2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Koperasi Pangan Bali Utara

Jaswanto by Jaswanto
July 27, 2019
in Esai
Siapa Orang yang Paling Baik?

/1/

Ada banyak hal yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal, membuat sesak dada saya dan berbasah-basah air mata, ada banyak hal yang bisa membuat saya terkagum-kagum; dan ada juga banyak hal yang bisa membuat saya teringkal-pingkal sekaligus menangis sejadi-jadinya dan terkagum-kagum setelah itu. Negeri kita ini, Cung, kata Bapak suatu ketika, memang penuh dengan hal-hal yang demikian; penulis-penulis itu, tak akan habis menuliskannya—dan menjadikannya berbuku-buku sekalipun.

Ya, itu benar. Seperti kemarin, misalnya. Ada seorang kawan, yang marah-marah (tidak jelas) sendiri lantaran melihat Prabowo dan Mega bertemu. Dia kecewa kepada sikap Prabowo, katanya. Menurut dia, Prabowo tidak konsisten menjadi oposisi. Tentu saja, melihat sikapnya ini, diam-diam saya tertawa terpingkal-pingkal (diam-diam saja, mencoba tetap menghargai perasaannya).

Di lain hari, tiba-tiba dada saya terasa sesak, mendengar suara Emak dan Bapak di seberang sana. Mereka seperti tidak sedang berbicara, tetapi berdoa. Nasihat-nasihat mereka, membuat saya berbasah-basah air mata. Bapak berkata, suatu ketika: ‘Cung, dadio wong sing tetep nang ngisor wae, nanging ojo sampek kidakan’ (Cung, jadilah manusia yang selalu berada di bawah saja, namun jangan sampai terinjak).

Nasihat ini telah meruntuhkan ilmu pengetaahuan yang saya dapat dari pendidikan saya yang bertahun-tahun ini. Saya merasa bodoh di hadapan Bapak yang bahkan tidak lulus Sekolah Rakyat. Nasihat itu sangat dalam maknanya. Bagaimana saya tidak akan terinjak, jika saya berada di bawah? Memang saya belum menemukan cara untuk itu, tetapi tetap saja, nasihat Bapak selalu membuat saya berbasah-bahasa air mata.

Dan seperti minggu-minggu ini, saya dibuat terkagum-kagum oleh beberapa orang yang saya anggap guru-guru saya di sini. Bagaimana tidak, di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka masih sempat-sempatnya memikirkan sesama: sesama mahluk hidup dan alam semesta. Mereka adalah manusia otentik—manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, manusia yang (mungkin) sudah mencapai pencerahan intelektual, bahkan spiritual di tengah kehidupan yang penuh penderitaan dan kekacauan ini.

Mereka adalah manusia-manusia welas asih (sesungguhnya Tuhan, pencerahan, atau apa pun sebutannya, berada dalam laku welas asih kepada sesamanya). Bagi candaan saya, mereka adalah orang-orang yang sudah mampu mendudukkan malaikat dan iblis dalam diri mereka dalam satu meja makan. Kemudian mendamaikan keduanya.

/2/

Tentu saja, guru-guru saya ini, bukan termasuk orang yang ‘neurosis’ (suatu kondisi di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri) seperti kata Fritz Perls. Orang yang neurosis mengorbankan diri mereka sendiri untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna. Sedangkan guru-guru saya tidak. Mereka berani untuk menjadi diri sendiri—karena itulah sumber kebahagiaan.

Saya beranggapan bahwa, konflik di dunia modern ini, disebabkan karena manusia sudah tidak kenal dirinya sendiri. Mereka tidak lagi menjadi makluk sosial. Mereka sudah menjadi sangat individualistik. Seperti pemikiran Dostoevsky yang tertuang dalam novel ‘Brother Kamazarov’, atau buku-buku lainnya. Di dalam tulisanya, Dostoevsky berpendapat, konflik di dalam dunia modern ini muncul, karena orang terlalu fokus pada dirinya sendiri, sehingga menjadi sangat individualistik.

Orang-orang sekarang hanya terpukau pada dirinya sendiri (termasuk saya sendiri, tentu saja). Sehingga, kita selalu terobsesi pada kesuksesan pribadi, dan menganggap orang lain sebagai musuh. Orang lain terisolasi satu sama lain, dan hidup dalam permusuhan.

