12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis Kadang Hanya Perlu Satu Ilmu: Pengalaman #Pengantar Buku “Bertemu Masa Depan”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 25, 2019
in Ulasan
Menulis Kadang Hanya Perlu Satu Ilmu: Pengalaman #Pengantar Buku “Bertemu Masa Depan”

foto tatkala

  • Judul Buku: Bertemu Masa Depan – Cerita-cerita Kecil Mahasiswa LPDP Bali di Penjuru Dunia
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia + Mata Garuda Bali
  • Tebal: xiv + 108 halaman
  • Terbit: Januari, 2019
  • ISBN: 978-602-53892-3-8

Menulis cerita, fiksi atau nyata,  dalam bentuk karya sastra, tulisan kreatif dan karya jurnalistik, modalnya tak melulu keterampilan berbahasa, ketajaman argumentasi, atau kelihaian membangun gaya tulisan. Artinya, menulis tak harus kuliah di jurusan bahasa atau jurnalistik. Dalam laku menulis, ada tautan ilmu lain, bahkan mungkin ilmu lain yang tak pernah diperoleh dalam kelas pendidikan formal semisal ilmu untuk mengatasi ketersesatan pada jalan raya di sebuah kota asing, atau ilmu yang mengandung pengetahuan tentang cara-cara pintar mencari bus di sebuah kota yang tak pernah ada dalam buku-buku pelajaran sekolah.

Menulis, bercerita, atau memberitakan sesuatu, bahkan kadang hanya perlu satu ilmu penting, yakni pengalaman. Antara lain, pengalaman hidup yang mungkin sebelumnya sama sekali tak terbayangkan, yang kemudian diikuti dengan pengalaman mengingatnya, mencatatnya, menuliskannya, menceritakannya, atau memberitakannya, berkali-kali.

Seseorang yang punya pengalaman melimpah, misalnya karena suka melakukan perjalanan dan bertualang, atau secara kebetulan (karena sebuah keharusan dalam hidup) berhadapan dengan berbagai peristiwa baru dan asing, maka, jika mau, ia punya kemungkinan besar menjadi penulis, atau setidaknya pencerita yang menarik hati. Meski, misalnya, orang itu tak lihai berbahasa.

Keinginan untuk berbagi cerita, dan upaya yang keras untuk menceritakan dengan sebaik-baiknya, salah satunya didorong oleh banyaknya cerita unik — artinya cerita yang tak banyak dialami orang lain — tersimpan dalam kepala dan mendesak untuk keluar. Ketika dorongan cerita itu meledak dan berhamburan keluar, maka bahasa akan berusaha menyesuaikannya, perlahan-lahan, pelan-pelan, sampai akhirnya bahasa mengikuti daya tarik cerita. Terdengar ajaib, tapi coba saja.

Mata Garuda (MG) Bali, yakni alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Bali, bisa dipastikan selalu punya cerita menarik. Sebagai penerima beasiswa saja mereka sudah termasuk langka, unik, dan tak umum, karena dari ribuan mahasiswa hanya beberapa saja bisa lulus dan lolos. Kelangkaan itu, sejak awal bisa disebut sebagai sebuah cerita menarik. Apalagi kemudian ada banyak cerita dalam proses persiapan, belajar, hingga mereka lulus.

Bahkan, mulai dari proses melamar ke LPDP, ditolak, masuk lagi, diterima, atau langsung diterima dengan mulus, adalah sebuah pengalaman. Lalu, berikutnya, liku-liku perjalanan menuju lembaga pendidikan, di luar negeri atau di Indonesia, juga bagian dari pengalaman unik. Lalu, proses berpeluh-berkeringat, berpikir dan belajar, di lembaga pendidikan yang dimimpikan, atau di lembaga yang sebelumnya tak terbayangkan sama sekali, juga adalah bagian dari pengalaman berharga. Juga, hal-hal lain yang terjadi di luar lembaga formal, termasuk hal remeh-temeh, misalnya peristiwa konyol dan bodoh, misalnya tersesat akibat kesalahpahaman komunikasi, yang dialami mahasiswa di sebuah kota yang asing, juga bagian dari pengalaman sebagai bekal menulis cerita.

