6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiada

tatkala by tatkala
March 17, 2020
in Cerpen
Tiada

Cerpen: Ni Luh Puspa Pratiwi

“Aku adalah perempuan terkutuk!”

“Kita adalah kesalahan!”

Perempuan itu masih termenung, memikirkan ke mana arah nasibnya kini. Matanya terus membendung deras air yang hendak mengucur di pipi . Tangannya gemetar memegang secangkir kopi yang menemani malam. Beberapa tegukan kopi ia nikmati, tapi belum juga sirna rasa gelisah di lubuk hatinya.

Teleponnya terus berdering, namun tak kunjung ia gubris. Pikirannya masih dan masih melekat pada nasibnya. Hatinya masih tergerus, mengingat betapa besar pengorbanan yang ia lakukan demi mencapai titik ini. Kini hatinya mulai goyah memilih.

***

“Ibu, kapan Ayah kembali pulang?” suara itu mengangetkanku.

“Ayahmu sedang bekerja, tentu dia akan pulang nanti!” jawabku.

Rena terus merengek memikirkan betapa rindunya sudah tidak bisa dibendung lagi pada ayahnya. Aku hanya bisa memberinya sepatah dua patah kata yang mungkin bisa menenangkannya.

Brukkkkk! Suara pintu terbuka. Aku segera menghampiri,

“Dasar anak yang tak tahu malu! Keluar kamu! Apa yang akan kamu lakukan kali ini, hah?“

Suara itu membuat duniaku seakan runtuh.

“Apakah lelaki itu sudah tahu?” suara itu melanjutkan. “Di mana Si Brengsekitu? Sudah cukup kamu menderita, cepat tinggalkan lelaki itu atau semua orang akan tahu kebenarannya!”

Itu suara ibuku. Ia marah, tapi air matanya menetes.

“Ibu tidakkah kau sadar keberadaan Rena? Bagaimana ia nantinya?” sahutku.

Aku tertunduk. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku malu dengan hidupku, bahkan aku malu dengan keberadaanku.

“Sudahlah, aku sudah muak denganmu! Terserah denganmu saja, hidupmu sepenuhnya milikmu!” Ibu pergi meninggalkanku.

Aku segera menghampiri Rena yang tertunduk lesu di sofa. Melihat wajahnya yang begitu lugu, hatiku seakan teriris mengingat kebenaran ini.

***

“Aku sudah di depan rumah!” suara Hendra di telepon.

Aku berlari tanpa memperhitungkan apapun. Berlari tanpa memakai alas kaki, dibalut daster yang kebesaran semua itu tidak penting. Aku akan bertemu suamiku setelah sekian lama.

Beberapa langkah darinya aku berhenti. Hendra menatapku aneh. Aku tak sanggup mengatakannya sekarang. Tapi kebenaran ini haruslah tersampaikan.

Aku menghampirinya memegang tangannya, menatap penuh makna.

“Tidakkah kau perbolehkan masuk suamimu ini?”

Aku menuntunnya masuk ke dalam rumah, tanganku tetap memegang erat tangannya. Kami duduk bersama sambil saling menatap. Hendra begitu kebingungan menatapku. Aku tertunduk.

“Kita adalah kutukan!” Aku memulainya.

Dia masih tetap diam.

“Hidup kita memang sudah dikutuk, mengapa kita masih tetap hidup?”

Aku menangis sejadi-jadinya.

“Apa yang kau bicarakan? Dikutuk?” tanyanya.

“Sudahkah kau temukan siapa orang tuamu? Dimana dia tinggal? Bagaimana keadaanya?”

Aku menatapnya dengan sinis.

“Belum. Kau tahu kan aku masih sibuk bekerja mana sempat aku memikirkan itu.”

“Bodoh, kau memang bodoh!”

Aku mengambil vas bunga dan melemparnya. Aku benar-benar kacau. Semua benda di meja aku lempar ke tembok. Hendra masih tetap diam. Aku menghampirinya.

“Tidakkah kau sadar hubungan kita? Hah?” Aku menatapnya.

“Kita adalah suami istri. Apa yang harus dipermasalahkan?” Ia menjawab dengan tenang.

“Bodoh! Percuma pendidikanmu tinggi. Kita saudara. Kau kakakku yang hilang saat diriku berumur dua tahun. Tanyakan sendiri pada ibu. Lelaki macam mana yang menikahi saudara kandungnya sendiri?”

Hendra tetap diam, tak bicara satu patah kata pun. Aku masih menangis. Dia tertunduk.

“Sudahlah semua sudah terlambat, kita memang hidup untuk dikutuk!”

“Yei,  Ayah  pulang!” Tiba-tiba suara Rena terdengar mengejutkan. Ia mendekati Hendra.

Tanpa sepatah katapun aku meninggalkan Rena dan Hendra di ruang tamu. Aku mengunci diri dalam kamar. Aku tak ingin Rena melihat diriku seperti ini.

 “Ayo, Nak, kita tidur!” ucap Hendra pada Rena.

Mereka pun menuju kamar.

***

“Apa yang harus diperjuangkan?”

Kali ini aku pergi meninggalkan rumah sejenak. Memikirkan hidupku kini. Sampai saat ini aku belum menemui Hendra. Walau di rumah yang sama  tetapi kami belum sempat bertegur sapa. Aku hanya belum siap menatap raut wajahnya.

Aku memutuskan pergi ke salah satu kafe, menikmati hangatnya secangkir kopi. Aku hanya ingin sendiri, memikirkan nasibku kini. Nasibku dan mereka.

“Apa yang harus diputuskan?”

Aku tahu apa yang harus dilakukan.

***

Angin bertiup dengan kencang, hujan masih menari-nari dengan riang, petirpun melengkapi suasana malam itu. Hendra dan Rena sudah pergi, pergi meninggalkan dunia ini. Aku yang membuat mereka pergi selamanya. Aku istrinya. Aku ibunya. Kini tinggal aku menunggu gilirannya menyusul mereka.

Tak ada yang harus diperjuangkan. Kami tiada. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

____

Ni Luh Puspa Pratiwi, biasa dipanggil Puspa. Lahir di Sukasada, 27 Mei 2002 dan kini menempuh pendidikan di SMAN 1 Sukasada

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Doa, Pada Siapa?

Next Post

Balas Dendam

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Balas Dendam

Balas Dendam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co