2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
September 4, 2019
in Esai
I Belog Menjaga Anak Babi dan Belenggu Asumsi Pendidikan

Ilustrasi diolah dari gambar di https://publicdomainvectors.org/

“Kapan anak saya mulai belajar membaca dan berhitung, Bu?”

“Kapan anak saya bisa membaca dan berhitung? Sebentar lagi anak saya akan masuk SD.”

Pertanyaan ini aku dengar dari para orang tua kepada Bu Nengah ketika menemani anak-anak mereka bermain lego. Hatiku sontak terenyuh mendengar pertanyaan itu. Walaupun Bu Nengah menjelaskan panjang lebar tentang bermain merupakan belajar di usia mereka, tetap saja para orangtua menuntut anaknya bias secepatnya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Apakah seorang anak adalah sebuah komputer atau robot? Permasalahannya bisa diselesaikan dengan menyempurnakan logaritma-logaritmanya? Permasalahannya tidak sesederhana itu. Semestinya kita menyadari bahwa Ki Hadjar Dewantara sudah meletakkan pondasi filosofi pendidikan, yakni pendidikan yang memiliki kebermaknaan dalam arah melihat masa depan bagi anak didik itu sendiri di tengah paradigma jaman yang terus berubah.

Akan tetapi, kita sudah melupakan semua itu. Justru pondasi itu mulai retak dipalu oleh belenggu asumsi pendidikan yang sudah kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Bahkan berkali-kali mengganti kurikulum, tetapi semakin keras dentuman palu asumsi pendidikan sebagai langkah cepat menggapai masa depan di Abad 21. Pondasi filosofi Ki Hadjar Dewantara pun terbelah berkeping-keping.

Kita hanya menyisakan sebuah asumsi bahwa sekadar bisa menghitung dan menghapal adalah sebagai pola keberhasilan berpikir anak, tetapi tidak mendidik untuk berpikir. Jika dididik untuk berpikir, kita tidak akan berhenti pada sekadar bisa menghitung dan menghapal atau sekadar bisa membaca, tetapi kita akan menemukan passion kita.

Kita pun hanya mencapai kedangkalan pandangan. Rasa ketakutan semakin mudah tertanam sebagai asumsi kedisiplinan. Kita terseret dalam arus dunia feodalisme tanpa ada keberanian menciptakan dunia sendiri dalam mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Daya kritis, kreativitas dan imajinasi menjadi hal gila yang diasingkan di negeri sendiri. Menumbuhkan empati diabaikan. Ya, tidak salah Pramoedya Ananta Toer memiliki pemikiran dalam setiap karyanya bahwa pendidikan masih menyamankan bangsa kita menjajah bangsa sendiri.

Kemudian, belenggu asumsi mengingatkuku sebuah cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” tatkala diceritakan kepada anak-anak. Cerita ini mungkin di daerah lainnya diberi judul yang berbeda karena dulu diceritakan dari mulut ke mulut oleh kakek kita.  

Dikisahkan, I Belog hidup berdua bersama ibunya. Ibu I Belog memelihara bangkung[1] yang memiliki 10 anak. Ibunya begitu bahagia melihat babi yang dipeliharanya sehat-sehat.

Suatu hari, Ibu I Belog akan pergi ke ladang untuk memanen jagung. Akan tetapi, Ibu I Belog merasa gelisah meninggalkan peliharaannya yang masil kecil-kecil apalagi tetangganya sering juga  kehilangan ternaknya.

“Belog, ke sini kamu sebentar.”  Ibu I Belog memanggil.

“Ya Bu, ada apa Ibu memanggilku?” I Belog menghampiri ibunya.

“I Belog sekarang diam di rumah! Kamu jaga kucit-kucit[2] jangan sampai lepas ataupun dicuri orang,” pesan ibunya sebelum pergi ke ladang.

“Ya, Bu, aku pasti menjaganya dengan aman,” jawab I Belog sungguh-sungguh.

“Oh, Ibu hampir lupa. Ingat ya, Belog, kucit-kucit ibu ada 10 ekor jangan sampai hilang,” ucap ibunya memperingatkan.

“Tenang, Bu, aku pasti menjalankan tugas dengan baik,” ucap I Belog sigap menenangkan ibunya.

Merasa pesannya sudah tersampaikan dengan jelas dan I Belog tidak akan lagi salah informasi, ibunya legas pergi ke ladang.

Kini, I Belog tinggal sendiri menjaga babi-babinya di rumah. Ia pergi ke dapur mengambil dakdak[3]. Ia bergegas pergi ke kandang untuk memberikan makan babinya.

