Yang satunya mewakili kekotoran, kejijikan, ketidaksucian. Sedangkan yang satunya, mewakili hal-hal sebaliknya: kebersihan, kesucian, kekaguman. Keduanya seperti magnit. Dua sisi berbeda yang saling tarik-menarik dan melekat jika bertemu atau dipertemukan.

Ada banyak warisan cerita yang isinya berkisar seputar tai. Dalam cerita-cerita itu, tai tidak hanya berarti kekotoran, tapi sekaligus mewakili kecerdasan, ketulusan, keberuntungan, dan tentu saja magis!

Salah satu cerita I Belog adalah warisan yang menunjukkan tai sebagai cermin ketulusan. Karena ketulusanlah, ia mengiringi seorang pendeta kemana-mana. Membawakan barang-barang, dan dilarang menginjak bayangan Pendeta. Jika Pendeta sakit perut dan membuang isi perutnya, I Belog juga tidak mau ketinggalan. Dengan tulus ia mengiringi tai Pendeta dengan tai miliknya. Di sungai, kedua tai itu hanyut saling mendahului tanpa bisa kita kenali lagi, tai yang mana milik siapa. Pokoknya, ketulusan diterjemahkan oleh I Belog sebagai pengabdian. Pengabdian sampai ke titik paling kecil dalam hidupnya.

Tai sebagai bentuk kecerdasan, ditunjukkan oleh cerita Pan Balak Tamak. Dengan apik ia menyusun rencana agar seluruh warga Banjar, melihat jaja iwel di sudut Bale Banjar. Jaja iwel itu dibentuk agar semirip-miripnya dengan tai anjing. Sontak jika Pan Balak Tamak menantang warga untuk memakannya, tidak akan ada satu pun yang cukup cerdas untuk memeriksa jaja iwel-tai anjing itu. Tidak akan ada yang curiga, tai jadi-jadian itu adalah bentuk kecerdasan Pan Balak Tamak. Pada akhirnya, sekumpulan warga Banjar yang sudah barang tentu adalah kumpulan orang-orang yang mengira dirinya terpelajar, dikalahkan dengan ‘tai anjing’.

Tidakkah kedua cerita berisi tai tadi cukup mencengangkan? Tapi kedua tai tadi, pastilah tidak lebih mencengangkan dari pada tai magis. Tai dalam pandangan mistik, diterjemahkan sebagai keberuntungan. Karena ini tai keberuntungan, tentu saja dikeluarkan oleh makhluk spesial. Setidaknya, makhluk ini haruslah suci. Yang namanya kesucian, hanya bisa dikeluarkan oleh yang suci-suci. Tidak akan ada yang meragukan kesucian Cicak. Saking sucinya, ia kita sebut simbol Dewata. Tidak main-main, ia diangkat setinggi-tingginya sebagai simbol kecerdasan. Kecerdasanlah yang konon membedakan manusia dari makhluk lain di muka bumi di bawah kolong langit. Dengan kecerdasan pembeda itu, kita bangga jika tiba-tiba cicak berak dan tainya jatuh di ubun-ubun tempat kediaman Shiwa.

Cicak yang suci pun bisa kita bunuh dengan tidak sengaja saat membuka atau menutup pintu. Atau entah bagaimana caranya, cicak lambang Dewi Kecerdasan, bisa tiba-tiba melupakan kecerdasan yang dimiliki dan masuk ke dalam alat-alat elektronik dan mati kesetrum di dalamnya. Yang jelas, mau tidak mau, ingin tidak ingin, terima tidak terima, kita ini adalah pembunuh kecerdasan. Alasan dasar pembunuhan itu, tidak lain ialah ketidaktahuan. Tidak tahu artinya bodoh. Karena kebodohan, kita membunuh kecerdasan!

Tai selanjutnya, adalah milik Bhatari Uma. Bhatari Uma dalam cerita yang satu ini, tidak mengeluarkannya dengan indria dubur atau payu. Meski istilah dubur ada dalam teks-teks tattwa, tapi saya belum pernah membaca ada yang menulis dubur para dewata. Apalagi menggambarkan dubur Bhatari Uma sebagai salah satu dewata yang berpangkat tinggi. Tentu saja, dalam konteks ini penilaian berperan penting dalam penulisan karya sastra. Nilai itulah yang mengendap-endap dari balik norma yang terpendam di dalam benak pengarangnya. Saya bahkan ragu, pengarangnya mengetahui kejadian ini dari awal. Jangan-jangan nilai itu baru disadarinya setelah cerita rampung dan lahir sebagai anak rohani. Di dalam cerita itulah, tai ini konon keluar dari mulut Bhatari. Tidak secara harfiah, tapi Bhatari mengatakannya lewat kata-kata.

[…] salah wuwusta, tan hana simne sor lawan lewih, yan mangkana, kadyangganing kasturi jbat, den padha keni kalawan tai […]

[ucapanmu salah, tidak ada tinggi rendah? jika demikian, seperti harumnya bunga Kasturi, sama dengan aroma tai!].

