23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Koperasi Pangan Bali Utara

Jaswanto by Jaswanto
July 27, 2019
in Esai
Siapa Orang yang Paling Baik?

/1/

Ada banyak hal yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal, membuat sesak dada saya dan berbasah-basah air mata, ada banyak hal yang bisa membuat saya terkagum-kagum; dan ada juga banyak hal yang bisa membuat saya teringkal-pingkal sekaligus menangis sejadi-jadinya dan terkagum-kagum setelah itu. Negeri kita ini, Cung, kata Bapak suatu ketika, memang penuh dengan hal-hal yang demikian; penulis-penulis itu, tak akan habis menuliskannya—dan menjadikannya berbuku-buku sekalipun.

Ya, itu benar. Seperti kemarin, misalnya. Ada seorang kawan, yang marah-marah (tidak jelas) sendiri lantaran melihat Prabowo dan Mega bertemu. Dia kecewa kepada sikap Prabowo, katanya. Menurut dia, Prabowo tidak konsisten menjadi oposisi. Tentu saja, melihat sikapnya ini, diam-diam saya tertawa terpingkal-pingkal (diam-diam saja, mencoba tetap menghargai perasaannya).

Di lain hari, tiba-tiba dada saya terasa sesak, mendengar suara Emak dan Bapak di seberang sana. Mereka seperti tidak sedang berbicara, tetapi berdoa. Nasihat-nasihat mereka, membuat saya berbasah-basah air mata. Bapak berkata, suatu ketika: ‘Cung, dadio wong sing tetep nang ngisor wae, nanging ojo sampek kidakan’ (Cung, jadilah manusia yang selalu berada di bawah saja, namun jangan sampai terinjak).

Nasihat ini telah meruntuhkan ilmu pengetaahuan yang saya dapat dari pendidikan saya yang bertahun-tahun ini. Saya merasa bodoh di hadapan Bapak yang bahkan tidak lulus Sekolah Rakyat. Nasihat itu sangat dalam maknanya. Bagaimana saya tidak akan terinjak, jika saya berada di bawah? Memang saya belum menemukan cara untuk itu, tetapi tetap saja, nasihat Bapak selalu membuat saya berbasah-bahasa air mata.

Dan seperti minggu-minggu ini, saya dibuat terkagum-kagum oleh beberapa orang yang saya anggap guru-guru saya di sini. Bagaimana tidak, di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka masih sempat-sempatnya memikirkan sesama: sesama mahluk hidup dan alam semesta. Mereka adalah manusia otentik—manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, manusia yang (mungkin) sudah mencapai pencerahan intelektual, bahkan spiritual di tengah kehidupan yang penuh penderitaan dan kekacauan ini.

Mereka adalah manusia-manusia welas asih (sesungguhnya Tuhan, pencerahan, atau apa pun sebutannya, berada dalam laku welas asih kepada sesamanya). Bagi candaan saya, mereka adalah orang-orang yang sudah mampu mendudukkan malaikat dan iblis dalam diri mereka dalam satu meja makan. Kemudian mendamaikan keduanya.

/2/

Tentu saja, guru-guru saya ini, bukan termasuk orang yang ‘neurosis’ (suatu kondisi di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri) seperti kata Fritz Perls. Orang yang neurosis mengorbankan diri mereka sendiri untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna. Sedangkan guru-guru saya tidak. Mereka berani untuk menjadi diri sendiri—karena itulah sumber kebahagiaan.

Saya beranggapan bahwa, konflik di dunia modern ini, disebabkan karena manusia sudah tidak kenal dirinya sendiri. Mereka tidak lagi menjadi makluk sosial. Mereka sudah menjadi sangat individualistik. Seperti pemikiran Dostoevsky yang tertuang dalam novel ‘Brother Kamazarov’, atau buku-buku lainnya. Di dalam tulisanya, Dostoevsky berpendapat, konflik di dalam dunia modern ini muncul, karena orang terlalu fokus pada dirinya sendiri, sehingga menjadi sangat individualistik.

