2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teror Cleo pada Acara “Nonton Monolog” di Canasta

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
May 26, 2019
in Ulasan
Teror Cleo pada Acara “Nonton Monolog” di Canasta

Putu Cleo Chintya Rossa Devi pentas perdana Monolog Teror dalam acara Nonton Monolog di Canasta Creative Space, Denpasar Sabtu 25 Mei 2019,

Di Canasta Creative Space ada agenda terbaru, akan intens dilakukan tiap sebulan sekali, nama agendanya sederhana saja “Nonton Monolog”. Pada malam Sabtu, 25 Mei 2019, adalah kali pertama. Agenda perdana ini kita kedatangan bintang tamu aktor yang bermonolog, salah satu mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di UNDIKSHA-Singaraja. Namanya Putu Cleo Chintya Rossa Devi, atau akrabnya saya sering memanggilnya Cleo.

Dia juga sering menjadi aktor pementasan di Singaraja kalau saya lihat, karena kebetulan saya juga dari Singaraja. Dia aktif berkegiatan di Teater Kampus Seribu Jendela, aktif juga di Komunitas Mahima, dan Teater Kalangan. Pada monolog kali ini Cleo membawakan naskah berjudul Teror, karya Putu Wijaya.

Pada pementasan kali ini dia memilih satu ruang kecil di Canasta yang hampir mirip dengan kamar, kemudian diubah menjadi seperti suasana di kelas. Dengan satu meja dan kursi di depan, lalu ada beberapa kursi untuk penonton. Penonton di ubah menjadi suasana kelas, yang tentunya kalau kita ketahui kehidupan dikelas ada guru dan murid. Dia menjadi guru, dan juga menjadi salah satu murid yang sama seperti penonton. Dalam artian tertentu dia menjadi dua karakter pada pementasan ini.

Kemudian saat pementasan berlangsung, dia menjadi seorang guru yang cantik. Menggunakan baju batik berwarna merah muda, lalu dengan rok hitam dengan sepatu fantopel. Mula-mula dia mengucapkan selamat siang kepada penonton yang diubah fungsikan olehnya menjadi murid. Lalu setelah mengucap salam, dia mulai mempertanyakan masalah yang terjadi pada suatu sekolah. Bahwa ada sebuah surat yang didapatnya, dan surat itu diwadahi oleh sebuah botol. Surat itu berisikan bahwa ada yang menyuarakan sesuatu untuk kemajuan sekolah, hanya saja pengirimnya tidak di ketahui.

Kemudian sang guru itu mempertanyakan itu kepada kami (penonton. Hingga tetap tidak ada yang jujur, akhirnya guru itu keluar kelas untuk memberikan waktu sekiranya kepada penonton untuk berpikir ulang. Tidak lama kemudian Cleo kembali masuk, kali ini dia berbeda. Yang awalnya dia memakai baju batik berwarna merah muda, kali ini dia memakai baju kemeja putih dan rok hitam. Kali ini dia menjadi ketua kelas kami sebagai penonton yang diubah menjadi murid dan teman sekelasnya, lalu dia membicarakan permasalahan yang sama seperti kepala sekolah.

Monolog Teror oleh Cleo di Canasta

Dia mempertanyakan, siapa sebenarnya di antara kita yang mengirimkan surat itu. Padahal isinya bagus, untuk kemajuan pendidikan kita. Tapi tidak ada yang mengakui, akhirnya karena tidak ada yang mengaku Cleo berkorban. Lalu ketua kelas itu keluar kelas, sepertinya dia menghadap ke kepala sekolah. Selang beberapa menit, guru di awal tadi kembali memasuki kelas. Dan berterima kasih karena akhirnya masalah itu selesai, karena sudah ada yang mengakui. Walau kami sebagai teman sekelasnya, sepertinya mengetahui bahwa bukan ketua kelas yang membuatnya. Lalu siapa? Maka pementasan itu usai oleh sebuah pertanyaan seperti itu.

Lalu setelah selesai pementasan tersebut, kurang lebih 25 menit. Ada sesi diskusi atau persentasi aktor. Sekiranya untuk mengulas dan membedah kerja aktor pada pementasan kali ini, untuk mengetahui bagaimana dan ketegangan apa yang terjadi pada aktor dan sutradara. Untuk membuat pementasan, serta interpretasi dan pemilihan ruang.

Tapi pada proses diskusinya justru tidak berpatok atau bertujuan untuk membedah tentang naskah dan alur ceritanya. Tapi pada permasalahan dan kinerja proses serta kerja aktor saat proses. Di mana letak eksistensi aktor, karena seperti yang kita ketahui pada teater tentunya bahwa suatu wadah pementasan ada kerja-kerja yang lain. Seperti misalnya ada lapisan sutradara, aktor, penata artistik, penata lampu dan lainnya.

Diskusi kali ini pendekatanya pada kerja aktor, bahwasannya pada suatu pementasan tidak terpaku pada sutradara saja. Karena sering kali terjebak pada pikiran bahwa sutradara berada pada menara tertinggi suatu pementasan, tapi kalau kita pikirkan kembali dan melihat jejaknya kembali. Ternyata aktor juga punya peranan sangat penting sama seperti yang lainya.

Karena dalam pencapaian suatu pementasan kerja aktor pun punya pernan penting jika dibagi beberapa lapisan. Misalnya selain pada bacaan buku teater yang sudah ada, ternyata pengalaman aktor dan latar belakangnya sangat mempengaruhi itu.