“Kata ibu, kucitnya ada 10. Aku harus menghitungnya dulu. Adakah yang hilang?” pikir I Belog untuk memastikan agar kucit-kucit ibunya masih lengkap.

I Belog menghitung kucit-kucit itu, tetapi dalam hitungannya bahwa kucit itu ada 11 ekor.

“Ibu pasti salah menghitung ini. Masak kucitnya ada 11 ekor, dibilang ada 10 ekor,” pikir I Belog.

I Belog merenung beberapa saat memikirkan jumlah kucit yang lebih lagi satu ekor.

“Mengapa tidak aku jual saja satu kucitnya? Ibu pasti tidak tahu. Kata ibu, kucit yang harus dijaga adalah 10 ekor,” pikir I Belog penuh keyakinan.

“Tapi jika aku jual sekarang, ibu pasti keburu datang dari ladang dan ibu pasti marah karena melihat aku tidak ada di rumah,” gumam I Belog ragu.

“Ahh, aku sembunyikan dulu satu kucitnya sampai besok.”

I Belog masuk ke kandang babi dan mengambil satu kucit. Ia berkeliling rumah mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan satu kucit itu. Akan tetapi, ia belum menemukan tempat yang aman untuk menyembunyikan kucitnya.

“Ooh, ke mana aku menyembunyikan kucit ini? Semua tempat sudah aku coba, tetapi akan mudah ditemukan oleh ibu. Buktinya aku dengan mudah melihat kucit ini ketika aku sudah menyembunyikannya. Ah, ibu sebentar lagi datang,” keluh I Belog terhadap dirinya sendiri. “Ooo ya, aku kan belum mencoba menyembunyikan kucit ini di punggung. Mungkin setelah menyembunyikannya di punggung, kucit ini aman tak terlihat,” pikir I Belog yang merasa idenya sangat cemerlang.

I Belog mulai mengikat kucit itu di punggungnya. Dan kucit itu sudah berada di punggunya I Belog.

“Akhirnya kucit ini aman tersembunyi dan tertutup kain. Aku tidak bisa melihatnya, berarti ibu tidak akan bisa menemukan kucit yang aku sembunyikan,” ucap I Belog bangga.

Dengan keadaan yang melelahkan, Ibu I Belog datang dari ladang menyunggi sekeranjang jagung. Sekeranjang jagung itu diletakkannya di teras rumah. Ia bergegas pergi ke belakang rumah melihat babinya di kandang. Ia ingin tahu apakah anak babinya masih lengkap atau tidak seperti saat ia pergi ke ladang. Ia menghitung semua anak babi itu.

“Belog, ke mana lagi satu babinya? Belog di mana kamu?” Ibunya memanggil I Belog dengan suara meninggi.

“Ada apa, Bu? Aku lagi di dapur membuat makan kucit,” jawab I Belog mendekati ibunya seolah-olah tidak tahu apa-apa.

“Ini kucitnya kok cuman ada 9 ekor? Pasti kamu tidak menjaga dengan baik kucit-kucit ini,” ucap ibunya I Belog yang masih sibuk melihat-lihat kucitnya mungkin tertutup badan bangkung.

“Bu, ini kucit jumlahnya sudah 10 ekor. Mana mungkin hilang. Mungkin ibu yang salah menghitungnya,” kata I Belog tegas tanpa menimbulkan kecurigaan bagi ibunya.

“Mana mungkin ibu keliru menghitungnya. Tadi sudah jelas ibu menghitungnya,” kata ibunya menggerutu membatah penjelasan I Belog.

“Benar, Bu. Saya sudah menghitungnya sampai dua kali. Kucitnya masih lengkap ada 10 ekor,” ungkap I Belog sedikit gugup meyakinkan ibunya.

“Coba hitung lagi biar ibu bisa melihat dengan jelas kamu menghitungnya,” pinta ibunya.

I Belog pun mulai menghitung satu-persatu dengan penuh keyakinan bahwa hitungannya pasti benar.

“Itu bangkung yang ikut kamu hitung, Belog!” ucap ibunya terlihat marah.

“Bangkung juga kamu bilang kucit. Kucit itu anaknya bangkung.”

I Belog hanya menunduk malu. Ternyata, ia hanya memiliki prasangka yang salah. “Sungguh ceroboh, aku tidak bisa membedakan antara bangkung dan kucit,” pikir I Belog.

“Belog! Apa saja yang kamu lakukan di rumah? Kamu sampai tidak tahu kalau satu kucit sudah hilang,” tanya ibunya menahan amarah.

