24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Status Medioker atawa Semenjana, Bukan Akhir Segalanya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 24, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, nanti ikut turnamen tenis khusus lansia ya! Untuk memperingati 17 Agustusan, biar rame,” kata Pak S sambil menyeka keringat, di pagi yang cerah itu.

”Saya boleh ikut, Pak, umur saya kan baru 42 tahun,” sergah saya.

”Ya, untuk Pak Dokter dapat dispensasi khusus untuk ikut,” lanjutnya menyemangati.

Ada rasa getir di sudut hati menerima ajakan itu. Saya yang baru umur 40-an dianggap memiliki kemampuan setara dengan bapak bapak yang menjelang pensiun itu. Tapi hanya sebentar, langsung perasaan itu saya netralisir.

Baguslah, sudah diajak main daripada cuma jadi penonton yang manis. Begitu saya menghibur diri. Inilah nasib seorang medioker (dalam hal kemampuan bermain tenis pastinya) kadang dipandang sebelah mata oleh sesama penggemar tenis di lapangan.

Mediocrity atau mediocritas dalam dalam bahasa Latin, merupakan sebuah istilah yang sering dipakai untuk mengungkapkan hal yang standar. Maksudnya, kualitas atau tingkat kesuksesannya biasa biasa saja.  Mediocrity sama sekali tidak istimewa. Oya, dalam bahasa kita istilah ini cukup indah untuk status ini, SEMENJANA

 Di zaman millenial ini, istilah mediocrity dinilai lebih tajam lagi. Medioker dianggap mencerminkan sifat yang setengah setengah.

Senista itukah sifat medioker?, sehina itukah seorang medioker?

Saya yang merasa seorang medioker, dalam satu sisi kehidupan, ingin sedikit meluruskan tentang argumentasi ini. Menurut saya status medioker banyak kita temukan di masyarakat, bahkan kalau kita lapang dada, status negara kita pun boleh dibilang medioker di antara bangsa bangsa luar sana, bahkan sekelas ASEAN sekalipun.  

Bukti sahihnya ada di lapangan hijau. Timnas senior kita terakhir juara tingkat ASEAN adalah tahun 1991. Hampir 30 tahun yang lalu.Setelah itu kita lebih banyak menjadi penonton negara negara tetangga  kita menjuarai turnamen tingkat regional itu. Begitu banyak faktor yang menghasilkan manusi a atau masyarakat kelas semenjana ini.

Mungkin seharian kita berdebat, sampai keluar urat leher, tak akan menemukan kesamaan pendapat. Tapi saya berani menyampaikan tiga penyebab pokoknya. Karakter bangsa yang permisif, budaya kekeluargaan yang menafikan individu, dan terakhir sistem pendidikan kita yang menjejalkan begitu banyak hal ke otak anak anak kita. Membuat mereka tahu banyak, tapi tak tahu sama sekali.

Untuk tiga hal tadi mungkin akan saya bahas pada tulisan lain setelah diskusi dengan pakarnya. Pada kesempatan ini saya cuma ingin membahas mengapa saya tak dianggap pintar di lapangan tenis, itu saja titik.

Tenis, adalah olahraga ke-4 yang saya tekuni setelah sepakbola, bulutangkis dan futsal. Sepak bola sudah saya gandrungi sejak tahun 1986, saat Maradona mengantar Argentina menjadi Juara Dunia. Bulutangkis merupakan olahraga wajib untuk kami yang berasal dari desa Pandak, Tabanan, Belum lengkap rasanya kalau tak mampu meneplok si  bulu. Bahkan waktu kecil saya punya cita cita kalau tak jadi pemain bola seperti Maradona, bolehlah menjadi pemain bulutangkis nasional seperti    idola saya Liem swie King yang terkenal  dengan smashnya yang keras dan tajam, sampai diber julukan khusus “King Smash”.

Khusus untuk olahraga tenis, saya menekuninya sejak 5 tahun yang lalu, bersama teman teman guru SMA yang bertugas di daerah Busungbiu atas termasuk  daerah tetangga di Pupuan. Saya ingat sekali waktu pertama kita mengenal olahraga ini, sampai tak kenal waktu. Kadang di hari Jumat atau Sabtu jam 12 siang pun kami masih di lapangan.

Untungnya tempat kami main berada di punggung gunung Batukaru, di daerah Pujungan, jadi teriknya surya  diimbangi oleh dingninya angin yang berhembus dari puncak gunung . Olah raga ini memang lebih sesuai dengan umur saya yang menginjak 40-an, dibandingkan dengan sepakbola  dan bulutangkis yang mengutamakan kekuatan dan kecepatan. Di tenis kita bisa menyesuaikan kemampuan kita dengan kecepatan bola dan kekuatan diri kita sendiri. 

Pengalaman menekuni olahraga ini meyakinkan saya akan kebenaran beberapa petuah  orangtua kita dulu.” Usaha tak akan mengkhianati hasil”,” Practice make perfect”. Satu kata kunci untuk sukses di olahraga ini, bahkan olahraga apapun. Dan juga kehidupan itu sendiri adalah latihan dan ketekunan. Saya sendiri merasakan kebenarannya. Mengalami fase benyah latig sebagai pemain tenis.


Penulis bersiap main tenis

Dulu kalau saya ke lapangan, semua orang yang ada di lapangan selalu menghindar  jadi pasangan saya, karena permainan saya yang berantakan. Tapi seiring wakktu dan seringnya latihan, saat ini kalau saya datang teman teman berebut untuk jadi pasangan saya, terutama para pensiunan seperti yang saya ceritakan  tadi. Dan saya bisa menyimpulkan orang yang lebih bagus permainannya dari saya adalah mereka yang lebih dulu mulai mengenal tenis, dan yang lebih sering pergi ke lapangan untuk berlatih. Jadi latihan dan ketekunan memang kunci utamanya, bahkan mengalahkan bakat menurut pandangan saya.

Dan akhirnya yang menjadi acuan saya dalam menjalani hobby dan juga kehidupan ini barangkali hampir serupa. Kalu kau tak cukup mahir pada satu bidang, maka kau perlu memperbanyak bidang yang kau kuasai walaupun tak terlalu lihai. Barangkali ini penyebab saya  menerima status semenjana seperti saat ini. Main tenis bisa sedikit, bulu tangkis tak mengecewakan, sepak bola masih kuat melawan seumuran saya, apalagi cuma profesi dokter seperti saya.

Dan setidaknya saya mendapat beberapa manfaat dari situasi ini. Selain tetap diajak main oleh lebih banyak orang. Khusus untuk kemampuan olahraga saya,barangkali salah satu yang bisa saya tonjolkan minimal di lingkungan sesama dokter. Jadi  teman teman dokter di Buleleng mengenal saya sebagai si maniak olah raga. Setiap ada kegiatan olahraga biasanya saya didapuk sebagai kordinatornya.

Baiklah cukup sampai disitu pembelaan saya, biar tak terlalu malam tidur, besok masih ikut turnamen tenis lansia itu.Siapa tahu bisa jadi juara,  biar tak dianggap medioker lagi. Pesan saya untuk yang merasa  senasib dengan saya, saat kau berstatus semenjana di satu bidang, cobalah menutupinya dengan kelebihan di bidang lain, kalau bisa di lebih banyak bidang lagi. Pasti  anda akan lebih sukses dari saya, dijamin. [T]

Tags: doktermediokerolahragatenis
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Yan Nano, Mencari Tuhan dengan Bersepeda

Next Post

RIPUH

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

RIPUH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co