Saya menjadikan intropeksi diri dalam diskusi kali ini, bagaimana dan proses apa yang sudah terjadi pada diri saya sendiri. Tentang masalah teks naskah, pergerakan tubuh, serta pembacaan ruang. Bahwasanya juga eksistensi aktor itu berada pada posisi yang tidak terpikirkan, atau blur pada teater hari ini khususnya di Bali. Seberapa banyak ada acara yang khusus membahas aktor dan kemungkinanya, selain hanya workshop. Itupun hanya berpacu pada beberapa pertemuan saja, lalu apa yang harus dilakukan sebagai seorang aktor?

Maka pada ruang ini kebebasan berbicara khususnya aktor lebih dicondongkan untuk berbagi pengalaman bahwasanya yang harus diingatkan adalah aktor sangat punya peranan sangat penting saat proses sebuah penciptaan. Misalnya pada jejak latar belakang Cleo sebagai aktor, dengan refrensi yang dia ketahui dan baca.

Dia juga mempunyai sebuah pengalaman bertemu banyak sutradara yang berbeda, dia menyadari betul bahwa ada tiap perbedaan yang ada pada tiap diri sutradara.Baik secara penyoalan tubuh, serta dialog yang menjadi kepentingan penting saat pentas.

Kalau saya rumuskan, yang saya dapatkan adalah suatu kesadaran aktor yang punya kesadaran pentingnya sebuah kerja aktor yang mengaktifkan sebuah sikap untuk mencipta serta melakukan tawar-menawar untuk sebuah proses. Akhirnya yang mengharuskan aktor itu sendiri memiliki kesadaran untuk mendengarkan dan berdialog dengan sutradara, sekiranya juga untuk menemukan jalan tengah.

Karena tentunya pula tiap proses selalu ada tiap bentrokan antar individu yang bertemu, kemudian selalu ada pementalan yang rasanya tidak pas dan tidak cocok. Akhirnya yang lahir pada antar dialog sutradara dan aktor adalah jalan tengah hasil tawar-menawar, yang awalnya memang punya interpretasi sendiri soal naskah terentu.

Ada pula misalnya beberapa teori yang sekiranya menjadi pondasi aktor tertentu yang tidak mudah begitu saja diamini tanpa adanya cara menyikapi atau bersentuhan langsung dengan teori tertentu.Secara tidak langsungpun intensitas latihan seorang aktor itu juga perlu untuk sekiranya mengembangkan imajinatif aktor saat mencipta. Lalu kemudian selalu melakukan tawar-menawar dan dialog oleh sutradara. Karena pada prosesnya kali ini Cleo banyak berdialog dan melakukan penawaran yang dia miliki dengan melakukan sharing dengan Bli Curek dan Kak Suma yang kebetulan menjadi pembimbingnya. Mereka tidak mau di sebut sutradara karena suatu kebutuhan untuk memurnikan persentasi aktor itu sendiri.

“Bahwasanya pada saat ini aktor menjadi lapisan yang sangat jarang diperhatikan. Dan mengapapa dikatakan teater karena ada ruang panggung dan penonton, saat pementasan berlangsung sutradara sudah tidak mempunyai peranan penting saat pentas berlangsung. Dan teater itu menjadi kolektif karena ada bagian dan lapisanya, termasuk juga aktor. Sekiranya perlu sesekali merekam kembali jejak keaktoran.”Kata Sumahardika selaku moderator.

Monolog Teror oleh Cleo di Canasta

Hal seperti ini menjadi menarik bagi saya dan teman yang masih muda, tentunya yang masih aktif dalam dunia keaktoran.Karena sangat berpotensi untuk membaca kembali jejak aktor. Serta menimbulkankembali kesadaran kecil tiap pegiat aktor muda, untuk lebih banyak lagi melakukan proses dan bertemu refrensi lain soal aktor. Baik dengan cara membaca buku atau bermain dan mencoba hal baru oleh sutradara tertentu, mungkin saja nantinya kita sebagai aktor yang masih muda mendapat hal baru. Dan bisa menjadikan tabungan aktor dan rekam jejak keaktoran kita tiap peorangan, untuk sekiranya lebih baik dalam menyikapi suatu pementasan.

Ini pun menjadi PR kita bersama khususnya dunia keaktoran di Bali, agar nantinya ke depan lebih muda di petakan melalui agenda yang akan dirutinkan setiap bulan nantinya. Sekiranya segitu dulu untuk ulasan dari segi keaktoran pada pentas monolog kali ini, bulan depan akan ada lagi acara “Nonton Monolog”.

Pantengin terus Canasta Creative Space. Atau sekiranya ada teman-teman yang ingin berbagi tentang jejak keaktoranya, bisa lah teman-teman berbagi di Canasta. Ruang ini juga sangat berpotensi untuk mengembangkan hal itu, khususnya kita sebagai anak muda yang akan dan pasti bertemu masa yang akan datang di depanya. Salam. [T]

Tags: guruKomunitas MahimaMonologTeaterTeater KalanganTeater Kampus Seribu Jendela
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep, Upacara Motor Massal – Tak Ngantuk Lagi Nunggu Jro Mangku

Next Post

Pameran ‘Hands On’! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘Hands On’! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Pameran 'Hands On'! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co