4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Anak Muda Jadi Kepala Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 4, 2020
in Esai
Saatnya Anak Muda Jadi Kepala Desa

Ari Anggara, Kepala Desa Batuan, Gianyar, yang masih muda. [Foto; Facebook/ Edi Sumantra]

Anak-anak yang masih sekolah di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD) pasti pernah ditanya oleh gurunya soal cita-cita. Tentu kata pertama dan paling sering muncul adalah ingin menjadi dokter, pilot, tentara, bahkan menjadi presiden. Hampir tidak pernah ada seorang anak yang dengan gagah berani menjawab ingin menjadi kepala desa (Kades). Apakah si anak salah, tentu tidak. Itu adalah hal yang wajar dan sah saja terjadi. Bisa jadi jseorang kepala desa atau jabatan Kades dianggap tidak begitu keren dan dianggap tidak memberikan peningkatan status sosial ekonomi bagi masa depan.

Jika kita mau jujur, tahun 2000-an wajah Kades masih tidak begitu keren, karena didominasi oleh wajah-wajah orang tua. Wajah yang mencerminkan sosok yang menjaga wibawa, sosok yang jarang tersenyum sehingga sangat susah diajak komunikasi oleh anak muda. Sehingga dipastikan anak muda sebelum lulus SMA tidak akan mengenali Kadesnya karena memang tidak ada kewajiban harus bertemu dengannya.

Hal lain yang juga menjadi penyebabnya adalah informasi tentang pemilihan maupun masa berakhirnya sang Kades juga tidak berkabar luas. Jika pun ada pemilihan Kades, dipastikan tidak akan meriah dan terkesan hanya diketahui oleh khalayak orang tua saja. Sehingga paling keren wajah Kades diisi oleh pensiunan polisi, atau pensiunan Pegawai Negeri Sipil atau pegawai swasta yang awalnya merantau di Denpasar dan terpaksa pulang kampung karena orang tuanya sudah meninggal. Intinya Kades bukanlah jabatan utama yang diidolakan oleh yang bersangkutan sehingga wajah Kades adalah identic dengan sosok tua yang relative susah dijangkau oleh anak muda.

Hadirnya Undang-undang 6/2014 tentang Desa merubah banyak hal tentang desa. Paradigma tentang desa berubah 180 derajat. Awalnya paradigma yang terbangun adalah membangun desa sekarang menjadi desa membangun. Artinya desa saat ini menjadi subjek pembangunan berbeda dengan konsep terdahulu yang menjadikan desa sebagai objek pembangunan. Saat ini, desa diberikan kewenangan lokal skala desa untuk menentukan nasibnya sendiri (rekognisi dan subsidiaritas). Desa diberikan kebebasan dalam membuat program kerja asalkan kegiatan tersebut arahnya untuk peningkatan kualitas masyarakat desa. UU desa juga membuat desa menjadi kaya mendadak.

Tiap tahun, desa menerima dana desa dari APBN rata-rata sebesar 1 Milyar, belum lagi dapat kucuran dana berupa BKK, ADD atau uang dari kabupaten masing-masing. Sebagai contoh, di kabupaten Badung, per tahun setiap desa bisa mengelola uang belasan milyar rupiah. Tahun 2020 ini, Desa Pelaga, Kecamatan Petang mendapat dana sebesar Rp 19.062.956.780. Dana tersebut berasal dari empat sumber yakni, dana desa, dana bagi hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah dan dana perimbangan. Sungguh angka yang sangat besar dan angka yang tidak terbayangkan sebelumnya boleh seorang kepala desa.

Ketika desa mengelola uang banyak, maka banyak kepala desa yang bingung. Ya bingung, karena penggunaannya harus dipertanggungjawabkan dengan rigit. Tapi ada juga Kades yang menganggap enteng tentang tanggungjawab penggunaan uang tersebut. Hal demikian membuat beberapa kepala desa tersangkut masalah hukum yang pada akhirnya mendekam di hotel prodeo. Kades yang yang sudah merasa tua dan merasa ketinggalan jaman merasa bahwa dana desa sangat memberatkan, sangat menyiksa batin, intinya dana desa membuat banyak kades yang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.

Sebenarnya tujuan dicairkannya dana desa sangat baik yakni memastikan bahwa Pemerintah hadir dan memberikan dukungan nyata dalam mewujudkan kesejehteraan masyarakat desa. Agar penggunaan dana desa tepat sasaran dan Kades terhindar dari jeratan hukum, maka anak muda wajib turun tangan untuk menjadi Kades. Anak muda identik dengan pekerja keras, dinamis serta adaptif dengan perubahan tentu sangat mendukung percepatan keberhasilan pembangunan desa. Apalagi di era connected society seperti sekarang ini, tentu Kades yang memiliki kemampuan teknologi sangat penting dan mutlak diperlukan untuk memastikan desa tidak tertinggal jauh dengan kota.

Desa Batuan, Sukawati Gianyar memulai sejarah baru. Tahun 2020, tepatnya tanggal 14 Pebruari 2020, seorang anak muda dengan status lajang yang baru berusia 28 tahun dilantik menjadi kepala desa Batuan. Tentu ini adalah berita bagus. Semoga berita menjadi pemantik semangat anak muda lainnya agar mengikuti jejaknya. Sebagai pemimpin di era milenial maka seorang Ari Anggara tahu betul langkah apa yang harus dilakukan.

Sehari menjabat sebagai Kades, sang Kades sudah mengambil 7 kebijakan dan langkah kerja hari pertama. Ketujuh hal tersebut meliputi 1) kebijakan tentang mobil operasional kantor, 2) penerapan pergub Bali No. 97, 3) Lounching hotline pemerintah desa, 4) lounching media sosial pemerintah desa, 5) penghapusan pungutan sukarela pendatang, 6) lounching layanan informasi dan 7) lounching layanan administrasi mendesak di luar jam operasional kantor desa. Ini adalah bukti nyata anak muda sangat dinamis, bekerja cepat dan suka akan perubahan. Jika bukan anak muda mungkin kebijakan ini tidak secepat itu bisa dilaksanakan. Yang paling menggembirakan kebijakan ini dishare langsung ke media sosial. Artinya sang Kades tahu betul media yang efektif dan efisien di era kekinian untuk mensosialisasikan program kerjanya.


BACA JUGA:

  • Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Cerita lainnya datang dari desa Dangin Puri Kauh, Denpasar utara. Seorang anak muda yang memiliki nama Ida Bagus Gede Ganaputra Karang mantan pembalap (drag race) terpilih menjadi kepala desa. Sosok ini menghabiskan masa mudanya dengan berbagai lomba baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bapak kelahiran 18 Pebruari 1981 ini memimpin 1.724 KK, dimana 107 KK diantaranya masuk kategori Rumah Tangga Miskin (RTM) yang kini disebut Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Dengan semangat dan pengalaman yang dimiliki sang Kades bertekad untuk mengentaskan kemiskinan warga desanya. Semoga cerita anak muda yang menjadi Kades bisa menjadi virus untuk membuat anak muda lainnya tergerak pulang kampung untuk membangun desa. Sarjana pulang kampung dengan menjadi Kades adalah solusi terbaik untuk membantu pemerintah yakni membangun Indonesia dari desa. Akhir kata, saya ingin mengatakan bahwa saatnya anak muda pulang kampung, saatnya sarjana membangun desa, dan saatnya anak muda menjadi kepala desa. [T]

Tags: balikepala desapemudaperbekel
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Sambut “Pangerupukan” di Desa Penuktukan: Ketimbang Sound System, Lebih Baik Tektekan

Next Post

Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co