Dalam rumus berita dan cerita, pengalaman buruk dan pengalaman baik, sama-sama menarik untuk diberitakan, diceritakan. Pendakian gunung yang sukses, atau pendakian yang penuh rintangan, selalu masuk dalam katagori cerita menarik bagi petualang dan pecinta alam. Bencana dan kemajuan, sama-sama berita penting dalam kerja jurnalistik. Orang terlalu miskin dan orang terlalu kaya, selalu asyik jadi cerita atau sekadar gosip untuk dibagi ke orang lain.

Begitu juga dengan mahasiswa penerima beasiswa LPDP yang menulis cerita tentang diri mereka yang kemudian terangkum dalam buku berjudul “Bertemu Masa Depan” ini. Semuanya punya cerita menarik, bukan hanya satu cerita, melainkan berderet-deret cerita. Mereka menunjukkan naluri personal mereka, tentu dengan pertimbangan subjektif, untuk memilih satu bagian saja dari sekian banyak pengalaman yang mereka miliki.

I Wayan Adi Mahardika misalnya lebih fokus bercerita tentang sebuah kota, Glencoe,  dan bagaimana kota itu berhubungan dengan dirinya, atau dirinya berhubungan dengan kota itu. Adi Mahardika punya kemampuan yang tak diragukan lagi sebagai seorang penulis cerita yang baik. Tulisannya dibuka dengan pilihan mudah. Ia memulai dengan sebuah peristiwa ketibaan penulis di suatu tempat yang asing. Justru di situlah pilihan tepat, sesuatu yang asing mengundang daya tarik, sehingga bisa diduga peristiwa yang terjadi kemudian adalah hal-hal tak terduga. Menduga dan tak terduga adalah misteri tersendiri dalam sebuah cerita.  .     

Saya tiba di Glencoe, dan turun di titik pemberhentian yang menurut peta adalah yang terdekat menuju hostel tujuan. Ada pusat pengunjung (visitor center) tak jauh dari sana, tetapi lokasinya cukup tersembunyi, tak terlihat dari pinggir jalan. Bangunan itu nampak lumayan baru, sebagian besar dari kayu, rendah dan agak tertutupi oleh pohon-pohon birch tinggi di sekelilingnya.

Paragraf pertama sudah mengundang rasa penasaran, sehingga pembaca tak akan berhenti hanya sampai di paragraf pertama. Dan kelanjutan dari “petualangan” itu memang tidak mengecewakan. Selain cerita soal pengalaman diri sendiri yang sesungguhnya biasa – tentang diri yang asing di sebuah kota terkenal, atau kota itu sendiri yang terasa asing karena baru pertama kali dijejaki – tulisan ini terpenting menyediakan diri untuk disusupi berbagai pengetahuan. Tentu karena penulisnya tampak sekali punya referensi yang cukup untuk mengatakan berbagai hal secara berbeda, termasuk referensi tentang film dan tokoh-tokoh yang punya kaitan dengan manusia, alam, serta lingkungan.

Film tentu tak dipelajari secara khusus di jalur pendidikan formal, namun sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu biodiversity and taxonomy of plants, penulis mungkin belajar tentang Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Dan dua pengetahuan itu — film dan tokoh naturalis, dipinjam untuk meramu cerita tentang sebuah kota menjadi cair, mengalir dan enak dibaca.

Topik tentang tempat diceritakan juga oleh I Made Adithya Prasetya Resik. Di London ia berkutat dengan masalah akomodasi, hal yang biasa dialami seseorang di sebuah kota yang baru pertama didatangi dan akan ditempati dalam waktu yang cukup lama. Jika Adi Mahardika lebih banyak bercerita tentang “apa dan siapa” kota itu, Adithya bercerita dengan amat rinci tentang bagaimana lika-liku dia memperkenalkan diri sekaligus mengenal London sampai ia berteman dengan kota itu. Keduanya sah dan sama-sama menarik.

Kita memang selalu tergoda bercerita tentang sebuah tempat, apalagi tempat itu baru dan asing. Tentu karena tempat bisa disebut sebagai hal penting yang mempengaruhi perilaku, baik fisik maupun karakter. Apalagi, iklim, cuaca, adat dan kebiasaan, di tempat baru berbeda atau berbanding terbalik dengan di tempat kita lahir dan tinggal. Jika diibaratkan panggung teater, tempat adalah setting atau latar penting, sehingga bahkan kostum pun mau tak mau harus disesuaikan. Hal-hal yang berubah dan bagaimana cara kita menghadapi perubahan juga adalah modal cerita yang melimpah.

