4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Self-Acceptance” Pada Realitas Hidup – [Ulasan Buku Kumpulan Cerpen Kereta Tidur]

L Margi by L Margi
July 9, 2019
in Ulasan
“Self-Acceptance” Pada Realitas Hidup – [Ulasan Buku Kumpulan Cerpen Kereta Tidur]
  • Judul               : Kereta Tidur
  • Penulis             : Avianti Armand
  • Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal               : 152 halaman
  • Tahun              : Juni 2018

***

Sebagian manusia memiliki keterbatasan dalam memahami apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tak sedikit yang menjadi korban dari ketidakmampuan mengatasi konflik batin dan pada akhirnya memicu melakukan tindakan-tindakan di luar nalar.

Hidup itu haruslah ideal, baik-baik saja, tak perlu ada kegagalan, tak boleh ada kecewa. Siapa yang tak ingin semua ini? Tapi pada kenyataannya hidup itu dinamis. Beberapa hal tersebut penyebab manusia selalu memelihara rasa takut. Terlebih hal ini akan terjadi pada orang yang dalam hidupnya selalu ada pada zona nyaman.

Avianti Armand mencoba mengusik pembaca dengan hal-hal unik seperti konflik cinta; ketidakharmonisan keluarga; beberapa pertanyaan atas eksistensi manusia. Dalam bukunya, ia menyajikan kumpulan cerpen dengan alur cerita yang tak terduga-duga.

Judul buku kumpulan cerita “Kereta Tidur” diangkat dari salah satu cerpen dari lima belas cerita di dalamnya. Saya mencoba lebih awal menebak sejumlah cerpen di dalam buku ini pasti berkisah tentang sebuah petualangan atau mungkin saja perjalanan hidup seseorang. Dan ternyata di luar ekspektasi, pada cerpen “Kereta Tidur”, Avianti Armand—sebagai penulis buku ini—jauh menceritakan tentang petualangan batin dua manusia, bagaimana mereka menjaga rasa pada sebuah relationship yang tak wajar.

“Kita akan lupa,” Naomi mengeluh, sedikit sedih sedikit khawatir, meski tak bisa berbuat lagi. Mereka memang harus cukup puas dengan memori yang melekat pada benda-benda kecil.

“Kelak,” ujar lelaki itu yakin, “kita akan punya tempat untuk memajangnya. Ketika bulan lega dan segaris oranye di kaki langit.” (Kereta Tidur: 101)

Manusia—mungkin saja diantaranya saya, kamu, atau kalian—terlalu sibuk menciptakan kenangan-kenangan dalam setiap tipak perjalanan hidup, tetapi kita sering lupa menjaganya. Dalam cerpen ini, Avianti begitu jelas memotret tentang cerita yang bertolak belakang dengan kehidupan ideal atau kisah cinta yang wajar. Tentang sebuah perasaan sayang pada orang dan waktu yang tidak tepat, namun tak pernah ada kata korban atau dikorbankan. 

Avianti berusaha menegaskan pada cerita ini bahwa bahagia itu begitu sederhana, sesederhana Naomi (tokoh dalam cerita) menamai diri mereka: pengumpul “souvenir”- hal-hal kecil yang mampir sejenak, mengikat dia, lelaki itu, dan tempat-tempat. Seperti subuh ini, kamar ini, surat kabar kemarin, genggaman tangan di bawah bantal, remah keringat pada selimut, rambut kusut, senyum mengantuk, kopi asam yang tak pernah habis, dan cangkir biru laut yang menyisakan asap.

Namun, saya sangat yakin, jika salah satu dari kita membaca cerpen ini lalu menarik pada pemahaman agama, tentu kita akan memicingkan mata berusaha mencari di mana letak kebenaran dalam hubungan terlarang antara Naomi dan lelakinya.

Tidak jarang antara agama dan sastra memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif. Begitu pula beberapa cerita pada buku ini. Kita lihat saja bagaimana tokoh dalam cerpen berjudul Matahari begitu sibuk mempertanyakan tentang Tuhan pada kekasihnya: ”Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan bukanlah matahari?”

