3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Yang Tahu?

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 26, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui. Itu pasti. Maksudnya, ada saja yang terlewat dalam usaha mengetahui.

Buktinya, kita bisa melihat yang di hadapan mata, tapi tidak yang di belakang. Jangankan yang dibelakang, yang di samping saja sudah sulit untuk dilihat dengan jelas. Jika saya analogikan, yang ada didepan mata adalah siang, yang di belakang adalah malam, yang di samping kiri-kanan adalah sandya kala. Sesuatu terlihat jelas saat siang karena ada matahari, tapi menjadi tidak jelas pada malam hari. Di antara yang jelas dan tidak itu, ada sandi kala, atau dalam bahasa kerennya saru gremeng.

Nama lain saru gremeng adalah saru mua. Saru berarti tidak jelas, mua berarti wajah. Wajah-wajah yang tidak jelas bisa disebut saru gremeng. Apalagi bagi yang tidak memiliki sikap, bisa juga disebut demikian. Tetapi jangan berprasangka buruk dulu, sebab di dalam tradisi, saru gremeng sangat mistis. Diyakini begitu, karena berada di areal perbatasan. Perbatasan antara cahaya dan gelap atau sebaliknya.

Perbatasan memang riskan. Bagian paling riskan dari suatu negara adalah di perbatasan, makanya bagian itulah yang perlu dijaga dengan sangat baik. Bagian perbatasan, menjadi semacam identitas bagi suatu negara. Maka tidak heran jika pada area perbatasan, ada pemerintah yang berbondong-bondong membangun pembatas dengan berbagai ornamen ukiran. Tujuannya adalah untuk menunjukkan perhatiannya kepada masyarakat perbatasan. Sekaligus menjaga wibawa tentunya.

Ternyata perbatasan itu penting. Sebutan perbatasan pun berbeda-beda sesuai dengan yang dibatasinya. Perbatasan waktu disebutnya sandi kala. Perbatasan rumah disebut panyengker. Batas kebebasan disebut aturan. Batas hidup dan mati disebut tubuh. Batas tubuh manusia dengan alam sekelilingnya adalah bulu. Jadi bulu adalah salah satu jenis perbatasan, dan penting adanya.

Ternyata bulu itu penting. Bayangkan jika burung Cangak seperti saya, tidak punya bulu. Tidak mungkinlah bisa terbang. Bayangkan jika ada kepala manusia yang tidak berbulu [rambut], itu disebutnya gundul. Jangan salah, gundul juga penting, saking pentingnya sampai dibuatkan nyanyian gundul-gundul pacul. Saya sendiri belum mengerti, apa hubungan gundul dengan pacul?

Sebagaimana gundul, berbulu panjang pun penting. Contohnya, jika ada lelaki dengan rambut panjang, barangkali itu salah satu bentuk perlawanan. Melawan anggapan kebanyakan orang bahwa lelaki harus berambut pendek. Meski pun lebih sering, dengan rambut panjang dikiranya perempuan dari belakang. Untuk menanggulangi permasalahan itu, kebanyakan lelaki berambut panjang akan memelihara jenggot dan kumis. Jadi kelelakiannya tidak akan diragukan.

Contohnya, tonton saja film Mahabharata, kebanyakan tokoh lelakinya berambut panjang. Atau perhatikan aqua man, rambutnya juga panjang. Bagi penggemar anime, lihat saja Uciha Madara dengan mata saringgan yang tajam dan rambut hitamnya yang panjang. Hal ini juga berlaku untuk yang gundul, karena ada juga pahlawan-pahlawan super yang gundul. Semisal one punch man.Ia bisa mengalahkan musuh-musuhny hanya dengan satu pukulan saja. Yang gundul atau yang panjang, sama-sama punya sisi heroik.Gitu!

