26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Santi Dewi by Santi Dewi
July 6, 2020
in Esai
Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

ilustrasi diolah dari foto koleksi penulis

Tak terasa, berbulan-bulan sudah kita terpenjara dalam rumah. Kalaupun keluar, rasanya seperti perang. Harus memakai seragam perang (masker), membawa senjata perang (handsanitizer) atau menyiapkan strategi perang (jaga jarak dan cuci tangan). Namun ada satu hal yang tidak pernah terpenjara dan terbatasi di tengah keterbatasan saat ini. Satu-satunya hal yang justru mendobrak, meradang, dan menerjang seperti kata Chairil Anwar.

Pandemi membuat begitu banyak orang menjadi kreatif, inovatif, produktif dan tif-tif lainnya. Ide-ide bermunculan dari liar pikiran yang tak pernah surut walau dihadang badai pandemi. Contohnya saja banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba menjadi bisa memasak, bermunculan video resep-resep masakan di instagram, facebook, dan tak terkecuali tiktok. Tidak hanya video goyang-goyang, mau cari video resep makanan juga banyak lo di tiktok.

Seperti misalnya teman saya, saat ini ia jualan makanan karena terinspirasi dari tiktok, katanya. Atau orang-orang yang memposting hasil masakan mereka dengan presentasi yang sengaja dibuat secantik mungkin dengan angle foto yang membuat orang lain tergiur ketika melihatnya, juga membludaknya pedagang-pedagang online yang memenuhi beranda sosial media.

Semua orang menjadi tiba-tiba bisa dan kreatif di masa pandemi ini. Tentu itu menjadi salah satu sisi baik, karena yang lebih memenjarakan sesungguhnya bukan ketika kita tidak bisa berinteraksi langsung, tapi ketika kita dilarang untuk berpikir. Lagipula, siapa yang melarang orang berpikir? Haha…

Munculnya berbagai wacana video masakan yang ditawarkan untuk mengisi kegelisahan di rumah saja menggugah keinginan saya untuk turut mencoba. Dari awal pandemi sampai saat ini pun saya masih terus mengeksplorasi berbagai masakan. Seperti beberapa waktu lalu misalnya, saya mencoba membuat cilok dengan bumbu kacang. Bahannya sederhana dan mudah saja, sekali tonton tutorialnya, saya langsung eksekusi.

Namun ada yang berbeda pada gigitan pertama. Saat pertama kali mencoba, saya langsung di tarik ke belakang ke masa-masa kecil. Rasanya persis sama seperti pentol buatan nenek yang biasa dijualnya saat mengajar di sekolah dasar dulu, kenyal dan aromanya yang khas dan wangi dari campuran bawang putih dan bumbu lainnya.

Saya langsung teringat pada kenangan itu, dulu nenek adalah seorang guru sekolah dasar, setiap sore ia selalu membuat bulatan-bulatan pentol yang begitu banyak untuk kemudian dijual ke sekolahnya besok pagi. Lalu ketika saya berkesempatan diajaknya ke sekolah, maka di jam istirahat atau pulang sekolah, saya akan merengek meminta pentol kepada nenek yang ia titip di kantin.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya memasak be mesisit atau yang biasa disebut ayam suwir. Kali ini tanpa tutorial, saya mencoba menerka bumbu-bumbunya sendiri. Saat ayam dengan bumbu merah itu saya aduk bersama nasi hangat, lagi-lagi saya teringat masa kecil. Saya baru ingat, bahwa dulu saya senang sekali dengan be mesisit.

Pokoknya setiap hari saya harus dibuatkan be mesisit, jika ada be mesisit, maka saya akan makan dengan sangat lahap. Tak peduli dengan lauk lain, bagi saya be mesisitlah yang paling spesial saat itu.