Atau pada cerita berjudul Ayah yang mengisahkan lelaki tua yang selalu memberikan ciuman pada malaikat kecilnya dengan meninggalkan perih dan bekas yang semakin membuat ia meringis kesakitan,” Kamu seorang perempuan sekarang, ujarmu, dulu kamu adalah malaikat. Aku lebih suka disebut bejat. Sebab kini kita telah bercinta, di batas antara tanah dan air, di bawah ribuan bintang dan sapuan ombak, walau aku tahu itu tabu.” (Kereta Tidur: 110).

Inilah kenapa kita tidak selamanya bisa memperdebatkan karya sastra dengan dalil agama yang hakikatnya selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat, sedangkan jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat. Istilah chatarsis yang dikemukakan oleh Aristoteles menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif.

Dalam buku ini, kalian juga akan temui sebuah cerpen yang paling pendek diantara cerpen lainnya: Pelajaran Terbang, cerita sebuah pertentangan batin manusia, antara mimpi dan realita, juga segala konsekuensinya. Avianti mengawali cerita dengan membenturkan manusia pada ketakutan-ketakutan yang seringkali menghentikan kita pada perbatasan. Antara rasa takut dan berani, waras dan gila.

“Kamu takut, tapi juga bergairah. Kamu akan sedih karena keterbatasanmu, tapi juga sadar, bahwa ini hanyalah soal pilihan. Pulang – tanpa pernah mencoba – dengan utuh dan selamat, atau sekali saja, hanya sekali saja sebelum mati, kamu merasakan terbang. Kamu mungkin mati, mungkin juga tidak.” (Kereta Tidur: 121)

Manusia tidak bisa menghindari perasaan takut, bahkan pada titik tertentu manusia berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa takut dengan cara yang terkadang diluar dari prediksi kita. Misalkan saja sebuah kasus, seorang manusia yang ingin menangis, berteriak tapi takut dianggap gila, atau manusia yang ingin mati tapi takut bunuh diri, atau manusia petualang yang setelah melampiaskan birahinya, menghilang karena takut akan kehancuran karir dan nama baiknya. Memutuskan memilih zona aman adalah salah satu reaksi yang bisa dilakukan untuk merespon kasus-kasus tersebut.

Dalam cerpen ini, Avianti berhasil menarasikan dengan baik bagaimana manusia harus melawan  dirinya sendiri. Ia memberi sebuah gambaran bahwa hidup bukan hanya sekedar bagaimana kita  merangkul rasa sakit dan takut, melainkan bagaimana sebuah keberanian menentukan pilihan mengakhiri rasa sakit dan takut dengan segala konsekuensi.

Hal ini nampak pada ending cerita, di mana “aku” telah berhasil menyelesaikan pemberontakan dalam batinnya,”jika aku bisa terbang, maka aku akan melayang di udara seperti elang. Jika Tidak, aku cukup bahagia untuk jatuh.” (Kereta Tidur: 122)

Buku tentang sebuah perjuangan

Buku kumpulan cerita Kereta Tidur adalah sebuah gambaran realita hidup di sekitar kita yang bisa dialami oleh siapa saja. Kisah tentang perjuangan baik dalam kewajaran maupun ketidakwajaran. Perjuangan bagaimana mencintai, mendapatkan cinta, menunggu, meninggalkan, menjaga kenangan, melawan rasa takut, bahkan perjuangan meyakini sesuatu yang tidak semua orang mampu paham.

Apakah perlu membaca semua cerpen dalam buku ini setelah apa yang saya tulis?

Tentu, setidaknya kita akan tahu betapa hidup itu tak hanya putih atau hitam, dan sedikit belajar bertanggung jawab atas rasa yang sudah kita bangun. Lebih dari itu, yang sangat menarik dari buku Kereta Tidur, sebuah cerita penutup yang mengajarkan betapa sebuah keyakinan itu dibutuhkan dalam setiap relasi.

Pembaca bisa melihat begitu kuat keyakinan tokoh pada cerpen: “Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu.” dalam mencari cintanya. Ia menulis sebuah pesan dalam botol: “Aku akan mencarimu, sampai kau hilang lagi.” [T]

Tags: Bukuresensi bukusastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Kita Butuh Stres

Next Post

Koes Plus Tak Pernah Mati

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Koes Plus Tak Pernah Mati

Koes Plus Tak Pernah Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co