23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Calon Bini”, Menghibur sekaligus Mendidik

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 10, 2019
in Ulasan
Film “Calon Bini”, Menghibur sekaligus Mendidik

Pemeran fil Calon Bini (Foto: Google)

  • Judul Film : Calon Bini
  • Sutradara :  Asep Kusdinar
  • Pemeran :  Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, Cut Mini,    Minati Atmanegara, Butet Kertaradjasa
  • Tanggal Rilis :  14 Februari 2019

 ___

Film bertema usang tidak selalu menjemukan untuk ditonton. Calon Bini, salah satu film Indonesia yang telah berhasil membuat saya betah lama-lama memelototi layar monitor. Menonton lewat smartphone, pada aplikasi Inflix. Terlambat untuk menonton, karena dulu di bioskop keburu habis maya tayangnya.

Film ini mirip dongeng. Atau memang betul-betul dongeng. Sebenarnya ceritanya klise. Kisah tentang gadis desa. Lari dari rumah untuk menghindari perjodohan. Menjadi pembantu di sebuah rumah mewah, milik pengusaha kaya raya. Kemudian happy ending: menjadi calon istri dari putra majikannya sendiri.

Tapi film ini telah didaur-ulang sehingga terasa baru. Tema lama dengan bentuk baru. Sehingga menghadirkan tontonan yang sungguh bergizi dan menyehatkan batin. Nutrisi untuk kesehatan jiwa. Film yang mengocok-ngocok emosi kita selama beberapa jam. Dibalut bentuk komedi, yang membuat kita tertawa, terharu, bersedih dan kemudian merenung.

Cerita dibuka dengan adegan kegembiraan semua siswa SMU karena telah lulus. Ningsih, tokoh utama dalam film ini yang diperankan sangat apik oleh Michelle Ziudith, pulang dengan wajah berseri-seri dari sekolah, ditemani dua orang temannya. Dalam benaknya hanya ada tekad untuk melanjutkan kuliah. Cita-cita harus digapai, setinggi apapun dia menggantung.

Betapa kecewa hati Ningsih, karena di rumahnya ada rembug keluarga untuk menjodohkan dirinya dengan Sapto, anak Pak Kepala Desa. Sapto tergila-gila dengan Ningsih. Di awal cerita ada adegan saat Sapto mencegat Ningsih di perjalanan dari sekolah, sekedar memberikan sekuntum bunga untuk Ningsih, pujaan hatinya. Agung, paman Ningsih, yang digambarkan haus harta, berperan sebagai penghubung perjodohan itu.

Ayah Ningsih digambarkan sebagai pribadi yang lugu. Dia tidak bisa dengan tegas menolak perjodohan itu.

Ningsih berontak. Dia bertekad pergi ke Jakarta. Menggapai cita-citanya yang masih menggantung di langit. Takdirnya bukan lagi sumur, dapur, kasur. Dia ingin kuliah, kalau perlu sampai S2. Atas ijin kedua orang tuanya, Ningsih pun berangkat ke ibu kota yang keras. Anak gadis yang pergi ke metropolitan yang kejam.

Di Jakarta, Ningsih diperkenalkan dengan keluarga Prawira, pengusaha kaya raya, oleh Sri teman baik Ningsih. Dalam film ini, Sri tidak pernah dimunculkan dalam sebuah adegan. Hanya digambarkan lewat percakapan telepon dengan Ningsih. Dan karakter Sri juga digambarkan dalam percakapan Ningsih dengan Bu Andini.

Nutrisi film ini dibentuk dari kehadiran beberapa aktor dan aktris senior yang tak diragukan lagi kualitas akting mereka. Ada nama besar seperti Slamet Rahardjo yang berperan sebagai Pak Prawira, majikan Ningsih di Jakarta. Minati Atmanegara sebagai Andini, istri Pak Prawira. Niniek L. Karim menjadi tokoh Oma, mertuanya Pak Prawira.

Dan Cut Mini, yang aktingnya begitu kuat dalam film Laskar Pelangi sebagai ibu guru muda yang memperjuangkan nasib pendidikan anak-anak di daerah terpencil, mendapatkan bagian peran sebagai ibunya Ningsih. Terus ada Butet Kertaradjasa yang terasa pas sebagai kepala desa.

Seperti kebanyakan anak remaja jaman sekarang, Ningsih begitu lekat dengan gadget. Chatting, selfie, menjadi keseharian Ningsih di sela-sela pekerjaanya sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Pak Prawira. Walau begitu Ningsih tetap sebagai perempuan desa yang lugu, mandiri, dan penyayang.

