14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
September 4, 2019
in Esai
I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Ilustrasi diolah dari gambar di https://publicdomainvectors.org/

“Kapan anak saya mulai belajar membaca dan berhitung, Bu?”

“Kapan anak saya bisa membaca dan berhitung? Sebentar lagi anak saya akan masuk SD.”

Pertanyaan ini aku dengar dari para orang tua kepada Bu Nengah ketika menemani anak-anak mereka bermain lego. Hatiku sontak terenyuh mendengar pertanyaan itu. Walaupun Bu Nengah menjelaskan panjang lebar tentang bermain merupakan belajar di usia mereka, tetap saja para orangtua menuntut anaknya bias secepatnya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Apakah seorang anak adalah sebuah komputer atau robot? Permasalahannya bisa diselesaikan dengan menyempurnakan logaritma-logaritmanya? Permasalahannya tidak sesederhana itu. Semestinya kita menyadari bahwa Ki Hadjar Dewantara sudah meletakkan pondasi filosofi pendidikan, yakni pendidikan yang memiliki kebermaknaan dalam arah melihat masa depan bagi anak didik itu sendiri di tengah paradigma jaman yang terus berubah.

Akan tetapi, kita sudah melupakan semua itu. Justru pondasi itu mulai retak dipalu oleh belenggu asumsi pendidikan yang sudah kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Bahkan berkali-kali mengganti kurikulum, tetapi semakin keras dentuman palu asumsi pendidikan sebagai langkah cepat menggapai masa depan di Abad 21. Pondasi filosofi Ki Hadjar Dewantara pun terbelah berkeping-keping.

Kita hanya menyisakan sebuah asumsi bahwa sekadar bisa menghitung dan menghapal adalah sebagai pola keberhasilan berpikir anak, tetapi tidak mendidik untuk berpikir. Jika dididik untuk berpikir, kita tidak akan berhenti pada sekadar bisa menghitung dan menghapal atau sekadar bisa membaca, tetapi kita akan menemukan passion kita.

Kita pun hanya mencapai kedangkalan pandangan. Rasa ketakutan semakin mudah tertanam sebagai asumsi kedisiplinan. Kita terseret dalam arus dunia feodalisme tanpa ada keberanian menciptakan dunia sendiri dalam mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Daya kritis, kreativitas dan imajinasi menjadi hal gila yang diasingkan di negeri sendiri. Menumbuhkan empati diabaikan. Ya, tidak salah Pramoedya Ananta Toer memiliki pemikiran dalam setiap karyanya bahwa pendidikan masih menyamankan bangsa kita menjajah bangsa sendiri.

Kemudian, belenggu asumsi mengingatkuku sebuah cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” tatkala diceritakan kepada anak-anak. Cerita ini mungkin di daerah lainnya diberi judul yang berbeda karena dulu diceritakan dari mulut ke mulut oleh kakek kita.  

Dikisahkan, I Belog hidup berdua bersama ibunya. Ibu I Belog memelihara bangkung[1] yang memiliki 10 anak. Ibunya begitu bahagia melihat babi yang dipeliharanya sehat-sehat.

Suatu hari, Ibu I Belog akan pergi ke ladang untuk memanen jagung. Akan tetapi, Ibu I Belog merasa gelisah meninggalkan peliharaannya yang masil kecil-kecil apalagi tetangganya sering juga  kehilangan ternaknya.

“Belog, ke sini kamu sebentar.”  Ibu I Belog memanggil.

“Ya Bu, ada apa Ibu memanggilku?” I Belog menghampiri ibunya.

“I Belog sekarang diam di rumah! Kamu jaga kucit-kucit[2] jangan sampai lepas ataupun dicuri orang,” pesan ibunya sebelum pergi ke ladang.

“Ya, Bu, aku pasti menjaganya dengan aman,” jawab I Belog sungguh-sungguh.

“Oh, Ibu hampir lupa. Ingat ya, Belog, kucit-kucit ibu ada 10 ekor jangan sampai hilang,” ucap ibunya memperingatkan.

“Tenang, Bu, aku pasti menjalankan tugas dengan baik,” ucap I Belog sigap menenangkan ibunya.

Merasa pesannya sudah tersampaikan dengan jelas dan I Belog tidak akan lagi salah informasi, ibunya legas pergi ke ladang.

Kini, I Belog tinggal sendiri menjaga babi-babinya di rumah. Ia pergi ke dapur mengambil dakdak[3]. Ia bergegas pergi ke kandang untuk memberikan makan babinya.

