15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

Santi Dewi by Santi Dewi
July 6, 2020
in Esai
Pandemi, Bolak-Balik Waktu ke Masa Lalu dan Masa Depan

ilustrasi diolah dari foto koleksi penulis

Tak terasa, berbulan-bulan sudah kita terpenjara dalam rumah. Kalaupun keluar, rasanya seperti perang. Harus memakai seragam perang (masker), membawa senjata perang (handsanitizer) atau menyiapkan strategi perang (jaga jarak dan cuci tangan). Namun ada satu hal yang tidak pernah terpenjara dan terbatasi di tengah keterbatasan saat ini. Satu-satunya hal yang justru mendobrak, meradang, dan menerjang seperti kata Chairil Anwar.

Pandemi membuat begitu banyak orang menjadi kreatif, inovatif, produktif dan tif-tif lainnya. Ide-ide bermunculan dari liar pikiran yang tak pernah surut walau dihadang badai pandemi. Contohnya saja banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba menjadi bisa memasak, bermunculan video resep-resep masakan di instagram, facebook, dan tak terkecuali tiktok. Tidak hanya video goyang-goyang, mau cari video resep makanan juga banyak lo di tiktok.

Seperti misalnya teman saya, saat ini ia jualan makanan karena terinspirasi dari tiktok, katanya. Atau orang-orang yang memposting hasil masakan mereka dengan presentasi yang sengaja dibuat secantik mungkin dengan angle foto yang membuat orang lain tergiur ketika melihatnya, juga membludaknya pedagang-pedagang online yang memenuhi beranda sosial media.

Semua orang menjadi tiba-tiba bisa dan kreatif di masa pandemi ini. Tentu itu menjadi salah satu sisi baik, karena yang lebih memenjarakan sesungguhnya bukan ketika kita tidak bisa berinteraksi langsung, tapi ketika kita dilarang untuk berpikir. Lagipula, siapa yang melarang orang berpikir? Haha…

Munculnya berbagai wacana video masakan yang ditawarkan untuk mengisi kegelisahan di rumah saja menggugah keinginan saya untuk turut mencoba. Dari awal pandemi sampai saat ini pun saya masih terus mengeksplorasi berbagai masakan. Seperti beberapa waktu lalu misalnya, saya mencoba membuat cilok dengan bumbu kacang. Bahannya sederhana dan mudah saja, sekali tonton tutorialnya, saya langsung eksekusi.

Namun ada yang berbeda pada gigitan pertama. Saat pertama kali mencoba, saya langsung di tarik ke belakang ke masa-masa kecil. Rasanya persis sama seperti pentol buatan nenek yang biasa dijualnya saat mengajar di sekolah dasar dulu, kenyal dan aromanya yang khas dan wangi dari campuran bawang putih dan bumbu lainnya.

Saya langsung teringat pada kenangan itu, dulu nenek adalah seorang guru sekolah dasar, setiap sore ia selalu membuat bulatan-bulatan pentol yang begitu banyak untuk kemudian dijual ke sekolahnya besok pagi. Lalu ketika saya berkesempatan diajaknya ke sekolah, maka di jam istirahat atau pulang sekolah, saya akan merengek meminta pentol kepada nenek yang ia titip di kantin.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya memasak be mesisit atau yang biasa disebut ayam suwir. Kali ini tanpa tutorial, saya mencoba menerka bumbu-bumbunya sendiri. Saat ayam dengan bumbu merah itu saya aduk bersama nasi hangat, lagi-lagi saya teringat masa kecil. Saya baru ingat, bahwa dulu saya senang sekali dengan be mesisit.

Pokoknya setiap hari saya harus dibuatkan be mesisit, jika ada be mesisit, maka saya akan makan dengan sangat lahap. Tak peduli dengan lauk lain, bagi saya be mesisitlah yang paling spesial saat itu.

Dulu, saya tergolong anak kecil yang agak susah makan. Beranjak dewasa, saya mulai mengecap berbagai macam makanan hingga akhirnya favorite saya menjadi berubah-ubah. Walau ketika dewasa saya telah mencoba berbagai macam be mesisit dari banyak tangan, namun kesadaran tentang masa kecil justru baru muncul ketika saya membuatnya dengan tangan saya sendiri.

