3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi Kambali Zutas, “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Syair-syair Penggugah Jiwa

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
May 6, 2019
in Ulasan
Buku Puisi Kambali Zutas, “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Syair-syair Penggugah Jiwa

RASULULLAH SAW bersabda : “Malam itu panjang, maka  jangan kau pendekkan ia dengan tidurmu. Siang itu terang, maka jangan kau gelapkan ia dengan dosa-dosamu”.

Membaca kumpulan syair-syair berjudul “Laila Kau Biarakan Aku Majnun” karya penyair Kambali Zutas, saya dibawa untuk menemui perenungan, memegang ketakutan, dan menghancurkan pertanyaan-pertanyaan. Syair yang ditulis dalam rentang waktu 2015 hingga 2018 memaksa saya untuk mengutip Sabda Rasullah di atas.

Bagaimana tidak? Di sudut-sudut syairnya kental sekali dengan dunia lakon keseharian seorang hampa kepada Tuhannya. Di samping itu kata-kata menetes dan sangat lekat dengan ritus keagamaan terutama Islam. Tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya yang telah akrab dengan dunia pesantren.

“Dalam kesunyian ku sebut nama, dalam kehampaan ku undang, dalam kepedihan ku harapkan begitu syahdu, dalam ratapan ku bersimpuh, dalam malam aku menghamba”. (Risalah Seorang Hamba;Hal 10)


Esai ulasan karya Taufikur Rahman Al Habsyi ini akan disampaikan dalam acara Bedah Buku “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” dan Buka Puasa Bersama di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali, Sabtu, 11 Mei 2019 pukul 15.00 Wita


Lagi-lagi seorang Kambali Zutas melalui syairnya menggambarkan kepada saya ada keteguhan dari hati seorang hamba untuk meraih keikhlasan hidup, menyemai ketentraman jiwa, mengusir kekhawatiran sekaligus lebih dekat kepada Dzat yang maha, Tuhan Semesta Alam.

Selain itu, kata “Malam, dini hari, kesunyian, dingin, embun, sayap-sayap malaikat mengepak” merupakan penggugah jiwa-jiwa untuk beribadah sebagai pembuktian bahwa hati kita tunduk kepada yang Esa. Bangun pada saat orang lain tertidur, bersujud pada saat orang lain terlentang, munajat pada saat orang lain mendengkur. Semisal “Ash shalaatu khairun minan naum” yang artinya “Shalat itu lebih baik dari pada tidur”

Sebagai seorang muslim kata itu sangat familier saat adzan subuh dikumandangkan dilangit-langit. Allah menginginkan kita agar segera bangun, mengambil air wudhu, dan mengerjakan shalat subuh berjamaah. Karena ada keistimewaan berlimpah yang Allah curahkan pada waktu subuh. Shalat di mana nilainya jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Seperti yang dikutip dari Hadist Riwayat Muslim dan Ahmad “Dua rakaat shalat subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya”

Khazanah tarikh (Sejarah) Islam

“Jibril, Mikail, Izrail, israfil, Raqib, Atiq, Ibrahim, Namrud, Abrahah. Nama-nama yang sedari kecil bagi seorang muslim telah ditanamkan atau diajarkan baik sebagai peringatan, pembelajaran, sehingga membuat saya ditarik untuk menyelami keislaman. Mengulas kembali memori dan mengasah hati bahwa jalan terbaik meneguhkan keimanan salah satunya adalah belajar kepada kejadian yang telah dilukiskan dalam Al-Qur`an. Salah satunya peristiwa yang jamak dikenal, khususnya di Negara-negera berpenduduk mayoritas muslim, ialah hari lahir Nabi Muhammad, pemimpin yang dijuluki Al- Amin (dapat dipercaya) di Mekkah. Pada 571 M—sekitar 1446 tahun yang lalu.

Tahun itu disebut “Tahun Gajah”. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Kala itu, raja vassal Ethiopia di Yaman, Abrahah, menyerang Mekkah dengan pasukan gajah. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur`an surah Al-Fil. Diceritakan pasukana Abrahah yang memasuki kota Mekkah dihujani batu yang dilempar burung ababil. Pasukan Abrahah luluh lantak. Ia kalah, Mekkah pun selamat. (Serban Ababil Hal;64).

