2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

RIPUH

Oka Rusmini by Oka Rusmini
August 26, 2019
in Esai
RIPUH

Edisi 26/8/2019

KOPLAK terdiam, pikirannya kacau balau. Perasaannya sulit dideteksi. Pokoknya seumur hidup baru kali ini Koplak merasakan perasaannya yang sangat tidak nyaman, sejak bangun pagi dadanya terasa sesak, sulit sekali bernafas. Entah dada yang mana, pokoknya sangat menganggu bahkan menarik nafas saja sulit. Pikiran Koplak pun berkelana, teringat kata-kata mendiang neneknya, seorang Ida Ayu dan sering sekali berkata, melahang nampih papineh – berusahalah menata hati dan pikiran biar tidak rusuh jiwa dan raga. Mungkin itu terjemahan bebasnya ala Koplak..

Kata-kata yang sering diucap perempuan tua yang sampai ajal menjemputnya Koplak masih merasakan hawa kebangsawanan yang melumuri perempuan tua itu, kecantikannya juga tidak pernah luntur. Koplak kadang membayangkan, pasti Neneknya itu perempuan paling cantik yang dimiliki desa mereka. Anehnya, perempuan secantik itu bersedia menemani Pekak, kakek Koplak sampai ajal menjemput sang Pekak, Nenek Dayu begitu biasanya Koplak memanggil perempuan tua itu, perempuan tua yang tidak mau dipanggil Odah. Katanya lebih baik dipanggil Nenek saja oleh cucu-cucunya kelak, juga oleh para menantunya.

Nenek Dayu bisa hidup santai bersama Pekak karena perempuan itu menurut perasaan dan pikiran Koplak hidup dijalananinya dengan ringan, mungkin karena itulah perempuan tua sekaligus satu-satunya perempuan paling cantik yang pernah dilihat Koplak semasa hidup. Kemitir pun kalah cantik. Nenek Dayu itu bukan tipe pengatur, Kemitir tipe pengatur.

Dada sebelah kanan terasa sakit, Koplak menarik nafas dalam-dalam. Tidak menolong, gerakan yoga yang diajarkan Kemitir justru membuat dada yang sebelah kiri juga makin sakit. Koplak semakin gelisah, keringat dingin mulai memandikan tubuhnya. Koplak menggigil. Lalu, semua berubah gelap!

***

Begitu membuka mata Koplak sudah bertemu dengan wajah Kemitir, bukan wajah nenek Dayu yang menyejukkan, wajah Kemitir terlihat besus, judes Koplak paham dari gerak mata Kemitir, Koplak paham banyak hal yang akan dibicaakan perempuan itu. Koplak pura-pura memejamkan mata, wajah Kemitir masih di depan wajahnya.

Akhirnya Koplak menyerah, ketika anak perempuan semata wayangnya itu belum juga membuka mulut, dia justru berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan. Koplak menarik nafas pelan-pelan, takut sekali dengan rasa sakit yang terasa menguliti tubuhnya. Sakit apa aku ini? Usiaku belum 50 tahun, sakit apa yang mengulik tubuhku?Apa amah leak? Dimakan ilmu hitam?

Koplak menimbang sendiri sambil tetap memicingkan mata berusaha menerka, berusaha menebak kata-kata yang akan meluncur dari bibir Kemitir. Koplak tahu persis Kemitir pasti akan ceramah “kebudayaan” seperti biasa tentang aturan-aturan hidup dan lain-lain. Hyang Jagat! Koplak menenangkan diri.Mungkin karena hidup Kemitir penuh aturan tak ada lelaki yang pernah ditenteng Kemitir dihadapan Koplak. Koplak menggigit bibirnya. Memicingkan mata kanan, wajah Kemitir justru dalam kondisi marah kok justru makin Jegeg, cantik ya?

“Bape, Bapak tahu kenapa saat ini berada di rumah sakit?” Suara Kemitir hampir saja membuat lepas satu sulur sarafnya. Rumah sakit? Waduh-waduh bagaimana ini? Koplak menggigil.

“Apa dokter atau petugas medis yang lainnnya sudah memasukkan obat ke dalam tubuh, Bape?” tanya Koplak terbata-bata. Kemitir mengangguk cepat.

“Kemitir kan sudah sering berkata-kata pada Bape, minum obat yang rajin. Minum obat yang teratur.”

“Apa aku sakit jantung? Karena kemarin jantungku berhenti berdetak!” Jawab Koplak serius dan cepat. Kemitir mendelik.

“Tidak hanya jantung, ginjal, dan seluruh organ di dalam tubuh Bape juga bisa raib, kalau Bape masih bengkung, bandel. Mengerti apa yang Kemitir katakan?” Kemitir berkata serius. Koplak terdian. Dia teringat seorang Ibu yang hamil yang berada di Jakarta setelah periksa ke Puskesmas ternyata bukannya sembuh justru muntah-muntah, setelah ditelisik, diduga obat yang diberikan kadaluarsa. Koplak menggigil.

Tahukah Kemitir kalau belakangan ini setiap minum obat Koplak justru merasa takut dan cemas, bukannya sembuh justru menambah bebab. Bagaimana kalau obat diabetes yang biasa ditelan Koplak palsu? Bagaimana kalau kadaluarsa? Terus kalau Koplak mati berarti mati konyol! Siapa yang akan mengurus desanya, karena saat ini adalah jabatan Koplak yang kedua, jabatan yang tidak memiliki beban. Koplak terdiam memandang mata dan bibir Kemitir yang terus memberi ceramah.

Tahukah Kemitir kecemasannya? Rasa takut dalam dirinya? Bagaimana Kemitir tahu obat yang biasanya dibeli Koplak selalu obat generik. Kata teman Koplak kalau menggunakan kartu BPJS biasanya pelayanan agak lama. Koplak terdiam ketika Kemitir berkata.

“Merawat kesehatan itu mahal, jika sakit lebih mahal lagi. yang tertib minum obat, Bape. Bape kan bukan anak kecil lagi.” Kemitir mendelik menyodorkan obat kepada Koplak. Koplak justru berkeringat dingin. Pikirannya dipenuhi beragam rasa takut dan kuatir.

Kalau aku mati bagaimana? Tidak jantan mati karena meneguk obat kadaluarsa kan?! [T]

Tags: desaKoplakOka RusminiPolitiksosial
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Status Medioker atawa Semenjana, Bukan Akhir Segalanya

Next Post

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co