12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Solusinya? Ya, Baca Bukulah…

Ahmad Sugeng Riady by Ahmad Sugeng Riady
March 18, 2019
in Ulasan
Solusinya? Ya, Baca Bukulah…
  • Judul : Out Of The Lunch Box; Esai-Esai Sosial, Politik, & Agama
  • Penulis : Iqbal Aji Daryono
  • Penerbit : Shira Media
  • Cetakan : cetakan pertama, Juni 2018
  • Tebal : xvi +244 halaman
  • ISBN : 978-602-5868-16-0

—

Pada hakikatnya, tiap manusia memiliki kebebasan berekspresi. Wujudnya bisa dalam menyanyi lagu, bermain musik, menulis cerita, mencetak buku, berdebat, dan seabrek jenis kebebasan-kebebasan ekspresi lainnya. Namun banyak yang luput untuk menekuni kecenderungan ekspresinya. Sehingga tidak jarang ada manusia yang belum berhasil. Hanya karena kurang ketekunan.

Jika ditilik sejarah panjang negeri ini, memang ada satu momen yang kentara sekali upaya pengekangan terhadap kebebasan berekspresi. Iya, di masa orde baru. Tiap wujud kebebasan ekspresi yang mengkritik, atau malah menentang pemerintahan maka halal untuk ditangkap, dipenjarakan, disingkirkan, bahkan kalau perlu dilenyapkan nyawanya. Masa yang benar-benar memilukan.

Berbeda dengan hari ini, era milenial. Era yang memiliki kecenderungan akut pada dunia digital. Kebebasan ekspresi tiap manusia mendapatkan ruang gerak dan haknya. Meski pun kebebasan yang disediakan masih belum penuh dan utuh. Tapi setidaknya manusia sudah tidak takut lagi untuk menyuarakan kritik, dan menentang sesuatu yang mencederai akal sehat.

Salah satu wujud kebebasan berekspresi manusia adalah menulis. Seperti yang dilakukan oleh Iqbal Aji Daryono di bukunya‘Out of the Lunch Box; Esai-Esai Sosial, Politik, dan Agama’. Ia menuangkan kritik sekaligus ide-ide kreatifnya. Tulisannya dari media online dikumpulkan, kemudian dicetak menjadi buku. ‘Menulis adalah menjadi merdeka’, kira-kira begitu. Sesuai kata pembuka buku ini.

Konten buku ini beragam. Kebanyakan berasal dari topik sederhana yang mungkin menurut beberapa penulis lain tidak perlu disoroti lebih mendalam. Beberapa tulisannya ada juga yang mengulas topik hangat pada masanya dan ramai diperbincangkan oleh banyak pihak. Kepiawaiannya mengulasdengan gaya tulisan nyantai, topik apapun itu, selalu membuat pembacabetah berlama-lamamenikmati irama di tiap tulisannya.

Misalnya ketika ia mengulas pernyataan Buya Syafii, tentang ucapan Ahok di Kepulauan Seribu dan sikap kebanyakan masyarakat setelah kasus itu. Ternyata menurutnya yang lahir bukan malah kecerdasan untuk berfikir mengolah sekaligus menyikapi kasus, namun justru cara berfikir hitam putih yang merebak (hlm. 1-6) hampir di seluruh elemen masyarakat kala itu. Bahkan menjamur sampai hari ini. Siapapun orangnya yang tidak sepakat dengan kelompoknya, maka dianggap lawan dan halal untuk dihujat habis-habisan.

Kasus politik memang memiliki kecenderungan seperti itu. Memicu pro dan kontra, hitam putih. Di sisi lain juga memerlukan penalaran dan sikap yang tepat. Bahwa politik itu penuh intrik untuk menjatuhkan lawan, memang benar adanya. Namun itu berlaku bagi mereka-mereka yang memiliki kepentingan. Lantas bagaimana dengan manusia awam, yang menjadi korban, untuk mengambil sikap tanpa harus gontok-gontokan? Itu yang sulit dilakukan.

