12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
September 4, 2019
in Esai
I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Ilustrasi diolah dari gambar di https://publicdomainvectors.org/

“Kapan anak saya mulai belajar membaca dan berhitung, Bu?”

“Kapan anak saya bisa membaca dan berhitung? Sebentar lagi anak saya akan masuk SD.”

Pertanyaan ini aku dengar dari para orang tua kepada Bu Nengah ketika menemani anak-anak mereka bermain lego. Hatiku sontak terenyuh mendengar pertanyaan itu. Walaupun Bu Nengah menjelaskan panjang lebar tentang bermain merupakan belajar di usia mereka, tetap saja para orangtua menuntut anaknya bias secepatnya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Apakah seorang anak adalah sebuah komputer atau robot? Permasalahannya bisa diselesaikan dengan menyempurnakan logaritma-logaritmanya? Permasalahannya tidak sesederhana itu. Semestinya kita menyadari bahwa Ki Hadjar Dewantara sudah meletakkan pondasi filosofi pendidikan, yakni pendidikan yang memiliki kebermaknaan dalam arah melihat masa depan bagi anak didik itu sendiri di tengah paradigma jaman yang terus berubah.

Akan tetapi, kita sudah melupakan semua itu. Justru pondasi itu mulai retak dipalu oleh belenggu asumsi pendidikan yang sudah kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Bahkan berkali-kali mengganti kurikulum, tetapi semakin keras dentuman palu asumsi pendidikan sebagai langkah cepat menggapai masa depan di Abad 21. Pondasi filosofi Ki Hadjar Dewantara pun terbelah berkeping-keping.

Kita hanya menyisakan sebuah asumsi bahwa sekadar bisa menghitung dan menghapal adalah sebagai pola keberhasilan berpikir anak, tetapi tidak mendidik untuk berpikir. Jika dididik untuk berpikir, kita tidak akan berhenti pada sekadar bisa menghitung dan menghapal atau sekadar bisa membaca, tetapi kita akan menemukan passion kita.

Kita pun hanya mencapai kedangkalan pandangan. Rasa ketakutan semakin mudah tertanam sebagai asumsi kedisiplinan. Kita terseret dalam arus dunia feodalisme tanpa ada keberanian menciptakan dunia sendiri dalam mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Daya kritis, kreativitas dan imajinasi menjadi hal gila yang diasingkan di negeri sendiri. Menumbuhkan empati diabaikan. Ya, tidak salah Pramoedya Ananta Toer memiliki pemikiran dalam setiap karyanya bahwa pendidikan masih menyamankan bangsa kita menjajah bangsa sendiri.

Kemudian, belenggu asumsi mengingatkuku sebuah cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” tatkala diceritakan kepada anak-anak. Cerita ini mungkin di daerah lainnya diberi judul yang berbeda karena dulu diceritakan dari mulut ke mulut oleh kakek kita.  

Dikisahkan, I Belog hidup berdua bersama ibunya. Ibu I Belog memelihara bangkung[1] yang memiliki 10 anak. Ibunya begitu bahagia melihat babi yang dipeliharanya sehat-sehat.

Suatu hari, Ibu I Belog akan pergi ke ladang untuk memanen jagung. Akan tetapi, Ibu I Belog merasa gelisah meninggalkan peliharaannya yang masil kecil-kecil apalagi tetangganya sering juga  kehilangan ternaknya.

“Belog, ke sini kamu sebentar.”  Ibu I Belog memanggil.

“Ya Bu, ada apa Ibu memanggilku?” I Belog menghampiri ibunya.

“I Belog sekarang diam di rumah! Kamu jaga kucit-kucit[2] jangan sampai lepas ataupun dicuri orang,” pesan ibunya sebelum pergi ke ladang.

“Ya, Bu, aku pasti menjaganya dengan aman,” jawab I Belog sungguh-sungguh.

“Oh, Ibu hampir lupa. Ingat ya, Belog, kucit-kucit ibu ada 10 ekor jangan sampai hilang,” ucap ibunya memperingatkan.

“Tenang, Bu, aku pasti menjalankan tugas dengan baik,” ucap I Belog sigap menenangkan ibunya.

Merasa pesannya sudah tersampaikan dengan jelas dan I Belog tidak akan lagi salah informasi, ibunya legas pergi ke ladang.

Kini, I Belog tinggal sendiri menjaga babi-babinya di rumah. Ia pergi ke dapur mengambil dakdak[3]. Ia bergegas pergi ke kandang untuk memberikan makan babinya.