“Kata ibu, kucitnya ada 10. Aku harus menghitungnya dulu. Adakah yang hilang?” pikir I Belog untuk memastikan agar kucit-kucit ibunya masih lengkap.

I Belog menghitung kucit-kucit itu, tetapi dalam hitungannya bahwa kucit itu ada 11 ekor.

“Ibu pasti salah menghitung ini. Masak kucitnya ada 11 ekor, dibilang ada 10 ekor,” pikir I Belog.

I Belog merenung beberapa saat memikirkan jumlah kucit yang lebih lagi satu ekor.

“Mengapa tidak aku jual saja satu kucitnya? Ibu pasti tidak tahu. Kata ibu, kucit yang harus dijaga adalah 10 ekor,” pikir I Belog penuh keyakinan.

“Tapi jika aku jual sekarang, ibu pasti keburu datang dari ladang dan ibu pasti marah karena melihat aku tidak ada di rumah,” gumam I Belog ragu.

“Ahh, aku sembunyikan dulu satu kucitnya sampai besok.”

I Belog masuk ke kandang babi dan mengambil satu kucit. Ia berkeliling rumah mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan satu kucit itu. Akan tetapi, ia belum menemukan tempat yang aman untuk menyembunyikan kucitnya.

“Ooh, ke mana aku menyembunyikan kucit ini? Semua tempat sudah aku coba, tetapi akan mudah ditemukan oleh ibu. Buktinya aku dengan mudah melihat kucit ini ketika aku sudah menyembunyikannya. Ah, ibu sebentar lagi datang,” keluh I Belog terhadap dirinya sendiri. “Ooo ya, aku kan belum mencoba menyembunyikan kucit ini di punggung. Mungkin setelah menyembunyikannya di punggung, kucit ini aman tak terlihat,” pikir I Belog yang merasa idenya sangat cemerlang.

I Belog mulai mengikat kucit itu di punggungnya. Dan kucit itu sudah berada di punggunya I Belog.

“Akhirnya kucit ini aman tersembunyi dan tertutup kain. Aku tidak bisa melihatnya, berarti ibu tidak akan bisa menemukan kucit yang aku sembunyikan,” ucap I Belog bangga.

Dengan keadaan yang melelahkan, Ibu I Belog datang dari ladang menyunggi sekeranjang jagung. Sekeranjang jagung itu diletakkannya di teras rumah. Ia bergegas pergi ke belakang rumah melihat babinya di kandang. Ia ingin tahu apakah anak babinya masih lengkap atau tidak seperti saat ia pergi ke ladang. Ia menghitung semua anak babi itu.

“Belog, ke mana lagi satu babinya? Belog di mana kamu?” Ibunya memanggil I Belog dengan suara meninggi.

“Ada apa, Bu? Aku lagi di dapur membuat makan kucit,” jawab I Belog mendekati ibunya seolah-olah tidak tahu apa-apa.

“Ini kucitnya kok cuman ada 9 ekor? Pasti kamu tidak menjaga dengan baik kucit-kucit ini,” ucap ibunya I Belog yang masih sibuk melihat-lihat kucitnya mungkin tertutup badan bangkung.

“Bu, ini kucit jumlahnya sudah 10 ekor. Mana mungkin hilang. Mungkin ibu yang salah menghitungnya,” kata I Belog tegas tanpa menimbulkan kecurigaan bagi ibunya.

“Mana mungkin ibu keliru menghitungnya. Tadi sudah jelas ibu menghitungnya,” kata ibunya menggerutu membatah penjelasan I Belog.

“Benar, Bu. Saya sudah menghitungnya sampai dua kali. Kucitnya masih lengkap ada 10 ekor,” ungkap I Belog sedikit gugup meyakinkan ibunya.

“Coba hitung lagi biar ibu bisa melihat dengan jelas kamu menghitungnya,” pinta ibunya.

I Belog pun mulai menghitung satu-persatu dengan penuh keyakinan bahwa hitungannya pasti benar.

“Itu bangkung yang ikut kamu hitung, Belog!” ucap ibunya terlihat marah.

“Bangkung juga kamu bilang kucit. Kucit itu anaknya bangkung.”

I Belog hanya menunduk malu. Ternyata, ia hanya memiliki prasangka yang salah. “Sungguh ceroboh, aku tidak bisa membedakan antara bangkung dan kucit,” pikir I Belog.