Dulu, saya tergolong anak kecil yang agak susah makan. Beranjak dewasa, saya mulai mengecap berbagai macam makanan hingga akhirnya favorite saya menjadi berubah-ubah. Walau ketika dewasa saya telah mencoba berbagai macam be mesisit dari banyak tangan, namun kesadaran tentang masa kecil justru baru muncul ketika saya membuatnya dengan tangan saya sendiri.

Beranjak dari be mesisit, beberapa tahun kemudianselera saya berpaling hati pada olahan ikan. Pindang bumbu merah sempat menjadi primadona lidah saya dulu. Tepatnya entah kapan saya mulai menyukainya, tapi yang pasti saya sangat suka pindang bumbu merah buatan kompyang saya, atau kalau di bahasa Indonesia berarti buyut.

Lagi-lagi ketika mencoba membuatnya sendiri beberapa waktu lalu dengan bermodalkan kekuatan kira-kira dan perasaan, saya berhasil membuat cita rasa yang sangat sama dan pas tanpa kekurangan sedikit pun. Sama sekali tidak ada bedanya dengan buatan kompyang dulu. Alhasil saya terheran-heran, saya merasa seolah-olah memakan masakan kompyang.

Lah, terus kok bisa masak tanpa liat resep atau diajari? Kenangan tersebut tiba-tiba bermunculan melalui masakan-masakan yang saya buat. Ingatan tentang masa kecil dibangkitkan kembali justru saat pandemi. Saya pun menaruh curiga pada diri saya, bahwa jangan-jangan diam-diam saya telah merekam apa yang saya lihat saat kecil di otak saya meski saya tidak pernah diajari memasak, meski saya hanya sliweran saja melihat orang tua memasak tanpa keinginan bertanya. Apa yang hanya saya lihat dulu ternyata menjadi tabungan yang mengendap di kepala dan kemudian terpanggil kembali ketika saya menuangkannya ke dalam laku.

Pandemi mengingatkan saya pada kenangan-kenangan masa kecil, dan mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi apa yang saya kerjakan saat masa pandemi ini akan menjadi kenangan di masa depan. Seperti orang-orang yang beternak lele dalam ember misalnya, mungkin saat ini lele-lele tersebut masih berenang berhimpit-himpitan dalam ember, namun siapa tau saja lima atau delapan tahun kedepan orang-orang tersebut akan memiliki usaha ternak lele sukses dan lele-lele tersebut akan berenang-renang ria di dalam puluhan tambak yang luas sebelum akhirnya mati disantap juga.

Maka beberapa tahun ke depan akan ada kalimat-kalimat seperti ini “Gara-gara pandemi, saya jadi ketagihan beternak lele dan sukses hingga sekarang” atau “Gara-gara pandemi, pengeluaran saya jadi hemat karena tidak perlu membeli ikan” atau bahkan “Semenjak pandemi, aku jadi bisa memasak berbagai macam masakan dari seluruh dunia”. Ah, rasanya akan ada begitu banyak kalimat kalimat “sejak pandemi” atau “gara-gara pandemi” yang akan menyelip di tengah-tengah obrolan ketika apa yang terjadi kini akan menjadi kenangan di masa mendatang.

Hal-hal lampau yang terasa baru atau hal-hal baru yang terasa lampau mungkin saja tidak benar-benar baru dan lampau. Bahwa sesungguhnya kedua hal tersebut adalah bagian pengalaman yang secara sadar atau tidak akan tersimpan di alam bawah sadar kita. Pandemi melahirkan begitu banyak cerita-cerita mengejutkan.

Cerita-cerita soal bagaimana kita menanam keinginan yang mungkin baru sempat terisi saat pandemi, penemuan-penemuan baru dari hasil penyadaran lebih dekat pada rumah, menemukan sisi-sisi lain diri yang tidak pernah kita temukan sebelumnya dan merawat ingatan pada kenangan yang mungkin hampir terlupakan. Pandemi bagi saya justru menjadi momen kembali pulang. Pulang pada kenangan, pulang pada harapan, pulang pada diri sendiri. [T]

Tags: gaya hidupKreativitaspandemi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Next Post

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co