“Kata ibu, kucitnya ada 10. Aku harus menghitungnya dulu. Adakah yang hilang?” pikir I Belog untuk memastikan agar kucit-kucit ibunya masih lengkap.

I Belog menghitung kucit-kucit itu, tetapi dalam hitungannya bahwa kucit itu ada 11 ekor.

“Ibu pasti salah menghitung ini. Masak kucitnya ada 11 ekor, dibilang ada 10 ekor,” pikir I Belog.

I Belog merenung beberapa saat memikirkan jumlah kucit yang lebih lagi satu ekor.

“Mengapa tidak aku jual saja satu kucitnya? Ibu pasti tidak tahu. Kata ibu, kucit yang harus dijaga adalah 10 ekor,” pikir I Belog penuh keyakinan.

“Tapi jika aku jual sekarang, ibu pasti keburu datang dari ladang dan ibu pasti marah karena melihat aku tidak ada di rumah,” gumam I Belog ragu.

“Ahh, aku sembunyikan dulu satu kucitnya sampai besok.”

I Belog masuk ke kandang babi dan mengambil satu kucit. Ia berkeliling rumah mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan satu kucit itu. Akan tetapi, ia belum menemukan tempat yang aman untuk menyembunyikan kucitnya.

“Ooh, ke mana aku menyembunyikan kucit ini? Semua tempat sudah aku coba, tetapi akan mudah ditemukan oleh ibu. Buktinya aku dengan mudah melihat kucit ini ketika aku sudah menyembunyikannya. Ah, ibu sebentar lagi datang,” keluh I Belog terhadap dirinya sendiri. “Ooo ya, aku kan belum mencoba menyembunyikan kucit ini di punggung. Mungkin setelah menyembunyikannya di punggung, kucit ini aman tak terlihat,” pikir I Belog yang merasa idenya sangat cemerlang.

I Belog mulai mengikat kucit itu di punggungnya. Dan kucit itu sudah berada di punggunya I Belog.

“Akhirnya kucit ini aman tersembunyi dan tertutup kain. Aku tidak bisa melihatnya, berarti ibu tidak akan bisa menemukan kucit yang aku sembunyikan,” ucap I Belog bangga.

Dengan keadaan yang melelahkan, Ibu I Belog datang dari ladang menyunggi sekeranjang jagung. Sekeranjang jagung itu diletakkannya di teras rumah. Ia bergegas pergi ke belakang rumah melihat babinya di kandang. Ia ingin tahu apakah anak babinya masih lengkap atau tidak seperti saat ia pergi ke ladang. Ia menghitung semua anak babi itu.

“Belog, ke mana lagi satu babinya? Belog di mana kamu?” Ibunya memanggil I Belog dengan suara meninggi.

“Ada apa, Bu? Aku lagi di dapur membuat makan kucit,” jawab I Belog mendekati ibunya seolah-olah tidak tahu apa-apa.

“Ini kucitnya kok cuman ada 9 ekor? Pasti kamu tidak menjaga dengan baik kucit-kucit ini,” ucap ibunya I Belog yang masih sibuk melihat-lihat kucitnya mungkin tertutup badan bangkung.

“Bu, ini kucit jumlahnya sudah 10 ekor. Mana mungkin hilang. Mungkin ibu yang salah menghitungnya,” kata I Belog tegas tanpa menimbulkan kecurigaan bagi ibunya.

“Mana mungkin ibu keliru menghitungnya. Tadi sudah jelas ibu menghitungnya,” kata ibunya menggerutu membatah penjelasan I Belog.

“Benar, Bu. Saya sudah menghitungnya sampai dua kali. Kucitnya masih lengkap ada 10 ekor,” ungkap I Belog sedikit gugup meyakinkan ibunya.

“Coba hitung lagi biar ibu bisa melihat dengan jelas kamu menghitungnya,” pinta ibunya.

I Belog pun mulai menghitung satu-persatu dengan penuh keyakinan bahwa hitungannya pasti benar.

“Itu bangkung yang ikut kamu hitung, Belog!” ucap ibunya terlihat marah.

“Bangkung juga kamu bilang kucit. Kucit itu anaknya bangkung.”

I Belog hanya menunduk malu. Ternyata, ia hanya memiliki prasangka yang salah. “Sungguh ceroboh, aku tidak bisa membedakan antara bangkung dan kucit,” pikir I Belog.

