14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raja Buduh (Gila) di Bali, Jangan Anggap Enteng…

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 5, 2020
in Esai
Raja Buduh (Gila) di Bali, Jangan Anggap Enteng…

Ilustrasi: Nana S Partha

Panggung akan kosong, adem-ayem, kalau tidak ada raja buduh (raja gila). Pementasan drama gong tidak akan bisa berjalan tanpa raja buduh.

Raja Buduh disoraki sekaligus diam-diam ditunggu. Bahkan pukau dan tepukan penonton akan lebih bergema ketika raja buduh masuk panggung, ketika tingkah polah pongah dimulai di atas panggung. Penonton dibuat geregetan, sekaligus, jika raja buduh dicoret dari panggung, pasti ditunggu dan dirindu.

Raja Buduh adalah peran antara: Ia hadir diantara kevakuman panggung yang menunggu hadirnya Raja Bagus (Raja Sejati).

Persoalannya: Bagaimana jika tiada kunjung tampil si raja sejati? Mungkin sakit perut, atau demam kebanyakan makan lawar dan urutan? Atau hang over kebanyakan arak dan tuak lau? Mungkin nervous dan ketug tidak bisa tampil, tidak siap melihat panggung, atau demam mendadak diserang Coronavirus?

Raja buduh hadir mengisi ruang jeda, sebagai pemenuhan harapan diam-diam di hati penonton, di dalam situasi ketidakpastian atau situasi chaos.

Chaos, jika kita simak teorinya, adalah keadaan sistem dinamik yang situasinya terganggu, penyimpangannya yang acak seringkali diatur oleh hukum deterministik, terkait kondisi awal. Chaos adalah dimana situasi dalam situasi acak, atau keacakan, acak-acakan, situasi nyata dari sistem yang kacau, ada semacam pola yang mendasari, situasi yang penuh saling keterkaitan, ada keadaan umpan balik konstan, semacam ada pengorganisasian diri sendiri di baliknya.

Jika panggung vakum atau acak, atau perlu makin dibuat acak, agar situasi ada yang mengisi sebelum muncul ketenangan, agar tidak melempem dan jenuh, sang sutradara biasanya mengirim tokoh kontraversial yang di Bali kita kenal sebagai Raja Buduh.

Raja Buduh adalah maskot dalam situasi menunggu.

Sering terjadi situasi menunggu alias antara dalam pemanggunggan. Menunggu entah apa yang akan muncul. Menunggu entah apa yang jadi polah tingkahnya yang harus ditelan penonton.

Kesiapan apa yang diperlukan penonton ketika Raja Buduh masuk panggung?

Penonton harus siap mengusap dada. Penonton harus siap menggerutu kecewa. Penonton harus siap menerima tontonan panggung apa adanya, tanpa berdaya, tiada kuasa untuk melempar handuk tanda tidak setuju. Penonton harus siap berkompromi dengan Raja Buduh yang sedang memegang alur dan jalan cerita. Penonton harus siap menghadapi dilema dan tutup mata (dan tutup telinga) apakah yang dipidatokan Raja Buduh mengandung kebenaran atau sekedar busa-busa kata yang menggelumbung ke udara, lalu meletus tanpa jejak.

Penonton tidak punya hak menuntut pada Raja Buduh pada isi kebenaran omongan si Raja Buduh. Bahkan, maaf, jika Raja Buduh kentut di atas panggung, penonton harus siap menikmatinya sebagai bagian dari pementasan. Bisakah penonton melarang?

Atau…

Kalau terlalu bosan dengan polah raja buduh yang kelamaan berputar di panggung, dan raja sejati tidak muncul kelamaan di balik kelambu, bersolek mengulur waktu bagai ABG tidak berani keluar, penonton harus siap meninggalkan alun-alun. Dan atau? Memaksa raja sejati keluar. Pertanyaannya: Adakah Raja Bagus (raja sejati) dipaksa masuk panggung oleh penonton?

Paling celaka adalah ketika penonton tidak tahu kalau Raja Buduh sudah dikira raja sejati. Penonton kagetan atau penonton terlambat yang tidak kenal pemain drama gong bisa tertipu seperti ini. Penonton seperti ini bisa jadi penonton yang tidak tahu panggung pementasan apa yang sedang tampil di atas panggung.

Ada punya penonton yang suka ngantuk di alun-alun, tidak sadar kalau Raja Buduh dikira raja sejati di tengah pementasan, sampai ujung pementasan pun tidak tahu karena terkantuk ketiduran. Penonton seperti ini dianggannya terselip, sampai esoknya terbangun, bahwa Raja Buduh itulah ada raja sejati, sampai akhir pementasan, bahkan sampai seumur hidup tidak mendapat kejelasan tentang apa yang terjadi.