“Aku tidak kemana-mana. Aku sudah menjaganya dengan baik. Mungkin sebelum ibu berangkat ke ladang, memang jumlah kucitnya ada 9 ekor,” jawab I Belog mencari-cari alasan agar kebohongannya tidak ketahuan.

“Tidak! Ibu yakin kucitnya ada 10 ekor,” sanggah ibunya. Terdengar suaranya ibunya I Belog meninggi.

I Belog hanya diam membisu dan perlahan-lahan mundur dari kandang babi. Ia ingin menghidar dari ibunya karena merasakan kebohongannya akan diketahui ibunya. Ia ingin secepat kilat melarikan diri tanpa pengetahuan ibunya.

“Belog! Kamu mau ke mana? Itu apa yang ada di punggungmu terbungkus?”

Ancang-ancang gerakan langkah seribu I Belog terhenti oleh teriakan ibunya. I Belog merasa tidak bisa menghindar lagi dari kebohongan yang diperbuatnya.

“Coba ibu lihat. Dari tadi, ibu tidak memperhatikan apa yang ada di punggungmu,” pinta ibunya mendekati I Belog.

I Belog sudah tertangkap basah oleh ibunya.

“Ternyata kamu yang menyembunyikan kucit ini. Lebih konyol lagi, kamu sembunyikan di punggumu sendiri. Ternyata ini alasanmu ingin melarikan diri.”

“Maaf, Bu, aku salah!”

Kini, I Belog hanya bisa menyadari atas kesalahannya yang memanfaatkan ketidaktahuannya terhadap perbedaan antara bangkung dan kucit. Ia tidak seharusnya melakukan semua kekonyolan itu sebagai pembuktian bahwa diri sudah pintar. Ia hanya memohon maaf kepada ibunya.

Ibunya sudah memaafkan semua kesalahan anaknya. Ia merasa bersalah yang menganggap bahwa anaknya sudah mengetahui segalanya sehingga setiap perkataanya bisa dipahami. Sedangkan kucit yang disembunyikan itu, kini sudah bisa berebut susu dengan kesembilan saudaranya.

            Kemudian, cerita “I Belog Menjaga Anak Babi” ini diceritakan, anak-anak sangat antusias mendengarkan kisah I Belog. Tanpa rasa takut dan penuh keberanian, anak-anak memprotes I Belog bahwa I Belog sudah salah menghitungnya. I Belog seharusnya hanya menghitung anak babinya saja, bukannya menghitung ibu babinya juga.

            Dalam hal ini, kita sedang melihat anak-anak mengkritisi asumsi-asumsi yang ada di pikiran I Belog. Begitu juga dengan kita, jika hanya terbelenggu dalam sebuah asumsi pendidikan, kita akan menganggap cerita “I Belog Menjaga Anak Babi”  hanya sebuah lelucon belaka yang diciptakan dari mulut ke mulut oleh leluhur kita. Padahal tidak sesederhana itu. Coba saja kita renungkan sediri dan temukan hipotesisnya. Kemudian, lakukan eksperimennya, maka simpulkan sendiri.

            Jika kita sudah merenungkan semua ini, terlepas apakah itu pedidikan formal ataupun pendidikan di keluarga? Pendidikan semestinya memberikan makna dan mutu perkembangan pandangan hidup humanisme bukan membentuk kita menjadi manusia pekerja tanpa sebuah inovasi. Kita pun akan tetap memberikan makna dan mutu pendidikan yang memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni manusia yang harus dipupuk rasa ingin tahunya, keinginan bertanya, kreativitas, empati, dan daya kritisnya sehingga kita menjadi manusia yang berpikir mandiri tanpa terantai oleh ketakutan.

Kemudian, kita tidak akan lagi mendengar sebuah pendidikan alternatif untuk memperoleh pendidikan yang bermakna. Semestinya, semua pendidikan memberikan Pendidikan yang bermakna.

Jangan-jangan selama ini, pendidikan yang bermakna disembunyikan di punggung kita? Kita tidak menyadari sudah menjadi karakter “I Belog Menjaga Anak Babi”. Benarkah itu? Mari memeriksa punggung kita di cermin.  [T]


[1] Ibu babi atau induk babi yang siap diternakan.

[2] Anak babi dalam Bahasa bali dinamakan kucit.

[3] Nama makanan babi.

Tags: dongengI BelogPendidikanpendidikan usia dini
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Śivamba – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-“bully”

Mendidik Siswa, Guru Tak Mesti Mem-"bully"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co