Wartawan

Kita ketahui bahwa Kambali Zutas adalah seorang Jurnalis, mewartakan sebuah kejadian atau peristiwa menjadi pekerjaannya sehari-hari. Namun, membaca syairnya yang berjudul “Bocah Kecil Itu Bernama Engeline”. (Hal;112). Saya membayangkan bahwa syair itu mula-mulanya adalah sebuah berita yang kemudian disusun menjadi syair oleh penyair. Alih gaya penyampaian sebuah berita yang dibalut dengan diksi-diksi yang begitu sederhana tetapi tidak mengurangi esensi kedunya (baca;syair dan berita).

“Bocah kecil itu bernama Engeline. Tepat di bawah pohon di belakang rumah. Bersebelahan dengan kandang ayam. Ia ditemukan dikubur bersama boneka. Sungguh biadab. Itulah terucap. Keji. Bocah cantik itu tak berdosa dianiaya.

Bocah kecil itu bernama Engeline. Ia telah pergi. Malaikat kecil kami. (Hal;112).

Dialog

Sabagai penikmat puisi atau syair saya tidak pernah belajar tentang teori-teori ataupun tata cara menyusun sebuah kata, menjadi kalimat, larik-larik, sampai pada akhirnya bisa dinikmati. Kambali Zutas menawarkan kepada pembacanya untuk berdialog dengan sajian ringan namun syarat penuh makna.

Siang sebelum hujan. Dia menyapa lalu bertanya.

“Takdir sebenarnya bukan masalah kesempatan, tetapi pilihan. Takdir bukan harus ditunggu, tetapi takdir haruslah diraih.”

Lalu terjadilah dialog.

“Betul, takdir ada dua. Ada yang sudah tidak bisa dirubah, dan ada yang bisa diubah dengan kemauan sendiri. Intinya begini, Tuhan tidak mengubah suatu kaum, apabila kaum itu tidak mengubah sendiri,” kataku.(Hal;92).

Salah satu Sunnahtullah yang berjalan di bumi ini adalah Allah tidak akan merubah kondisi seseorang, kelompok ataupun masyarakat sebelum ada perubahan dari dalam diri sendiri. Maka dialog diatas selaras dengan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra`a:11).

Sederhananya, perubahan kawan, pemimpin, ataupun lingkungan tidak akan merubah seseorang jika tidak ada niatan dari dirinya sendiri.

Rima

Kambali Zutas dalam bukunya ini menawarkan paket komplit. Selain saya dibawa ke petualangan relegi, sosiologis, dan interaksi dengan alam. Kali ini, keindahan bunyi yang disusun oleh rima yang sempurna diracik utuh dari awal sampai akhir.

Gaduh

Gaduh

Suasana di langit ketujuh

Abdi dalem mengaduh

Lalu mengeluh

Suara-suara buruh

Meronta-ronta pembuluh tubuh

Mereka tidak mau mati apalagi di bunuh

Anak istri dan cucu-cucu mereke terenyuh

Gaduh

Seluruh jalan jauh telah rapuh

Apalagi tangan nasib mereka tak tersentuh

Tak tampak berapa yang sudah terjatuh

Mungkin satu dua atau berpuluh-puluh

Gaduh

Mereka ingin sekali memiliki tempat berteduh

Bukan malah sebagai yang tertuduh

Mereka selalu bersikukuh

Mereka sungguh ingin membuat keruh

Lalu selalu bergemuruh

Hingga waktu menjelang subuh

Gaduh

Tak ada lagi kitab suci menjadi suluh

Bahkan tak ada teluh

Tongkat diri yang teguh

Bangkit setelah terbunuh

Mereka mengayuh

Lalu tumbuh

Langit kembali teduh

2015

NB : Untuk syair yang terakhir: saya sengaja mengutip secara utuh. Karena hati saya tersentuh, kata-katanya sangat ampuh, sebagai pembaca dibuatnya luluh. I Lope Yuh! [T]


BACA JUGA: Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Peristiwa dan Kenangan Tak Senilai Berita

Tags: BukuIslamkumpulan puisiMuslimPuisiresensi bukusastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan & Keutuhan Bangsa

Next Post

Raka Sutama, Kegembiraan Usai Pilpres, Bayar Kaul dengan Mendaki 5 Gunung

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Raka Sutama, Kegembiraan Usai Pilpres, Bayar Kaul dengan Mendaki 5 Gunung

Raka Sutama, Kegembiraan Usai Pilpres, Bayar Kaul dengan Mendaki 5 Gunung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co