Beranjak dari be mesisit, beberapa tahun kemudianselera saya berpaling hati pada olahan ikan. Pindang bumbu merah sempat menjadi primadona lidah saya dulu. Tepatnya entah kapan saya mulai menyukainya, tapi yang pasti saya sangat suka pindang bumbu merah buatan kompyang saya, atau kalau di bahasa Indonesia berarti buyut.

Lagi-lagi ketika mencoba membuatnya sendiri beberapa waktu lalu dengan bermodalkan kekuatan kira-kira dan perasaan, saya berhasil membuat cita rasa yang sangat sama dan pas tanpa kekurangan sedikit pun. Sama sekali tidak ada bedanya dengan buatan kompyang dulu. Alhasil saya terheran-heran, saya merasa seolah-olah memakan masakan kompyang.

Lah, terus kok bisa masak tanpa liat resep atau diajari? Kenangan tersebut tiba-tiba bermunculan melalui masakan-masakan yang saya buat. Ingatan tentang masa kecil dibangkitkan kembali justru saat pandemi. Saya pun menaruh curiga pada diri saya, bahwa jangan-jangan diam-diam saya telah merekam apa yang saya lihat saat kecil di otak saya meski saya tidak pernah diajari memasak, meski saya hanya sliweran saja melihat orang tua memasak tanpa keinginan bertanya. Apa yang hanya saya lihat dulu ternyata menjadi tabungan yang mengendap di kepala dan kemudian terpanggil kembali ketika saya menuangkannya ke dalam laku.

Pandemi mengingatkan saya pada kenangan-kenangan masa kecil, dan mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi apa yang saya kerjakan saat masa pandemi ini akan menjadi kenangan di masa depan. Seperti orang-orang yang beternak lele dalam ember misalnya, mungkin saat ini lele-lele tersebut masih berenang berhimpit-himpitan dalam ember, namun siapa tau saja lima atau delapan tahun kedepan orang-orang tersebut akan memiliki usaha ternak lele sukses dan lele-lele tersebut akan berenang-renang ria di dalam puluhan tambak yang luas sebelum akhirnya mati disantap juga.

Maka beberapa tahun ke depan akan ada kalimat-kalimat seperti ini “Gara-gara pandemi, saya jadi ketagihan beternak lele dan sukses hingga sekarang” atau “Gara-gara pandemi, pengeluaran saya jadi hemat karena tidak perlu membeli ikan” atau bahkan “Semenjak pandemi, aku jadi bisa memasak berbagai macam masakan dari seluruh dunia”. Ah, rasanya akan ada begitu banyak kalimat kalimat “sejak pandemi” atau “gara-gara pandemi” yang akan menyelip di tengah-tengah obrolan ketika apa yang terjadi kini akan menjadi kenangan di masa mendatang.

Hal-hal lampau yang terasa baru atau hal-hal baru yang terasa lampau mungkin saja tidak benar-benar baru dan lampau. Bahwa sesungguhnya kedua hal tersebut adalah bagian pengalaman yang secara sadar atau tidak akan tersimpan di alam bawah sadar kita. Pandemi melahirkan begitu banyak cerita-cerita mengejutkan.

Cerita-cerita soal bagaimana kita menanam keinginan yang mungkin baru sempat terisi saat pandemi, penemuan-penemuan baru dari hasil penyadaran lebih dekat pada rumah, menemukan sisi-sisi lain diri yang tidak pernah kita temukan sebelumnya dan merawat ingatan pada kenangan yang mungkin hampir terlupakan. Pandemi bagi saya justru menjadi momen kembali pulang. Pulang pada kenangan, pulang pada harapan, pulang pada diri sendiri. [T]

Tags: gaya hidupKreativitaspandemi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Bapak, Ingat Padanya Membuka Keharuanku…

Next Post

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Merantau Memang Tidak Mudah, Namun Itu Bukan Alasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co