14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
July 6, 2020
in Esai
Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Ilustrasi foto by Mursal Buyung

Ingat padanya, membuka keharuanku. Bahunya yang tak lagi tegap, urat-urat tangan dan kaki yang keluar serta garis-garis usia di wajahnya menceritakan banyak hal. Bapak yang selalu mengajak kami membuat mainan. Semasih ia bisa mencari bahan-bahan dan membuatnya, ia akan membuatnya. Tas kami yang robek, ia jahit padahal kami sudah merengek minta dibelikan tas baru. Pernah aku merengek minta dibelikan boneka. Ia datang bukannya membawa boneka namun membawa celengan tanah. Sejak itu kami rajin mengumpulkan uang di celengan tanah. Setelah cukup barulah aku mendapatkan keinginanku. Ia laki-laki yang bisa mengerjakan apa saja. Ia tidak banyak omong, namun betul-betul bekerja.

Bapakku adalah pahlawanku sekaligus cinta pertamaku. Kiranya itu julukan yang tepat untuknya. Aku selalu menanti kedatangan bapak dari sekolah. Karena bapak sering meminjamkanku buku-buku dan majalah. Sampai di tanganku, aku akan langsung melahap habis majalah tersebut dan menjawab teka teki silangnya. Buku-buku ini sangat mengesankan bagiku. Banyak cerita anak inspiratif di dalamnya. Dan ini mengembangkan imajinasi kanak-kanakku tentang dongeng, permainan serta pergaulan dengan teman-teman. Dunia “magis” masa kanak-kanakku semakin berkembang. Tak jarang di sekolah aku mengarang  dongeng sendiri dan kuceritakan pada teman dekatku. Selain itu aku selalu membuat teka teki silang untuk kado ulang tahun teman-temanku. Jadi menjelang temanku ulang tahun, aku  berpikir keras membuat teka teki silang.

Puisi pertamaku berjudul “Tanah Air” aku bacakan di depan kelas saat aku duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar. Bapak adalah penonton pertama di rumah apabila keesokan harinya aku akan tampil di depan kelas membaca puisi. Penonton sekaligus pengkritik pertama.

Kadang-kadang aku membangkang bapak. Aku termasuk anak yang tidak bisa begitu saja menerima suatu kejadian. Aku selalu menuntut penjelasan dan alasannya. Kalau tidak, aku akan ngambek dan membantah. Pernah aku dilempari puntung rokok yang setengah menyala oleh bapak . Saat itu ia baru pulang dari mengajar, bapak baru saja duduk kemudian melepas sepatu. Bapak kemudian menyulut rokoknya sambil ngobrol sama ibu. Tampaknya ada hal serius yang mereka bicarakan. Aku langsung memburu bapak dan menuntut bapak membuatkanku camplung. Membuat camplung adalah tugas sekolah. Ibu memberi isyarat bahwa ngomongnya nanti saja. Bapak masih lelah. Namun aku masih merengek-rengek. Saat itu aku masih kelas tiga SD. Bapak langsung melempar sisa rokoknya ke arahku. Dengan sigap ibu menyeretku, menyelamatkanku. Terkadang kalau bapak marah dan aku merasa benar, aku akan membantah. Aku memerlukan penjelasan mengapa aku dimarahi ? Aku menyukai kesepakatan, penjelasan tentang resiko serta sebab akibat daripada gaya otoriter. Jika sudah memilih, maka resiko dan segala konsekuensinya harus berani menanggungnya.

Bapak adalah perpaduan melankolik yang sempurna dan phlegmatis yang damai. Ini terlihat dari keseharian bapak baik dalam menyelesaikan persoalan maupun bergaul dengan teman-temanya. Suatu kali seorang temannya datang bertandang ke rumah. Teman bapak, Pak Made terlihat sangat rame dengan kata-katanya yang mendominasi, cara bicaranya yang memberondong dan antusias menunjukkan kalau ia seorang sanguin yang populer. Berbeda dengan bapak. Bapak tahu kapan harus masuk ke dalam pembicaraan dengan “joke” halus dan kebanyakan menjadi pendengar yang baik. Mereka terlihat klop bagai puzzle yang saling mengisi. Karena seorang sanguin membutuhkan pendengar sedangkan seorang phlegmatis mampu menjadi pendengar. Sifat melankolik bapak terlihat dari cara bapak mengorganisasi meja kerjanya. Semua bukunya tersusun rapi, arsip-arsip tergantung rapi di lemarinya. Map-map berlabel rapi. Kalau pun ada yang ia lihat barang di tempat sampah yang masih bagus, ia akan mengambilnya karena baginya sayang kalau dibuang. Ini masih bisa digunakan untuk hal lain yang ia rencanakan. Hal ini membuat ia pandai berhemat. Ia mampu memodifikasi barang yang sudah rusak, mengganti bagian yang rusak dengan bahan lain sehingga barang itu bisa kembali digunakan tanpa membeli yang baru. Perpaduan sifat inilah yang membuat bapak lengkap sebagai individu. Ia tidak mencari kesenangan, kemewahan melainkan kedalaman dan sensitivitas. Kesenangan baginya adalah sesuatu yang penuh pertimbangan, sesuatu yang sudah dipikirkan masak-masak. Bapak adalah seorang yang pemikir, dapat diandalkan, serius dan tekun pada tujuan .