Cara berfikir hitam putih hari ini juga menjadi tren dalam kehidupan antar umat beragama. Ia mencontohkan kasus halal dan tidak halal dalam pelabelan produk tisu dan panci. Sederhana. Tapi jika dicermati, efek yang ditimbulkan cukup besar di masyarakat. Sebab tidak menutup kemungkinan bahwa produk-produk lain –selain makanan, obat-obatan- akan meminta label halal dan tidak halal.Bisa jadi ada bus halal, helm halal, baju halal, dan produk semacamnya dihalalkan.

Selain itu, akses pelabelan halal mudah dilakukan oleh industri menengah ke atas. Namun lumayan sulit bagi industri kecil. Padahal label halal dan tidak halal kadangkala tidak berkaitan dengan kualitas produk, namun hanya upaya marketing di pasaran. Sehingga industri kecil bisa tersingkir hanya karena tidak mencantumkan label halal di produknya (hlm.126-131).

Mengingat negara ini terdiri dari beragam bahasa, agama, budaya, dan semacamnya. Sekaligus banyaknya jumlah penduduk, dan letak geografis berpulau-pulau. Maka saya rasa perlu untuk merubah cara berfikir hitam putih ini. Berbeda pendapat bukan berati lawan. Mengikuti mayoritas belum tentu benar. Minoritas belum pasti salah. Begitupun berlaku sebaliknya.

Lantas bagaimana caranya?

Caranya melalui baca buku. Memang pengalaman itu penting. Jalinan pertemanan yang banyak juga perlu. Namun membaca buku itu menjadi gerbang awal bagi manusia untuk mencerna segala pengalaman dan memuliakan pertemanan. Di samping itu, buku juga menjadi jantungnya peradaban.

Namun saya –mudah-mudahan sudah berubah- pernah membaca hasil riset bahwa daya baca masyarakat di negeri ini rendah. Urutan 61 dari 62 negara. Bahkan kalah dengan negara tetangga, Malaysia. Bagaimana mungkin, negara ini yang mayoritas umat beragama Islam dengan wahyu pertama iqra’ (bacalah), tapi daya bacanya rendah? Tidak perlu terlalu menggerutu, mungkin benar seperti itu.

Buku masih belum menjadi kebutuhan primer. Buku dibeli jika ada perlu untuk menyeleseikan tugas kuliah. Membeli dan membaca buku hanya diperuntukkan bagi mereka-mereka yang sekolah, di kampus, dan di tempat-tempat pendidikan formal. Bahkan hiburan, fashion, dan konsumsi yang harganya selangit rela dan ikhlas untuk dibeli. Sedangkan harga buku yang kisaran 40-80 ribu, membelinya masih dipikir-pikir ulang (hlm.173).

Padahal dengan memperbanyak bacaan buku, referensi, daya kritis, dan koleksi pengetahuan manusia jadi lebih banyak. Sehingga memandang problem, kasus, fenomena yang sedang, maupun telah terjadi di masyarakat tidak melulu dengan kacamata hitam putih, benar salah. Karena ada perspektif lain, ada alternatif solusi, sekaligus ada cara menyikapi dengan bentuk lebih baik.

Buku ini tidak memuat bahasa formal, ejaan yang terlalu rumit, dan tata cara kepenulisan dengan standar baku. Judul di tiap-tiap tulisan pun suka-suka si penulis. Tapi justru karena itulah, pembaca jadi penasaran untuk merampungkan tiap tulisan di buku ini. Pembaca dimanjakan oleh penulisnya dengan tidak mewajibkan membaca urut dari halaman awal sampai akhir.Tanpa harus khawatir kehilangan konten dan pesannya.

Jawaban semua tantangan, problem, fenomena, dan keingintahuan yang mendalam mungkin tidak bisa hanya dengan buku ini. Sebab adanya kertebatasan pengetahuan dari si penulis. Oleh karena itu, silahkan membeli, membuka, dan membaca buku-buku lain. Karena perbuatan demikian menjadi bagian dari kebebasan berekspresi. Orientasinya agar tidak terjebak pada kacamata hitam putih. Maka perbanyaklah membaca buku yang berkualitas. [T]

Tags: BukumembacaPolitikresensiresensi bukusosial
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Garis Waktu

Next Post

Reformasi dan Raja Kecil

Ahmad Sugeng Riady

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Aktif Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pegiat literasi di MJS Press

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Reformasi dan Raja Kecil

Reformasi dan Raja Kecil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co