Dalam buku ini, sebagian penulis bercerita soal tempat di mana mereka tinggal dan menempuh pendidikan. Selain fokus bercerita soal bagaimana tempat itu atau bagaimana penulis bergaul dengan tempat itu, sejumlah penulis juga bercerita tentang tempat sekaligus bagaimana ilmu yang sedang ditempuhnya “bekerja” dan “diperlakukan” di tempat itu. Anak Agung Putu Agung Raditya Wisesa Wedananta misalnya bercerita dengan begitu detil bagaimana Australia menerapkan ilmu kedokteran untuk mengatasi masalah sakit atau masalah sehat di negara itu. Saya kutip satu paragraph:

Selain dari teknologi yang digunakan di laboratorium, saya juga mendapatkan pengalaman bagaimana negara Australia menghadapi berbagai masalah penyakit infeksi yang menggunakan pendekatan multidisiplin dengan berbagai stakeholder. Berbagai profesi mulai dari klinisi, public health, dan scientist duduk bersama dan bersinergi untuk mengatasi masalah kesehatan yang menimpa Australia. Lebih dari itu, berbagai stakeholder mulai dari pemerintah, rumah sakit, akademisi dari universitas serta masyarakat ikut bahu-membahu mengatasi suatu masalah kesehatan di Australia.

Selain bercerita seadanya, bagian tulisan itu bisa jadi inspirasi bagi penulis atau dokter lainnya dan stakeholder untuk bisa menerapkan hal serupa di Indonesia. Atau, bisa jadi tulisan itu diubah jadi pertanyaan kritis: bagaimana penanganan penyakit infeksi di Indonesia sejauh ini? Inspirasi atau pertanyaan itu adalah sumbangan penting dari tulisan ini.

Sebagian penulis lain juga mencoba mengambil satu bagian kecil dari sekian proses perjalanan mereka saat menempuh pendidikan. Andre Maure misalnya mengambil satu peristiwa, tentu dari sekian banyak peristiwa, untuk ditulis dengan padat, kental, dan bernas. Itu yang biasa dilakukan seorang penulis cerpen. Ia bahkan menggunakan strategi penulisan cerpen untuk mengisahkan keakraban mendadak dirinya dengan Wali Kota Bristol Mr. Marvin Rees, dan hubungannya dengan apa yang kemudian ia dapatkan dari pengalaman itu.

Penulis lain ada juga bercerita dengan pretensi sederhana tentang apa itu LPDP dan bagaimana mereka mendapatkannya dengan semangat pantang-menyerah. Ada juga yang memberi semacam tips, pedoman, atau kalimat inspiratif agar para mahasiswa di Indonesia, atau di Bali khususnya juga memiliki semangat yang sama dengan para peraih beasiswa, tentu tidak dengan cara menggurui atau menyombongkan diri.

Bisa dikata, buku yang ditulis alumni mahasiswa penerima beasiswa LPDP Bali ini punya syarat untuk menjadi lengkap. Justru karena penulisnya punya latar pendidikan, minat, dan pengalaman menulis, yang berbeda-beda. Ia mengandung cerita, berita, juga pengetahuan dan menjadi sumber inspirasi yang mungkin tak bisa diperoleh dari buku mana pun atau dalam kelas formal di sekolah. Justru karena tulisan itu ditulis dengan cara bebas sesuai minat dan gaya penulisnya, sehingga ia jadi personal dan subjektif, mungkin juga tiada duanya.      

Tags: beasiswaBukuPendidikanresensi
Share98TweetSendShareSend
Previous Post

Aksara yang Mempertemukan Kita

Next Post

Reuni Puisi Sanggar Cipta Budaya SMPN 1 Denpasar: GM Sukawidana itu “Nabe”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Reuni Puisi Sanggar Cipta Budaya SMPN 1 Denpasar: GM Sukawidana itu “Nabe”

Reuni Puisi Sanggar Cipta Budaya SMPN 1 Denpasar: GM Sukawidana itu “Nabe”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co