Tentang bulu, rambut dan perbatasan, ternyata kalau dipikir-pikir belum selesai. Ada banyak hal yang bisa dihubung-hubungkan dengan rambut. Semisal spiritual. Umumnya kalau ada orang berambut panjang, diikat rapih, akan ditanya “mau jadi pamangku?”. Pertanyaan itu seperti legitimasi, kalau rambut panjang adalah ciri. Padahal belum tentu rambut panjang berarti pamangku, sebab jaman sekarang, ada pamangku yang potongan rambutnya dicukur pendek dan rapi.

Bagaimana kalau jadi sulinggih? Kalau sulinggih, beda lagi. Rambut para sulinggih biasanya diikat ke atas, sehingga terlihat seperti gunung. Ada juga yang tidak diikat, tapi disisir dan dibiarkan tergerai sepundak. Bagaimana kalau sulinggih itu tidak punya rambut? Tentu bisa disiasati dengan jenggot. Tapi sepanjang-panjangnya jenggot yang tumbuh, belum pernah saya lihat ada yang diikat diatas kepala.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua

Ada sebuah catatan berjudul…. maaf saya lupa judulnya. Pokoknya di dalam catatan itu, ditulis tentang jenggot dan hubungannya dengan kelingsiran. Konon, bukanlah karena jenggotnya yang panjang dan putih, seseorang bisa disebut lingsir. Bukan pula karena kulitnya yang keriput, atau karena staminanya yang sudah menurun. Bukan juga karena sudah tidak lagi doyan nyeledet. Tetapi karena ilmunya sudah tinggi. Berilmu tinggi tapi tidak tinggi hati. Gitu!

Saya tidaklah bermaksud menertawakan euforia ramai-ramai melingsir. Itu jelas tidak baik. Sebab ada suatu bagian dari cerita Mahabarata, terutama setelah perang selesai, ada oknum wangsa Yadu meledek kemampuan seorang anak lingsir yang memang lingsir. Alhasil dikutuklah wangsa itu akan hancur karenanya. Tidak perlu menunggu waktu lama, kutuk itu berjalan dan wangsa Yadu lenyap. Begitu menurut ceritanya.

Takutkah dikutuk? Memangnya siapa yang tidak? Ada banyak sekali cerita yang diwarisi dalam tradisi, menceritakan perihal kutukan. Bhisma yang terkenal itu, adalah salah satu dari delapan Wasu yang dikutuk. Bahkan Arjuna juga dikutuk kehilangan kelelakiannya oleh seorang bidadari yang ditolak cintanya oleh Arjuna. Jadi hati-hatilah menolak cinta, nanti dikutuk. Ada juga yang dikutuk sampai mati, contohnya Dyah Harini dalam cerita Sumanasantaka. Itulah beberapa cerita tentang kutukan.

Beda cerita kutukan, beda lagi cerita tentang ketakutan. Ketakutan itu bisa datang dari hal-hal yang nyata dan hal-hal yang seperti tidak nyata. Contoh yang nyata, takut pada ketinggian, pada gelap, pada ular, pada macan, takut sendirian, dan seterusnya. Takut pada hal yang seperti tidak nyata lain lagi, contohnya takut pada hantu, pada kutukan leluhur, dan sebagainya. Ketakutan semacam itu bisa dimanagement oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Umumnya, orang-orang yang ahli dengan ketakutan, berpura-pura bodoh.

Ada cerita tentang I Belog yang ahli memanfaatkan ketakutan. Belog adalah bahasa Bali yang berarti bodoh. Ceritanya, I Belog sangat menginginkan Luh Ayux sebagai istrinya. Tetapi Pan Ayux, ayah dari Luh Ayux yang merasa sangat pintar, tidak menyetujuinya. Begitulah nama-nama orang dulu, nama ayah dan ibu diambil dari anaknya. Jika anaknya Gonjreng, maka ayah ibunya dipanggil Pan Gonjreng Men Gonjreng. Jika anaknya bernama Cubling, maka dipanggillah Pan Cubling dan Men Cubling. Jika anaknya Robet, maka dipanggillah Pan Robet dan Men Robet. Bagaimana jika anaknya dinamakan Ci atau Cor?

