3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polusi Visual di Ruang Publik

Helmi Y Haska by Helmi Y Haska
April 2, 2019
in Esai
Polusi Visual di Ruang Publik

Graffiti di tepi jalan. (Foto ilustrasi: penulis)

Pengalaman visual masyarakat urban tidak melulu tersusun atas tumpukan gedung, pemukiman, dan arus kendaraan. Kota menyimpan detail visual yang melimpah. Mulai dari citraan komersial pada poster, billboard, dan banner berukuran raksasa, rambu-rambu lalu lintas, hingga coretan liar, yang bertebaran di ruang publik.

Ruang publik yang dimaksud dengannya adalah tempat-tempat, biasanya dalam sebuah kota, yang dibuat dan disediakan untuk dipakai, oleh masyarakat umum, tanpa membedakan jenis gender, umur, kelas sosial, agama sampai etnisitas. Dan aktivitas yang biasanya dilakukan oleh publik pemakai tempat-tempat seperti itu pun beragam, mulai dari yang sekedar mencari tempat teduh dan rileks, tempat berolah raga sampai berpacaran.

Kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, tak lepas dari media-media peraga seperti spanduk, baliho, poster,sticker dan lain-lain. Di sepanjang perjalanan kita tak lepas melihat kesemrawutan pemasangan media kampanye peraga tersebut. Entah itu di tembok-tembok rumah, jembatan, taman, kendaraan-kendaraan umum, warung, pagar, pepohonan dan masih banyak lagi berbagai tempat yang dipasang semrawut. Ruang publik dipadati visual, sebagai bentuk unjuk kekuatan (show of force).

Di sisi lain, lanskap kota diwarnai grafiti yang menyebar secara masif di banyak tempat, mulai dari tembok-tembok jalanan, pagar rumah, tembok sekolah, tiang listrik, toilet umum, jembatan, dan sebagainya. Kehadirannya tidak terbatas di kawasan tertentu. Grafiti pada umumnya bersifat anonymous, yang menggambari atau mencorat-coret dinding memakai cat tembok yang dikombinasikan dengan cat semprot dan spidol.

Sementara seniman street art yang lain menuangkan ide dan gagasan mereka ke dalam bentuk wheat paste, yaitu gambar di atas kertas yang ditempel dengan menggunakan perekat dari tepung kanji (tapioka/aci) yang dididihkan. Wheat paste juga dikenal dengan nama Marxist glue, sebab di masa lampau kerap digunakan oleh organisasi beraliran kiri. Kini cara itu diadopsi untuk berbagai aksi seni rupa, termasuk dalam membuat karya street art, meskipun karyanya tak selalu bermuatan politis.

Teks atau dalam khasanah street art kerap digunakan untuk mewakili beragam ekspresi perasaan yang spontan, seperti marah (memaki, menyerapah), kaget, hingga olok-olok. Ekspresi yang diwujudkan secara vandal.Vandal adalah unsur penting dalam aktivitas street art. Coretan vandal yang nakal merupakan reaksi atas otoritas (sistem kekuasaan) yang melingkupi suatu ruang.

Sekarang kita mendapati “ruang publik” sebagai medan perang tanda. Ruang publik yang dipahami awam sebagai itu tempat-tempat yang dibuat dan disediakan oleh pemerintah untuk dipakai oleh masyarakat umum itu, menjadi arena berkompetisi produk komersial, pencitraan para birokrat, dan unjuk kuasa partai politik atau ormas atas wilayah tertentu. Di sisi lain, ,kritik dan rasa muak atas otoritas (sistem kekuasaan) yang diusung graffiti di tembok-tembok kota, membuat kita kehilangan orientasi: apakah kita masih hidup di Ubud atau di Bronx (New York), misalnya.

Dalam mengelola”ruang publik”, para pemangku kebijakan (dan wacana), membawa kita ke konsep demokrasi. Sebuah kondisi kehidupan di mana masyarakat umum atau “publik” memegang peranan yang sangat penting. Konsep demokrasi mengisyaratkan bahwa kekuasaan politik yang mengatur kehidupan sehari-hari masyarakat adalah kekuasaan yang memang benar-benar berasal dari masyarakat, demi kebahagiaan masyarakat itu sendiri.

Masyarakat memiliki kekuasaan mengawasi tepat-tidaknya kekuasaan pemerintahan dilaksanakan, oleh siapa pun, yang mereka pilih untuk melakukannya. Masyarakat umum atau publik memiliki kekuasaan politik paling tinggi dalam sebuah kondisi kehidupan yang disebut sebagai demokrasi. Partisipasi publik dalam mengelola ruang publik

Kita mulai dari fenomena sederhana bahwa beberapa tembok di kota kita dicoreti, beberapa menarik perhatian kita, beberapa lagi menyebalkan dan biasa-biasa saja. Kita mencoba mencari alasan mengapa tembok-tembok itu dicoreti dengan harapan kita dapat merefleksikan diri dan memaknai sedikit banyak hal, seperti ekspresi individu dan seni misalnya, kondisi sosial dan budaya misalnya, atau mungkin ruang publik misalnya. Pertanyaannya sekarang adalah; mungkinkah?

