23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raja Buduh (Gila) di Bali, Jangan Anggap Enteng…

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 5, 2020
in Esai
Raja Buduh (Gila) di Bali, Jangan Anggap Enteng…

Ilustrasi: Nana S Partha

Panggung akan kosong, adem-ayem, kalau tidak ada raja buduh (raja gila). Pementasan drama gong tidak akan bisa berjalan tanpa raja buduh.

Raja Buduh disoraki sekaligus diam-diam ditunggu. Bahkan pukau dan tepukan penonton akan lebih bergema ketika raja buduh masuk panggung, ketika tingkah polah pongah dimulai di atas panggung. Penonton dibuat geregetan, sekaligus, jika raja buduh dicoret dari panggung, pasti ditunggu dan dirindu.

Raja Buduh adalah peran antara: Ia hadir diantara kevakuman panggung yang menunggu hadirnya Raja Bagus (Raja Sejati).

Persoalannya: Bagaimana jika tiada kunjung tampil si raja sejati? Mungkin sakit perut, atau demam kebanyakan makan lawar dan urutan? Atau hang over kebanyakan arak dan tuak lau? Mungkin nervous dan ketug tidak bisa tampil, tidak siap melihat panggung, atau demam mendadak diserang Coronavirus?

Raja buduh hadir mengisi ruang jeda, sebagai pemenuhan harapan diam-diam di hati penonton, di dalam situasi ketidakpastian atau situasi chaos.

Chaos, jika kita simak teorinya, adalah keadaan sistem dinamik yang situasinya terganggu, penyimpangannya yang acak seringkali diatur oleh hukum deterministik, terkait kondisi awal. Chaos adalah dimana situasi dalam situasi acak, atau keacakan, acak-acakan, situasi nyata dari sistem yang kacau, ada semacam pola yang mendasari, situasi yang penuh saling keterkaitan, ada keadaan umpan balik konstan, semacam ada pengorganisasian diri sendiri di baliknya.

Jika panggung vakum atau acak, atau perlu makin dibuat acak, agar situasi ada yang mengisi sebelum muncul ketenangan, agar tidak melempem dan jenuh, sang sutradara biasanya mengirim tokoh kontraversial yang di Bali kita kenal sebagai Raja Buduh.

Raja Buduh adalah maskot dalam situasi menunggu.

Sering terjadi situasi menunggu alias antara dalam pemanggunggan. Menunggu entah apa yang akan muncul. Menunggu entah apa yang jadi polah tingkahnya yang harus ditelan penonton.

Kesiapan apa yang diperlukan penonton ketika Raja Buduh masuk panggung?

Penonton harus siap mengusap dada. Penonton harus siap menggerutu kecewa. Penonton harus siap menerima tontonan panggung apa adanya, tanpa berdaya, tiada kuasa untuk melempar handuk tanda tidak setuju. Penonton harus siap berkompromi dengan Raja Buduh yang sedang memegang alur dan jalan cerita. Penonton harus siap menghadapi dilema dan tutup mata (dan tutup telinga) apakah yang dipidatokan Raja Buduh mengandung kebenaran atau sekedar busa-busa kata yang menggelumbung ke udara, lalu meletus tanpa jejak.

Penonton tidak punya hak menuntut pada Raja Buduh pada isi kebenaran omongan si Raja Buduh. Bahkan, maaf, jika Raja Buduh kentut di atas panggung, penonton harus siap menikmatinya sebagai bagian dari pementasan. Bisakah penonton melarang?

Atau…

Kalau terlalu bosan dengan polah raja buduh yang kelamaan berputar di panggung, dan raja sejati tidak muncul kelamaan di balik kelambu, bersolek mengulur waktu bagai ABG tidak berani keluar, penonton harus siap meninggalkan alun-alun. Dan atau? Memaksa raja sejati keluar. Pertanyaannya: Adakah Raja Bagus (raja sejati) dipaksa masuk panggung oleh penonton?

Paling celaka adalah ketika penonton tidak tahu kalau Raja Buduh sudah dikira raja sejati. Penonton kagetan atau penonton terlambat yang tidak kenal pemain drama gong bisa tertipu seperti ini. Penonton seperti ini bisa jadi penonton yang tidak tahu panggung pementasan apa yang sedang tampil di atas panggung.

Ada punya penonton yang suka ngantuk di alun-alun, tidak sadar kalau Raja Buduh dikira raja sejati di tengah pementasan, sampai ujung pementasan pun tidak tahu karena terkantuk ketiduran. Penonton seperti ini dianggannya terselip, sampai esoknya terbangun, bahwa Raja Buduh itulah ada raja sejati, sampai akhir pementasan, bahkan sampai seumur hidup tidak mendapat kejelasan tentang apa yang terjadi.

