13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Status Medioker atawa Semenjana, Bukan Akhir Segalanya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 24, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, nanti ikut turnamen tenis khusus lansia ya! Untuk memperingati 17 Agustusan, biar rame,” kata Pak S sambil menyeka keringat, di pagi yang cerah itu.

”Saya boleh ikut, Pak, umur saya kan baru 42 tahun,” sergah saya.

”Ya, untuk Pak Dokter dapat dispensasi khusus untuk ikut,” lanjutnya menyemangati.

Ada rasa getir di sudut hati menerima ajakan itu. Saya yang baru umur 40-an dianggap memiliki kemampuan setara dengan bapak bapak yang menjelang pensiun itu. Tapi hanya sebentar, langsung perasaan itu saya netralisir.

Baguslah, sudah diajak main daripada cuma jadi penonton yang manis. Begitu saya menghibur diri. Inilah nasib seorang medioker (dalam hal kemampuan bermain tenis pastinya) kadang dipandang sebelah mata oleh sesama penggemar tenis di lapangan.

Mediocrity atau mediocritas dalam dalam bahasa Latin, merupakan sebuah istilah yang sering dipakai untuk mengungkapkan hal yang standar. Maksudnya, kualitas atau tingkat kesuksesannya biasa biasa saja.  Mediocrity sama sekali tidak istimewa. Oya, dalam bahasa kita istilah ini cukup indah untuk status ini, SEMENJANA

 Di zaman millenial ini, istilah mediocrity dinilai lebih tajam lagi. Medioker dianggap mencerminkan sifat yang setengah setengah.

Senista itukah sifat medioker?, sehina itukah seorang medioker?

Saya yang merasa seorang medioker, dalam satu sisi kehidupan, ingin sedikit meluruskan tentang argumentasi ini. Menurut saya status medioker banyak kita temukan di masyarakat, bahkan kalau kita lapang dada, status negara kita pun boleh dibilang medioker di antara bangsa bangsa luar sana, bahkan sekelas ASEAN sekalipun.  

Bukti sahihnya ada di lapangan hijau. Timnas senior kita terakhir juara tingkat ASEAN adalah tahun 1991. Hampir 30 tahun yang lalu.Setelah itu kita lebih banyak menjadi penonton negara negara tetangga  kita menjuarai turnamen tingkat regional itu. Begitu banyak faktor yang menghasilkan manusi a atau masyarakat kelas semenjana ini.

Mungkin seharian kita berdebat, sampai keluar urat leher, tak akan menemukan kesamaan pendapat. Tapi saya berani menyampaikan tiga penyebab pokoknya. Karakter bangsa yang permisif, budaya kekeluargaan yang menafikan individu, dan terakhir sistem pendidikan kita yang menjejalkan begitu banyak hal ke otak anak anak kita. Membuat mereka tahu banyak, tapi tak tahu sama sekali.

Untuk tiga hal tadi mungkin akan saya bahas pada tulisan lain setelah diskusi dengan pakarnya. Pada kesempatan ini saya cuma ingin membahas mengapa saya tak dianggap pintar di lapangan tenis, itu saja titik.

Tenis, adalah olahraga ke-4 yang saya tekuni setelah sepakbola, bulutangkis dan futsal. Sepak bola sudah saya gandrungi sejak tahun 1986, saat Maradona mengantar Argentina menjadi Juara Dunia. Bulutangkis merupakan olahraga wajib untuk kami yang berasal dari desa Pandak, Tabanan, Belum lengkap rasanya kalau tak mampu meneplok si  bulu. Bahkan waktu kecil saya punya cita cita kalau tak jadi pemain bola seperti Maradona, bolehlah menjadi pemain bulutangkis nasional seperti    idola saya Liem swie King yang terkenal  dengan smashnya yang keras dan tajam, sampai diber julukan khusus “King Smash”.

Khusus untuk olahraga tenis, saya menekuninya sejak 5 tahun yang lalu, bersama teman teman guru SMA yang bertugas di daerah Busungbiu atas termasuk  daerah tetangga di Pupuan. Saya ingat sekali waktu pertama kita mengenal olahraga ini, sampai tak kenal waktu. Kadang di hari Jumat atau Sabtu jam 12 siang pun kami masih di lapangan.

Untungnya tempat kami main berada di punggung gunung Batukaru, di daerah Pujungan, jadi teriknya surya  diimbangi oleh dingninya angin yang berhembus dari puncak gunung . Olah raga ini memang lebih sesuai dengan umur saya yang menginjak 40-an, dibandingkan dengan sepakbola  dan bulutangkis yang mengutamakan kekuatan dan kecepatan. Di tenis kita bisa menyesuaikan kemampuan kita dengan kecepatan bola dan kekuatan diri kita sendiri. 

Pengalaman menekuni olahraga ini meyakinkan saya akan kebenaran beberapa petuah  orangtua kita dulu.” Usaha tak akan mengkhianati hasil”,” Practice make perfect”. Satu kata kunci untuk sukses di olahraga ini, bahkan olahraga apapun. Dan juga kehidupan itu sendiri adalah latihan dan ketekunan. Saya sendiri merasakan kebenarannya. Mengalami fase benyah latig sebagai pemain tenis.


Penulis bersiap main tenis

Dulu kalau saya ke lapangan, semua orang yang ada di lapangan selalu menghindar  jadi pasangan saya, karena permainan saya yang berantakan. Tapi seiring wakktu dan seringnya latihan, saat ini kalau saya datang teman teman berebut untuk jadi pasangan saya, terutama para pensiunan seperti yang saya ceritakan  tadi. Dan saya bisa menyimpulkan orang yang lebih bagus permainannya dari saya adalah mereka yang lebih dulu mulai mengenal tenis, dan yang lebih sering pergi ke lapangan untuk berlatih. Jadi latihan dan ketekunan memang kunci utamanya, bahkan mengalahkan bakat menurut pandangan saya.

Dan akhirnya yang menjadi acuan saya dalam menjalani hobby dan juga kehidupan ini barangkali hampir serupa. Kalu kau tak cukup mahir pada satu bidang, maka kau perlu memperbanyak bidang yang kau kuasai walaupun tak terlalu lihai. Barangkali ini penyebab saya  menerima status semenjana seperti saat ini. Main tenis bisa sedikit, bulu tangkis tak mengecewakan, sepak bola masih kuat melawan seumuran saya, apalagi cuma profesi dokter seperti saya.

Dan setidaknya saya mendapat beberapa manfaat dari situasi ini. Selain tetap diajak main oleh lebih banyak orang. Khusus untuk kemampuan olahraga saya,barangkali salah satu yang bisa saya tonjolkan minimal di lingkungan sesama dokter. Jadi  teman teman dokter di Buleleng mengenal saya sebagai si maniak olah raga. Setiap ada kegiatan olahraga biasanya saya didapuk sebagai kordinatornya.

Baiklah cukup sampai disitu pembelaan saya, biar tak terlalu malam tidur, besok masih ikut turnamen tenis lansia itu.Siapa tahu bisa jadi juara,  biar tak dianggap medioker lagi. Pesan saya untuk yang merasa  senasib dengan saya, saat kau berstatus semenjana di satu bidang, cobalah menutupinya dengan kelebihan di bidang lain, kalau bisa di lebih banyak bidang lagi. Pasti  anda akan lebih sukses dari saya, dijamin. [T]

Tags: doktermediokerolahragatenis
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Yan Nano, Mencari Tuhan dengan Bersepeda

Next Post

RIPUH

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

RIPUH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co