Beberapa kali adegan saat Ningsih selfie berlatar rumah mewah majikannya. Dia begitu kagum melihat rumah mewah majikannya, sekaligus bahagia bisa bekerja di sana. Foto-foto selfie yang kemudian dia kirim kepada orang tuanya di kampung, yang kemudian memicu salah paham yang menjadi klimaks pada film ini. Karena semua orang di kampungnya mengira bahwa Ningsih telah sukses dan kaya raya. Adegan kekonyolan yang menjadi ciri khas sebagai film komedi.

Tokoh Oma diperankan begitu kuat oleh Niniek L. Karim. Perempuan tua yang dingin, yang lebih banyak mengurung diri di kamar. Oma tidak memiliki hubungan baik dengan anak dan menantunya. Pelan-pelan Ningsih berhasil meluluhkan hati Oma. Untuk pertama kalinya Oma bisa tersenyum dan tertawa di hadapan Ningsih.

“Kamu pernah kesepian, nggak?” tanya Oma kepada Ningsih. Kalimat pertama dari Oma ini menggambarkan betapa galau hatinya karena rasa sepi. Kesepian di masa tua yang begitu menggigit. Satu-satunya hiburan bagi perempuan tua ini adalah saat ketemu sahabat-sahabatnya di rumah makan. Setelah ditinggal Satria Bagus, cucunya tersayang, untuk kuliah di New York, Oma menemukan pengobat rasa sepinya pada diri Ningsih yang lugu dan penyayang.

Tapi karena sebuah kesalahan, kesalah-pahaman yang konyol, Ningsih dipecat oleh Pak Prawira. Oma menjadi sedih dan kembali merasa kehilangan. Ningsih pulang ke kampung dengan perasaan hancur. Rencana perjodohannya dengan Sapto berlanjut lagi, lelaki yang dia benci selama ini. Ningsih putus asa. Masa depannya telah habis.

“Sayapku telah patah,” tulis Ningsih kepada teman chatting-nya yang bernama Jejak Langkah, yang sebenarnya tak lain adalah Satria Bagus, putra bekas majikannya di Jakarta, yang sedang menuntaskan kuliahnya di New York. Selama ini mereka sering chatting lewat media sosial tanpa pernah mengenal satu sama lain di dunia nyata, dan akun Satria Bagus dengan nama samaran tanpa foto profil. Walau sosok misterius, ternyata Ningsih membiarkan perasaannya mengalir. Mereka begitu akrab di dunia maya karena sama-sama ingin menggapai cita-cita setinggi langit.

Kemudian dalam dunia nyata, Satria Bagus yang diperankan Rizky Nazar, menjemput Ningsih untuk dilamar. Bagaikan seorang pangeran yang jatuh cinta pada perempuan desa dari kasta yang rendah, yang kemudian diboyong menjadi putri istana. Betul-betul dongeng yang menarik dan jenaka. Ningsih menolak lamaran Sapto, dan menyatakan jatuh cinta dengan Satria Bagus.

“Pak, Bu, Ningsih boleh bahagia kan?” ucap Ningsih dalam bahasa Jawa, begitu lugunya.

“Boleh, boleh,” kata ayahnya bersukacita, menerima lamaran Satria.

Adegan-adegan dalam film ini begitu hidup, segar dan menarik. Mengalir dan tidak membosankan.  Alurnya yang terasa jenaka, sangat menghibur dan memberi perenungan. Film yang sangat berkualitas. Begitu kaya dengan karakter tokoh-tokohnya. Ada juga figuran yang tidak berperan dalam benang merah alur cerita. Tokoh yang dilihat Ningsih di dalam kereta, seorang pria yang kebetulan memakai sepatu kets dengan gambar sayap, sepatu sama seperti yang dipakai oleh Jejak Langkah, teman chatting Ningsih di media sosial.

Beberapa adegan mengandung kritik sosial. Seperti saat Sapto merampas motor di sebuah bengkel untuk dipakai mengejar Ningsih ke Jakarta.

“Aku ini anak kepala desa!” teriak Sapto sambil mengambil motor begitu saja seperti begal. Demikian juga saat dicegat penjaga loket kereta api. “Aku anak kepala desa!” Sapto begitu angkuh.

Sosok Sapto mewakili putra-putra pejabat tinggi, yang sombong, angkuh, manja dan juga rapuh.

Kesimpulannya, Calon Bini memang layak ditonton. Bukan Cuma layak, tapi harus. Rugi tidak nonton film sebagus ini. Duduk selama satu setengah jam akan dirasa kurang setelah menikmati adegan demi adegan di film ini. Tidak perlulah kita nonton film-film yang berat. Tema ringan dengan gaya komedi dalam Calon Bini, di samping menghibur juga memberikan pendidikan karakter. Film komedi yang penuh isi.   [T]

Tags: filmhiburanPendidikanresensi
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Pangraksa Jiwa dari Dayu Ani, Mengukuhkan Keragaman Nusantara

Next Post

Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026
Olahraga

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya...

by Julio Saputra
May 23, 2026
Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co