Dia tahu pasti cara mengatasi stress dan segala tekanan yang ia alami. Dia begitu pandai menyembunyikan perasaannya. Dia bukan orang yang ekspresif menunjukkan rasa cinta dan sayangnya baik pada ibu maupun pada kami. Sehingga saat salah satu dari kami menikah, tidak ada ada pelukan dan ciuman di pipi. Kontak fisik yang ia lakukan hanya menepuk bahu kami. Dan itu sudah melebihi dari cukup bagiku. Aku merasa mendapat dukungan dan kekuatan darinya lewat tepukan di bahu yang ia berikan. Begitu pula saat ibu meninggal, ia tidak menangis sama sekali. Dia akan bercerita dengan tenang tentang masa mudanya, bercerita tentang pertemuannya dengan ibu dalam mimpi. Ceritanya mengalir tenang dan datar hanya dilatari senyum tipis.Itulah bapakku. Ia terlihat kurang romantis. Kami, anak-anaknya tidak pernah melihatnya mencium ibu di depan kami, melingkarkan tangan di pinggang ibu atau membelai rambut ibu. Namun tatapannya pada ibu sangat dalam.

Bapakku menyenangi alam. Alamlah yang membuatnya seimbang dan positif. Ia tidak pernah men”judge” apapun itu. Kakinya tetap berpijak di bumi, meski situasi berubah-ubah. Ini yang aku pelajari darinya. Setiap melihat tumpukan barang bekas, aku ingat padanya. Ia mengukur dengan teliti lembaran triplek agar sisanya tidak terbuang dengan percuma.

Aku menyukai gaya bercerita bapak. Ia pendongeng yang baik. Sungguh jelas alur ceritanya, karakter tokohnya hingga latar ceritanya. Hal ini membuat imajinasiku semakin sempurna ditambah dengan suara tiruan yang ia buat. Misalnya ketika angin berhembus, maka ia akan mengeluarkan suara, wusss….. atau ringkikan kuda sang raja yang tengah berburu di hutan. Sebagian besar cerita atau dongeng yang ia ceritakan berlatar pedesaan dengan sawah yang menghampar ditingkahi burung-burung, petani-petani bertelanjang dada mengusir burung dengan petakut dan sebagainya. Ah, bapak. Semuanya aku ingat dengan jelas. Gaya berceritanya hingga kini aku tiru tatkala mendongeng untuk dua jagoanku. Tema-tema ceritanya kebanyakan tentang persahabatan dan kepahlawanan. Hingga aku duduk di bangku SMP, ketika bapak tak lagi mendongeng, aku dengan kreatif mengarang cerita untuk kuceritakan kepada kakak sebelum tidur. Selama beberapa bulan, aku dan kakak bergiliran bercerita setiap malam sebelum tidur. Aku menyukai dongeng-dongeng tentang putri raja, pangeran dan peri-peri dari langit.

Sepenuhnya hubunganku dengan bapak sangat manis. Aku anak yang sering bertanya dan bapak menjawab dengan baik. Hanya satu hal yang aku kurang sukai darinya adalah saat dia marah, dia akan diam seribu bahasa. Saat marah, dia bukan lagi seorang penjawab dan pendongeng yang baik. Namun itu tak mengurangi hormat dan sayangku untuknya. Dia tetap pahlawanku.

Bapak tak banyak bicara. Banyak yang bilang dia tak pintar beradu pendapat. Dalam kediamannya dia bisa melakukan banyak hal. Menjahit sepatu dan tas kami yang robek, memperbaiki kursi yang patah, memperbaiki genteng, dan yang sering aku nanti dengan harap-harap cemas adalah saat ia memanjat pohon kelapa yang tinggi/ mongkod. Dari bawah aku menatapnya dengan tatapan cemas. ” Bapak, hati-hati.”