Orang-orang sekarang hanya terpukau pada dirinya sendiri (termasuk saya sendiri, tentu saja). Sehingga, kita selalu terobsesi pada kesuksesan pribadi, dan menganggap orang lain sebagai musuh. Orang lain terisolasi satu sama lain, dan hidup dalam permusuhan.

Sekarang ini, orang-orang terputus dari komunitasnya, gotong royong susut (atau hilang?), sehingga hidup selalu diwarnai kompetisi, agresivitas, kecemburuan, keterasingan, dan pada akhirnya menciptakan kesedihan bagi mereka yang kalah. Untuk melawan semua itu, orang perlu melepaskan dirinya dari keinginan dan hasrat individualistik.

Orang perlu untuk merasa bebas, bahkan dari dirinya sendiri, mampu berdaulat atas dirinya sendiri, sehingga terciptalah situasi yang damai. Dengan melepaskan dirinya sendiri, orang bisa bersatu dengan dunia sosial. Hidup pun mengalir dalam kebersamaan dan harmoni.

/3/

Baru-baru ini, di Bali Utara—lebih tepatnya di Kabupaten Buleleng—, berdiri sebuah koperasi yang sangat kece. Koperasi Pangan Bali Utara, namanya. Koperasi ini didirikan dan digerakkan oleh guru-guru saya tadi—yang saya anggap (mungkin) sudah selesai dengan diri mereka sendiri.

Ya, saya yakin, sebagian orang sudah tahu, bahwa koperasi merupakan soko guru perekonomin bangsa ini. Dan saya beranggapan (artinya saya hanya mengira-ngira saja, entah benar atau tidak, saya tidak tahu, kalau pun salah, pasti guru-guru saya akan memaafkannya), bahwa dasar berdirinya Koperasi Pangan Bali Utara ini, berangkat dari apa yang sudah saya tuliskan di atas.

Koperasi ini menurut saya sangat unik, penuh inovasi, dan berbeda dari yang lain—atau dalam istilah kampung saya, out of the box thinking (kalau tulisannya salah mohon dibenarkan). Jika hampir 90% koperasi yang ada saat ini merupakan koperasi simpan pinjam, maka Koperasi Pangan Bali Utara ini, bergerak di bidang pemasaran hasil-hasil produksi dan hasil-hasil pangan yang ada di Bali Utara.

Mengapa koperasi pangan?—mengutip postingannya Pak Gede Kresna (salah satu orang yang mempengaruhi pemikiran saya tentang lingkungan dan kemanusiaan) di Fesbuk—karena di Bali Utara punya sejumlah produksi pangan yang sangat bagus dan masih belum terserap pasar degan optimal. Koperasi pangan ini, tambah beliau, juga memungkinkan untuk mengkurasi produk-produk petani dan artisan pangan di Kabupaten Buleleng, sehingga layak untuk dikonsumsi masyarakat, atau bahkan dijual kelebihannya kepada kalangan yang lain.

Saya memang belum tahu betul seluk-beluk tentang Koperasi Pangan Bali Utara ini, jadi saya tidak mau sok tahu dengan menuliskannya berderet-deret. Tetapi saya yakin, bahwa ini adalah gerakan yang sangat baik—dan saya harus belajar darinya.

Mungkin, bagi orang Jawa, inilah yang namanya benerѐ wong akѐh—benar menurut standar orang banyak—tidak hanya sekadar benerѐ dhѐwѐ—benar menurut standarnya sendiri—yang dianggap bersumber dari individu atau kelompok (kategori ini dipandangan sangat rendah karena muatan subjektivitasnya dianggap sangat sempit).

Saya belajar banyak dari Koperasi Pangan Bali Utara ini (tentu juga belajar banyak dari orang-orangnya). Oh iya, sebagai tambahan, jika Anda—khusunya masyarakat Bali—yang ingin tahu lebih banyak tentang Koperasi Pangan Bali Utara ini, silakan saja kunjungi halaman Facebook-nya di: Koperasi Pangan Bali Utara. [T]

Tags: balibulelengkoperasiKoperasi Pangan Bali UtarapanganSingaraja
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Lukisan “@rtquarelle” dari Seniman Cat Air Lintas Negara di Nusa Dua

Next Post

I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co