3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Konser New Gamelan: Melompat Bangun atau Lelap Menuju Potongan Pengalaman Bunyi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 23, 2019
in Ulasan
Menonton Konser New Gamelan: Melompat Bangun atau Lelap Menuju Potongan Pengalaman Bunyi

rOrAs Ensemble membawakan komposisi Word in Iron di Bentara Budaya Bali (Foto Bentara Budaya Bali)

Seseorang masih setengah bangun dari mimpinya yang lelap. Tiba-tiba aroma masakan ibu membuat perutnya lapar dan ingin sekali melompat dari tempat tidur. Tapi melompat tiba-tiba dari tempat tidur rasanya begitu berat. Pertentangan membuat salah satu dari dua hal itu menyerah. Antara tidur untuk masuk ke mimpi atau perlahan bangun untuk mencari sumber aroma masakan ibu.

Perasaan mencium aroma masakan seperti itu saya rasa ketika ke Bentara Budaya Bali pada Hari Jumat, 20 September 2019, dalam acara Komponis Kini 2019 “A Tribute To #5 Wayan Beratha” menonton konser musik oleh komposer I Wayan Gde Yudane dengan Roras Ensembel yang membawa karya berjudul “Word in Iron” dan Dewa Alit dengan Gamelan Salukatnya yang membawa karya bertajuk “Siklus”.

Perasaan tidur dan melompat pada konser ada di antara masuk ke imajinasi atau bertahan pada visual sebagai sebuah pertunjukkan. Bagi saya, ini bukan hal gampang. Sebagai penonton yang tidak memiliki latar belakang bermain musik, cukup sulit bagi saya mencari cara untuk bisa menikmati konser tidak hanya dari sisi visual mata.

Sepertinya, mata saya begitu kuat dijajah oleh visual keseharian dan kedekatan saya dengan kehidupan ritual yang melibatkan gamelan. Ketika melihat gamelan selonding yang dimainkan tersebut membuat saya sadar, rupanya telinga saya lebih lemah dari pada mata sehingga melihat dan mendengar sekaligus membuat saya masih membayangkan selonding pada umumnya, padahal bila saya menutup mata akan ada pengalaman imajinasi yang berbeda.

Saya mencoba menutup mata untuk menikmati musik gamelan karena mata telah demikian kuat ditimpa beban citra bentuk gamelan. Saat menutup mata, selonding yang sebelumnya saya rasa berbunyi empuk menjadi berbeda. Sesungguhnya hal ini sangat menggelitik saya dalam hati. Saya ingin bertanya pada sesi diskusi, tetapi hari terlalu larut untuk itu sehingga tak ada kesempatan buat saya bertanya.


rOrAs Ensemble membawakan komposisi Word in Iron di Bentara Budaya Bali (Foto: Bentara Budaya Bali)

Tulisan ini sesungguhnya pertanyaan dan pengalaman yang tidak sempat  saya sampaikan. Lebih baik rasanya saya menulisnya. Beberapa hal dan pengalaman tersebut sedemikian menggelitiknya sehingga sesampai di rumah, gelitikan yang mengawang-awang itu mengganggu jam istirahat saya.

Pengalam ketika saya menutup mata sama halnya dengan bangun pagi yang diteror oleh aroma masakan tadi. Citra yang terpendam dipanggil oleh stimulus musik sehingga bayangan akan citra tersebut muncul seolah nyata, dan nikmat sekali rasanya hanyut dalam hayalan itu.

Dalam konteks musik gamelan Yudane ketika menutup mata, beberapa bunyi yang diciptakan seolah memanggil beberapa citraan saya terhadap bunyi-bunyi itu. Mungkin menjadi hal yang berbeda dengan orang lain. Saya mempunyai pengalaman dan kedekatan dengan pande besi. semasa kecil, saya sering bermain di rumah teman yang ada Prapen di halaman rumahnya. Saya merasa akrab dengan suara besi yang dipukul, direndam ketika panas, dan sebagainya.

Citraan akan bunyi itu tiba-tiba muncul di kepala saya. Tetapi tak bisa hanyut begitu saja. Seperti mimpi, semua visual yang digambarkan bedasar pengalaman itu terpotong-potong. Dari hal yang satu melompat menuju bayangan yang lain. Dari pande besi dan bayangan terhadap hal yang berkaitan dengan pande besi, tiba-tiba bunyi selonding berubah seperti drum yang ditempa. Pengalaman seperti ini pun menjadi bagian penting dalam diri saya.

Ketika kecil, terutama ketika ada drum kosong setelah pengaspalan jalan, drum akan dipukul oleh teman-teman saya dengan iseng. Visual seperti ini tiba-tiba muncul. Semua itu terpotong-potong tanpa pernah selesai, tetapi satu hal penting bahwa ada satu bunyi yang mengingatkan saya untuk tidak hanyut. bunyi itu seperti dengungan dalam kepala yang begitu cepat memotong khayalan.

Hal seperti ini tidak terjadi ketika saya mendengar gambelan yang sering dimainkan di tempat ritual. Ketika menutup atau membuka mata, visual yang muncul selalu gebogang, ayam panggang, buah, dupa, tarian, dan sebagainya. Semua hayalan hanya bagian ritual, tak ada masa kecil.


Sekaa Gamelan Salukat membawakan komposisi Siklus di Bentara Budaya Bali (Foto Bentara Budaya Bali)

Saya rasa pengalaman bunyi inilah yang disasar. Hal yang sama saya rasa ketika mendengar musik dari komposer Dewa Alit dengan Gamelan Salukatnya. Gong dijejer, tak ada yang normal. Pertama melihat formasi ini, saya membayangkan formasi seperti ini dibawa ke banjar. Mungkin akan ada satu atau dua orang yang protes. Setelah mendengar musik Yudana, saya seolah mendapat cara mendengar musik seperti ini. Jangan melihat pemain! Saya melihat langit, mendengar musik Dewa Alit, lalu perlahan menutup mata.

Untung tidak tidur, tapi memang tak ada kesempatan untuk itu. Bunyi-bunyi telah siap meneror. Gamelan ini memberi citra yang lain dengan musik gamelan Yudane. Apabila saya membayangkan masa kecil dengan pengalaman kedekatan bunyi yang diciptakan, ketika mendengar Dewa Alit, visual yang muncul adalah sesuatu yang asing. Bukan lagi ruang masa kecil, barangkali bukan pula masa depan. Musik yang mengantar saya menuju ruang entah di kepala. Namun, saya tak ingat betul itu terpotong atau tidak. Dari pengalaman itu, sekarang saya punya tips untuk mendengar musik gamelan. Tutup mata, letakkan fokus di telinga.

Satu hal lagi yang cukup menggelitik saya adalah pernyataan Yudane, “Komposer ngeri dengan masa lalu”. Entah berhubungan atau tidak, Penyataan ini mengingatkan saya dengan Deridda yang mengatakan, mencari makna asli adalah satu kekejaman karena makna asli akan membunuh tafsir dan berpeluang memonopoli makna. [T]

Tags: Bentara Budayagamelanmusik
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Tetap Sehat dengan Kondom

Next Post

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co