23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Konser New Gamelan: Melompat Bangun atau Lelap Menuju Potongan Pengalaman Bunyi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 23, 2019
in Ulasan
Menonton Konser New Gamelan: Melompat Bangun atau Lelap Menuju Potongan Pengalaman Bunyi

rOrAs Ensemble membawakan komposisi Word in Iron di Bentara Budaya Bali (Foto Bentara Budaya Bali)

Seseorang masih setengah bangun dari mimpinya yang lelap. Tiba-tiba aroma masakan ibu membuat perutnya lapar dan ingin sekali melompat dari tempat tidur. Tapi melompat tiba-tiba dari tempat tidur rasanya begitu berat. Pertentangan membuat salah satu dari dua hal itu menyerah. Antara tidur untuk masuk ke mimpi atau perlahan bangun untuk mencari sumber aroma masakan ibu.

Perasaan mencium aroma masakan seperti itu saya rasa ketika ke Bentara Budaya Bali pada Hari Jumat, 20 September 2019, dalam acara Komponis Kini 2019 “A Tribute To #5 Wayan Beratha” menonton konser musik oleh komposer I Wayan Gde Yudane dengan Roras Ensembel yang membawa karya berjudul “Word in Iron” dan Dewa Alit dengan Gamelan Salukatnya yang membawa karya bertajuk “Siklus”.

Perasaan tidur dan melompat pada konser ada di antara masuk ke imajinasi atau bertahan pada visual sebagai sebuah pertunjukkan. Bagi saya, ini bukan hal gampang. Sebagai penonton yang tidak memiliki latar belakang bermain musik, cukup sulit bagi saya mencari cara untuk bisa menikmati konser tidak hanya dari sisi visual mata.

Sepertinya, mata saya begitu kuat dijajah oleh visual keseharian dan kedekatan saya dengan kehidupan ritual yang melibatkan gamelan. Ketika melihat gamelan selonding yang dimainkan tersebut membuat saya sadar, rupanya telinga saya lebih lemah dari pada mata sehingga melihat dan mendengar sekaligus membuat saya masih membayangkan selonding pada umumnya, padahal bila saya menutup mata akan ada pengalaman imajinasi yang berbeda.

Saya mencoba menutup mata untuk menikmati musik gamelan karena mata telah demikian kuat ditimpa beban citra bentuk gamelan. Saat menutup mata, selonding yang sebelumnya saya rasa berbunyi empuk menjadi berbeda. Sesungguhnya hal ini sangat menggelitik saya dalam hati. Saya ingin bertanya pada sesi diskusi, tetapi hari terlalu larut untuk itu sehingga tak ada kesempatan buat saya bertanya.


rOrAs Ensemble membawakan komposisi Word in Iron di Bentara Budaya Bali (Foto: Bentara Budaya Bali)

Tulisan ini sesungguhnya pertanyaan dan pengalaman yang tidak sempat  saya sampaikan. Lebih baik rasanya saya menulisnya. Beberapa hal dan pengalaman tersebut sedemikian menggelitiknya sehingga sesampai di rumah, gelitikan yang mengawang-awang itu mengganggu jam istirahat saya.

Pengalam ketika saya menutup mata sama halnya dengan bangun pagi yang diteror oleh aroma masakan tadi. Citra yang terpendam dipanggil oleh stimulus musik sehingga bayangan akan citra tersebut muncul seolah nyata, dan nikmat sekali rasanya hanyut dalam hayalan itu.

Dalam konteks musik gamelan Yudane ketika menutup mata, beberapa bunyi yang diciptakan seolah memanggil beberapa citraan saya terhadap bunyi-bunyi itu. Mungkin menjadi hal yang berbeda dengan orang lain. Saya mempunyai pengalaman dan kedekatan dengan pande besi. semasa kecil, saya sering bermain di rumah teman yang ada Prapen di halaman rumahnya. Saya merasa akrab dengan suara besi yang dipukul, direndam ketika panas, dan sebagainya.

Citraan akan bunyi itu tiba-tiba muncul di kepala saya. Tetapi tak bisa hanyut begitu saja. Seperti mimpi, semua visual yang digambarkan bedasar pengalaman itu terpotong-potong. Dari hal yang satu melompat menuju bayangan yang lain. Dari pande besi dan bayangan terhadap hal yang berkaitan dengan pande besi, tiba-tiba bunyi selonding berubah seperti drum yang ditempa. Pengalaman seperti ini pun menjadi bagian penting dalam diri saya.

Ketika kecil, terutama ketika ada drum kosong setelah pengaspalan jalan, drum akan dipukul oleh teman-teman saya dengan iseng. Visual seperti ini tiba-tiba muncul. Semua itu terpotong-potong tanpa pernah selesai, tetapi satu hal penting bahwa ada satu bunyi yang mengingatkan saya untuk tidak hanyut. bunyi itu seperti dengungan dalam kepala yang begitu cepat memotong khayalan.

Hal seperti ini tidak terjadi ketika saya mendengar gambelan yang sering dimainkan di tempat ritual. Ketika menutup atau membuka mata, visual yang muncul selalu gebogang, ayam panggang, buah, dupa, tarian, dan sebagainya. Semua hayalan hanya bagian ritual, tak ada masa kecil.


Sekaa Gamelan Salukat membawakan komposisi Siklus di Bentara Budaya Bali (Foto Bentara Budaya Bali)

Saya rasa pengalaman bunyi inilah yang disasar. Hal yang sama saya rasa ketika mendengar musik dari komposer Dewa Alit dengan Gamelan Salukatnya. Gong dijejer, tak ada yang normal. Pertama melihat formasi ini, saya membayangkan formasi seperti ini dibawa ke banjar. Mungkin akan ada satu atau dua orang yang protes. Setelah mendengar musik Yudana, saya seolah mendapat cara mendengar musik seperti ini. Jangan melihat pemain! Saya melihat langit, mendengar musik Dewa Alit, lalu perlahan menutup mata.

Untung tidak tidur, tapi memang tak ada kesempatan untuk itu. Bunyi-bunyi telah siap meneror. Gamelan ini memberi citra yang lain dengan musik gamelan Yudane. Apabila saya membayangkan masa kecil dengan pengalaman kedekatan bunyi yang diciptakan, ketika mendengar Dewa Alit, visual yang muncul adalah sesuatu yang asing. Bukan lagi ruang masa kecil, barangkali bukan pula masa depan. Musik yang mengantar saya menuju ruang entah di kepala. Namun, saya tak ingat betul itu terpotong atau tidak. Dari pengalaman itu, sekarang saya punya tips untuk mendengar musik gamelan. Tutup mata, letakkan fokus di telinga.

Satu hal lagi yang cukup menggelitik saya adalah pernyataan Yudane, “Komposer ngeri dengan masa lalu”. Entah berhubungan atau tidak, Penyataan ini mengingatkan saya dengan Deridda yang mengatakan, mencari makna asli adalah satu kekejaman karena makna asli akan membunuh tafsir dan berpeluang memonopoli makna. [T]

Tags: Bentara Budayagamelanmusik
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Tetap Sehat dengan Kondom

Next Post

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co