“Belog! Apa saja yang kamu lakukan di rumah? Kamu sampai tidak tahu kalau satu kucit sudah hilang,” tanya ibunya menahan amarah.

“Aku tidak kemana-mana. Aku sudah menjaganya dengan baik. Mungkin sebelum ibu berangkat ke ladang, memang jumlah kucitnya ada 9 ekor,” jawab I Belog mencari-cari alasan agar kebohongannya tidak ketahuan.

“Tidak! Ibu yakin kucitnya ada 10 ekor,” sanggah ibunya. Terdengar suaranya ibunya I Belog meninggi.

I Belog hanya diam membisu dan perlahan-lahan mundur dari kandang babi. Ia ingin menghidar dari ibunya karena merasakan kebohongannya akan diketahui ibunya. Ia ingin secepat kilat melarikan diri tanpa pengetahuan ibunya.

“Belog! Kamu mau ke mana? Itu apa yang ada di punggungmu terbungkus?”

Ancang-ancang gerakan langkah seribu I Belog terhenti oleh teriakan ibunya. I Belog merasa tidak bisa menghindar lagi dari kebohongan yang diperbuatnya.

“Coba ibu lihat. Dari tadi, ibu tidak memperhatikan apa yang ada di punggungmu,” pinta ibunya mendekati I Belog.

I Belog sudah tertangkap basah oleh ibunya.

“Ternyata kamu yang menyembunyikan kucit ini. Lebih konyol lagi, kamu sembunyikan di punggumu sendiri. Ternyata ini alasanmu ingin melarikan diri.”

“Maaf, Bu, aku salah!”

Kini, I Belog hanya bisa menyadari atas kesalahannya yang memanfaatkan ketidaktahuannya terhadap perbedaan antara bangkung dan kucit. Ia tidak seharusnya melakukan semua kekonyolan itu sebagai pembuktian bahwa diri sudah pintar. Ia hanya memohon maaf kepada ibunya.

Ibunya sudah memaafkan semua kesalahan anaknya. Ia merasa bersalah yang menganggap bahwa anaknya sudah mengetahui segalanya sehingga setiap perkataanya bisa dipahami. Sedangkan kucit yang disembunyikan itu, kini sudah bisa berebut susu dengan kesembilan saudaranya.

            Kemudian, cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” ini diceritakan, anak-anak sangat antusias mendengarkan kisah I Belog. Tanpa rasa takut dan penuh keberanian, anak-anak memprotes I Belog bahwa I Belog sudah salah menghitungnya. I Belog seharusnya hanya menghitung anak babinya saja, bukannya menghitung ibu babinya juga.

            Dalam hal ini, kita sedang melihat anak-anak mengkritisi asumsi-asumsi yang ada di pikiran I Belog. Begitu juga dengan kita, jika hanya terbelenggu dalam sebuah asumsi pendidikan, kita akan menganggap cerita “I Belog Menjaga Anak Babi”  hanya sebuah lelucon belaka yang diciptakan dari mulut ke mulut oleh leluhur kita. Padahal tidak sesederhana itu. Coba saja kita renungkan sediri dan temukan hipotesisnya. Kemudian, lakukan eksperimennya, maka simpulkan sendiri.

            Jika kita sudah merenungkan semua ini, terlepas apakah itu pedidikan formal ataupun pendidikan di keluarga? Pendidikan semestinya memberikan makna dan mutu perkembangan pandangan hidup humanisme bukan membentuk kita menjadi manusia pekerja tanpa sebuah inovasi. Kita pun akan tetap memberikan makna dan mutu pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni manusia yang harus dipupuk rasa ingin tahunya, keinginan bertanya, kreativitas, empati, dan daya kritisnya sehingga kita menjadi manusia yang berpikir mandiri tanpa terantai oleh ketakutan.

Kemudian, kita tidak akan lagi mendengar sebuah pendidikan alternatif untuk memperoleh pendidikan yang bermakna. Semestinya, semua pendidikan memberikan Pendidikan yang bermakna.

Jangan-jangan selama ini, pendidikan yang bermakna disembunyikan di punggung kita? Kita tidak menyadari sudah menjadi karakter “I Belog Menjaga Anak Babi”. Benarkah itu? Mari memeriksa punggung kita di cermin.  [T]


[1] Ibu babi atau induk babi yang siap diternakan.

[2] Anak babi dalam Bahasa bali dinamakan kucit.

[3] Nama makanan babi.

Tags: dongengI BelogPendidikanpendidikan usia dini
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Śivamba – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-"bully"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co