Begitu kata Bhatari Uma kepada Prabhu Caya Purusa. Kata-kata itu keluar, karena Caya Purusa menyamakan antara sakala dan niskala. Kedua alam itu saling masuk memasuki satu sama lain. Seperti udara yang masuk ke tubuh menjadi nafas, dan nafas yang keluar menjadi udara. Dialog-dialog selanjutnya berkisar antara pertanyaan dan jawaban tentang kekotoran, kesucian, kebebasan. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tidak akan pernah berhenti sampai pada satu titik Si Penanya dan Si Penjawab sama-sama terpuaskan dan kelelahan.

Tidak ada yang aneh jika kata tai keluar dari mulut suci salah satu Dewata. Hal ini membuktikan, ada masanya kesucian melahirkan kekotoran. Sama dengan kasus Pendeta suci yang mengeluarkan kotoran sebagai kebutuhan dasar. Tetapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa Pendeta yang benar-benar suci bisa mengeluarkan kekotoran dengan sengaja tanpa diminta oleh tubuhnya. Peristiwa semacam itu, kita dapat dari cerita Sutasoma dan Ida Pedanda Sakti Ender. Keduanya konon bisa mengeluarkan kotoran perut dengan bantuan air mengalir. Air yang mengalir dari pancuran diteguk terus-menerus sampai memenuhi perut lalu mengeluarkannya dengan pasti melalui lubang yang seharusnya. Apakah ini hanya sekadar cerita? Biarpun ini sekadar cerita, dengan cara berpikir tertentu kita bisa memahami masih ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di dalamnya.

Beberapa cerita tai tadi, sangatlah dekat dengan spiritual. Kedua kata itu tidak dipertentangkan satu sama lain, tidak juga dipasangkan. Keduanya berada pada jalur masing-masing tanpa bertubrukkan.

Jalur kata tadi tidak berbeda dengan jalur keyakinan yang kini banyak ditempuh. Kita menyebut jalan itu sebagai marga. Ada yang berjalan di jalur ramai disebut Prawreti. Ada di jalur sepi bernama Nirwreti. Meskipun keduanya jalan spiritual, keduanya dipengaruhi modal.

Ada orang yang memilih jalan beramai-ramai. Mereka perlu menggunakan alat agar tidak tersesat. Nama alat itu beraneka ragam. Kita kenal betul, salah satu nama alat itu banten. Banten adalah persembahan. Setidaknya begitu konsep awal di dalam pikiran kita yang berjalan. Ada masanya alat ini membuat perjalanan semakin berat, karena kerumitan dan jumlahnya yang makin banyak. Saat itulah peluang tercipta. Terutama bagi yang merelakan dirinya menyelam dalam kerumitan. Jual beli pun terjadi. Persembahan tidak lagi sekadar hubungan pribadi antara pemuja dengan pujaan. Tapi melibatkan hal-hal lainnya. Dan kita tahu, jual beli ini kita terima dengan malu-malu.

Pejalan di jalur tidak ramai bukannya lepas dari kuasa pemegang modal. Pejalan jenis ini, tentu masih manusia dan harus mengurusi perutnya. Maka jangan heran ada jenis makanan yang khusus dibuat untuk perut-perut pejalan ini. Tidak aneh, itu sangat normal. Bukan karena terpaksa, tapi karena memang begitu hukum alam. Agar tubuh bertahan, mau tidak mau harus makan dan minum. Kecuali ada suatu perjanjian tertentu yang sedang berusaha ditepatinya.

Diam-diam pemilik modal menemukan celah halus di dalam benak pejalan sepi. Agar berjalan lebih nyaman, disediakanlah peralatan-peralatan. Alas duduk, pakaian bersih, minyak wangi aroma terapi relaksasi, semuanya tidak jatuh begitu saja dari alam niskala yang dipujan-puja. Jadi jalur sepi pun, tidaklah sesepi ekspektasi.

Modal dan spiritual bukan pasangan yang aneh. Untuk berguru, Airlangga harus membayar Baradah. Gusti Dauh Bale Agung pun demikian kepada Dang Hyang Nirartha. Pembayaran ini bernama Guru Daksina. Entah bagaimana kemudian, segala hal-hal yang berhubungan dengan spiritual seolah diposisikan jauh dari modal. Padahal untuk mengundang seorang juru Topeng Sidakarya, kita sama-sama paham harus ada banten dan kelengkapan lainnya yang dihaturkan. Untuk mendengarkan wejangan seorang penekun spiritual yang mumpuni, kita juga harus merogoh kantung dalam-dalam.

Kedua jalan ini berada pada relnya masing-masing. Sesekali keduanya akan bertemu di persimpangan. Saat itu terjadi, para pejalan dihadapkan pada beberapa pilihan. Memilih saling menabrakkan diri, berhenti dan melihat situasi, kembali, atau pilihan-pilihan lainnya. Pilihan-pilihan itulah yang kita sebut penyikapan. Berbeda cara penyikapan, berbeda pula hasilnya. Perbedaan cara penyikapan, hanya bisa terjadi jika situasi macam itu dilihat dari sudut pandang berbeda pula.

Sekarang setelah kita berjalan semakin menjauhi asal untuk mendapat tujuan spiritual, kita akan dihadapkan pada satu pertanyaan; “Semua jenis makanan untuk jasmani dan ruhani yang kita nikmati, kebanyakan jadi sari atau tai?” [T]

Tags: sastraSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menuju Good Public Governance di Tanah Ubud

Next Post

Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co