Selain pintar, Pan Ayux juga kedewan-dewan. Suatu hari dia merapal ajian ini dan itu di hadapan tempat suci leluhurnya. Tempat suci itu berbentuk gedong dengan satu pintu, dan cukup jika dimasuki oleh manusia. Ke tempat itulah I Belog masuk, dan pura-pura menjadi leluhur. Saat Pan Ayux sedang khusuk merapal ajian, I Belog bicara keras-keras. Pan Ayux ketakutan sekaligus senang karena baru kali ini dia didatangi langsung oleh leluhurnya. Ternyata rapalan ajiannya kali ini dapat menyenangkan hati leluhur.

Tapi yang namanya kesenangan tidak pernah berlangsung lama. Leluhur jadi-jadian itu menyuruh Pan Ayux untuk melakukan sesuatu hal yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya: menikahkan Luh Ayux dengan I Belog. Jika tidak dilakukan, konon menurut leluhur jadi-jadian itu, Pan Ayux akan dianugerahkan kutukan yang tidak bisa dihapuskan bahkan oleh sejuta banten sekalipun.

Itulah salah satu contoh cerita tentang orang pintar yang pura-pura bodoh, tapi bisa memanfaatkan ketakutan. Barangkali, pada masa kini banyak yang demikian. Diamanfaatkannya ketakutan serta kebodohan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh karena itulah, kepada kaum ikan semuanya, jangan jadi ikan bodoh. Belajarlah yang banyak dan jangan mudah tertipu. Percayalah dengan nasihan dari seburung Cangak yang sudah berkelana lama-lama di berbagai belahan langit. Sudah begitu banyak yang saya temukan, dan lihat. Karena itu, saya punya cara pandang yang berbeda jika menilai sesuatu. Contohnya begini.

Ilmu itu adalah racun. Hati-hatilah mencernanya. Ilmu disebut racun jika yang menyebutnya adalah orang malas yang tidak suka belajar. Makanan adalah racun, atau dalam bahasa kerennya merta matemahan wisia. Makanan menjadi racun, jika tidak dikunyah sampai hancur. Bayangkan jika seonggok jagung di sudut kamar harus ditelan semua sekalian tanpa dikunyah. Menjadi tua renta adalah racun, terutama bagi para gadis atau lelaki muda yang ingin jatuh cinta. Itu yang mestinya diketahui dan dipahami oleh semuanya. Beda konteks, beda pula maksudnya. Maka pahamilah yang diketahui.

Rumus mengetahui tidak lebih sulit dari rumus phytagoras. Rumusnya begini, mengetahui adalah jika antara yang tahu dan yang diketahui tidak berbekas. Tidak berbekas maksudnya, sudah tidak teridentifikasi lagi apa yang diketahui, dan siapa yang mengetahui. Begitulah teorinya. Teori itu tidak sulit, asal mau dipahami.

Memahami yang diketahui adalah tantangan tersendiri bagi para kaum terpelajar. Cangak seperti saya, tidaklah semestinya diragukan lagi dalam hal pengetahuan dan pemahaman.Berkelana ke berbagai belahan langit, adalah swadharma bagi saya. Meskipun demikian, saya senang tinggal di telaga ini sebagaimana ikan-ikan kebanyakan. Tetapi Cangak tidak boleh berdiam diri di suatu tempat. Saya ingin dan harus pergi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.Kepada para ikan, saya hanya bisa mempersilahkan untuk berunding, dan memutuskan ingin ikut atau tidak. Semoga saja di telaga lain, yang akan saya tuju kali ini, airnya lebih jernih dan menyegarkan. Siapa yang tahu?! [T]

Tags: filsafatPengetahuanrenungan
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Reuni Puisi Sanggar Cipta Budaya SMPN 1 Denpasar: GM Sukawidana itu “Nabe”

Next Post

Dendam Raksasa Rau: Tahun-Tahun Tanpa Matahari dan Bulan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dendam Raksasa Rau: Tahun-Tahun Tanpa Matahari dan Bulan

Dendam Raksasa Rau: Tahun-Tahun Tanpa Matahari dan Bulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co