3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Status Medioker atawa Semenjana, Bukan Akhir Segalanya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 24, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, nanti ikut turnamen tenis khusus lansia ya! Untuk memperingati 17 Agustusan, biar rame,” kata Pak S sambil menyeka keringat, di pagi yang cerah itu.

”Saya boleh ikut, Pak, umur saya kan baru 42 tahun,” sergah saya.

”Ya, untuk Pak Dokter dapat dispensasi khusus untuk ikut,” lanjutnya menyemangati.

Ada rasa getir di sudut hati menerima ajakan itu. Saya yang baru umur 40-an dianggap memiliki kemampuan setara dengan bapak bapak yang menjelang pensiun itu. Tapi hanya sebentar, langsung perasaan itu saya netralisir.

Baguslah, sudah diajak main daripada cuma jadi penonton yang manis. Begitu saya menghibur diri. Inilah nasib seorang medioker (dalam hal kemampuan bermain tenis pastinya) kadang dipandang sebelah mata oleh sesama penggemar tenis di lapangan.

Mediocrity atau mediocritas dalam dalam bahasa Latin, merupakan sebuah istilah yang sering dipakai untuk mengungkapkan hal yang standar. Maksudnya, kualitas atau tingkat kesuksesannya biasa biasa saja.  Mediocrity sama sekali tidak istimewa. Oya, dalam bahasa kita istilah ini cukup indah untuk status ini, SEMENJANA

 Di zaman millenial ini, istilah mediocrity dinilai lebih tajam lagi. Medioker dianggap mencerminkan sifat yang setengah setengah.

Senista itukah sifat medioker?, sehina itukah seorang medioker?

Saya yang merasa seorang medioker, dalam satu sisi kehidupan, ingin sedikit meluruskan tentang argumentasi ini. Menurut saya status medioker banyak kita temukan di masyarakat, bahkan kalau kita lapang dada, status negara kita pun boleh dibilang medioker di antara bangsa bangsa luar sana, bahkan sekelas ASEAN sekalipun.  

Bukti sahihnya ada di lapangan hijau. Timnas senior kita terakhir juara tingkat ASEAN adalah tahun 1991. Hampir 30 tahun yang lalu.Setelah itu kita lebih banyak menjadi penonton negara negara tetangga  kita menjuarai turnamen tingkat regional itu. Begitu banyak faktor yang menghasilkan manusi a atau masyarakat kelas semenjana ini.

Mungkin seharian kita berdebat, sampai keluar urat leher, tak akan menemukan kesamaan pendapat. Tapi saya berani menyampaikan tiga penyebab pokoknya. Karakter bangsa yang permisif, budaya kekeluargaan yang menafikan individu, dan terakhir sistem pendidikan kita yang menjejalkan begitu banyak hal ke otak anak anak kita. Membuat mereka tahu banyak, tapi tak tahu sama sekali.

Untuk tiga hal tadi mungkin akan saya bahas pada tulisan lain setelah diskusi dengan pakarnya. Pada kesempatan ini saya cuma ingin membahas mengapa saya tak dianggap pintar di lapangan tenis, itu saja titik.

Tenis, adalah olahraga ke-4 yang saya tekuni setelah sepakbola, bulutangkis dan futsal. Sepak bola sudah saya gandrungi sejak tahun 1986, saat Maradona mengantar Argentina menjadi Juara Dunia. Bulutangkis merupakan olahraga wajib untuk kami yang berasal dari desa Pandak, Tabanan, Belum lengkap rasanya kalau tak mampu meneplok si  bulu. Bahkan waktu kecil saya punya cita cita kalau tak jadi pemain bola seperti Maradona, bolehlah menjadi pemain bulutangkis nasional seperti    idola saya Liem swie King yang terkenal  dengan smashnya yang keras dan tajam, sampai diber julukan khusus “King Smash”.

Khusus untuk olahraga tenis, saya menekuninya sejak 5 tahun yang lalu, bersama teman teman guru SMA yang bertugas di daerah Busungbiu atas termasuk  daerah tetangga di Pupuan. Saya ingat sekali waktu pertama kita mengenal olahraga ini, sampai tak kenal waktu. Kadang di hari Jumat atau Sabtu jam 12 siang pun kami masih di lapangan.

Untungnya tempat kami main berada di punggung gunung Batukaru, di daerah Pujungan, jadi teriknya surya  diimbangi oleh dingninya angin yang berhembus dari puncak gunung . Olah raga ini memang lebih sesuai dengan umur saya yang menginjak 40-an, dibandingkan dengan sepakbola  dan bulutangkis yang mengutamakan kekuatan dan kecepatan. Di tenis kita bisa menyesuaikan kemampuan kita dengan kecepatan bola dan kekuatan diri kita sendiri. 

Pengalaman menekuni olahraga ini meyakinkan saya akan kebenaran beberapa petuah  orangtua kita dulu.” Usaha tak akan mengkhianati hasil”,” Practice make perfect”. Satu kata kunci untuk sukses di olahraga ini, bahkan olahraga apapun. Dan juga kehidupan itu sendiri adalah latihan dan ketekunan. Saya sendiri merasakan kebenarannya. Mengalami fase benyah latig sebagai pemain tenis.


Penulis bersiap main tenis

Dulu kalau saya ke lapangan, semua orang yang ada di lapangan selalu menghindar  jadi pasangan saya, karena permainan saya yang berantakan. Tapi seiring wakktu dan seringnya latihan, saat ini kalau saya datang teman teman berebut untuk jadi pasangan saya, terutama para pensiunan seperti yang saya ceritakan  tadi. Dan saya bisa menyimpulkan orang yang lebih bagus permainannya dari saya adalah mereka yang lebih dulu mulai mengenal tenis, dan yang lebih sering pergi ke lapangan untuk berlatih. Jadi latihan dan ketekunan memang kunci utamanya, bahkan mengalahkan bakat menurut pandangan saya.

Dan akhirnya yang menjadi acuan saya dalam menjalani hobby dan juga kehidupan ini barangkali hampir serupa. Kalu kau tak cukup mahir pada satu bidang, maka kau perlu memperbanyak bidang yang kau kuasai walaupun tak terlalu lihai. Barangkali ini penyebab saya  menerima status semenjana seperti saat ini. Main tenis bisa sedikit, bulu tangkis tak mengecewakan, sepak bola masih kuat melawan seumuran saya, apalagi cuma profesi dokter seperti saya.

Dan setidaknya saya mendapat beberapa manfaat dari situasi ini. Selain tetap diajak main oleh lebih banyak orang. Khusus untuk kemampuan olahraga saya,barangkali salah satu yang bisa saya tonjolkan minimal di lingkungan sesama dokter. Jadi  teman teman dokter di Buleleng mengenal saya sebagai si maniak olah raga. Setiap ada kegiatan olahraga biasanya saya didapuk sebagai kordinatornya.

Baiklah cukup sampai disitu pembelaan saya, biar tak terlalu malam tidur, besok masih ikut turnamen tenis lansia itu.Siapa tahu bisa jadi juara,  biar tak dianggap medioker lagi. Pesan saya untuk yang merasa  senasib dengan saya, saat kau berstatus semenjana di satu bidang, cobalah menutupinya dengan kelebihan di bidang lain, kalau bisa di lebih banyak bidang lagi. Pasti  anda akan lebih sukses dari saya, dijamin. [T]

Tags: doktermediokerolahragatenis
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Yan Nano, Mencari Tuhan dengan Bersepeda

Next Post

RIPUH

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

RIPUH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co