“Belog! Apa saja yang kamu lakukan di rumah? Kamu sampai tidak tahu kalau satu kucit sudah hilang,” tanya ibunya menahan amarah.

“Aku tidak kemana-mana. Aku sudah menjaganya dengan baik. Mungkin sebelum ibu berangkat ke ladang, memang jumlah kucitnya ada 9 ekor,” jawab I Belog mencari-cari alasan agar kebohongannya tidak ketahuan.

“Tidak! Ibu yakin kucitnya ada 10 ekor,” sanggah ibunya. Terdengar suaranya ibunya I Belog meninggi.

I Belog hanya diam membisu dan perlahan-lahan mundur dari kandang babi. Ia ingin menghidar dari ibunya karena merasakan kebohongannya akan diketahui ibunya. Ia ingin secepat kilat melarikan diri tanpa pengetahuan ibunya.

“Belog! Kamu mau ke mana? Itu apa yang ada di punggungmu terbungkus?”

Ancang-ancang gerakan langkah seribu I Belog terhenti oleh teriakan ibunya. I Belog merasa tidak bisa menghindar lagi dari kebohongan yang diperbuatnya.

“Coba ibu lihat. Dari tadi, ibu tidak memperhatikan apa yang ada di punggungmu,” pinta ibunya mendekati I Belog.

I Belog sudah tertangkap basah oleh ibunya.

“Ternyata kamu yang menyembunyikan kucit ini. Lebih konyol lagi, kamu sembunyikan di punggumu sendiri. Ternyata ini alasanmu ingin melarikan diri.”

“Maaf, Bu, aku salah!”

Kini, I Belog hanya bisa menyadari atas kesalahannya yang memanfaatkan ketidaktahuannya terhadap perbedaan antara bangkung dan kucit. Ia tidak seharusnya melakukan semua kekonyolan itu sebagai pembuktian bahwa diri sudah pintar. Ia hanya memohon maaf kepada ibunya.

Ibunya sudah memaafkan semua kesalahan anaknya. Ia merasa bersalah yang menganggap bahwa anaknya sudah mengetahui segalanya sehingga setiap perkataanya bisa dipahami. Sedangkan kucit yang disembunyikan itu, kini sudah bisa berebut susu dengan kesembilan saudaranya.

            Kemudian, cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” ini diceritakan, anak-anak sangat antusias mendengarkan kisah I Belog. Tanpa rasa takut dan penuh keberanian, anak-anak memprotes I Belog bahwa I Belog sudah salah menghitungnya. I Belog seharusnya hanya menghitung anak babinya saja, bukannya menghitung ibu babinya juga.

            Dalam hal ini, kita sedang melihat anak-anak mengkritisi asumsi-asumsi yang ada di pikiran I Belog. Begitu juga dengan kita, jika hanya terbelenggu dalam sebuah asumsi pendidikan, kita akan menganggap cerita “I Belog Menjaga Anak Babi”  hanya sebuah lelucon belaka yang diciptakan dari mulut ke mulut oleh leluhur kita. Padahal tidak sesederhana itu. Coba saja kita renungkan sediri dan temukan hipotesisnya. Kemudian, lakukan eksperimennya, maka simpulkan sendiri.

            Jika kita sudah merenungkan semua ini, terlepas apakah itu pedidikan formal ataupun pendidikan di keluarga? Pendidikan semestinya memberikan makna dan mutu perkembangan pandangan hidup humanisme bukan membentuk kita menjadi manusia pekerja tanpa sebuah inovasi. Kita pun akan tetap memberikan makna dan mutu pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni manusia yang harus dipupuk rasa ingin tahunya, keinginan bertanya, kreativitas, empati, dan daya kritisnya sehingga kita menjadi manusia yang berpikir mandiri tanpa terantai oleh ketakutan.

Kemudian, kita tidak akan lagi mendengar sebuah pendidikan alternatif untuk memperoleh pendidikan yang bermakna. Semestinya, semua pendidikan memberikan Pendidikan yang bermakna.

Jangan-jangan selama ini, pendidikan yang bermakna disembunyikan di punggung kita? Kita tidak menyadari sudah menjadi karakter “I Belog Menjaga Anak Babi”. Benarkah itu? Mari memeriksa punggung kita di cermin.  [T]


[1] Ibu babi atau induk babi yang siap diternakan.

[2] Anak babi dalam Bahasa bali dinamakan kucit.

[3] Nama makanan babi.

Tags: dongengI BelogPendidikanpendidikan usia dini
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Śivamba – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-"bully"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co