Suatu hari, bapak bercerita tentang seorang temannya di tempat kerja yang selalu mengabaikan / melalaikan kewajibannya. Kemudian aku bertanya, ” Kenapa ?” Bapak hanya menggeleng. ” Alasannya banyak dan begitu sering.”

Dari rentetan cerita bapak itu, yang paling melekat dalam ingatanku adalah dua kata yang ia ucapkan yaitu “warga dunia”.

” Yan dadi wargan Gumi, rage ngelah kewajiban jak Widi.” Bapak berkata bahwa sebagai warga dunia, kita harus paham dan melaksanakan kewajiban kita kepada Tuhan. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP ( Sekolah Menengah Pertama ). Waktu itu aku belum paham betul. Namun sekarang, ketika aku renungkan dan menyadari keberadaanku, aku paham akan diriku. Bapak, ibu, aku dan saudara-saudaraku adalah warga/anggota dari dunia dalam dan dunia luar. Dunia dalam adalah kesejatian kita ( sang aku ) sedangkan dunia luar adalah hal-hal di luar kita termasuk masyarakat. Yang membuat kita tidak bahagia adalah pertentangan dan pertarungan hasrat kita dengan tuntutan dunia luar. Berarti bapak telah mengenalkan filosofi kehidupan padaku. Aku sungguh tertarik akan aliran ceritanya. Di setiap hal yang ia ungkapkan, pasti ada satu atau dua kata yang menarik untuk kutelaah dan selalu kuingat.

Kemudian yang sering mengundang gelak tawaku saat bapat tidak habis pikir tentang perilaku seseorang. Ia sering nyeletuk ,” Ne jeleme ape ubuan ?” artinya, ini manusia apa binatang?. Kedengarannya memang agak kasar. Namun setelah dipikir-pikir benar dan bahkan punya pengertian yang mendalam. Tentu saja binatang tidak dilengkapi dengan akal pikiran seperti manusia sehingga binatang tidak mengenal tata krama, sopan santun dan tidak berpikir sebelum bertindak. Sekali lagi banyak hal yang bisa kupetik dari keseharian bapak dan ibu.  Ibu yang terkadang rapuh meski ia selalu berusaha positif dan kuat. Ya. Ibuku hanyalah manusia biasa yang selalu berusaha kuat tanpa kesadaran untuk melepas dengan ikhlas segala duka nestapa. Ia sering membiarkan dirinya menggelayut dalam pohon ketaknyamanan. Menyadari segala kekurangan dan kelebihan mereka, aku menerima kedua orang tuaku apa adanya sebagaimana mereka menerimaku apa adanya.

Bapak dan Ibu telah memperkenalkan dimensi-dimensi hidup yang nyata. Mereka memberikan pelajaran berharga untuk bekalku. Mereka tidak hanya memberikan pelajaran matematika dan IPA, namun lebih dari itu. Pelajaran kehidupan yang penuh babak berliku dan misteri tanpa ciri.

Di atas semua itu, ibu dan bapak telah menyuguhkan cinta dari sejak mula kehadiranku di sebuah tempat bernama Dunia ( Mayapada ). Bahkan selanjutnya doa merekalah yang selalu menyertai hari-hariku. Betapa beruntungnya aku. Mereka menyuguhkan cinta yang mengagumkan dengan cara penyampaian yang berbeda. Sehingga tangki-tangkiku penuh cinta. Cinta mereka membuka jalan hidup dan memberikan cara hidup. Bahkan ketika aku memutuskan untuk “memilih” jalan hidupku, Ibu Bapak dengan berbesar hati menerimaku dan membebaskanku asalkan aku yakin dengan jalan yang kupilih dan bapak selalu menekankan ” pilihlah satu jalan yang kau yakini dan ambil segala konsekuensinya”. Meskipun ibu memerlukan waktu untuk membebaskanku namun akhirnya ia bisa menerimanya. Dalam hal ini pandangan dan pikiran bapak sangat mempengaruhi ibu. Ibu yang semula ragu-ragu, takut dan cemas berhasil diyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Bapak termasuk orang yang menganut “jalan ketiga”. Jalan ketiga yang kumaksud adalah ia menyadari bahwa selain sebagai pelaku/subyek kehidupan, ia juga menyadari bahwa ada kekuatan mahadahsyat yang mengatur dan merancang hidupnya. Jika orang pada jalan pertama hanya menghayati peran sebagai subyek kehidupan dan orang pada jalan kedua hanya menghayati peran sebagai obyek/ yang diperlakukan kehidupan, maka orang pada jalan ketiga menyadari kedua esensi tersebut. Dalam banyak hal pola pikir bapak itu  dapat mempengaruhi ibu. Meski tidak seluruhnya, namun peran bapak sebagai kontrol merupakan perpaduan yang indah. Aku sungguh bangga menjadi bagian dari mereka.