Bayangkan jika ada Raja Buduh yang lebih elegan dan mampu berteater melebihi raja sejati. Tutur katanya meyakinkan. Penampilan dan tongkrongannya lebih memukau dari raja darah biru paling biru selangit biru?

Bayangkan jika Raja Buduh naik joli yang lebih mewah dan penuh regalia tanda-tanda kebesaran raja yang tertata dan seremonialnya lebih raja dibandingkan raja-raja yang terlambat datang dan telat berdandan asal-asalan tampil di panggung dengan pakaian ketinggalan di rumah atau tidak dipakai memadai di atas panggung?

Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih ganteng daripada raja yang konon sejati tapi kusam dan nervous, demam panggung berhadapan dengan sambutan penonton di alun-alun kerajaan?

Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih mampu berdebat dan berorasi di depan publik penonton dibandingkan raja darah biru selangit biru yang hanya terdiam seribubasa di pojokan, modalnya hanya mengandalkan garis silsilah dan cicin pusaka serta keris leluhur yang telah kehilangan tuah?

“Paman patih, tidak ada yang perlu diragukan. Jika ada orang aneh bin cupu muncul di panggung mengaku raja, panggil dia. Ajak adu debat denganku. Ajak tarung pamor denganku: Siapa yang mampu mengumpulkan kerumunan lebih besar, maka ia raja yang sejati?”, demikian kira-kira tantangan yang diujarkan meyakinkan oleh Raja Buduh.

Bayangkan jika ada Raja Buduh yang kata-katanya dieja dengan fasih dan lincah. Wajahnya bersih dan tumitnya licin. Ia didampingi bukan oleh satu dua paman yang bertindak sebagai patih, tapi gerombolan pengawal muda ganteng yang bersih dan tegap, saudari-saudari terdidik berias molek dan jelita, dan dayang-dayang yang siap perintah paduka raja.

Sayangnya, belum ada sutradara drama gong yang nyetrik di Bali yang memenangkan Raja Buduh di atas raja sejati. Padahal, di dalam catatan sejarah masa silam, sebut saja Ken Arok, dia menumbangkan Akuwu Tumapel, dan mengangkat dirinya sebagai raja. Ken Arok yang masa lalunya sebagai pendosa alias bromocorah, yang meresahkan warga dengan kelihaiannya mencuri dan menguasai tipu sana tipu sini di kampung-kampung, dari garis darahnya yang samar-samar dan abu-abu bahkan diragukan kejelasannya ia anak siapa: Ia menyulap masa silamnya menjadi pendiri silsilah raja-raja Jawa.

Sayangnya, belum ada sutradara drama gong di Bali yang mampu membuka mata penonton bahwa bisa jadi Raja Buduh lebih efektif dikirim sebagai duta kerajaan dalam berdiplomasi karena jurus buduh-nya tidak bisa ditebak dalam diplomasi, yang umumnya standar dan mudah ditebak? Lagi pula, belum ada sutradara yang berani mengetengahkan di atas panggung Raja Buduh sepanjang pementasan, tanpa susah payah mencari raja sejati. Toh, penonton bisa jadi lebih menikmati jumpalitan dan maneuver politik Raja Buduh dibandingkan kehadiran raja-raja waras yang tidak bernyali dan hanya bisa menunjukkan cincin permata emas manik manikam sekalipun berkilau berkilo-kilo tersimpan di gedong berkilau prada.

Ken Arok adalah tokoh Raja Buduh yang dalam panggung sejarah Jawa telah membuktikan bahwa silsilah tidak lebih penting dari nyali. Ken Arok membuktikan bahwa nama besar orang tua, kejelasan babad dan silsilah, tidak menjadi persyaratan mutlak mendirikan dinasti.

Ken Arok membuktikan bahwa Raja Buduh bisa menformat ulang dan reset factory sebuah mekanisme lama yang hanya berurusan dengan darah, bukan berbasis kapasitas personal yang adaptif dan aktif menjawab tantangan zaman.

“Paman patih… Jika ada orang membawa cincin kuno datang dan mengaku dia berdarah biru, paling biru, lebih biru dari laut biru, apakah paman langsung percaya? Tidakkah ia harus adu nyali dan adu debat, adu pukau dan adu wibawa?”, demikian kira-kira tandangan si Raja Buduh.

