12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 14, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam sebuah percakapan dengan ibu mertua ketika saya baru-baru menikah, saya tertegun dengan sebuah idiom yang digunakan ibu mertua saya. Omong kutang-kutang. Dilanjutkan dengan isi ceritanya.

Saya tidak sepenuhnya tahu, paham atau mengerti dengan istilah omong kutang-kutang. Kutang itu bahasa Bali, artinya buang. Jadi, omong kutang-kutang adalah semacam pembicaraan yang dibuang-buang.

Apakah begitu? Mungkin. Kembali pada omong kutang-kutang. Beberapa kali sejak saya bicara dengan ibu mertua yang didahului dengan omong kutang-kutang, maka saya sesungguhnya sedang menyimak serius sekali. Saya tahu ibu mertua tidak mungkin bercerita jika hanya untuk di-kutang atau dibuang-buang.

Salah satu ceritanya begini. Syahdan ada seorang perempuan yang sangat baik hatinya dan selalu menolong sesama namun dia hanya memiliki satu anak laki-laki dan ketika dewasa tiba waktu si anak laki-laki menikah. Muncul persoalan klasik. Perempuan ini sering bertengkar dengan menantunya atau istri dari anak lelakinya. Dan tak bisa didamaikan.

Menilik situasi rumah yang makin lama makin panas, si perempuan baik hati ini memilih meninggalkan rumahnya dan membangun rumah baru, menepi di pinggir kampung, membuat warung sederhana untuk membiayai dirinya dan dengan  demikian tak lagi minta pada anak menantunya. Nah lalu dimana letak omong kutang-kutang-nya?

Begini. Omong kutang-kutangnya adalah: Seandainya perempuan baik hati ini meninggal, bukankah semua hartanya akan jatuh ke tangan anak laki-laki dan mantunya? Lalu mengapa tidak dijadikan pertimbangan untuk menjaga perempuan baik itu sebab toh semua akan kembali untuk anaknya?

Nah. Bukankah tidak ada yang perlu dibuang dalam cerita itu? Mana yang sebenarnya omong kutang-kutang? Tidak jelas. Yang lebih jelas bagi saya, mungkin itu adalah semuanya adalah cerita utuh.

Kali lain ibu mertua bercerita tentang seorang janda tua yang mati gantung diri.

Omong kutang-kutang katanya janda itu sangat kesepian sehingga tidak tahu lagi caranya menjalani hidup yang memang tidak bisa diharapkan. Tidak ada suami, anak, apalagi cucu, untuk menghiburnya. Lalu dimana omong kutang-kutangnya? Katanya begitulah perempuan tua kesepian yang bisa saja bunuh diri untuk sekaligus membunuh kesepiannya.

Lalu sekali lagi dimana omong kutang-kutangnya? Semua cerita itu bagi saya adalah intinya.

Lalu saya mendengar sekali lagi omong kutang-kutang yang lain. Tentang seorang perempuan doduga selingkuh, disiksa suamin dan diusir lalu diceraikan. Padahal si perempuan ini rajin dan sangat berbakti pada keluarga. Omong kutang-kutangnya, kalau tidak ada perempuan ini, sekeluarga itu bisa kelaparan karena dialah yang satu satunya yang bekerja di keluarga itu.

Saya tidak mengerti. Tapi jikapun benar itu omong kutang-kutang, tapi tetap bagi saya itu bukan omong kutang-kutang. Saya tetap menyerapnya sebagai cerita utuh.

Barangkali karena saya selalu menyimak semua omong kutang-kutang itu dengan serius, ibu mertua selalu bercerita banyak sekali omong kutang-kutang yang lain.

Saya selalu berpikir setelah menyimaknya. Mengapa ada istilah omong kutang-kutang? Dalam dunia literasi yang sangat maju saat ini, dimana semua pesan harus disampaikan dengan efektif maka saya tidak mengenal omong kutang-kutang. Dalam bahasa Indonesia ini tidak ada padanannya. Apakah terjemahannya menjadi omong yang dibuang, pesan kosong, atau bualan semu (sudah bualan, semu pula)?.

Dalam ilmu bahasa yang saya pelajari ada sebuah istilah peyorasi atau penurunan makna. Contohnya tai adalah peyorasi dari kotoran. Dia merendahkan makna. Tapi kan memang tai itu kotoran. Bagaimana bisa dia disebut mengalami penurunan makna. Ini cukup bisa diperdebatkan.

Sebagai lawan peyorasi adalah ameliorasi. Peninggian derajat makna. Misalnya buta menjadi tunanetra. Ini juga bagi saya cukup aneh. Makna ditinggikan, padahal niatnya sama. Begitulah bahasa. Terlalu banyak istilah sesuai keinginan pemakainya. Namun kembali ke omong kutang-kutang, dia bukan peyorasi dan bukan juga ameliorasi. Bukan juga apapun.

Apakah sejenis metafor? Untuk pengandaian?

Jadi saya tidak tahu apakah istilah ini memang ada untuk memetaforakan sesuatu yang memang sudah metafor. Kenyataan memang sangat metafor tanpa perlu dimetaforkan. Kadang kenyataan lebih metafor dari metafor itu sendiri. Sehingga metafor tak begitu banyak fungsinya. Jadi apakah ibu mertua ingin mengajarkan metafor pada saya? Atau kenyataan? Atau dua-duanya? Metafor yang nyata atau nyata yang metafor. Saya mengimaninya sebagai dua duanya. Bagi saya apapun itu, baik yang metafor maupun yang nyata, ada satu omong kutang-kutang dari ibu mertua saya yang akhirnya paling saya ingat.

Omong kutang-kutang itu adalah: “Nah, omong kutang-kutang, jika saya pergi, kamu harus siap”. Dia berkata tapi dia tidak menatap saya. Saya juga tidak menatapnya. Omong kutang-kutangnya adalah, kami berdua tidak pernah siap.

Itulah yang terjadi. Dia pergi. Meninggalkan saya yang belum siap. Barangkali tak pernah siap. Tapi juga memang kalau ditunggu saya tidak akan pernah siap. [T]

Tags: BahasaBahasa BaliBahasa Indonesiakata-katakomunikasi
Share133TweetSendShareSend
Previous Post

Sisa Hujan Semalam

Next Post

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co