Bayangkan jika ada Raja Buduh yang lebih elegan dan mampu berteater melebihi raja sejati. Tutur katanya meyakinkan. Penampilan dan tongkrongannya lebih memukau dari raja darah biru paling biru selangit biru?

Bayangkan jika Raja Buduh naik joli yang lebih mewah dan penuh regalia tanda-tanda kebesaran raja yang tertata dan seremonialnya lebih raja dibandingkan raja-raja yang terlambat datang dan telat berdandan asal-asalan tampil di panggung dengan pakaian ketinggalan di rumah atau tidak dipakai memadai di atas panggung?

Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih ganteng daripada raja yang konon sejati tapi kusam dan nervous, demam panggung berhadapan dengan sambutan penonton di alun-alun kerajaan?

Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih mampu berdebat dan berorasi di depan publik penonton dibandingkan raja darah biru selangit biru yang hanya terdiam seribubasa di pojokan, modalnya hanya mengandalkan garis silsilah dan cicin pusaka serta keris leluhur yang telah kehilangan tuah?

“Paman patih, tidak ada yang perlu diragukan. Jika ada orang aneh bin cupu muncul di panggung mengaku raja, panggil dia. Ajak adu debat denganku. Ajak tarung pamor denganku: Siapa yang mampu mengumpulkan kerumunan lebih besar, maka ia raja yang sejati?”, demikian kira-kira tantangan yang diujarkan meyakinkan oleh Raja Buduh.

Bayangkan jika ada Raja Buduh yang kata-katanya dieja dengan fasih dan lincah. Wajahnya bersih dan tumitnya licin. Ia didampingi bukan oleh satu dua paman yang bertindak sebagai patih, tapi gerombolan pengawal muda ganteng yang bersih dan tegap, saudari-saudari terdidik berias molek dan jelita, dan dayang-dayang yang siap perintah paduka raja.

Sayangnya, belum ada sutradara drama gong yang nyetrik di Bali yang memenangkan Raja Buduh di atas raja sejati. Padahal, di dalam catatan sejarah masa silam, sebut saja Ken Arok, dia menumbangkan Akuwu Tumapel, dan mengangkat dirinya sebagai raja. Ken Arok yang masa lalunya sebagai pendosa alias bromocorah, yang meresahkan warga dengan kelihaiannya mencuri dan menguasai tipu sana tipu sini di kampung-kampung, dari garis darahnya yang samar-samar dan abu-abu bahkan diragukan kejelasannya ia anak siapa: Ia menyulap masa silamnya menjadi pendiri silsilah raja-raja Jawa.

Sayangnya, belum ada sutradara drama gong di Bali yang mampu membuka mata penonton bahwa bisa jadi Raja Buduh lebih efektif dikirim sebagai duta kerajaan dalam berdiplomasi karena jurus buduh-nya tidak bisa ditebak dalam diplomasi, yang umumnya standar dan mudah ditebak? Lagi pula, belum ada sutradara yang berani mengetengahkan di atas panggung Raja Buduh sepanjang pementasan, tanpa susah payah mencari raja sejati. Toh, penonton bisa jadi lebih menikmati jumpalitan dan maneuver politik Raja Buduh dibandingkan kehadiran raja-raja waras yang tidak bernyali dan hanya bisa menunjukkan cincin permata emas manik manikam sekalipun berkilau berkilo-kilo tersimpan di gedong berkilau prada.

Ken Arok adalah tokoh Raja Buduh yang dalam panggung sejarah Jawa telah membuktikan bahwa silsilah tidak lebih penting dari nyali. Ken Arok membuktikan bahwa nama besar orang tua, kejelasan babad dan silsilah, tidak menjadi persyaratan mutlak mendirikan dinasti.

Ken Arok membuktikan bahwa Raja Buduh bisa menformat ulang dan reset factory sebuah mekanisme lama yang hanya berurusan dengan darah, bukan berbasis kapasitas personal yang adaptif dan aktif menjawab tantangan zaman.

“Paman patih… Jika ada orang membawa cincin kuno datang dan mengaku dia berdarah biru, paling biru, lebih biru dari laut biru, apakah paman langsung percaya? Tidakkah ia harus adu nyali dan adu debat, adu pukau dan adu wibawa?”, demikian kira-kira tandangan si Raja Buduh.

Raja Buduh melanjutkan: “Jika aku yang dicintai di panggung ini, jika akulah yang ditunggu penonton di alun-alun ini, dan penonton tidak berharap menunggu kehadiran sosok lain yang pongah ngaku-ngaku berdarah biru, tidak mampu berucap apapun di hadapanku, lalu apa gunanya kehadirannya? Lihatlah, paman, penonton tidak sedang menunggu sosok siapa yang akan datang ke atas panggung. Penonton menikmati dan menunggu gerak-gerikku, penonton mengharapkan kejutan-kejutan besar dalam gerak dan cakapku. Mereka tidak menunggu sosok yang lain. Mereka telah puas dengan kehadiranku.”

