23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Untuk Wanto: Bahaya Patah Hati

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
November 8, 2018
in Esai
Catatan Untuk Wanto: Bahaya Patah Hati

 “Cinta memang akan selalu menyakitkan. Entah karena kau mencintai terlalu banyak, terlalu lama, atau karena tak bisa mencintai sebanyak dan selama yang kau inginkan”

(Cristian Simamora)

KEBIASAAN setiap mahluk ciptaan Tuhan ketika patah hati biasanya langsung menjadi pribadi paling relegius seolah agama sandaran pertama untuk menguatkan hati yang sedang luluh lantah, penuh puing-puing masa lalu, bahkan bayang-bayang wajah mantan yang enggan pergi dari pikiran. Move on atau tidak, itu sebuah pilihan!

Setiap yang bernyawa di bumi (Manusia) pasti pernah mengalami putus cinta, dan patah hati adalah keniscayaan yang harus dinikmati seperti hujan yang deras bersama air mata dan gemuruh petir yang menyambar segenap psikis seseorang.

Tidak jauh berbeda dengan penulis muda berbakat dan penuh ambisius ketika berbicara perihal perempuan. Dalam kasus ini ia meminta untuk disamarkan namanya menjadi Wanto alias Jaswanto, karena menurutnya patah hati adalah aib bagi khalayak umum sekaligus sangat tidak gentle ketika harus memperlihatkan raut wajah murung, galau, sedih, meski pada kenyataan air matanya perlahan turun dalam kesunyian.

Wanto termasuk lelaki produktif dengan beberapa karya bukunya “Munajat Hati Sebuah Novel (2017) dan Cangkruk Dusun Karangbinangun, sebuah novel patriarki (2018)”

Tetapi seberapa hebat pun dia menulis novel, pada akhirnya ia harus jatuh dalam kubangan lumpur patah hati. perasaannya keruh, bahkan caption  statusnya berpura-pura tegar, kuat seperti tidak terjadi apa-apa. Penulis memang pembohong kelas wahid yang mampu menyembunyikan luka dengan tawa, tangis dengan senyuman,  intinya semua harus terlihat bahagia.

Wanto baru saja putus dengan pacarnya beberapa jam yang lalu. Berita ini tidak banyak orang tahu. Saya sebagai sahabat dekatnya diberitahu lewat pesan singkat dengan emotion bercucuran air mata. Bukannya sedih, saya sontak tertawa membaca chat yang penuh haru biru, penuh tekanan batin. saya tertawa bukan bermaksud mengejek atau ungkapan gembira tetapi lucu membaca chat seorang penulis dengan marwah yang bijak ketika berbicara, sering menulis petuah-petuah hidup di status Facebook. Menjadi pakar penenang dengan kata-kata yang ia adopsi dari Om Mario Teguh ketika temannya patah hati. Sedang sekarang dia kalut sendiri dibalut rasa bimbang harus berbuat apa. (Masuk jurang atau masuk kamar menata hati kembali)

Untuk sekarang perihnya mungkin belum terlalu terasa, karena senyumnya masih ditebar lebar-lebar. Tetapi saya jamin dalam beberapa hitungan hari Wanto bakal menjadi lelaki paling kesepian khususnya di daerah Kota Singaraja dan sekitarnya. Ini menjadi alasan kuat ketika ia meminta saya untuk menemaninya menepi di pinggir pantai dengan gemuruh ombak yang kacau, malam tanpa bintang, dingin yang menusuk-nusuk badan, angin yang berhembus pelan-pelan lengkap dengan lagu super-duper galau Sheila On 7 yang berjudul “Dan” yang membawa sejuta kenangan.

Mendengar lagu galau menurut keterangan Edwards, adalah bukti bahwa seseorang yang patah hati sesungguhnya sedang menyelami perasaan dirinya sendiri. Dibalik semua itu ada perasaan takut dalam diri saya Wanto berbuat nekat (Bunuh Diri) ohh no!

Seorang psikolog klinis, Guy Winch, PhD meneliti pengalaman patah hati dan trauma putus cinta lewat bukunya yang berjudul How to Fix A Broken Heart. Buku tersebut berisi studi Winch tentang rasa sakit hati seseorang yang baru saja mengalami putus cinta. Penelitian ini memfokuskan dengan cara membandingkan dua orang yang dipindai dengan alat MRI.

Orang pertama dipindai sambil menatap foto-foto sang mantan, sedang orang kedua dipindai sambil dipaparkan panas yang menyebabkan rasa nyeri tak tertahankan. Hasilnya mengejutkan, hasil pindai menemukan kedua hal tersebut mempengaruhi area otak yang sama. Dengan kata lain, nyeri fisik akibat panas dengan nyeri emosional dari patah hati mempengaruhi kinerja otak pada area yang sama.

Fakta lain juga tak kalah mencengangkan, bahwa patah hati dapat menyebabkan gagal jantung. Jika selama ini makanan bertrigliserin yang menjadi ancaman gagal jantung, maka patah hati bisa menyebabkan rasa nyeri pada dada, kejang, dan meningkatnya kadar hormon stres, epinetrin atau yang sering disebut Broken Heart Syindrome yang menjadi tanda-tanda gagal jantung.

Selain itu, kita pada umumnya mengenal orang terkena tekanan darah tinggi karena berlebihan mengkonsumsi asupan garam atau obesitas. Maka menurut American Heart Association menyebutkan orang yang stres gara-gara putus cinta perlu berhati-hati. Peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat bagi orang-orang dengan kondisi ini akan mendorong terjadinya krisis hipertensif, yang menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kesulitan bernafas, bahkan mimisan.

Maka untuk kalian yang  jomblo ucapkan rasa syukur kepada Tuhan, karena kalian bebas dari segala ancaman kesehatan diatas. Setidaknya posisi kalian aman untuk sementara waktu meski rasa kesepian membuatmu harus belajar memeluk diri sendiri ketika teman sedang asyik berpelukan dengan si doi. Jomblo bakal lebih sehat dari radikal patah hati meski  saya tahu perasaannya ditusuk-tusuk sepi karena menanggung hidup sendiri, maka merdeka atau menjomblo sampai mati, itu sebuah pilihan!

Wanto, bangkitlah kawan; Hidupmu masih panjang. jangan kau rusak masa depanmu hanya karena sorang perempuan. Jika kau butuh teman berbagi kesedihan, aku siap menampung dukamu agar kau tak merasa sendirian. Luat masih terhampar luas, langit masih biru kau lihat, maka selama itu kau masih bisa bangkit dan berlari menggapai semua mimpi yang pernah kau ceritakan kepadaku sewaktu dulu.

Atau jika kau memang sudah benar-benar tidak kuat dan ingin secepatnya mengakhiri hidup; Silahkan, biar aku bantu sediakan racun serangga harga eceran. Sehingga aku leluasa mendapatkan mantan perempuanmu. (Kabur… Wkwkwkwkwk…) (T)

Tags: cintamahasiswasakit hati
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Preman Menangis di Panti Jompo

Next Post

Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed di Parade Teater Canasta 2018

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed  di Parade Teater Canasta 2018

Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed di Parade Teater Canasta 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co