Sekarang ini, orang-orang terputus dari komunitasnya, gotong royong susut (atau hilang?), sehingga hidup selalu diwarnai kompetisi, agresivitas, kecemburuan, keterasingan, dan pada akhirnya menciptakan kesedihan bagi mereka yang kalah. Untuk melawan semua itu, orang perlu melepaskan dirinya dari keinginan dan hasrat individualistik.

Orang perlu untuk merasa bebas, bahkan dari dirinya sendiri, mampu berdaulat atas dirinya sendiri, sehingga terciptalah situasi yang damai. Dengan melepaskan dirinya sendiri, orang bisa bersatu dengan dunia sosial. Hidup pun mengalir dalam kebersamaan dan harmoni.

/3/

Baru-baru ini, di Bali Utara—lebih tepatnya di Kabupaten Buleleng—, berdiri sebuah koperasi yang sangat kece. Koperasi Pangan Bali Utara, namanya. Koperasi ini didirikan dan digerakkan oleh guru-guru saya tadi—yang saya anggap (mungkin) sudah selesai dengan diri mereka sendiri.

Ya, saya yakin, sebagian orang sudah tahu, bahwa koperasi merupakan soko guru perekonomin bangsa ini. Dan saya beranggapan (artinya saya hanya mengira-ngira saja, entah benar atau tidak, saya tidak tahu, kalau pun salah, pasti guru-guru saya akan memaafkannya), bahwa dasar berdirinya Koperasi Pangan Bali Utara ini, berangkat dari apa yang sudah saya tuliskan di atas.

Koperasi ini menurut saya sangat unik, penuh inovasi, dan berbeda dari yang lain—atau dalam istilah kampung saya, out of the box thinking (kalau tulisannya salah mohon dibenarkan). Jika hampir 90% koperasi yang ada saat ini merupakan koperasi simpan pinjam, maka Koperasi Pangan Bali Utara ini, bergerak di bidang pemasaran hasil-hasil produksi dan hasil-hasil pangan yang ada di Bali Utara.

Mengapa koperasi pangan?—mengutip postingannya Pak Gede Kresna (salah satu orang yang mempengaruhi pemikiran saya tentang lingkungan dan kemanusiaan) di Fesbuk—karena di Bali Utara punya sejumlah produksi pangan yang sangat bagus dan masih belum terserap pasar degan optimal. Koperasi pangan ini, tambah beliau, juga memungkinkan untuk mengkurasi produk-produk petani dan artisan pangan di Kabupaten Buleleng, sehingga layak untuk dikonsumsi masyarakat, atau bahkan dijual kelebihannya kepada kalangan yang lain.

Saya memang belum tahu betul seluk-beluk tentang Koperasi Pangan Bali Utara ini, jadi saya tidak mau sok tahu dengan menuliskannya berderet-deret. Tetapi saya yakin, bahwa ini adalah gerakan yang sangat baik—dan saya harus belajar darinya.

Mungkin, bagi orang Jawa, inilah yang namanya benerѐ wong akѐh—benar menurut standar orang banyak—tidak hanya sekadar benerѐ dhѐwѐ—benar menurut standarnya sendiri—yang dianggap bersumber dari individu atau kelompok (kategori ini dipandangan sangat rendah karena muatan subjektivitasnya dianggap sangat sempit).

Saya belajar banyak dari Koperasi Pangan Bali Utara ini (tentu juga belajar banyak dari orang-orangnya). Oh iya, sebagai tambahan, jika Anda—khusunya masyarakat Bali—yang ingin tahu lebih banyak tentang Koperasi Pangan Bali Utara ini, silakan saja kunjungi halaman Facebook-nya di: Koperasi Pangan Bali Utara. [T]

Tags: balibulelengkoperasiKoperasi Pangan Bali UtarapanganSingaraja
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Lukisan “@rtquarelle” dari Seniman Cat Air Lintas Negara di Nusa Dua

Next Post

I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

I Madè Sumadiyasa Gelar Pameran Tunggal “Sacred Energy” di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co