Dalam sejarah seni Drama Gong di Bali ada sosok Raja Buduh yang sangat populer bahkan bisa dikatakan lebih populer dibandingkan dengan pemeran raja-raja waras atau raja bagus lainnya. Namanya: I Gede Yudana. Almarhum sangat dicintai penonton. Perannya bisa dikatakan paripurna. Dibenci dan dirindu. Disoraki dan ditawai. Dihujat dan dipuji. Ia adalah salah satu pemain drama gong terhitung paling tenar di zamannya. Ia adalah sosok favorit dalam kesenian yang paling digemari di masyarakat Bali pada masanya, di tahun semenjak akhir 1970-an sampai 1990-an. I Gede Yudana tumbuh bersama pemain-pemain drama gong lainnya seperti: Luh Mongkeg, Petruk, Dolar, Gangsar, Gingsir, Lodra (raja bagus/raja sejati), dkk.

Grup Drama Gong Bhara Budaya bisa dikatakan tidak bisa gerak tanpa kehadiran Gede Yudana. Setiap panggung menunggu celoteh dan keterampilannya dalam memenangkan hati penonton. Panggung-panggung penuh dan banyak yang harus loncat pagar atau naik pohon menunggu Gede Yudana beraksi di atas panggung. Kegilaannya telah membuatnya jadi idola.

Sebagai Raja Buduh, Gede Yudana bermain dalam ruang kejengkelan dan kejenakaan, dipadukan dengan taksunya yang membuat orang menyorakinya, tapi memujanya setinggi-tingginya pencapaian sosok seniman. Penonton terlena, dihipnotis dengan kehadirannya, diajak tertawa terpingkal-pingkal, mengejek penuh cibir, mangkel dan jengkel, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kepiawaiannya membolak-balik perasaan penonton dengan kata-katanya yang ditembakkan ke udara seperti kembang api penuh warna.

Gede Yudana telah memberikan bukti bahwa peran paling terhormat di panggung drama gong bukanlah raja bagus atau raja sejati. Karena diperankan dengan taksu yang penuh pukau dan cerdik, sosok raja buduh yang diperankan Gede Yudana telah membuat raja buduh jadi sosok favorit yang dinanti-nanti. Seandainya Lodra (pemeran raja bagus atau raja sejati) dari Grup Drama Gong Bhara Budaya berhalangan hadir, rasanya panggung tetap akan penuh dikunjungi penonton dengan cukup kehadiran Gede Yudana; Raja Buduh mentas solo-run sendiri dari awal pementasan sampai ujung, tanpa raja sejati.

Di dunia seni Drama Gong di Bali, Raja Buduh yang ternama ini tidak tersaingi oleh sosok lain, pamornya bersinar sampai mengembuskan nafas terakhir, 16 Januari 2010 sekitar pukul 21.30 Wita, di RSUP Sanglah, berpulang karena sakit.

Setelah berpulang, ia amor tapi monumental, para penggemarnya tidak pernah melupakannya. Ia sosok legenda dalam sejarah (kesenian) Bali.

I Gede Yudana, sekali lagi, telah memberikan bukti terbalik bahwa tidak ada jaminan peran sentral dan paling terhormat di panggung drama gong adalah raja bagus (raja sejati). Raja Buduh jika diperankan dengan total akan berbalik menjadi pusat pementasan. Bayangkan jika tidak ada Lodra ketika itu…

Jangan pernah anggap enteng kemunculan Raja Buduh. Ia bisa tampil menjadi sosok legenda, sosok monumental yang dibenci sekaligus dirindu, yang dicibir habis tapi sekaligus tidak henti-henti digossipkan serasa tiada lengkap pertemuan dengan teman-teman tanpa mengossipkannya.

Jangan pernah anggap enteng kemunculan sosok Raja Buduh, karena: Kalau diperankan secara total ia akan mampu membolak-balik perasaan Anda. Ia akan membuat Anda hanya bisa mengeluh, mengusap dada, mangkel di tempat, sementara panggung dikuasainya sampai akhir pertunjukan. Dan Anda? Tidak mampu berbuat apa-apa. Paling hanya bisa mesem-mesem. [T]

Tags: drama gongPolitikrajaRaja BuduhRaja Gila
Share1728TweetSendShareSend
Previous Post

Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [4] – Pentas Terakhir Sebelum Pulang

Next Post

Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Puisi, Memoar, dan Kisah-Kisah yang Tak Terungkapkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co