Mungkinkah? Karena kita tidak sedang berada di New York circa 70-an, ketika kota itu disapu bencana ekonomi, hampir bankrut dan melewati sebuah proses transformasi sosial, politik dan budaya besar-besaran. Perkembangan teknologi dan perubahan infrastrukur yang dibarengi pula dengan pemotongan subsidi atas hampir semua pelayanan publik, tingginya angka kekerasan dan kriminalitas, rasisme akut, imigrasi besar-besaran plus penumpukan veteran perang Vietnam yang berhadapan dengan ketiadaan pekerjaan dan tempat tinggal yang cukup, semuanya meninggalkan para penghuni ghetto-ghetto di New York, dalam kemiskinan sistematis dan dalam situasi ‘no-go’, dimana mereka yang diizinkan masuk adalah mereka yang tak diizinkan pula untuk keluar.

Dalam kata lain, kita tidak sedang mencoba melihat fenomena graffiti lokal sama dengan cerita-cerita di New York, tentang anak muda di ghetto-ghetto yang tak memiliki apapun untuk mengekspresikan diri mereka kecuali pergi ke taman-taman dan pojok-pojok kota, sedemikian rupa sehingga melahirkan tradisi memutar lagu (DJ), membacot (Rap), menari (Breakdance) dan ‘menulisi’ subway dan tembok (Graffiti).

Oleh karena itu, jangan pula kita berharap dapat membicarakan lebih banyak lagi mengenai beragam studi banding dalam membaca fenomena graffiti lokal, karena yang kita miliki hanya fenomena satu-dua yang tidak lahir dari tradisi, spot pieces satu-dua yang kadang menarik namun seringnya hanya sekedarnya, komunitas writer yang satu-dua dan saling mengalineasi, kompetisi setengah hati, styling cangkokan (kalau tak bisa disebut rip-off), dan tentu saja nilai-nilai lain yang tidak lahir dari kemunduran peradaban seperti di New York, namun hanya aktivitas pengisi liburan sekolah dan acara korporasi berkedok ‘street art’.

Tapi tetap tidak mengapa, sekali lagi mari kita lihat fenomena sederhana bahwa beberapa tembok di kota ini di coreti, beberapa ada yang membuat kita menghentikan kendaraan, beberapa lagi menyebalkan. Untuk lebih fair, mungkin kita harus melihat tembok sebagai tembok.

Apapun subjektifitas kita, interpretasi dan respon tak akan pernah ada jika tembok itu kosong. Dan pada awalnya, semua tembok itu kosong, biasanya putih, sebelum dicoreti oleh para writer, ditempeli poster dan stiker, di tag, atau diklaim oleh iklan komersil. Ketika mulai ditandai oleh image dan makna yang mereka inginkan, tembok-tembok itu “dikonsumsi” oleh khalayak yang menginterpretasikannya. Persis seperti ruangan kamar kita, yang temboknya kita maknai dengan image poster grup musik, foto pacar, dan sejenisnya, yang jelas berbeda fungsinya dengan jam dinding.

Cukup gampang jika kita membayangkan kasus ini di ruang pribadi, namun kesempatan kita melatih kemampuan kita merangkai imaji dan memberikan makna pada dinding, akan segera terhenti bila keluar dari kamar. Logika mudah tentang memaknai wilayah sekitar kalian segera dibungkam ketika kita mulai berbagi imaji dan makna dengan orang lain di tempat ramai. Akar permasalahannya?

Semua orang sudah tahu, CREAM, Cash Rules Everything Around Me. Logika sederhana kapitalisme yang paling primitif atas ruang publik adalah, mereka yang memiliki uang, yang memiliki akses untuk merangkai imaji, memproduksi makna dan membuat alur menyebarkan informasi sesuai kehendak mereka. Hegemoni mereka tak hanya diperkuat dengan teknologi namun juga dengan undang-undang yang melindungi dominasi mereka. Tentu saja mereka memenangkan ruang,, karena mereka yang menentukan mana yang objektif, dan mana yang bukan. Mana yang benar, mana yang salah, yang bermoral dan yang tidak.

Disinilah mungkin satu-satunya poin dimana kita bisa berbicara tentang fenomena graffiti di ranah lokal. Coretan kawan-kawan adalah sebuah tanda kalian berbicara tentang sesuatu identitas yang mencoba menginterupsi dominasi kapital dalam hal estetika “Mana yang keren dan mana yang butut” ketika merangkai imaji dan makna. Sesimpel itu, meski kenyataannya memang tidak sesimpel itu. Dari sini kita tak usah berdebat panjang tentang ilegal/legalitas graffiti, tentang sell-ot atau tidak, mereka yang memperpanjang (memperpendek?) jangkauan pencitraan didalam galeri. Kita bisa menarik kesimpulan sendiri di titik ini.

“Seseorang tak akan pernah mengerti apa itu graffiti kecuali mereka tinggal di New York hidup dikelilingi bangunan-bangunan yang ditinggalkan dan tembok-tembok kosong menerawang” , ujar BRIM salah seorang pionir graff New York. [T]

Tags: balihograffitilingkunganPolitikpolusi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” Karya Kambali Zutas di Bentara Budaya Bali

Next Post

Pentas Mira MM Astra: Puisi yang Menuju Pengalaman Diri Penonton #Catatan Mahima March March March

Helmi Y Haska

Helmi Y Haska

Sastrawan

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Pentas Mira MM Astra: Puisi yang Menuju Pengalaman Diri Penonton #Catatan Mahima March March March

Pentas Mira MM Astra: Puisi yang Menuju Pengalaman Diri Penonton #Catatan Mahima March March March

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co