Waktu berjalan terus, tak kenal lelah. Siapa yang tahu rahasia waktu ? Siapa yang tahu jalan Tuhan ? semuanya misteri. Kini bapak dan kekasihnya telah berbahagia dengan Sang Hyang Achintya. Aku tetap merindukannya dan Aku selalu melihat wajahnya di setiap buku dongeng  yang aku baca.


 Seorang Pria yang Selalu Berdiri di Gerbang Pagi


Ingatkah dulu kau selalu menanak kata-kata

 Menyuguhkan semangkok buburnya pada dingin mulutku

Lihatlah di atas tanah ini kau mengukir jejak masa lampau dengan meringkus segala kernyit yang menjadi limbah air mata

Tangan perkasamu lihai meramu sarapan tumis kol dan telur orak arik

Disepuh  celoteh hangat dari kepul segelas susu hangat

Kau mengenal baik peringai pagi

Karena kau selalu berjaga membangun rumah ditingkahi cahaya emas

Agar tumbuhlah rumah pengharapan dalam jiwa kami

Agar mimpi kami selalu nyala di atas tungku syukur

Kau sungguh ayah yang hebat

” Kita tak bisa kendalikan orang lain. Kita hanya bisa membangun benteng lebih kuat.”

Katamu lagi,” Berilah jeda pada langkahmu agar kau bisa bernafas.”


Rumpun tabah dimatamu selalu tumbuh dan bertunas

Duka selalu gagal membelah dadamu

Meski ia membawa belati perpisahan atau jenawi nan mistis

Aku masih ingat saat kau menarik busur tuk melepas anak panah

Tak pernah apa pun merambat dalam matamu kecuali binar yang kentara menabuh riang ketika kami menceracau tentang sekolah


Kau selalu berdiri di gerbang pagi

Agar suburlah tanah kami dengan kesetiaan

Agar teguhlah pohon kami dari udara yang cemar


Ijinkanlah kami selalu mencangkok rindu

Membiarkan kenang menggenang dan mengejamu penuh bangga

Sebagai seorang pria penjaga gerbang pagi

Yang meski kau pulang bayangmu selalu setia mencandu mentari

Memerangkap udara pagi dan menjerangnya menjadi tongkat kembara yang kukuh


( Rai Sri Artini)

_____

6 Juli 2014


Telah lama tak kau lihat

Hujan di sabit mataku


Kali ini ia datang membadaikan gelisah

Basah di sekujur dadamu yang menganga oleh jarum cuaca

Merentakan rindu di penghujung tarian hujan


Kau telah lelah menelaah kucur kekata

Jejak air mata yang usang ditikam usia

Tak ada yang mampu membahasakan keriput di dinding tubuhmu

Semata keluh pun tak nampak dalam reliefnya


Sebatang sepi bersembunyi dalam riuh liurmu

Terkulum bersama harum tembakau

Uapnya sunyi tanpa lagu

Huruf-huruf dalam lidahmu bisu mati rasa

Diantara detak jam yang setia menghitung usia


Rambutmu memutih

Berguguran di kaki angka

Aroma tubuhnu nanar membilang warna

Akhirnya kau memilih pergi daripada terasing dalam keramaian

Paragraf penuh tanya kau bawa dalam kepalamu beku

Kisah-kisah ganjil kau puisikan dalam butiran peluh


Tak pernah ada yang tahu rahasia sepupuh siulmu

Bahkan udara yang hilir mudik di hidungmu

Tak tahu

Kakiku bertelimpuh rapuh

Keasingan mendesing gigih

Membakar dagingku menjelma abu yang renik

Memburamkan jendela rumah sakit

Jiwaku berceceran di jalanan

Rinduku tergeletak di lantai rumah sakit

Aku           asing

Kau           asing

Semua       asing


( Rai Sri Artini )

 


NB : Tulisan ini untuk mengenang 6 tahun berpulangnya Bapak

Tags: ceritakenangannostalgia
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Next Post

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co