Raja Buduh melanjutkan: “Jika aku yang dicintai di panggung ini, jika akulah yang ditunggu penonton di alun-alun ini, dan penonton tidak berharap menunggu kehadiran sosok lain yang pongah ngaku-ngaku berdarah biru, tidak mampu berucap apapun di hadapanku, lalu apa gunanya kehadirannya? Lihatlah, paman, penonton tidak sedang menunggu sosok siapa yang akan datang ke atas panggung. Penonton menikmati dan menunggu gerak-gerikku, penonton mengharapkan kejutan-kejutan besar dalam gerak dan cakapku. Mereka tidak menunggu sosok yang lain. Mereka telah puas dengan kehadiranku.”

Dalam sejarah seni Drama Gong di Bali ada sosok Raja Buduh yang sangat populer bahkan bisa dikatakan lebih populer dibandingkan dengan pemeran raja-raja waras atau raja bagus lainnya. Namanya: I Gede Yudana. Almarhum sangat dicintai penonton. Perannya bisa dikatakan paripurna. Dibenci dan dirindu. Disoraki dan ditawai. Dihujat dan dipuji. Ia adalah salah satu pemain drama gong terhitung paling tenar di zamannya. Ia adalah sosok favorit dalam kesenian yang paling digemari di masyarakat Bali pada masanya, di tahun semenjak akhir 1970-an sampai 1990-an. I Gede Yudana tumbuh bersama pemain-pemain drama gong lainnya seperti: Luh Mongkeg, Petruk, Dolar, Gangsar, Gingsir, Lodra (raja bagus/raja sejati), dkk.

Grup Drama Gong Bhara Budaya bisa dikatakan tidak bisa gerak tanpa kehadiran Gede Yudana. Setiap panggung menunggu celoteh dan keterampilannya dalam memenangkan hati penonton. Panggung-panggung penuh dan banyak yang harus loncat pagar atau naik pohon menunggu Gede Yudana beraksi di atas panggung. Kegilaannya telah membuatnya jadi idola.

Sebagai Raja Buduh, Gede Yudana bermain dalam ruang kejengkelan dan kejenakaan, dipadukan dengan taksunya yang membuat orang menyorakinya, tapi memujanya setinggi-tingginya pencapaian sosok seniman. Penonton terlena, dihipnotis dengan kehadirannya, diajak tertawa terpingkal-pingkal, mengejek penuh cibir, mangkel dan jengkel, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kepiawaiannya membolak-balik perasaan penonton dengan kata-katanya yang ditembakkan ke udara seperti kembang api penuh warna.

Gede Yudana telah memberikan bukti bahwa peran paling terhormat di panggung drama gong bukanlah raja bagus atau raja sejati. Karena diperankan dengan taksu yang penuh pukau dan cerdik, sosok raja buduh yang diperankan Gede Yudana telah membuat raja buduh jadi sosok favorit yang dinanti-nanti. Seandainya Lodra (pemeran raja bagus atau raja sejati) dari Grup Drama Gong Bhara Budaya berhalangan hadir, rasanya panggung tetap akan penuh dikunjungi penonton dengan cukup kehadiran Gede Yudana; Raja Buduh mentas solo-run sendiri dari awal pementasan sampai ujung, tanpa raja sejati.

Di dunia seni Drama Gong di Bali, Raja Buduh yang ternama ini tidak tersaingi oleh sosok lain, pamornya bersinar sampai mengembuskan nafas terakhir, 16 Januari 2010 sekitar pukul 21.30 Wita, di RSUP Sanglah, berpulang karena sakit.

Setelah berpulang, ia amor tapi monumental, para penggemarnya tidak pernah melupakannya. Ia sosok legenda dalam sejarah (kesenian) Bali.

I Gede Yudana, sekali lagi, telah memberikan bukti terbalik bahwa tidak ada jaminan peran sentral dan paling terhormat di panggung drama gong adalah raja bagus (raja sejati). Raja Buduh jika diperankan dengan total akan berbalik menjadi pusat pementasan. Bayangkan jika tidak ada Lodra ketika itu…

Jangan pernah anggap enteng kemunculan Raja Buduh. Ia bisa tampil menjadi sosok legenda, sosok monumental yang dibenci sekaligus dirindu, yang dicibir habis tapi sekaligus tidak henti-henti digossipkan serasa tiada lengkap pertemuan dengan teman-teman tanpa mengossipkannya.

Jangan pernah anggap enteng kemunculan sosok Raja Buduh, karena: Kalau diperankan secara total ia akan mampu membolak-balik perasaan Anda. Ia akan membuat Anda hanya bisa mengeluh, mengusap dada, mangkel di tempat, sementara panggung dikuasainya sampai akhir pertunjukan. Dan Anda? Tidak mampu berbuat apa-apa. Paling hanya bisa mesem-mesem. [T]

Tags: drama gongPolitikrajaRaja BuduhRaja Gila
Share1728TweetSendShareSend
Previous Post

Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [4] – Pentas Terakhir Sebelum Pulang

Next Post

Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co